7. Kesal dan Mengganggu!

2259 Words
Dalton merebahkan dirinya diatas ranjang. Nafasnya sedikit memburu, entahlah apa yang ia rasakan. Namun rasanya kini ada rasa tak tenang dalam dirinya. Ia kemudian membayangkan Ran dengan lelaki yang ada di parkiran tersebut. “AKH!! SIAL! Ternyata lo juga sama piala bergilir. Anjing!” kesal Dalton. Entah mengapa ia merasa kesal, namun itulah yang kini ia rasakan. Ran kini di antar oleh Ardan. Ardan ingin melihat sekolah popular yang berhasil di tembus sepupunya melalui jalur Beasiswa penuh. “Mas.. mas.. berenti, itu ada temen aku” ujar Ran. Lalu Ardan berhenti, Ran segera turun dari mobil. “Tita!!” Ran memanggil Tita, Tita menoleh sambil membenarkan kaca matanya. “Hei Ran.. kamu di antar siapa?” tanya Tita. “Aku di antar sepupu aku. Ayo aku kenalin” ujar Ran dan membawa pergelangan tangan Tita. “Itu siapa?” bisik Tita yang melihat Ardan sedang sibuk dengan ponselnya. “itu sepupu aku” “Udah tua ya?” “Belom terlalu tua sih. Umurnya dua puluh tujuh tahun”jawab Ran. “Tua lah itu!” “Tapi Ganteng!” Ran mendekat pada Ardan. “Mas Ardan.. kenalin ini temen aku, Tita.. Ta, kenalin ini Mas Ardan sepupu ku” ujar Ran. Ardan mengalihkan pandangannya dari ponselnya pada Tita yang masih menunduk. Ardan lalu mengulurkan tangannya. “Hai… saya Sepupu Ran” ujar Ardan. Tita menaikan pandangannya, dan menyambut uluran tangan Ardan. “Saya Tita Pak. Temennya Ran” jawab Tita dengan ragu menatap Ardan. Tangan Tita yang begitu mungil terasa halus dalam genggaman tangan Ardan. Sesaat Ardan terpaku dengan tatapannya menatap Tita. Wajahnya begitu manis di bingkai dengan kacamata, membuat tampilan Tita menjadi imut dan lugu. “Heh! Masa sepupu aku kamu panggil Bapak. Ya walaupun udah cocok jadi bapak. Tapi dia belum bapak-bapak. Panggil aja Mas” tegur Ran membuat lamunan Ardan buyar. “Eh? Maaf. Maaf mas Ardan” ujar Tita yang tak enak. “Nggak apa-apa” jawab Ardan sambil melepaskan genggamana tangan Tita “Ya udah, Mas pamit dulu ya. Assalamualaikum” “Walaikumsalam” jawab Tita dan Ran lalu keduanya memasuki area sekolah. Ran dan Tita berjalan beriringan menuju kelas. Namun Tita yang kebelet ia berbelok dulu ke WC dan Ran terus ke kelas. Ran memasuki kelas dan langsung duduk di mejanya. Ia lalu mengeluarkan cemilan Bang-Beng dari tasnya. Baru saja ia akan membuka bungkusan cemilan tersebut, namun sudah di rebut duluan. “Weits… cemilan murah gini masuk ke kelas nih” ujar Dalton, dan langsung di lempar pada Ricky. Ricky menangkapnya, membuka dan langsung memakannya tanpa permisi pada Ran. Dalton dan kawan-kawannya berkumpul duduk mengelilingi Ran. Ran terdiam, ia berusaha tak menghiraukan apa yang di lakukan Dalton dan kawan-kawannya. “Gua jamin isi tas kalian yang ada di kelas ini, nggak jauh-jauh dari barang Branded! Iphone! Chanel? LV? Hermes? Ya kan?” Tanya Dalton dengan suara melengking. “Yo’i,. tapi punya kita-kita masih kalah lah di banding punya Elo Ton” ujar salah seorang Siswa. “Jelas Lord Dalton mana bisa lawan! Serba mahal, Branded, dan yang pasti semua cewek tergila-gila sama dia” celetuk siswa yang lain. “Kita sih apa. Nggak berani bandingin sama elo Ton” ujar yang lainnya. Membuat Dalton tersenyum miring. “Dan gua juga alergi sama semua yang murah. Apalagi Murahan! Bikin gua jijik” ujar Dalton. Membuat ketiga temannya sedikit bingung. “Eh tapi, gua penasaran sama isi tas satu-satunya cewek udik di sekolah ini” ujar Dalton “Yaudah, lo geledah aja. Siapa tau ada uang gepokan.. atau Mas batangan gitu!” ujar Ricky “Atau mungkin ada foto gua didalam tas neng Ran” tambah Digo. Sedangkan Kelvin hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah teman-temannya. Dalton yang duduk di hadapan Ran langsung menyeret tas Ran ke mejanya. Dalton membuka tas ran mulai dari yang terkecil, Dalton merogohnya, disana hanya ada sticky note berwarna biru muda. Lalu ia kembali mengeluarkan apa yang ada di ransel urutan ke dua. Dalton mengeluarkan alat tulis serta kotak bekal yang dibawa Ran. “Ya ampun lo bawa kotak bekal tiap hari? Kayak anak SD aja lu!” ejek Dalton. Dan yang terakhir ia membuka tas besar. Dalton mengeluarkan beberapa buku catatan, lalu ada pelembab wajah, pelembab bibir dan Lotion yang buka merk brand mahal. “Ahahaha… ini skincare murah kayak gini apa nggak bikin alergi? Skincare murah pantes cocok sama yang murahan!” sarkas Dalton. Ran masih terdiam, namun nafasnya mulai memburu, rasa marah dan kesal mulai muncul dalam dadanya. Dalton masih terus mengobrak-abrik tas Ran dan mengeluarkan beberapa cemilan Bang-Beng yang dimakan oleh Ricky. Dan yang terakhir ada dompet Ran yang berwarna hitam dengan gantungan kucing kecil. “Ati-ati lo buka dompet orang Ton.. nanti lo sakit hati lagi” celetuk Kelvin. Dalton lalu mendelik pada Kelvin. Apa maksud dari ucapannya tersebut. Dalton acuh dengan ucapan Kelvin dan membuka dompet Ran. Dapat terlihat disana ada sebuah foto Ran dan seorang wanita paruh baya yang terlihat lembut. Digo dan Ricky yang juga ikut melihat berdiri di belakang Dalton. “Wow.. siapa tuh? Nyokap lo Ran?” tanya Ricky. Ran tak menjawab hanya menatap mereka dengan tatapan dinginnya. Ran berusaha agar tak marah dan kembali menampar Dalton. Ia tak ingin terkena masalah lagi. “Cantik juga ternyata calon mertua gua” celetuk Digo. Dalton hanya mengangkat kedua bahunya. Lalu ia membuka slide besar dompet Ran. Dalton mengangkat sebelah alisnya, lalu ia menarik sesuatu dari dalam dompet Ran. “Dua puluh ribu? Lo bawa duit kesekolah se elit ini Cuma dua puluh ribu? Buat apa?” ejek Dalton sambil mengibas-kibaskan uang selembar milik Ran. Ran tetap tak membuka mulutnya. Ia hanya menatap Dalton dengan tatapan dinginnya. Tiba-tiba Dalton mengeluarkan dompetnya dan mengambil lima lembar uang Seratus ribuan dan memasukan ke dalam dompet Ran. “Lo ambil aja itu duit. Lumayan bisa isi perut lo hari ini. cukuplah untuk beli satu atau dua macam makanan enak di kantin ini. gua yakin, orang tua lo pasti nggak mampu kasih duit sebanyak itu. Jadi ambil aja” ujar Dalton dan meletakan dompet Ran di hadapan Ran. Kesabaran sudah habis, ia harus pergi dan menghindar dari orang-orang gila yang ada di sekitarnya. Ia tak boleh emosi apalagi sampai kelepasan meluapkannya. Ran meraih satu persatu barang-barang nya yang berserakan di meja dan di lantai, lalu ia merebut tasnya dari genggaman Dalton. Ran meraih dompetnya dan membukanya, mengeluarkan uang yang Dalton selipkan di dalam dompet, dan melemparnya ke depan wajah Dalton. “Aku miskin, tapi aku bukan pengemis! Aku lebih baik memiliki sedikit uang, tapi etika dan sopan santun ku terjaga dengan baik dan yang lebih penting aku tidak menyusahkan orang tua ku,. Dari pada banyak uang, tapi tidak memiliki hati, arogan, suka merendahkan orang lain, dan tidak sadar uang itu milik orang tua kamu! mereka yang susah payah banting tulang buat kamu, bukan kamu! jadi jangan sombong karena kamu nggak punya apa-apa!!” Ujar Ran dengan mata yang mulai memerah menahan tangisnya. Ran membawa tas nya dan keluar dari ruang kelas. Ia butuh tempat untuk mengeluarkan airmatanya, dadanya sesak. Namun sebelum Ran pergi jauh, tangan Ran di tarik dan di bawa ke pojok balkon. Ran melihat Dalton menariknya dan berusaha melepaskan cengkraman di tangannya. “LEPAS!”teriak Ran, Dalton menyudutkan Ran di tembok dan mengurungnya dengan kedua tangan Dalton. Ran menatap Dalton dengan penuh amarah. “Apa hak lo ceramahin gua! apa hak lo komentar tentang gua! lo nggak punya hak apapun untuk nilai hidup gua!” ujar Dalton dengan penuh penekanan. “Lalu apa hak kamu mengusik aku? apa hak kamu ngehina aku? kenapa kamu selalu ganggu aku? kenapa kamu selalu cari gara-gara sama aku?” tanya Ran dengan suara yang bergetar. “Karena lo jauh berada di bawah gua. gua berhak dan mampu ngelakuin apa aja sama lo! Sedangkan elo? Elo nggak ada setengahnya dari gua! dan juga, kenapa lo tolak uang yang gua kasih? Masih kurang? Mau yang lebih banyak? Gua bisa kasih lo lebih banyak lagi.. berapa pun yang lo mau” ujar Dalton.. Nafas Ran semakin memburu, tangannya mulai terkepal kuat. “Lo mau tau gimana caranya?” tanya Dalton dengan tatapan intensnya. “Lo, tidur sama gua! having f**k!” ujar Dalton. Mata ran seketika melotot tajam kearah Dalton yang tersenyum miring. ~PLAAKK!!~ tamparan keras mendarat di wajah Dalton. airmata Ran pun jatuh membasahi pipinya “Kamu benar-benar jahat! Aku bukan perempuan yang biasa kamu mainin!” ujar Ran. “Oya?! Lo bukan perempuan murahan? MUNAFIK! PEMBOHONG!” ujar Dalton. Ran mengerutkan keningnya. “Apa maksud kamu?” “Lo bilang lo bukan cewek bispak? Terus yang gua liat tadi malam di baseman Mall Citratown itu apa? Lo Having f**k disana sama cowok! di tempat umum lo berbuat nggak senonoh dan menjijikan lo bilang lo bukan cewek bispak?” kesal Dalton. Hatinya terasa panas mengingat kejadian tersebut. Ran semakin dalam mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti dengan ucapan Dalton. Sejak kapan dia berani berbuat m***m apalagi di depan umum. “Aku nggak pernah berbuat asusila dengan siapapun! Apalagi di tempat umum! Aku nggak pernah berbuat apa yang kamu tuduhkan! Jangan asal tuduh! Aku bukan perempuan seperti yang kamu tuduhkan! Bahkan kita nggak pernah kenal dan saling dekat sebelumnya!.. bagaimana bisa kamu tuduh aku se jahat itu Dalton.. apa salah aku sama kamu.. kenapa kamu sejahat ini?” Ran menangis. Dadanya terasa sesak mendapat tuduhan sekeji itu. Dalton sedikit terkejut mendengar penuturan Ran. Bagaimana bisa Ran mengaku tak pernah berciuman padahal saat di Baseman ‘Apa dia bohong? Tapi feeling gua kalo di jujur’ cicit Dalton dalam hatinya. namun Dalton kembali mengeraskan hatinya, ia tak akan mudah percaya dengan acting perempuan menangis. “Bohong. Lo pikir dengan lo nangis kayak gini bakal bikin gua percaya?” ujar Dalton. Ran pelahan mengangkat pandangannya. Ia menatap manic mata Dalton dengan kedua mata yang basah. Pandangan begitu sedih dan kecewa pada Dalton. Dalton pun menatap wajah sedih tersebut dengan perasaan bingung. Hatinya merasa bahwa Ran jujur, namun bagaimana yang ia lihat dan ia dengar?. “Serendah itu kah aku dimata kamu? sejelek itu kah penilaian kamu? terserah kamu mau.. aku nggak peduli kamu mau percaya atau nggak. Bahkan sekali pun berciuman saja aku belum pernah melakukannya seumur hidupku sampai sekarang!” kecam Ran dengan tatapan tajamnya. Dalton kini benar-benar terkejut dengan perkataan Ran. ‘Nggak pernah ciuman? Seumur hidupnya sampai sekarang? Kemana aja dia selama ini?’ beo Dalton dalam benaknya. Perlahan tanpa disadari pandangan Dalton melembut. Ada sedikit rasa senang dalam hatinya. pikirannya kini mulai kacau saat matanya melihat pada bibir indah dan terlihat lembab milik Ran. Pikirannya kala di kamarnya saat itu muncul kembali. ‘Bagaimana rasanya?’ ada rasa hasrat yang sangat besar untuk merasakan bibir gadis di depannya kini. “Jangan bohongin gua” ujar Dalton dengan suara yang sudah serak dan memberat. Ran menatap kembali dengan tajam. “Terserah kamu! aku nggak peduli! Tapi aku bukan perempuan murahan! Aku nggak seperti yang kamu tuduh! Aku…--hhmppp!!!” Dalton sungguh hilang kendali dan tak kuat lagi menahan dorongan dalam dirinya. Melihat bibir Ran bergerak kesana kemari membuat Dalton gemas dan ingin melahapnya. Dalton membungkam mulut Ran dengan cara menciumnya. Di hisapnya perlahan bibir bawah Ran dengan lembut. ‘Manis.. Lembut.. beginikah rasanya ciuman?’ ujar Dalton dalam benaknya. Rasanya sungguh nikmat dan memabukan. Sedangkan Ran yang mendapat serangan tiba-tiba hanya terdiam membeku. Dompetnya yang sedang ia genggam pun terlepas dari tangannya jatuh ke lantai sekolah. ia hal pertama baginya. Ciuman pertamannya! Dalton perlahan melepas ciumannya yang terasa begitu manis. Ia ingin melihat reaksi Ran yang ternyata diam mematung. Sepertinya memang benar yang Ran katakan. Dan ini adalah ciuman pertama untuk Ran, dan untuknya. Melihat Ran yang masih mematung dan sedikit menganga, membuat Dalton tersenyum karena Ran terlihat lucu. Ia kembali mencium bibir manis Ran sekali lagi, menyesap bibir atas dan bawah milik Ran. Dengan perlahan Dalton mencoba memasukan lidahnya di sela-sela bibir Ran yang terbuka sedikit. “Ehhmm…” lenguh Dalton. ia terbuai dengan Bibir gadis pertama yang ia rasakan. Dalton menerobos masuk dan memebelai apa saja yang indra pengecapnya temui. Termasuk saat ia membelai indra pengecao milik Ran. Dalton berusaha mengangkat dan menariknya keluar agar dapat ia hisap dengan leluasa. Ran seketika tersadar saat Dalton sedang berusaha mendapatkan indra pengecapnya. Disamping itu, pasokan udara pun menipis. Kedua tangan Ran terangkat, memukul dan mendorong d**a Dalton. “Hmmp!!! Emmpp!!!” Ran mendorong dan memukul-mukul d**a Dalton dengan sekuat tenaga, walaupun kini tubuhnya terasa lemas akibat ulah Dalton. Dalton yang kini kehabisan oksigen pun melepaskan ciumannya dengan sentuhan terakhir yaitu menghisap bibir bawah Ran. ~PLAKKK!~ sebuah tamparan mendarat di wajah Dalton sesaat setelah ia melumat bibir Ran. “Aku.. Benci sama kamu! Kamu adalah manusia terjahat yang pernah aku temui! Sekolah ini adalah neraka untuk orang seperti ku!” ujar Ran sambil menatap tajam pada Dalton yang terdiam memandangnya. Ia cukup terkejut saat Ran menamparnya. Ia pikir Ran juga menikmatinya. Ran mendorong Dalton menjauh dan pergi meninggalkan Dalton. Dengan menahan tangisnya ia berlari. Ran ingin pulang, ia tak mau sekolah disini lagi. ~GREEBB!~ tangan Ran di cekal dengan seseorang. Ia menoleh dan ternyata Dalton mengejarnya. “Ran…” “Lepas!” Ran menghentakan tangannya dengan kasar. Cengkraman pun terlepas. Ran melanjutkan langkahnya. Namun Dalton dengan cepat kembali meraih tangan Ran. “Lepasin aku! mau apa kamu?! kamu keterlaluan aku benci sama kamu!” Ran berusaha melepaskan diri dari Dalton. “DALTON!” teriakan seseorang membuat keduanya terdiam. Dalton melihat saiapa yang memamnggilnya. ’Kak Lana?’ Delana menghampiri keduanya. Ia melihat wajah Ran yang telah memerah dan basah dengan Air mata. Sedangkan Dalton kini sedang mencengkram kuat tangan Ran. wah... Dalton akhirnya nyosor juga... first kiss nya di serahkan dengan si udik.. hihihi... nikmatkan ciuman Dalton?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD