Part 4.Kawan Lama?

758 Words
(Pov Author) "Kau...paijo bukan?" sonang mengingat-ngingat pria dihadapanya, antara yakin dan tidak pasalnya pria didepannya ini bergaya seperti wanita hanya suara dan wajahnya saja yang meyakinkan kalau itu memang paijo kawan lamanya. cemana gak bingung, si paijo pake kaus rajut lengan pendek warna pink cerah dipadu dengan skinny jeans biru cerah yang sobek-sobek dibagian paha dan heels kuning kira-kira 7cm tak lupa juga H*rmes birkin mini ditangan kanannya..wah, nano-nano sekale paijo ini. "*enggih, mosok lali toh karo aku cyiin? eh, tapi ojo celuk aku paijo dong cyiin, pai-pai aja dungs" jawab paijo genit-genit tak menentu udah mirip kayak ulet keket. "bah, mana mungkinlah aku lupa sama kawanku dari kecil" mereka saling berpelukan dan tos ala-ala anak zaman now. "cem kabar kau jo?" sonang menarik kursi untuk paijo duduk, ingin bertanya kenapa gaya paijo berubah drastis tapi takut paijo tersinggung. "*kabar eike apik loh say" simpel sekale jawaban si paijo ini. "*wes pesen iki say?" tanyanya lagi "udah dong" jawab sonang "*eh, Uli piye kabare cin? makin cincau yo saiki. eh iki anakmu yo cin? cantik-cantik koyo mamak e" cerocos paijo dengan mode genit-genit ala w*ria pasar malam. "baik jo, iya" Uli merasa risih dengan sikap paijo yang entahlah, dibilang norak ya emang iya. "eh, eike ke belakang dulu ya ciiin, mau ngecek wong dapur. kalian pesen sepuasnya aja gratis, iki warung bakso e pakde ku say" paijo berkata sambil berlalu ke arah dapur. "bang, kawan kau kok merseng (mereng setengah) gitu gayanya? perasaan dulu gak gitu kali lah?" uli keheranan. "entahlah dek, pening (pusing) kepalaku denger dia becakap (bicara) dek" sonang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Teringat dulu masa kanak-kanak mereka, paijo adalah anak tetangganya jadi mereka sangat dekat, selalu sekelas bahkan sebangku juga. Pernah suatu hari saat mereka bermain bola kaki, tiba-tiba paijo terdiam ditempatnya berdiri bahkan bola yang bergerak kearahnya pun dibiarkan saja diambil alih lawan, semua yang ada dilapangan pun dilanda keheranan akan sikap paijo. "woi paijo, kok diam kau?" sonang menepuk pundak paijo, namun paijo tetap diam. Lalu tiba-tiba paijo menarik celananya sampai ke d**a dan merapatkan kedua lutut nya kemudian berjalan dengan sangat pelan (bayangkan saja pemirsah seperti apa gaya paijo) "aku pulang dulu ya" kata paijo kemudian. Sonang mencium ada yang gak beres dari gelagat paijo ini,dan benar saja saat paijo baru beranjak 3 langkah langsung tercium bau busuk yang menyeruak hidung tembus mengoyak ke tenggorokan. "Paijo, kau ber*k di celana ya?" sonang menatapnya tajam namun suaranya di tekan agar teman-temanya yang lain tidak mendengar. "ehm,..anu...ehm,..iya" paijo terbata "ish, jorok kali kau jo yaudah pulang sana" perintah sonang seraya menutup hidungnya. "yo maaf, aku kebelet dari tadi tapi nanggung kalau mau ke WC, iya aku duluan". paijo berlalu masih dengan gaya berjalan seperti tadi, dengan kedua tangannya di letakkan disisi kanan dan kiri guna menahan celananya agar tidak melorot.. Ada rasa geli menggelitik di dadanya mengingat betapa konyolnya sikap paijo dulu, membuatnya senyum-senyum sendiri. "woi bang, makan tuh baksomu" teguran Uli menyadarkan Sonang dari lamunanya. "kalau gak mau sini kumakan" kata Uli lagi hendak mengambil mangkok bangso milik sonang yang belum tersentuh sedikit pun alias masih suci belum terjamah sendok dan garpu. "kakak juga mau pak" kirana menimpali ucapan ibunya. "bah, apa pulak kalian? bapak juga lapar nih" sonang yang tak terima langsung menyendokkan sebutir bakso ke dalam mulutnya, tapi sesaat kemudian melepeh lagi bakso yang disuap tadi. "alamak, panas kali rupanya" seraya meneguk habis teh manis dingin yang ada dihadapanya, tak cukup satu gelas tapi gelas milik adel pun ikut diraihnya dan ditandaskan habis isinya. "pak, itu punya adek" seru adel cemberut. "ish bapak ini gak enak kali lah main sosor punya orang aja" adel makin cemberut. "panas kali dek, keselomot (terbakar) lidah bapak ini haaa" sonang membuka mulut menunjukkan lidahnya yang memerah bak bibir biduan. "pesan lagi lah sana" lanjutnya kemudian. "makanya jangan kebanyakan menghayal kau bang, gosah pala ko pikirin si paijo itu" uli manyun menunjukkan kecemburuanya. "ish, kau ini dek jangan aneh-aneh lah ot*k kau ini mikirnya ah" sonang mulai frustasi takut istrinya merajuk bisa bahaya nanti. "udahlah abiskan makanan kalian, biar pulang kita" kata sonang masih mengipasi lidahnya yang memerah tadi, mau lanjut makan bakso takut perih gak dimakan kok sayang, yasudah dibungkus saja. ~TJ~ *nji Nang, mosok lali karo aku = iya Nang, masak lupa sama aku. *apik = baik *uwes pesen iki? = sudah pesan makanan? *uli apa kabar? makin cantik sekarang. eh ini anakmu ya? cantik seperti ibunya. Ada apa dengan paijo? kenapa dia bisa berubah drastis? tetap pantengin bab selanjutnya yah, akan ada kejutan nih ketahuan selingkuh, tapi siapa ? jawabnya : Rahasia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD