Nathan hanya memperhatikan Vena saat gadis itu berbicara. Namun, tanpa aba-aba, pria itu tiba-tiba menarik tubuh Vena ke dalam pelukannya. Vena tersentak kaget. Perlakuan Nathan yang memeluknya di depan lobi rumah sakit yang sedang ramai ini terasa sangat tidak pantas dan memalukan.
Nathan mendekatkan wajahnya, lalu berbisik lirih tepat di telinga Vena. "Kamu adalah wanitaku sampai aku mengatakan aku bosan. Ingat itu," ucap Nathan pelan sebelum melepaskan dekapannya.
Vena mematung. Ia hanya bisa terdiam terkejut sambil menatap dalam ke manik mata berwarna kecokelatan itu. Perkataan Nathan membuat detak jantungnya seakan ingin berhenti. Apa maksudnya? tanya Vena dalam benaknya dengan perasaan kalut.
Akh, sepertinya aku sudah terjebak dengan laki-laki m***m yang otoriter ini, umpat Vena dalam hati.
"Nanti malam orangku akan menjemputmu di tempat kerjamu. Aku tidak mau tahu, malam ini kamu harus datang ke rumahku," perintah Nathan dengan nada yang tidak menerima penolakan sama sekali.
"Tapi Bang, aku sudah tidak bisa melayanimu lagi. Kalau sampai Ayahku tahu aku bekerja sebagai pemuas nafsumu, apa katanya," elak Vena mencoba membela diri di depan Nathan.
Nathan hanya menatapnya dengan tatapan smirk yang merendahkan. "Perkataanku tidak bisa ditolak," ucap Nathan dingin.
Namun, entah darimana tiba-tiba keberanian Vena seakan muncul dengan sendirinya. Ia tidak ingin terus-menerus diinjak-injak oleh pria ini.
"Maaf, Bang Nathan tidak bisa memaksa saya seperti ini. Ingat Bang, kontrak kita sudah habis, dan saya bukan w************n yang dengan seenaknya saja Bang Nathan bayar. Saya rasa pembicaraan kita sudah cukup dan saya harap ini pertemuan kita yang terakhir," ucap Vena dengan nada sarkas.
Tanpa menunggu balasan, Vena langsung berbalik dan lari meninggalkan Nathan. Sebelum pria itu sempat marah atau mengejarnya, Vena segera masuk ke dalam toilet wanita. Sementara itu, Nathan benar-benar syok. Pasalnya, tidak pernah ada wanita yang berani menolaknya mentah-mentah, dan Vena adalah satu-satunya wanita yang berani melakukan itu.
"Kamu hebat Vena, kamu akan bertekuk lutut padaku," gumam Nathan sambil menatap kepergian Vena dan mengepalkan kedua tangannya dengan geram. Tanpa disadari oleh Nathan, ternyata ada sesosok pria lain yang sedang memperhatikan interaksi mereka sedari tadi dari kejauhan.
Nathan akhirnya meninggalkan rumah sakit dengan rasa kesal yang meluap. Di dalam toilet, jantung Vena masih berdebar tidak menentu karena keberaniannya menghadapi Nathan tadi. Tapi ia tidak merasa menyesal. Ia memang harus bersikap tegas, karena jika tidak, Nathan pasti akan terus semena-mena padanya.
Vena pun keluar dari toilet dan melangkah menuju kamar rawat inap ayahnya. Namun, saat Vena ingin berbelok ke arah kamar, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namanya.
"Vena."
Vena menoleh ke arah suara tersebut dan matanya membelalak tak percaya. "Bang Mario," ucap Vena ternganga.
"Hai, kamu sudah selesai kontraknya sama Nathan?" tanya Mario sambil tersenyum mempesona.
Vena merasa sangat tidak suka dengan pertanyaan Mario. Kalimat itu seolah menegaskan bahwa dirinya benar-benar hanyalah seorang wanita sewaan. Pria ini ngapain ada di sini coba? Ya Tuhan, aku menyesal banget terbujuk kata Mbak Rosa. Sekarang aku jadi terjebak sama pria-pria m***m seperti mereka, batin Vena kesal.
"Loh, Bang Mario kok ada di sini?" tanya Vena ketus.
Mario tertawa kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Rumah sakit Medika ini milik keluargaku, Vena. Jadi wajar kalau aku ada di rumahku sendiri, kan?"
Vena terkejut mendengar fakta itu, namun ia berusaha tetap bersikap sinis. "Saya tidak suka dengan pertanyaan Bang Mario tadi. Asal Abang tahu, saya melakukan itu semua karena terpaksa, Bang. Jadi Abang jangan berpikir yang aneh-aneh tentang saya," ucap Vena tajam.
Mario terkejut dengan perubahan sikap Vena yang drastis. Semalam gadis ini tampak sangat manis dan penurut, namun hari ini ia menunjukkan taringnya. Entah kenapa, Mario justru merasa semakin tertarik pada Vena sejak malam pertemuan mereka.
"Loh, saya cuma tanya kamu Vena, kenapa kamu marah? Saya cuma tanya soal kontrak saja, tidak menjurus ke hal yang aneh-aneh," kilah Mario dengan nada santai.
Vena sempat berpikir sejenak. Sebenarnya memang pertanyaan Mario tidak menjurus ke hal buruk, namun karena pikirannya sudah tercemari oleh perlakuan Nathan sebelumnya, ia jadi mudah tersinggung.
"Dengar ya Bang Mario yang ganteng, mulai detik ini saya tidak kenal sama yang namanya Nathan ataupun Bang Mario. Saya mau kembali ke dunia saya. Saya menganggap semalam itu saya hanya terjebak dalam lorong waktu yang sesat walau itu nyata adanya," jelas Vena dengan nada menggebu-gebu.
"Sudah lewat dari satu detik," ucap Mario santai sambil melirik jam tangannya yang mewah.
Vena tentu saja heran. "Maksud Bang Mario apa?"
Mario hanya tersenyum simpul. "Kamu masih hafal namaku, berarti kamu masih mengenalku, kan?"
Perkataan Mario membuat Vena terdiam seribu bahasa. Ia bermaksud langsung meninggalkan Mario, namun pria itu dengan sigap menahan tangan Vena.
"Apalagi sih Bang?" tanya Vena sarkas.
"Aku mau jenguk Ayah kamu. Ayok, yang mana kamarnya?" ajakan Mario itu justru membuat Vena semakin bingung. Ia merasa terus-menerus bertemu dengan orang-orang yang sangat pemaksa.
"Hmmm, ayolah terserah Abang saja," jawab Vena seraya mengalah pada ajakan Mario.
Mereka pun berjalan menuju kamar rawat Anton bersama. Setibanya di sana, Mario langsung mencium punggung tangan Anton dengan sangat sopan. Ia terlihat begitu ramah, sangat berbeda dengan Nathan. Anton tampak bingung dan bertanya-tanya siapa pria blasteran tampan ini. Dari penampilannya saja sudah bisa dilihat bahwa Mario adalah orang kelas atas.
"Kamu siapa?" tanya Anton pelan.
"Saya Mario, kekasih Vena, Om. Saya ke sini mau jenguk Om sekalian mau melamar Vena," ucap Mario sambil tersenyum ramah dan penuh percaya diri.
Uhukk... uhukk...
Vena langsung tersedak mendengar ucapan Mario. Matanya menatap tajam ke arah pria itu, sedangkan Mario hanya tersenyum manis seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Benar Vena? Dia kekasihmu? Sejak kapan kok baru dikenalkan ke Ayah?" tanya Anton pada putrinya dengan wajah cerah.
Vena benar-benar kikuk. "Hehehe... Ayah jangan percaya sama Bang Mario. Dia ini orangnya memang suka bercanda, Yah."
"Aku tidak bercanda Vena, aku memang mau melamar kamu. Setelah Ayah kamu selesai operasi, aku mau menikahi kamu. Aku juga sudah memberi tahu orang tuaku. Dan nanti untuk hutang yang kamu pinjam untuk biaya operasi Ayahmu, aku akan mengembalikannya pada Nathan. Karena kamu kelak akan jadi tanggung jawabku sepenuhnya," ucap Mario dengan penuh keyakinan di depan Anton.
Mati aku! Ketemu sama orang sakit jiwa seperti mereka. Tadi Nathan, sekarang Mario! Semoga hari ini aku tidak ketemu sama teman-teman mereka yang lain, karena aku yakin mereka semua cowok sinting! umpat Vena dalam hati.
"Vena, mana yang benar?" tanya Anton menuntut penjelasan.
Vena hanya terdiam, sesekali melemparkan tatapan ingin membunuh pada Mario. Namun dari wajah Mario, ia terlihat sangat menikmati kekalutan Vena dan sedang berusaha menahan tawanya.
"Maaf Om, sebenarnya saya sudah ingin mengatakan semua ini pada Om, tapi Venanya menolak dengan alasan Om sedang sakit. Vena masih takut kalau dia akan dilarang berpacaran, padahal kami berdua sangat saling mencintai, Om," timpal Mario kembali dengan wajah yang sangat meyakinkan.