Asa berlari menuju kamarnya lalu segera mengunci pintunya. Ia berdiri di balik pintu sembari mengatur napasnya. Ia mengigit bibir bawahnya kuat dengan mata yang berkaca-kaca. “Huhh ... Kenapa aku harus mengingat kejadian pahit 5 tahun yang lalu saat bersama Om Jay tadi. Maafkan aku Om Jay.” Keesokan paginya, Asa terlihat sedang menyantap sarapannya sendiri karena Jay sedari tadi belum tampak turun dari lantai 2. Selang beberapa menit kemudian, Jay tampak turun dengan pakaian khas kantornya yang rapi. Ia sedikit berjalan tertatih-tatih sembari memegang bagian belakang tubuhnya menuju ruang makan. “Om, kenapa jalannya begitu?” tanya Asa dengan santainya. Jay langsung mengambil duduk di salah satu kursi. “Masih pakai ditanya lagi. Ya, karena kamu lah!” “Ya, maaf Om. Habisnya Om dadakan sih

