Malam mulai turun perlahan ketika Aruna, Rama, dan mobil Dava yang mengikuti dari belakang mencapai area yang lebih sepi dari Malioboro. Lampu-lampu toko mulai mati, berganti dengan jalanan yang diterangi lampu oranye yang remang memberikan kesan hangat sekaligus murung.
Aruna memperlambat langkah, bukan karena lelah, tapi karena pikirannya terasa penuh, sesak, bercampur antara masa lalu yang belum siap ia buang dan masa depan yang belum berani ia sentuh.
“Ar,” suara Rama memecah keheningan, pelan tapi jelas, “kalau capek, bilang aja.”
“Aku nggak capek,” Aruna menjawab, meski telapak tangannya berkeringat.
“Bohong,” Rama menimpali tanpa marah, hanya menatapnya dari samping dengan tatapan yang entah kenapa membuat d**a Aruna makin sesak.
Aruna menghela napas panjang. “Aku cuma butuh jalan. Rasanya kalau aku berhenti, aku bakal meledak.”
Rama tidak menjawab. Ia hanya berjalan lebih lambat, menyesuaikan ritme Aruna.
Mobil Dava di belakang pun memperlambat laju, tetap menjaga jarak seolah menghormati ruang Aruna, namun tidak ingin pergi jauh.
Setelah beberapa saat, Dava menurunkan kaca jendela.
“Aruna,” panggilnya lembut, “di depan ada taman kecil. Mau berhenti sebentar?” tanyanya.
Aruna menatap ke depan. Benar lampu taman yang kuning redup terlihat di kejauhan. Bangku-bangku besi tampak kosong, dan pepohonan menambah kesan tenang.
“Boleh,” jawab Aruna akhirnya.
Rama dan Aruna berjalan menuju taman, sementara Dava memarkir mobilnya di sisi jalan. Tidak lama, ia menyusul kemejanya masih rapi meski ia baru saja menyetir di jalan macet.
Taman itu terlihat sepi. Hanya ada satu pasangan muda di sudut lain, berbicara dengan suara yang begitu pelan hingga hampir tak terdengar. Angin malam menggerakkan daun-daun, menimbulkan suara gemerisik yang membuat Aruna merasa sedikit lebih damai.
Aruna duduk di salah satu bangku panjang, menaruh tas di pangkuannya. Rama duduk di sebelah kiri menjaga jarak secukupnya agar tidak membuat Aruna merasa tertekan. Dava berdiri di depan mereka dengan kedua tangan di saku celana, memperhatikan Aruna dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Sejenak, tidak ada yang bicara.
Keheningan itu tidak canggung justru terasa seperti sesuatu yang dibutuhkan Aruna.
Sampai akhirnya, Dava membuka suara.
“Aruna,” ujarnya pelan, “kalau kamu butuh pergi dari sini, aku bisa antar kapan pun kamu mau.” tawar Dava.
Aruna menatapnya. “Pergi ke mana?”
“Ke mana pun yang kau inginkan, kadang tempat baru membantu pikiran lebih jernih.” ucapnya.
Aruna tersenyum tipis. “Masalahku bukan di tempatnya, Dav. Tapi di aku.” lirih Aruna.
Rama menunduk kecil, seakan menahan sesuatu dalam dirinya.
Dava, meski tampak tenang menatap Aruna dengan tatapan yang sedikit melembut. “Kamu terlalu menyalahkan diri sendiri.” ucapnya.
Aruna mengangguk pelan. “Karena memang salahku, aku yang terlalu berharap, aku yang menunggu orang yang nggak balik dan aku yang bikin diriku sendiri hancur.” Aruna berkata lirih.
Kata-kata itu keluar begitu saja, dan Aruna baru sadar betapa perihnya mereka terdengar.
Rama mengangkat wajah, tatapannya begitu dalam.
“Kamu nggak salah karena berharap, Ar. Semua manusia berharap.”
“Tapi aku terlalu lama nunggu,” suara Aruna pecah sedikit. “Terlalu bodoh percaya seseorang bakal balik. Dan pas akhirnya dia bilang udah move on aku nggak bisa marah. Karena aku yang nggak beranjak.” ucapnya sedih.
Rama memejamkan mata pelan, seolah menahan emosinya sendiri.
Dava mengambil tempat duduk di bangku sebelah kanan Aruna, tapi tetap menjaga agar tidak terlalu dekat.
“Yang bikin kamu terluka bukan harapannya,” ujar Dava, “tapi cara dia pergi, seseorang yang mencintaimu nggak akan ninggalin kamu tanpa penjelasan.” ucap Dava.
Aruna terdiam, benar itu yang paling menyakitkan.
Bukan ditinggalkan tapi ditinggalkan tanpa kata-kata yang membuat semuanya masuk akal.
“Aruna,” Rama berkata tiba-tiba, suaranya dalam namun lembut, “kamu tahu nggak? Kamu berhak bahagia, kamu berhak milih sesuatu yang baru.”
Aruna menatap Rama. “Kamu ngomong kayak gitu seolah kamu tahu jawabannya.” ucap Aruna.
Rama menarik napas. “Aku nggak tahu semuanya. Tapi aku tahu satu hal.” ucap Rama melirik Aruna.
Aruna menunggu.
Rama tidak langsung menatapnya ia justru menatap gelapnya langit.
“Kalau kamu terus berdiri di pintu yang sama, kamu bakal melewatkan pintu lain yang mungkin lebih layak buat kamu.” lanjut Rama.
Hening, kalimat itu sederhana, tapi rasanya seperti seseorang menyalakan lampu kecil di sudut ruangan gelap.
Aruna tidak menyadari bahwa Dava memperhatikan Rama sesaat bukan dengan amarah, tapi dengan sorot mata seolah berkata aku tahu kamu punya perasaan itu.
Dan itu membuat d**a Aruna semakin berat. Ia berdiri menatap dua laki-laki itu bergantian.
“Aku nggak tau harus ke pintu mana,” katanya jujur. “Aku bahkan belum selesai ngacak-ngacak kamar di dalam hati aku. Kalian ngomong soal bahagia, soal bergerak, tapi aku bahkan nggak tahu mulai dari mana.” lirihnya.
Aruna memegang d**a kirinya.
“Sakit itu masih ada. Aku takut kalau aku buka hati lagi, aku bakal jatuh di tempat yang sama.” ucap Aruna.
Rama ikut berdiri. “Kalau kamu jatuh, kamu nggak sendiri.”
Dava berdiri juga, satu langkah lebih dekat. “Aku di sini, Aruna. Aku bukan dia, aku nggak akan pergi tanpa alasan.”
Aruna menggigit bibir bawahnya.Matanya panas. Dia tidak pernah dikejar dua laki-laki sekaligus.
Tidak pernah merasa dilihat seperti ini bukan sebagai seseorang yang lemah, tapi sebagai seseorang yang layak diperjuangkan.
Dan itu membuatnya takut. Bukan takut pada mereka tapi takut pada dirinya sendiri, pada pilihan yang mungkin ia buat nanti.
“Aku cuma butuh waktu,” gumam Aruna.
“Kami akan nunggu,” jawab Rama cepat.
Dava menambahkan, tenang namun penuh ketegasan, “Seberapapun lama waktumu, aku tetap di sini.”
Aruna menoleh pada Dava lalu kemudian pada Rama. Hatinya bergetar hebat.
Rama dengan tatapan lembut namun menyimpan kedalaman yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya.
Dava dengan aura dewasa dan protektif, yang membuat Aruna merasa aman tanpa harus pura-pura kuat.
Aruna menunduk. “Kalian jangan bikin aku tambah bingung.”
Rama tersenyum samar. “Kalau kamu bingung, itu tandanya kamu ngerasain sesuatu.”
Dava menambahkan, “Dan kami siap menghadapi kebingungan itu bareng kamu.”
Aruna mengembuskan napas panjang, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
“Sudah malam,” ucap Aruna akhirnya, “aku mau pulang.”
Rama menawarkan, “Aku anter?”
Dava cepat menimpali, “Aku lebih deket sama rumah Aruna, biar aku yang antar.”
Aruna mengusap wajahnya.
Dua tawaran dan dua arah.
“Terserah Aruna saja,” kata Rama akhirnya, memberi ruang.
Aruna menatap keduanya lama bahkan sangat lama. Sampai akhirnya ia berkata pelan,
“Aku ikut jalan kaki sama Rama. Dava, kamu boleh ikut di belakang.”
Dava mengangguk pelan. Tidak kecewa dan tidak protes.
Rama menghela napas kecil entah lega atau makin bingung.
Aruna tidak tahu, yang ia tahu hanya satu. Malam itu, di antara lampu-lampu taman yang redup, hidupnya resmi berubah. Dan ia tidak bisa mundur lagi.