Bab 5: Perjanjian Gila

1183 Words
Vena benar-benar ingin menyumpal mulut Mario rasanya. Ia merasa seperti orang gila sejak berhadapan dengan pria blasteran ini. "Benar itu Vena, kalau kamu takut sama Ayah?" tanya Anton kepada putrinya, masih bingung dengan pengakuan mendadak ini. Vena menatap tajam ke arah Mario. Oke, jadi kamu mau main-main sama aku? Kita lihat sampai mana kamu sanggup bertahan. Jangan pikir aku tidak bisa membalasmu, umpat Vena dalam hati. "Iya Ayah, dia memang pacar aku dari bulan kemarin. Dia terus-menerus minta menikah, tapi aku selalu menolak karena Ayah masih sakit. Lagipula umurku baru dua puluh tahun delapan bulan, masih sangat muda untuk menikah. Aku pikir kalau aku jujur, Ayah tidak akan mengizinkan," jawab Vena sambil sesekali melirik Mario dengan tatapan menusuk. Mario tahu Vena sedang mencoba bermain-main dengannya. Padahal, jika ia benar-benar harus menikah dengan Vena, Mario merasa tidak keberatan. Setiap kali berada di dekat gadis ini, detak jantungnya selalu bergejolak tak beraturan. Jujur, ia memang menginginkan Vena. Laki-laki mana yang tidak akan tertarik? Selain cantik, Vena adalah gadis mandiri yang sangat berbakti pada orang tuanya. Mario tahu semua detail itu karena ia sempat mengikuti Vena dan Nathan semalam. Sejak pagi tadi, saat Nathan dan Vena keluar dari kediaman mewah itu, Mario sudah membuntuti mereka secara diam-diam. "Jadi itu semua benar? Sebenarnya Ayah setuju saja kalau kamu menikah, Nak. Ibumu juga dulu menikah dengan Ayah seumuran kamu. Ayah lebih suka kamu menikah dibandingkan lama-lama pacaran. Ayah takut kamu khilaf dan melakukan hubungan intim tanpa pernikahan. Ayah tidak ingin kamu menjadi w************n seperti itu, Nak. Dan jika dilihat, Nak Mario sepertinya sangat serius denganmu," ucap Anton lembut, suaranya penuh kepercayaan pada Mario. Degh! Ucapan Anton membuat d**a Vena sesak luar biasa. Kenyataannya, ia sudah benar-benar khilaf. Hanya demi uang dan kesembuhan ayahnya, ia telah menggadaikan harga dirinya. Aku sudah bukan perawan lagi, Ayah... batin Vena menjerit. Tanpa terasa, cairan bening turun dari kedua mata Vena, melintasi pipinya yang pucat. "Iya Om, tentu saja saya serius. Kalau Om mengizinkan, saya akan menikahi Vena terlebih dahulu sebelum jadwal operasi Om. Untuk resepsi, bisa kita adakan nanti setelah Om selesai pulih. Bagaimana menurut Om?" jawab Mario lancar. Awalnya Mario hanya ingin mengerjai Vena, tapi pikirnya, apa salahnya menikahi gadis ini? Orang tuanya juga sudah mendesaknya untuk segera berumah tangga. Daripada dijodohkan dengan wanita pilihan ibunya, lebih baik ia menikahi Vena. Meskipun ia tahu Vena adalah "bekas" Nathan, Mario paham bahwa alasan di baliknya adalah keterpaksaan demi bakti seorang anak. "Vena, kenapa kamu menangis? Bukankah seharusnya kamu bahagia karena Ayah sudah merestui kalian?" tanya Anton bingung melihat putrinya bercucuran air mata. "Vena hanya bahagia saja, Om, karena hubungan kita akhirnya direstui. Iya kan, Sayang?" ucap Mario sambil meraih tangan Vena dan mengecupnya dengan lembut. Vena terkejut dengan sikap manis Mario yang terasa begitu nyata. "I-iya Yah, Vena bahagia," ucapnya dengan nada gugup. Mario paham alasan di balik tangisan itu. Vena pasti merasa sangat bersalah karena telah membohongi ayahnya perihal biaya operasi dan kesuciannya. Vena mencoba menenangkan diri, ia sesekali menatap Mario yang mulai membicarakan banyak hal dengan ayahnya—hal-hal yang tidak ia mengerti. Sandiwaranya hebat sekali. Tapi dia benar-benar keterlaluan bercanda soal pernikahan, membuatku harus menumpuk lebih banyak kebohongan lagi pada Ayah, umpat Vena dalam hati. Vena yakin pria kaya seperti Mario tidak mungkin benar-benar ingin menikahi gadis miskin sepertinya. Jika hanya ingin bermain-main, ia percaya. Tapi kita lihat saja nanti Tuan Mario, bagaimana kamu akan mengakhiri semua kegilaan ini. "Bang Mario, aku sudah harus berangkat kerja sekarang. Katanya Bang Mario mau mengantarku ke minimarket?" bohong Vena untuk segera keluar dari situasi itu. Mario melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sebelas siang. Ia tahu jadwal masuk kerja Vena sebenarnya pukul dua siang. Mungkin Vena ingin pulang dulu untuk mengambil seragam karena jarak rumah sakit ke rumahnya cukup jauh. "Oke, kalau begitu Om, saya pamit dulu ya," pamit Mario sopan. "Vena juga pamit ya, Yah." "Iya, kalian hati-hati di jalan. Mario, Ayah titip Vena ya," pesan Anton. Begitu mereka keluar dari kamar rawat inap dan pintu tertutup rapat, Vena langsung menarik tangan Mario dan menyeretnya menjauh dari sana. Ia baru berhenti saat mereka tiba di area parkir mobil rumah sakit yang agak sepi. "Bang Mario sudah gila, ya?! Bercanda seperti tadi itu sama sekali tidak lucu!" cecar Vena dengan napas memburu. "Loh, aku tidak bercanda. Aku memang ingin menikah denganmu," jawab Mario dengan nada santai seolah sedang membicarakan cuaca. "Hahaha, tidak lucu sama sekali!" tukas Vena sinis. "Tapi barusan kamu tertawa," ledek Mario. Ia tersenyum melihat wajah asli Vena tanpa makeup yang terlihat sangat cantik saat sedang marah. Ingin rasanya ia melumat bibir merah muda yang sedang mengomel itu. Sial, membayangkan bibirnya saja sudah membuat juniorku bangun, umpat Mario dalam hati. "Sudah deh, aku capek! Bang Mario jauh-jauh saja dariku. Aku mau pulang lalu kerja. Anggap saja ini pertemuan terakhir kita!" ucap Vena sarkas. Mario yang tidak suka dengan penolakan itu langsung menarik tangan Vena hingga gadis itu jatuh ke dalam pelukannya. Seketika detak jantung Mario berdegup kencang tak beraturan, bahkan suaranya terdengar jelas oleh Vena. Vena yang kaget langsung mendorong tubuh Mario menjauh. "Bang! Kamu ternyata punya penyakit jantung ya?! Pantas saja kamu tiba-tiba ada di rumah sakit ini! Aku pikir kamu mengikutiku, ternyata kamu sedang sakit! Maafkan aku ya Bang kalau aku tidak tahu kamu sedang sakit parah," cerocos Vena dengan raut kekhawatiran yang tulus di matanya. Mario mengernyitkan dahi, merasa heran sekaligus ingin tertawa. Benar-benar unik gadis ini. Aku harus memilikinya sebelum Nathan. Aku manfaatkan saja tuduhannya yang tidak berdasar ini. Toh, jantungku memang sakit karena jatuh cinta, pikirnya licik. "Nah, kamu sudah tahukan alasanku melamarmu? Aku rasa ini adalah solusi yang menguntungkan buat kamu," ucap Mario dengan senyum misterius. "Maksud Abang?" tanya Vena bingung. "Kalau kamu menikah denganku, hidupmu akan terjamin. Tapi kalau kamu menolak, apa kamu pikir ayahmu tidak akan bertambah parah penyakitnya kalau tahu putrinya gagal menikah? Dan... apa kamu pikir akan ada laki-laki yang mau menikah denganmu kalau tahu kamu sudah 'buka segel'?" papar Mario blak-blakan. Vena terdiam sejenak, ia mulai menimbang-nimbang ucapan pria di depannya. Benar juga kata Bang Mario. Mana ada laki-laki yang mau menikahiku kelak kalau tahu rahasiaku sudah terbongkar? Ayah pasti akan sangat sedih kalau aku tidak ada yang melamar. Vena menatap Mario dengan tatapan iba yang sangat tulus. "Benar juga kata Bang Mario. Mana ada laki-laki yang mau menikahiku kelak kalau tahu rahasiaku. Ayah pasti akan sangat sedih melihatku sendirian." Vena menarik napas panjang, lalu melanjutkan bicaranya dengan nada polos namun sangat menusuk. "Lagipula, Bang Mario kan punya penyakit jantung parah, pasti hidupnya tidak akan lama lagi. Kasihan juga Abang, ganteng-ganteng tapi meninggal dalam keadaan belum punya istri. Kalau aku menikah sama Abang sekarang, setidaknya kelak saat Abang sudah tidak ada, aku masih punya status janda yang layak untuk melanjutkan hidup." Mario membelalakkan kedua bola matanya. Ia benar-benar terkejut, tidak menyangka mulut Vena bisa lebih tajam dan tak terduga daripada Nathan. Pria itu nyaris tersedak air liurnya sendiri mendengar dirinya "didoakan" cepat mati. Mario menatap Vena dengan tatapan smirk yang dipaksakan untuk menutupi rasa kagetnya. "Kamu memang gadis pintar yang memiliki pemikiran sangat... praktis," balas Mario, meski dalam hati ia merasa harga dirinya sedikit tercoreng karena dianggap pesakitan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD