8. Rasa nya Manis.

2388 Words
Delana menghampiri keduanya. Ia melihat wajah Ran yang telah memerah dan basah dengan Air mata. Sedangkan Dalton kini sedang mencengkram kuat tangan Ran. “Lepasin Aku!” Ran masih berusaha menarik tangannya. “Gua nggak akan lepasin elo. Urusan kita belom selesai. Ikut gua!” Dalton memaksa Ran untuk mengikutinya. Ran terus berusaha memberontak agar tangannya terlepas. Namun sayang cengkraman Dalton terlalu kuat hingga membuat pergelangan tangannya sakit. “SssSakit!” cicit Ran. “DALTON BERHENTI!” Ujar Delana. Dalton menghentikan langkahnya. Delana menghampiri dan melepaskan cengkraman Dalton. “De! Jaga sikap kamu! Jangan kurang ajar sama perempuan!” ujar Delana. Ia lalu menghampiri Ran. “Kamu nggak apa-apa? Tangan kamu..” Delana melihat pergelangan tangan Ran yang memerah dan terluka akibat goresan dari jam tangan. “Kamu liat akibat ulah kamu!” Delana menunjukan pergelangan tangan Ran. “Kakaku…” “Apapun alasan kamu. tidak di benarkan kalau kamu bersikap kasar! Apalagi sama perempuan. Jahat kamu Ton. Kenapa sih kamu harus sekasar ini sama cewek?” kesal Delana. “Dia udah nampar aku dua kali kak!” Dalton membeladiri. “Karena kamu emang pantes untuk di tampar!” Delana memang terlihat sangat Kesal kini. Kakaknya itu adalah wanita yang lembut dan tegas. Ini adalah kali kedua kakaknya terlihat marah saat dulu ia mencubit teman perempuan SD nya sampai tangannya membiru. Ran yang hanya terdiam sambil menahan suara tangisnya di belakang Delana. Memang ada rasa bersalah pada diri Dalton, bukan maksudnya untuk menyakiti Ran, namun dirinya pun tak tau kenapa ia bisa berbuat se nekat itu. “Kamu nggak apa-apa? Tangan kamu pasti sakit banget ya? Ada lagi yang Dalton lakuin ke kamu?” tanya Delana pada Ran. Mereka kini duduk dalam ruangan pribadi Komisaris yaitu ruangan yang biasa Keluarga Maheswara gunakan. Ran menggeleng kecil. “Saya..nggak apa-apa bu?” jawab Ran pelan ia mengingat bahwa perempuan yang di hadapannya adalah kakak dari Dalton yang berarti pemilik sekolah ini. Delana menghampiri Ran dengan membawakan lap basah untuk membersihkan luka Ran lalu ia mengoleskan obat dan menutupnya dengan plaster luka. “Nggakapa-apa gimana… ini pergelangan tangan kamu sampe luka begini loh gara-gara anak nakal itu”ujar Delana dengan kesal mengingat perlakuan adik semata wayangnya. Ran tersenyum, nampak nya kakak dan adik sifatnya sangat berbeda jauh. “Kamu di apain lagi sama Dalton? ada yang luka lagi nggak? Atau Dalton berbuat lebih kasar sama kamu? dia ngelakuin sesuatu sama kamu?” tanya Delana berturut-turut. Ran mengeratkan katupan bibirnya hingga membentuk garis tipis. Ia mengingat apa yang telah Dalton perbuat padanya. Namun, ia tak mungkin bilang pada Delana. Mau diletakan dimana wajahnya. “Nggak ada Bu…” ujar Ran. Delana menghela nafasnya. Ia tahu jika Dalton pasti telah melakukan sesuatu pada gadis manis di depannya kini, namun sepertinya Ran tak mau berterus terang. Delana pun tak enak jika terus mencecar. “Oke kalau gitu. Saya akan minta maaf” ujar Delana sambil memegang tangan Ran. “Kakak minta maaf atas nama Dalton, Kakak minta maaf atas semua kesalahan yang sudah Dalton perbuat sama kamu. bukan niat Kakak untuk membela atau membagus-baguskan adik Kakak. Tapi… sebenarnya Dalton adalah anak yang baik, dia anak yang sopan dan juga perhatian. Yaahh..walaupun sedikit jutek dan Keras kepala, tapi Kakak jamin, Dalton bukan laki-laki yang jahat. dia memang kadang suka keterlaluan, tapi Kakak yakin, di dalam hatinya, Dalton juga pasti menyesal dan merasa bersalah sama kamu. Cuma… dianya aja yang punya gengsi gede-gedean” tutur Delana. Ran menyimak segala yang di sampaikan kakaknya Dalton. ada rasa kagum dan kesal. Kagum akan sikap Delana yang sangat baik dan juga terlihat sangat menyayangi Dalton. dan rasa kesal karena, kenapa Dalton yang harus jadi adiknya, atau kenapa perempuan sebaik ini harus jadi kakak dari laki-laki yang Paling menyebalkan di sekolah. “Iya bu, nggak apa-apa. Ibu nggak salah apa-apa, jadi nggak usah minta maaf. Kalau Dalton benar-benar mau minta maaf, dia sendiri yang harus ngomong, bukan orang lain, walaupun keluarganya. Tapi minta maaf di wakil kan dengan orang lain,itu tandanya orang yang bersangkutan tidak tulus bu. Yang bersalah yang harus mengutarakan kata maaf” ujar Ran. Delana lalu memandang Ran dengan senyum. Ternyata ia masih menemukan gadis yang tau tatacara bertata karma dengan baik dengan alami. “Ya sudah kalau gitu. Nanti biar kakak yang akan minta Dalton supaya dia minta maaf sama kamu” “Nggak usah bu. Saya nggak apa-apa. Lagian siapa saya harus banget kasih maaf ke Dalton. saya bukan siapa-siapa bu” ujar Ran yang takenak. “Hei..seperti yang kamu bilang, Yang bersalah yang harus mengutarakan kata maaf..! dan Dalton bersalah. Jadi dia harus minta maaf. Kami sekeluar gak adalah orang yang sportif. Kalau salah yang bilang maaf, kalau kalah yang harus mengakui” “Tapi bu… “Ssshhtt!! Udah jangan banyak protes! Oya dari tadi kita ngobrol tapi Kakak belom tau nama kamu. siapa nama kamu? dan kelas berapa?” “Nama saya Ranai Pramuningtyas bu. Tapi biasa di panggil Ran. Saya kelas 11.IPA 2 Bu” jawab Ran “Oh… jadi kamu sekelas sama Dalton?”tanya Delana. “Iya bu” “Aduhh..jangan panggil aku Ibu. Aku masih single umurku juga baru 23 tahun. Oya, Nama aku Delana Rayu Maheswara. Aku kakaknya Dalton. panggil aja Kakak atau Kak Lana, jangan Ibu. Kita pakai bahasa santai aja, jangan terlalu kaku!” “Tapi nanti nggak sopan” “Siapa bilang? Kakak malah tersinggung kalau di panggil ibu. Emangnya aku setua itu” “I..iya kak.” “Oke..gitu lebih bagus. Terus, sekarang kamu mau pulang? Biar kakak anter kamu” “Nggak kak. Aku mau balik lagi aja ke kelas” “Tapi tangan kamu luka loh” “Nggak apa-apa. Cuma gores sedikit. Lagian bahaya kalau sekali aja aku bolos, nanti point dan nilai aku berkurang, terus beasiswa penuh aku di cabut” tutur Ran. “udah kamu nggak usah khawatir. Biar kakak yang urus, nanti kakak bilang sama dewan sekolah kalau kamu sakit dan kakak bawa pulang” ujar Delana. Namun Ran menggelengkan kepalanya. “Jangan kak. Nggak usah, aku nggak apa-apa. Aku harus tetap jujur dan mempertahankan nilai aku. jadi aku tetap memilih balik ke kelas” ujar Ran. Mendengar penuturan Ran, membuat Delana tersenyum senang. Ia jadi terpesona dengan gadis cantik dan sederhana yang ada di hadapan nya kini. Apalagi Delana kini tahu,kalau Ran adalah siswa yang Cerdas dengan mendapat beasiswa penuh di sekolah. “Oke kalau gitu. Biar kakak antar ya” “Nggak usah kak. Jangan repot-repot. Aku bisa sendiri” “Jangan membantah. Kakak sekalian mau ngeliat anak nakal itu!” Ran mengangguk lalu keduanya keluar dari ruangan komisaris dan berjalan menuju kelas Ran. Mereka jalan beriringan. Delana terlihat lebih tinggi, apalagi ia memakai heels. Delana terlihat sangat cantik dengan setelah suit Kemeja dark grey dengan celana panjang yang senada, bagian dalam menggunakan Turtle neck warna putih dengan sepatu high heels berwarna nude peach, rambut yang tergerai bergelombang dengan ombre warna gold. “Kak Lana cantik banget” ujar Ran yang melihat penampilan Delana yang sungguh membuatnya terpukau. Jangankan laki-laki, perempuan saja bisa sangat terpesona dengan Delana. “Ahahahaha… makasih Ran, kamu juga cantik. Cuma butuh polesan aja biar keluar auranya” lalu keduanya sama-sama tersenyum. Ran memasuki kelasnya. Namun disana tak ada Dalton, yang ada hanya teman-temannya. Saat Delana sedikit melongok ke dalam kelas, ada sebuah tatapan intens yang tertuju padanya. Tatapan memuja yang tak bisa ia tahan apalagi di pungkiri untuk selalu melihat kearah Delana. Malam tiba, Derry ayah dari Dalton sedang sibuk dengan beberapa berkasnya di ruang kerjanya. Ada beberapa proyek yang akan segera MAHAGROUP kerjakan. Kepala Derry sedikit pusing, karena ia belum sama sekali istirahat dari pagi. Ia terus menatap laptopnya dan hanya minum segelas Moccacino yang ia pesan. ~Tok..tok…~ pintu ruang kerjanya terketuk. “Masuk!” Lalu terlihatlah wanita yang selama dua puluh empat tahun mendampinginya. Wilona memasuki ruang kerja. Ia memakai dress satin dengan leher V neck panjang selutut berwarna peach, rambutnya di gulung asal. Walaupun Wilona sudah berkepala empat, namun ia masih tetap cantik. Wilona masuk dengan membawakan makan malam untuk Derry. “Kamu belom makan dari siang Mas..aku bawakan Makan malam untuk kamu, ini ada Jamur saus tiram kesukaan kamu” Ujar Wilona. “Aku belum lapar. Letakan saja disana” Ujar Derry tanpa mengalihkan pandangannya dari Laptop. “Tapi kamu belom makan dari pagi Mas. Kamu Cuma minum kopi dan makan satu buah apel aja. Nanti asam lambung kamu naik lagi..kamu bisa sakit Mas” ujar Wilona secara lemah lembut, sebenarnya ia ingin sekali berteriak pada suaminya tersebut karena sangat mengkhawatirkannya, namun ia tak berani, ia takut Derry marah dan membencinya. Derry menatap tajam pada Wilona . “Kamu denger apa yang aku bilangkan? Aku. Belum.Lapar” ujar Derry dengan penuh penekanan. Wilona menghela nafasnya, Derry memang sangat keras kepala dan dingin. ‘Bagaimana aku bisa meluluhkan hatinya? sementara sampai saat ini suamiku tak pernah menoleh pada ku’Beo Wilona dalam hatinya. ia memandang sendu pada Derry. “Baiklah… tapi jangan lupa makan. Jangan terlalu lama, nanti keburu dingin” ujar Wilona dan hanya di jawab ‘Hmm’ dengan Derry. Wilona membalikan badannya keluar dari ruangan kerja Derry. “Akkhh!! Aakk!!” derry tiba-tiba meringis memegangi perutnya. Wilona segera berbalik dan melihat Derry yang kesakitan langsung menghampiri suaminya. “Mas…! Mas Derry kenapa? Lambung kamu sakit?” Wilona sangat terlihat khawatir. “O..obat Wil” tatih Derry. Wilona langsung berlari mengambil obat di kotak P3K, lalu memberikannya pada Derry. Wilona lalu memapah Derry agar berbaring di sofa yang cukup besar, dan cukup untuk tidur seseorang disana. Wilona membaringkan Derry di sofa. “Aku kan udah bilang. Makan! Makan! Jangan telat makan! Kamu susah banget sih di bilangin!” ujar Wilona dengan mata yang berkaca. Ia benar-benar khawatir dengan Derry. “Aku sakit Wilona… kamu memarahi ku sekarang?” ujar Derry dengan meringis. “Kamu yang bikin penyakit!” kesal Wilona. Derry tak menghiraukan dan memejamkan matanya mencoba tidur. Wilona memasakan bubur untuk Derry yang kini sedang tertidur. Entah seberapa dinginnya Derry terhadapnya, namun ia tak bisa mengacuhkan Derry begitu saja. Derry adalah seseorang yang tak pernah Wilona bayangkan. Ketika ia di paksa untuk menikah dengan Derry, ia sedang memiliki hubungan dengan seorang lelaki yang bukan dari kalangan konglong merat atau kalangan jutawan. Kedua orang tuanya tak merestui hubungan Wilona dengan lelaki tersebut karena mereka berfikir, kekasihnya Wilonahanya memanfaatkan Wilona saja. Wilona memang pernah di tipu dengan lelaki b******n sebanyak tiga kali, namun saat bersama kekasihnya yang terakhir, Wilona merasakan cinta yang tulus. Saat berkencan, tak pernah sekali pun Wilona mengeluarkan uang. Kekasih Wilona lah yang selalu mengeluarkan uang. Walau pun mereka berkencan di pinggir jalan, memakan makanan kaki lima, dan tak pernah sekali pun pergi ke tempat yang mewah, tapi itu tak masalah bagi Wilona. Ia menerima Kekasihnya dengan segala ke sederhanaannya. Namun tidak dengan keluarganya. Hingga dengan kejamnya, keluarga Wilona memaksa dirinya untuk menikahi Derry lelaki yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Jika tidak menikah dengan Derry, maka keluarga Wilona akan membuat keluarga sang kekasih menjadi hancur hingga ke akar-akarnya, dan Wilona tahu sekali tentang keluarganya yang tidak pernah main-main ketika mereka tak menyukai sesuatu. Dengan segala cara mereka akan melenyapkannya. Dan dengan berjalannya waktu, Wilona mulai menerima keadaanya dan mencoba bersikap menjadi istri yang baik untuk Derry. Walaupun keduanya sama-sama acuh, Namun Derry tak pernah sekali pun bersikap kasar pada Wilona. Hingga suatu saat Derry pulang dengan keadaan mabuk. Wilona yang niatnya ingin membantu Derry merebahkan diri di kamarnya, malah mendapat kejadian tak terduga. Derry dengansemangat mencumbunya. Wilona yang berusaha melepaskan diri dari Derry pun tak kuasa. Walau dalam keadaan mabuk, Derry mencumbunya dengan lembut hingga dapat membuat Wilona memasrahkan dirinya dan menyerahkan mahkotanya pada Derry. Hanya kata ‘maafkan aku’ yang dia dengar dari Derry di pagi harinya. Walaupun hanya sekali, namun ternyata itu dapat menghadirkan Delana dalam rahim Wilona. Dan Saat beberapa tahun berlalu, di suatu hari Derry yang baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya, tiba-tiba saja menerkam Wilona dan menggempurnya berkali-kali dalam semalam, dan hadirlah putra pewaris mereka Dalton AjiMaheswara. “Mam! Ngelamunya?..lagi masak apa?” tanya Delana yang masuk kedapur dan melihat Wilona yang sedang mengaduk-aduk dengan tatapan kosong. “Eh? Nggak kok..ini Mama masak bubur buat papa kamu” “Pasti asam lambungnya naik deh” “Iya. Dari tadi pagi dia nggak makan nasi. Cuma minum Moccacino sama Makan apel satu biji” “Ih Papa bandel banget di bilangin!” “Iya. Sama kayak kamu sama Dalton. bandel kalo di kasih tau orang tua” ujar Wilona sambil mejawil hidung Delana. Tak lama Dalton masuk ke dapur dan mengambil minuman di dalam kulkas dan meminumnya. Namun setelah meminum, Dalton Nampak berpikir sesuatu. Dalton menggigit bibir bawahnya dan seutas senyum terbit dari bibirnya. Dalton yang tak sadar disana ada Kakak dan Mamanya, langsung meninggalkan dapur. “Na.. Dalton kenapa? Kok tiba-tiba senyum-senyum sendiri?” tanya Wilona. Delana mengangkat kedua bahunya. “Aku juga nggak tau Ma… malah, Dalton hari ini sedikit keterlaluan sama salah satu anak gadis disekolah” “Oya? Keterlaluan gimana?” Wilona penasaran. “Masa dia narik-narik tangan cewek itu, sampai pergelangan tangannya luka Ma…” “Ya ampun.. Dalton keterlaluan. Terus gimana?” “Ya nggak gimana-gimana sih. Untungnya cewek itu baik jadi dia udah maafin Dalton. terus dia juga sopan banget Ma. Dan yang lebih aku nggak nyangka… Dia anak cerdas Ma.. dia gadis berprestasi!” cerita Delana denganantusias. Sedangkan yang sedang jadi bahan pembicaraan kini tengah terbaring di kasurnya. Dalton terbaring tak menentu diatas ranjangempuknya. Bayangan saat ia mencium Ran selalu berputar-putar di otaknya. Bagaimana ia maju lalu mencium bibir Ran. Ia tak menyangka, berciuman rasanya sungguh nikmat. “Ternyata ciuman itu, ada manis-manisnya gitu ya” beo Dalton. Ia merasa berbeda dengan apa yang di ceritakan Delana. Berciuman dengan Ran malah membuatnya terbayang-bayang betapa manisnya bibir Ran. Apalagi ia melakukannya dengan mengingat contoh ciuman yang sering ia lihat di video-video yang teman-temannya miliki. Menerobos masuk menggunakan lidahnya dan mengobrak-abrik mulut Ran ternyata tak menjijikan. Dalton kembali tersenyum saat mengingat Rasanya berciuman. Sungguh ia sangat mengingat bagaimana rasanya. “Gila gua! Gila! Gila! Gila!” Dalton tertawa geli sediri dengan dirinya. “Ternyata rasanya Manis. Bibir lo, bener-bener manis Ran” ~Nah kan... si Dalton kepengen lagi deh.. enak kan ciuman Ton?!~ ~Maaf Ya kalau ada tulisan yang dempet. soalnya waktu ngetik aku pakai komputer yang Ms. Wordnya beda. jadi butuh waktu untuk mengembalikannya, dan pasti mata author agak ke pelitek dikit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD