Senja yang Tak Pernah Selesai
Kota Jogja sore itu berubah menjadi malam. Angin lembut menuruni lorong-lorong Malioboro, membawa aroma bau jagung bakar dan parfum yang menempel di keramaian. Lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu, menambah kilau pada trotoar yang perlahan dipenuhi langkah-langkah manusia yang terburu, tersesat, atau sekadar ingin pulang.
Aruna berdiri di pinggir jalan, memeluk sketchbook lusuh yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Halaman-halamannya penuh coretan yang tidak selalu indah kadang garis-garis patah yang lahir dari malam-malam penuh air mata yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Bajunya sederhana, jeans biru pudar dan kaus putih longgar. Rambutnya dicepol asal-asalan, tapi beberapa helai tetap membandel jatuh ke wajahnya.
Ia menatap pelukis jalanan yang sedang menyelesaikan wajah seorang Ibu yang dipangku anak kecil. Tangannya yang terampil bergerak cepat, tegas, tahu persis garis mana yang harus gelap dan mana yang harus lembut. Aruna selalu suka melihat orang menggambar. Aneh, padahal ia sendiri sudah menggambar tiap hari. Tapi rasa kagum tidak pernah hilang.
Setelah beberapa menit, Aruna menarik napas. Sampai suara seseorang memanggil pelan dari belakang.
“Aruna?” panggilnya.
Ia menoleh, dan jantungnya seperti berhenti sebentar.
Rama berdiri tidak jauh darinya. Ransel hitam kampus tergantung di satu bahu, kemeja kotak-kotaknya kusut seperti habis dipakai seharian. Rambutnya sedikit acak-acakan tapi mata itu yang selalu membuat Aruna ingin mengalihkan pandangan. Tenang, hangat, dan terasa seperti rumah yang tidak pernah ia masuki.
“Rama?” Aruna hampir ragu apakah itu benar dia. “Kok bisa ketemu di sini?” ucapnya heran.
Rama tersenyum kecil, senyum yang tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat d**a Aruna terasa penuh.
“Lagi cari angin kamu?” tanyanya santai.
“Ya semacam itu.” jawab Aruna.
Rama berdiri di sampingnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat Aruna sadar ia tidak sedang sendirian. Rama tipe orang yang tidak pernah memaksa hadir, tapi kehadirannya justru selalu terasa.
Aruna menggeser sketchbook nya ke tas, tapi gerakannya ceroboh dan buku itu hampir jatuh. Rama refleks menahan sebelum jatuh ke lantai.
“Kamu selalu begini ya,” katanya sambil menyerahkan kembali buku itu. “Nggak berubah.” lanjutnya lagi.
Aruna tertawa kecil, malu. “Emang aku ceroboh dari dulu.”
Rama mengangkat bahu. “Ceroboh, tapi kuat.” ucap Rama.
Aruna menelan ludah. Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa seperti mengguncang hatinya.
Mereka berjalan perlahan melewati kios-kios yang menjajakan gantungan kunci, kaos murah, dan tas kulit imitasi. Keramaian di sekeliling mereka seperti suara latar film yang sengaja dikecilkan volumenya agar percakapan kecil mereka terdengar lebih jelas.
“Gambar apa hari ini?” tanya Rama pelan.
Aruna menggigit bibir bawahnya. “Entahlah, aku lagi stuck tadi mau bikin sketsa orang-orang yang lewat, tapi tanganku keras semua.” ucapnya lirih.
“Masih kepikiran itu?” Rama bertanya hati-hati, seakan tidak ingin mengusik luka yang belum kering.
Aruna tahu apa yang dimaksud "itu." Luka yang sama yang telah membuatnya mengganti nomor, memblokir orang, menjauh dari banyak hal yang dulu ia sukai. Luka yang membuatnya menunggu seseorang yang akhirnya memilih orang lain tanpa penjelasan.
“Aku nggak tahu, Ram,” jawab Aruna akhirnya. “Kadang aku pikir udah selesai, tapi kok ya tiba-tiba muncul lagi.”
Rama menatap Aruna lama. “Luka nggak hilang kalau cuma disembunyiin.” ucap Rama.
Aruna tersenyum miris. “Aku tahu, tapi kalau dihadapi pun sakit.” lirih Aruna.
“Sakitnya habis kok, Ar.”
“Ya kalau kamu?” Aruna bertanya, refleks.
Rama terdiam, lalu menatap ke arah penjual gelang. “Kalau aku, aku nggak takut sakit. Yang aku takut adalah kalau aku nggak coba sama sekali.”
Aruna ingin bertanya apa maksud kalimat itu, tapi belum sempat ia membuka mulut sebuah mobil hitam berhenti pelan di pinggir jalan.
Mobil itu elegan, jendela gelap, catnya mengkilap meski terkena debu jalanan. Kaca jendela sisi pengemudi perlahan turun, memperlihatkan wajah seseorang yang terlalu rapi untuk berada di keramaian Malioboro yaitu Dava.
Dava dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung setengah, jam tangan stainless dan tatapan yang campuran antara intens dan protektif. Rambutnya disisir klimis tapi tidak kaku. Pria 25 tahun yang berhasil membangun bisnisnya sendiri. Pria yang sering muncul di artikel "Pengusaha Muda Sukses Jogja." Pria yang pernah Aruna temui dalam kondisi paling buruknya.
“Aruna,” panggilnya dengan nada pelan namun tegas, “kamu sendirian?” tanya Dava.
Aruna berkedip. “Nggak, aku sama Rama.” ucapnya.
Tatapan Dava bergeser pada Rama sebentar, tapi cukup memberi tahu banyak hal. Dava bukan tipe yang langsung cemburu. Ia lebih ke tipe yang tetap tenang tapi mempelajari dan itu terkadang jauh lebih menegangkan.
“Kamu mau pulang? Aku antar,” tawar Dava.
Rama yang berdiri di samping Aruna menoleh padanya. Tidak ada kata-kata, tapi Aruna bisa membaca kekhawatiran di mata Rama.
Aruna menelan napas. “Aku mau jalan-jalan bentar belum mau pulang.” ucapnya.
Dava menyandarkan punggung ke kursinya, ekspresinya lembut namun sulit ditebak. “Kalau begitu aku ikut pelan-pelan di belakang. Biar aman.”
Rama mengangkat alis sedikit. “Nggak perlu sampai gitu juga, kan?”
“Aku cuma nggak mau Aruna terjadi apa-apa,” jawab Dava tanpa menoleh ke Rama.
Aruna merasa seperti tiba-tiba menjadi titik tengah dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
“Sudah, jangan ribut.” Aruna tertawa hambar. “Aku cuma mau jalan sebentar.” ucapnya menengahi.
Rama akhirnya mengangguk. “Kalau gitu, aku temenin.”
Dava tidak menolak, hanya menyalakan lampu kecil dan mengikuti dari belakang ketika Aruna dan Rama mulai berjalan lagi.
Dan di sanalah semuanya terasa aneh.
Lucu, indah, menyakitkan dan entah kenapa sangat hidup.
Aruna di tengah, Rama di sebelah kiri berjalan tenang dengan langkah panjang yang selalu terdengar meyakinkan.
Dava di sisi kanan di balik kemudi, mobilnya mengikuti seperti bayangan besar yang tidak bisa diabaikan.
“Ar,” panggil Rama setelah beberapa lama, “kamu gemeteran?” tanyanya khawatir.
Aruna menghela napas. “Aku cuma banyak mikir.” lirih Aruna.
“Soal apa?” tanya Rama.
“Semua.” jawab Aruna.
Rama menunggu dan tidak memaksa, biarkan Aruna bercerita sendiri.
“Kadang aku merasa ruang di hati aku kayak kamar yang berantakan,” kata Aruna akhirnya. “Aku masuk, aku pengen beresin, tapi begitu lihat isinya, aku nggak kuat.” lirihnya.
Rama menatapnya lama. “Kalau gitu, pelan-pelan. Nggak harus diberesin hari ini.” ucap Rama memberi solusi.
Dava membuka kaca jendela sedikit. “Aruna, kamu terlalu keras sama dirimu sendiri.”
Aruna tertawa kecil, tawa yang lebih mirip helaan napas.
“Mungkin karena aku takut kalau aku berhenti keras aku tambah hancur.” ucapnya.
Rama mendekat setengah langkah. “Kamu boleh rapuh, Ar.”
Dava menambahkan, “Tapi kamu nggak sendiri.”
Aruna berhenti berjalan, Rama juga berhenti dan mobil Dava pun ikut berhenti.
Di tengah keramaian Malioboro yang riuh, langkah manusia yang lalu lalang, suara pedagang, lampu-lampu toko Aruna berdiri di antara dua laki-laki yang berbeda dunia, berbeda cara mencintai, berbeda cara hadir.
Satu memberi rasa aman, satunya lagi memberi rasa hangat. Dan dirinya?
Dirinya belum sembuh, belum siap dan belum selesai dengan luka yang bahkan tidak ia pahami.
Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama Aruna merasa hidup lagi. Dan itu menakutkan sekaligus membebaskan.
Hari itu, tanpa ia sadari bukan hanya senja yang belum selesai. Hidupnya juga baru mulai membuka babak baru babak yang akan menyeretnya pada cinta yang begitu gila sampai ia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.