Bertemu Kembali

810 Words
Aruna mulai berubah bukan karena ia ingin menjadi lebih baik lagi, melainkan karena ia tidak punya pilihan lain selain jujur pada dirinya sendiri. Ia bangun pagi dengan perasaan kosong yang tidak lagi bisa ia lawan. Ia berhenti berpura pura sibuk untuk menghindari rasa yang sepi. Ia duduk diam dan merenung ketika sedih itu mulai datang, tidak mengalihkan diri dengan orang lain, dan tidak menunggu seseorang untuk menyelamatkan nya. Kesepian yang ia rasakan kini terasa seperti teman yang jujur tapi tidak menyenangkan, tapi juga tidak menipu. Ia kembali menulis, kali ini bukan untuk dibaca orang lain, tapi untuk menahan pikirannya agar tidak pecah kemana mana. Di kertas-kertas itu, Aruna menuliskan hal-hal yang dulu terlalu menakutkan untuk di akui bahwa ia mencintai Rama dengan cara yang liar dan tidak biasa, dan mencintai Dava dengan cara yang tenang tapi tidak sepenuhnya utuh. Bahwa ia tidak gagal memilih tapi ia gagal untuk bertanggung jawab. Suatu hari waktu jam siang, Aruna menerima pesan dari temannya yang bernama, Lala. Lala : Kamu tahu nggak, Ar? Ada workshop seni di kampus. Pematerinya tamu dari luar kota loh. Aruna membaca sambil lalu ia hampir mengabaikannya, hingga Lala mengirim satu pesan lagi. Lala : Namanya Rama Pratama. Jantung Aruna langsung berhenti sepersekian detik. Laplu ia menatap layar lama, seperti orang yang sedang membaca ulang namanya sendiri di daftar kehilangan. Aruna : Kapan workshopnya, La? Lala langsung balas. Lala : Hari ini jam empat, Ar. Kamu datang ? Aruna : Belum tau , La. Aruna melihat jam masih jam dua lewat tiga puluh. Ia duduk lama, mempertimbangkan. Tidak ada kewajiban untuk datang dan tidak ada undangan pribadi, Rama juga tidak ada menghubunginya. Ia bisa saja pulang, menutup tirai, berpura-pura tidak tahu. Namun ada bagian dalam dirinya yang kini tidak mau lagi lari. Terlihat aula kampus terasa lebih ramai dari biasanya. Mahasiswa berdiri bergerombol, beberapa ada yang membawa buku catatan, beberapa sekadar hanya ingin melihat. Aruna duduk di baris paling belakang, nyaris bersembunyi. Lalu Rama masuk. Tidak banyak yang berubah hanya wajahnya yang terlihat lebih tenang, dan tubuhnya seperti orang yang sudah berdamai dengan keputusannya sendiri. Ia mengenakan kemeja hitam sederhana dan membawa map tipis. Ketika berdiri di depan, sorot matanya terlihat yakin, tapi tidak keras. Aruna menahan napas. Rama berbicara tentang kehilangan. Tentang bagaimana ruang kosong sering menjadi sumber karya terbaik. Tentang bagaimana tidak semua yang kita cintai harus kita miliki agar terasa bermakna. Setiap kalimatnya terasa personal. Bukan seperti saat ia berbicara ke ruangan, melainkan ke masa lalu yang ia simpan dengan sangat rapi. Aruna tidak mencatat apa pun. Ia hanya mendengar. Sesi berakhir dengan tepuk tangan yang meriah. Orang-orang mulai mengerumuni Rama, mengajukan beberapa pertanyaan. Aruna tetap duduk diam sambil menunggu keramaian itu berkurang. Ia berdiri hendak pergi ketika suara itu memanggilnya. “Aruna.” panggilnya. Ia langsung menoleh. Rama berdiri beberapa langkah darinya, tidak mendekat dan tidak tersenyum dengan yang berlebihan terlihat seperti biasa. “Kamu datang, Ar!” kata Rama. “Iya,” jawab Aruna. “Tapi aku hampir nggak jadi datang.” lanjutnya lagi. Rama mengangguk, seolah memahami sepenuhnya. “Aku senang kamu datang.” ucap Rama dengan senyum. Dan Aruna juga membalas dengan senyuman. Kalimat itu sederhana dan tidak mengundang maksud apa pun. “Kamu tinggal di sini sekarang?” tanya Aruna. “hanya sebentar aja,” jawab Rama. “Ini hanya Workshop keliling.” lanjut Rama. Aruna mengangguk. “Oh.” ucap Aruna. Hening datang, tapi tidak terasa canggung. Lebih seperti dua orang yang pernah saling mengenal dengan sangat dalam dan kini belajar untuk berbicara ulang. “Kamu kelihatan berbeda ya,” kata Rama memecah keheningan. “Kamu juga, berbeda sekali” balas Aruna tersenyum. “Apa kamu lebih baik?” tanya Rama, setengah bercanda. Aruna berpikir sejenak. “Lebih jujur.” ucap Aruna. Rama tersenyum kecil. “Itu lebih susah.” Kemudian mereka berjalan keluar aula bersama, lalu mereka berhenti di persimpangan jalan kampus, tempat yang dulu sering mereka lewati tanpa berpikir. “Aku nggak mau bikin kamu bingung lagi,” kata Rama pelan. “Makanya aku nggak ngabarin.” lanjut Rama lagi. “Aku tahu,” jawab Aruna. “Dan terima kasih.” ucap Aruna. Rama menatapnya. “Apa kamu baik?” tanya Rama. Aruna mengangguk. “Aku masih belajar.” jawab Aruna. Rama tersenyum. “Aku juga sama.” ucap Rama tersenyum. Tidak ada pelukan di antara mereka, tidak ada janji dan tidak ada pengakuan cinta. Tapi pertemuan itu terasa lebih jujur daripada semua percakapan mereka sebelumnya. “Jaga dirimu ya, Ar” kata Rama sebelum berpisah. “Kamu juga, jaga dirimu.” balas Aruna senyum. Rama berjalan pergi meninggalkan Aruna yang masih berdiri di tempat. Aruna menatap punggungnya sampai menghilang di kerumunan. Untuk pertama kalinya rasa perpisahan itu tidak terasa seperti kehilangan. Lebih seperti mengizinkan sesuatu berjalan dengan apa adanya. Dan Aruna tahu ini bukan akhir dari perasaan. Tapi mungkin awal dari kedewasaan diri yang selama ini ia hindari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD