BAB 6: CANDU YANG MENYESAKKAN

1115 Words
"Kamu memang gadis pintar memiliki pemikiran seperti itu," balas Mario dengan tatapan smirk. "Sebenarnya aku memang gadis pintar, hanya saja aku miskin jadi orang-orang tidak pernah menganggap kepintaranku. Mereka hanya bisa merendahkan dan menghina aku," keluh Vena. Ucapan Vena membuat hati Mario terasa sedih. Setelah mencari tahu semua tentang kehidupan Vena, Mario benar-benar merasa takjub pada sosok gadis itu. Selain cantik, Vena adalah sosok pekerja keras, mandiri, dan sangat berbakti pada orang tuanya. "Maka dari itu, ayo menikahlah denganku! Aku akan membuat dunia memandangmu, Vena," ucap Mario pada Vena dengan tatapan mata yang berbinar menatap gadis di depannya. "Wah, wah... ucapan Bang Mario membuat hatiku bagaikan roller coaster, Bang," balas Vena sambil terkekeh. Mario pun tersenyum mendengar balasan ucapan dari Vena. "Aku serius dengan ucapanku, Vena," tegas Mario. "Iya Bang Mario, Vena percaya sama Abang. Sekarang Vena mau pulang dulu ya Bang, mau mandi, ganti baju, terus kerja," pamit Vena pada Mario yang langsung segera melangkahkan kakinya menuju ke arah jalan raya. Namun, Mario dengan cepat menarik lengan Vena sehingga membuat Vena menoleh ke arah wajah Mario. "Apa lagi, Bang?" protes Vena dengan mimik wajah kesal. "Aku yang antar kamu sampai tempat kerja kamu. Aku mau memastikan calon istriku selamat sampai tujuannya," ucap Mario tersenyum manis. "Hah! CALON ISTRI??" Vena terperangah dengan ucapan Mario. Mario menganggukkan kepalanya seraya tersenyum dengan maksud membenarkan perkataan Vena. "Bang, aku kan baru berpikiran mau menerima, jadi masih ada kemungkinan aku menolak, Bang. Dan aku lagi malas berdebat karena aku harus segera berangkat kerja, Bang. Jadi dimohon pengertiannya," ucap Vena kemudian berusaha menarik lengannya dari cengkeraman tangan Mario. Namun apa daya, kekuatan tangan Mario lebih besar dibanding dengan kekuatan Vena. "Ya sudah, daripada berdebat, sebaiknya aku antar biar lebih cepat sampai. Dan apa pun jawabanmu nanti, kamu tetap harus menikah denganku. Ayo!" balas Mario dan langsung menyeret Vena masuk ke dalam mobilnya. "Issh... Bang Mario sama Bang Nathan itu ya sama-sama pemaksa," gerutu Vena di dalam mobil mewah milik Mario. Mario yang mendengar Vena menggerutu hanya bisa tersenyum. Entah mengapa, hari ini dia merasa wajahnya banyak mengeluarkan senyuman semenjak bersama Vena. Mario mengarahkan tubuhnya sangat dekat kepada Vena. Vena yang mengetahui itu langsung menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Bang Mario, jangan macam-macam ya! Aku bakalan teriak kalau Bang Mario macam-macam sama aku!" ucap Vena panik. "Hey sweety, aku cuma mau pasangkan kamu seatbelt saja. Kalau kamu tidak pasang seatbelt, mobil aku tidak akan bisa hidup mesinnya, Sayang," sahut Mario tersenyum manis sambil memasangkan seatbelt pada Vena. Mobil mewah Mario memang memiliki standar keamanan yang tinggi. Wajah Vena merona malu karena pemikirannya yang salah. Duh, kenapa aku jadi mikirin yang aneh-aneh sih, batin Vena. "Kok wajah kamu merah, Vena? Hahaha... kamu mikir yang aneh-aneh ya," ledek Mario terkekeh. "Issh apa-apaan sih, siapa juga yang mikir aneh-aneh. Sudah Bang, buruan jalan, keburu telat nanti," elak Vena yang memasang wajah malu. "Iya, iya, Vena cantik," jawab Mario tersenyum dan melajukan mobilnya menuju rumah Vena. Sementara di gedung Wijaya Group, Nathan sedang fokus memeriksa laporan keuangan yang diberikan oleh manajer keuangan di dalam ruangannya. Wajah Nathan memerah bukan karena malu, melainkan karena memendam amarah. Suasana hati Nathan memang sedang buruk akibat perdebatannya tadi dengan Vena di rumah sakit, dan sekarang ia malah mendapatkan kabar ada penggelapan dana perusahaan yang dilakukan oleh salah satu karyawannya. Lengkap sudah kekesalan Nathan. Emosinya pun meluap dan ia limpahkan kepada Tito, asisten sekaligus sekretaris pribadinya. BRUK! Nathan melemparkan tumpukan kertas laporan keuangan ke atas mejanya, membuat Tito terkejut. "Pecat dia! Dan pastikan tidak ada perusahaan yang akan menerimanya. Berani sekali bermain curang denganku!" perintah Nathan pada Tito. "Baik, Pak," jawab Tito. "Dan kamu, saya mau kamu lebih teliti lagi. Saya tidak mau ke depannya ada laporan seperti ini lagi. Jika ada hal seperti ini lagi, kamu yang akan saya pecat. Mengerti!" tegas Nathan. "Mengerti, Pak," jawab Tito gugup. "Keluarlah dan panggilkan Alvin, suruh ke ruangan saya," perintah Nathan kembali. "Baik Pak, saya permisi," jawab Tito lalu meninggalkan ruangan Nathan. "Huft, sial... Pak Nathan galak banget sampai keringat dingin gue," gerutu Tito setelah keluar dari ruangan Nathan. Sebelum kembali ke meja kerjanya, Tito menuju ruangan kerja Alvin untuk melaksanakan tugas dari Nathan. Tok.. tok.. tok, Tito mengetuk pintu ruangan Alvin. "Yup, masuk," sahut Alvin dari dalam ruangannya. Tito langsung membuka pintu ruangan Alvin. "Vin, Bos manggil tuh. Suruh ke ruangannya sekarang. Mending cepat deh, Bos lagi marah-marah," ucap Tito saat membuka pintu. "Wah, serius lo? Kenapa?" tanya Alvin. "Kepala bagian perencanaan proyek di Raja Ampat korupsi 300 juta," jawab Tito. "Hah, serius lo? Kok bisa kecolongan?" tanya Alvin kembali. "Tahu deh gue juga bingung, sudah mending lo buruan deh daripada tambah ngamuk kayak banteng tuh si Bos," jawab Tito. "Iya, iya, gue ke sana," ucap Alvin. Alvin pun menuju ruangan Nathan, sedangkan Tito kembali ke mejanya. Sementara di ruangan Nathan setelah Tito keluar, Nathan meraih ponselnya yang berada di atas meja kerja dan menghubungi seseorang. (Halo?) (Iya, Bos.) (Jangan lupa perintah saya. Ikuti ke mana gadis itu pergi dan laporkan pada saya semua kegiatan yang dilakukan gadis itu!) (Baik Bos, perintah dilaksanakan.) (Oke, saya tunggu laporan kamu.) (Siap, Bos.) Nathan memutuskan panggilannya dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Kemudian ia kembali mengingat kejadian di mana Vena menolak dirinya saat Nathan menyuruh Vena kembali untuk melayaninya. "s**t! Tubuh Vena buat gue jadi candu. Gue nggak akan biarin lo jauh-jauh dari gue, Vena. Lo harus jadi milik Nathan Wijaya," gumam Nathan. Tok.. tok.. tok, suara ketukan pintu membuyarkan ingatan Nathan tentang Vena. Alvin langsung membuka pintu ruangan kerja Nathan. "Ck, kebiasaan deh lo. Belum gue suruh masuk juga sudah nyelonong saja," gerutu Nathan pada Alvin yang sedang berjalan menghampirinya. "Hehehe, sori Bos. Kata Tito lo manggil gue, ada apa, Nath?" tanya Alvin. "Gue mau lo pantau semua komputer karyawan sini. Jangan sampai ada kecurangan data sedikit pun di kantor gue. Gue nggak akan biarin tikus-tikus gerogoti Wijaya Group," perintah Nathan pada Alvin sambil mengepalkan tangannya. "Oke Bos. Sudah sih, nggak usah emosi mulu. Emang semalam Vena nggak memuaskan apa?" ledek Alvin agar Nathan meredam emosinya. "s**t! Dia buat gue candu, Bro. Yang bikin gue kesel, dia berani nolak gue waktu gue minta nanti malam ngelayanin gue. Kacau kan tuh cewek!" umpat Nathan sambil mengendurkan dasinya ketika membayangkan kejadian di lobi rumah sakit saat Vena menolak melayaninya. "What??? Nathan Wijaya ditolak? Apa kabar gue yang cuma kacung lo, pasti dia bakalan nolak gue juga," pekik Alvin terkejut. Selama ini yang ia tahu, semua wanita tidak akan pernah menolak Nathan. "Jadi penasaran gue sama permainan Vena di ranjang. Nathan saja dibikin candu sama dia. Kira-kira bisa nggak ya gue dapetin Vena?" gumam Alvin dalam hati sambil membayangkan tubuh Vena yang menurutnya sangat cantik alami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD