"Kenapa cekikikan gitu dek?, kesambet kau?" bang sonang heran melihatku yang ketawa sendiri saat baru masuk rumah.
"Iya bang, ketemu begu tadi" jawabku sambil menutup mulut menahan tawa mengingat ekspresi mak gardam sebelum kutinggalkan tadi.
"Ish, ada-ada aja lah kau ini. Bikinkan kopiku ya dek" lanjutnya tak ambil pusing.
"Siap bos" aku berkata sambil memberi hormat seperti anak sekolah yang menghormat pada guru.
~TJ~
Jam sudah menunjukan pukul 10.00, gak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Anak-anak pun sudah mandi, kami bersiap-siap untuk berangkat ke kolam renang sesuai janji bang sonang semalam.
Bagiku bang sonang adalah "suami andalan", kami selalu bekerja sama dalam berbagai hal salah satunya dalam mengurus anak-anak, terlebih semenjak aku hamil anak ketiga kami, ia tau kondisiku yang bisa dibilang cukup lemah karena tensi darah yang selalu dibawah angka 90/60 mmHg padahal selalu rutin minum vitamin yang diberikan dokter, tapi mungkin bawaan bayi.
Ia sering mengambil alih mengurus anak-anak sebelum berangkat kerja, mulai dari anak-anak bangun tidur sampai akan berangkat sekolah. Tak takut Ia dicap suami DKI (Dibawah Ketiak Istri) karena seringnya ia membantuku dalam melakukan pekerjaan rumah termasuk menjemur pakaian. Pernah suatu hari kutanya padanya, "abang gak takut dicap suami DKI karena dilihat orang jemurin pakaian?" tapi di menjawab "abang lebih takut kalu adek yang tersakiti dan setres sendiri sama semua pekerjaan rumah, abang kan udah pernah bilang sebelum kita nikah abang cari pendamping hidup dek bukan pembantu. Selama abang masih bisa abang akan bantu dek, ngapain mikirin omongan orang kan gak mereka yang ngasih kita makan". Duuuhhh so sweettttnya suamiku ini...
TJ~
"Pak, ajarin dulu aku berenang" kata kirana, "yuk" akupun membawanya ke tepi kolam khusus untuk anak-anak.
Ya, 30 menit yang lalu kami sampai disini di kolam renang A lebih tepatnya waterpark sih bukan kolam renang karena banyaknarema bermain yang masih berhungan dengan air. Ternyata teman-teman ku yang lain juga datang membawa anak serta istri mereka, mungkin gak dapat izin kalau gak ikut hahahah..ternyata bukan cuman aku yang takut istri..
"lae, liat itu ada cewek bohay" Benget memonyongkan bibirnya ke arah cewek berbaju renang yang akhh, entahlah dilihat risih gak dilihat sayang.. upss
"Bah, jaga mata kau lae mau kau jadi samsak tinju binikmu nanti?" tanyaku sambil melirik kearah istri Benget yang memang badannya macam petinju.
"Sesekali gak papa lah lae, cuci mata" Bambang rekan ku yang lain menimpali.
"Kau masih single Bambang, lah si Benget ini udah 3 anaknya loh" Irvan ikut menanggapi.
"Ah, biarlah asal gak ketahuan" kata Benget seraya beranjak mendekati wanita tersebut kemudian mereka terlibat percakapan yang entah ngomong apa gak tau.
Tapi tiba-tiba, bini si Benget datang kearah mereka dan menjewer telinga Benget lalu menarik dan menceburkanya ke kolam, kemudian berteriak "dasar lakik genit, sampek rumah kupotong sosis kau ya bodat" tunjuknya pada suaminya, "dan kau, mo nyoba jadi pelakor kau ya? gak kau tengok dia udah bapak-bapak? dari tadi kutengok matamu melirik lakik ku teros, udah gatal kau sini biar kugaruk" ancamnya pada wanita yang bersama suaminya tadi.
"hajar eda, jangan kasi ampun sama calon pelakor" Ulina istriku pun ikutan.
"Ayo eda kubantu" kata Butet istri Irvan bergaya seolah menggulung lengan bajunya padahal dia pakai baju yukensi alias baju tanpa lengan.
"Heh, yang gatal itu lakikmu ya. kan dia yang datangin aku ngajak kenalan tukaran no w******p. ya kukasihla ya kan" ejeknya dengan genit
"ish, bibit-bibit pelakor ini. Pantas aja baju kau seksi kali macam l*nte kutengok gayamu" Ulina mulai emosi.
Alamak, aku mendelik mendengar perkataan istriku barusan.
"Apa kau bilang? kurang ajar kau ya!" seru wanita tersebut
"Apa? nantangin kau hah?" Ulina maju mendorong wanita itu kedalam kolam. "kecik kali samaku ngelawan kau, kutiup aja terbang kau kelangit. jangan macam-macam kau ya" Ulina emosi. Aku pun berlari kemudian memeluknya untuk menenangkanya, kubawa ia ke lesehan ditepi kolam renang.
"Udah dek, biarlah itu urusan si Benget sama biniknya yah. Jangan ikut-ikut kita" bisikku ditelinganya seraya memberikan air putih.
"Emosi aku bang" katanya kemudian meneguk air putih yang kuberi. "jadi teringat aku pas masih pacaran kita waktu kau ketahuan selingkuh" dia menatapku tajam.
"Alamakjang, kok jadi aku pulak lah yang kenak ini mak eee" rutukku dalam hati seraya menelan ludah, mendadak tenggorokanku kering. "Ampun lah dek, mana berani abang kek gitu, itu dulu khilaf nya orang pacaran dek ku" ucapku kemudian. Apa ini bawaan bayi ya sensitif sekale binik ku ini bah..
Mendadak aku dejavu ke masa lalu, masa dimana Ulina memergoki aku sedang berboncengan mesra diatas kereta (sepeda motor) bareng mantan pacar yang genit nyosor pengen jadi selingkuhan dan Ulina menghadang didepan dengan menggenggam sebongkah batu sebesar gilingan cabai mamakku dirumah, bayangkan kelenlah kek mana batu gilingan kan besar,berat pula. "Turun gak kau?" katanya menatapku tajam, tapi aku yang udah takut malah kabur dengan tangan gemetaran bawak kereta.
Dan tanpa disangka-sangka Ulina melemparkan batu yang dipegangnya tadi, "aduh, sakitnya pinggangku" wanita yang kubonceng mengeluh, ia mengelus pinggangnya yang kena lemparan batu dari Ulina.
"Adoh mak eee, tobat aku bah" pikirku kala itu dan berjanji dalam hati gak lagi lah.
"Betol ko ya bang, kalau dulu pas ketahuan cuman kulempar batu aja kalian" Ulina menatapku "kalau sekarang, berani kau genit-genit ataupun sampe selingkuh kupotong sosis kau" ancamnya membuat aku ingin pingsan.
Bayangkan saja sosodara sekabupaten, seprovinsi, setanah air lah sekalian apa gak bergetar ginjal awak dengar ancaman binik ku ini.
"Ampun yang mulia ratu Uli, hamba bersumpah demi istri dan anak-anak hamba tidak akan berani macam-macam apalagi sampe selingkuh" aku mengangkat tangan membentuk dua jariku seperti huruf V (suer). Perlu diketahui sosodara sekalian, aku memang sudah berjanji tidak akan pernah menghianati istri dan anak-anakku.
"Kupegang janjimu bang" Uli membalas pelukanku.
~TJ~
Tak terasa waktu terus berjalan, jam pun menunjukkan pukul 4 sore. Puas bermain menaiki semua wahana kami pun beranjak pulang kerumah masing-masing, tak terkecuali kami.
"Pak makan mie ayam bakso dulu kita yok, cacing ku udah demo pak" kirana berkata seraya menunjuk perutnya. Alamak, ini anak sekaligus borong ya mie pake ayam pake bakso sekalian..
"Cacing adek juga pak" adel ikut menimpali.
"Cem nya dek, makan bakso kita?" aku meminta persetujuan binik ku.
"Iya bang, aku juga pengen makan mie ayam bakso porsi jumbo 2 mangkok. kek nya lapar kali anakmu ini' ia mengelus perutnya yang sudah mulai buncit.
Eleh, ini yang lapar anak apa mamaknya? masak iya si utun masih blom punya mulut bisa ngabisin 2 mangkok??? bawaan bayi ya permirsahh..
"Yok berangkat" kami memacu sepeda motor masing-masing menuju warung bakso terenak dan terlaris di kota ini.
~TJ~
Setelah memesan menu sesuai keinginan masing-masing, kami memilih tempat duduk yang paling nyaman disudut dekat jendela dekat kipas angin, biar gak gerah pas abis makan coy.
"Ulina..."
suara seorang pria dari arah belakangku memanggil nama istriku, istriku pun mendongak kemudian tersenyum dan akupun berbalik.
"kau......
_________________
Hayo, siapa tuh??
penasaran gak? penasaran gak? kalau penasaran ikutin terus yuk kisah mereka dengan subscribe cerita ini ya.