Kurang dari satu jam kemudian aku sudah duduk berhadap-hadapan dengan Alvaro di suatu kafe. Dasar tukang hipnotis! Aku dengan gampangnya dibuat meng-iyakan permintaannya walaupun tadinya sempat protes.
Ku tatap sebal wajah sombong itu. Dia balik menatapku dengan dagu terangkat dan bersilang tangan. Tampangnya memang tidak setampan Edgar, tapi wibawanya tidak main-main. Membuatku sedikit terintimidasi.
“Tante cantik, makasih ya udah mau datang ketemu Ayas..” suara imut si Laras kecil mengalihkan atensiku.
Dan karena keberadaan bocah ini jugalah aku tidak bisa berkata kasar kepada lelaki di depanku itu. Senyumku mengambang dan hidungku kembang kempis. Asal kalian tahu, dipuji ‘cantik’ oleh anak kecil rasanya lebih menyenangkan dibanding dipuji oleh seorang pria. Kalian tahukan kalau anak kecil itu cenderung jujur sementara laki-laki hanya gombal belaka?
“Sama-sama cantik..” aku ikut memuji dirinya, anak itu ikut tersenyum senang. Yang ini aku tidak gombal. Dia memang cantik.
“Ngomong-ngomong Laras mau ketemu tante sore-sore begini ada apa ya?” tanyaku penasaran.
“Ayas.. mau bilang makasih karena tante udah selamatin Ayas..”
Aku tersenyum, setidaknya bocah ini lebih beradab dibanding ayahnya yang gelo itu. Bahkan hingga detik ini saja, pria itu belum mengucapkan terima kasih padaku!
“Sesama manusia memang harus saling tolong menolong, sayang..” ucapku sambil mengusap pucuk kepala gadis kecil itu.
“Kalau gitu Ayas mau minta tolong tante satu lagi..” ucapnya lagi.
Alisku terangkat menanti lanjutannya. Ku suap spagetti yang dari tadi hanya ku putar-putar dengan garpu. Sementara Alvaro tak berucap sepatah katapun sejak tadi. Ia hanya menyimak sambil sesekali menyeruput kopinya.
“Tante, aku mau tante jadi mamiku!”
“HAAAHHHH..?!”
Aku nyaris tersedak garpu sementara Alvaro menyemburkan kopi yang sedang diseruputnya. Mata lelaki itu membulat dan menatap anaknya tak percaya.
“Laras! Kamu ngomong apa nak?” desisnya.
“Ngg.. Laras.. Kayanya kalau yang itu tante gak mungkin bantu kamu deh!” aku ikut bersuara setelah berhasil menggagahi diri.
“Kenapa tante?” tuntutnya, mata bulat lucu itu mulai berkaca-kaca.
“Yaa.. soalnya tante kan udah punya anak juga. Kamu kenal Farrel? Dia satu sekolahan dengan—“
“Huuaaaaa...” tiba-tiba gadis kecil itu menjerit dan tantrum. Dia mencak-mencak tak karuan membuat nyaris seluruh isi meja berpindah tempat ke lantai, termasuk piring spagettiku.
Aku hanya bisa ternganga karena aksi brutal itu, sementara Alvaro menangkap tubuh sang putri dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia sibuk berbisik-bisik menenangkan Laras kecil.
“Aku maunya tante Ayas jadi mamiku, pi..” rengek gadis itu disela sesuguknya.
“Iya.. iya! Tante Laras mau kok! Iya kan tante?” Alvaro menoleh padaku dan membesarkan matanya.
“Apa lo kata?” sahutku cepat, “Gak mau gue..”
Laras semakin histeris. Aku langsung gelagapan dan Alvaro mempelototiku geram.
“Iya.. oke! Tante mau!” ujarku asal-asalan. Yang penting bocil kematian itu bungkam.
Laras langsung berhenti menangis dan menatapku dengan binar bahagia, “Benar ya tante?” tanyanya.
Aku menyeringai aneh dan menggangguk begitu saja.
“Tante janji?”
Aku kembali mengangguk.
Gadis itu tertawa dan memeluk papinya. Alvaro si gebl*k itu ikut tertawa lega. Kini giliranku yang melotot. Apa-apaan ini? Apa aku baru saja dijebak?
.
.
“Gila lo ya! Tadi gue cuma asal jawab karena anak lo histeris gitu. Lagian siapa juga yang mau jadi bini orang g!la kaya lo?” semburku mengekori Alvaro yang sedang menggendong Laras yang sudah tertidur itu.
Alvaro tidak menggubrisku. Ia membuka pintu mobil dan menidurkan Laras dengan hati-hati. Barulah setelah itu ia berkacak pinggang dan menatapku dengan intens. Tak bisa ku pungkiri, sekali lagi, walau tidak setampan Edgar tapi tatapan mata itu menghujam sanubariku. Membuatku susah payah menelan ludah karena gugup.
“Terus situ pikir saya juga sudi jadi suami situ?” sarkasnya.
Aku membatalkan niatku untuk terpesona. Lelaki ini memang sampah!
“Terus ngapain lo PHP-in tuh bocah? Main janji mau nikah sebulan lagi segala! Lo kira gue cewek apaan? Gue juga punya keluarga tau!” semburku esmosi.
“Saya akan temui orang tua situ dan ngomong baik-baik sama Farrel. Masalah selesai kan?” jawabnya enteng.
“Gue udah punya suami, sialaan—“
“Tapi sudah meninggal kan?”
Aku terdiam dan menatapnya tak percaya. Dari mana dia tahu?
“Well, sampai jumpa lagi calon istri!” ujarnya dengan seringaian menyebalkan itu, sedetik kemudian ia sudah menggeber mobilnya meninggalkan parkiran kafe berikut meninggalkanku yang masih ternganga.
***
Hari berikutnya kami bertemu lagi di sekolahan anak-anak. Dan Laras kecil sudah mempunyai panggilan baru untukku.
“Mamiii...!” jerit gadis itu.
Ia berlari kecil menyonsongku yang baru turun dari motor dan memeluk pinggangku. Aku kembali ternganga dan mukaku dibuat memerah karena tatapan kepo orang-orang. Aku merutuk dalam hati dan berharap mudah-mudahan Farrel protes karena ada yang mau merebut mamanya. Sialnya bocah itu tidak bisa diajak bersekutu. Dia malah tersenyum senang!
Usut punya usut ternyata bujangku itu sudah menyukai Laras di hari pertama sekolah! Hadeeeh!
“Aku suka Laras tapi gak suka papinya, Ma! Aku maunya uncle Faiz yang jadi papa baruku.” Begitu jawaban Farrel saat iseng ku tanyai apa dia mau punya papa seperti Alvaro.
Entah apa yang ada di kepalaku saat bertanya seperti itu. Bukankah itu artinya aku cukup berminat menjadi mami barunya Laras?
Beberapa hari kemudian, gadi kecil itu tau-tau sudah berada di rumahku.
Siang di kala weekend itu, aku baru saja kembali dari supermarket. Membeli stok sembako yang mulai menipis. Aku sedikit heran saat ada sebuah mobil terparkir di depan rumah. Dan gara-gara mobil berbodi tinggi itu, aku sedikit kesusahan memasukkan motorku ke teras. Saat baru saja ku matikan mesin motor, dua bocah kecil melongokkan kepalanya dari dalam rumah.
“Mamii..” jerit Laras menyambut, gadis kecil ini kembali berhasil membuatku ternganga.
“Yeayy..! Mama pulang!”
Kini ada dua bocah yang memeluk pinggangku.
“Mama bawa oleh-oleh buat aku kan?” tanya Farrel mendongak kepadaku.
“Tentu sayang!” jawabku, “Laras kenapa ada di sini?”
Anak itu hanya cengengesan.
Terseok-seok aku masuk rumah sambil menjinjing kantong belanjaanku yang berat. Belum lagi dua bocah itu mengitiliku, membuat ruang gerakku menjadi terbatas.
“Ras! Kamu udah pulang?” sapa ayahku yang sedang duduk di sofa bersama seseorang, Alvaro!
Hampir saja aku menjatuhkan kantong belanjaanku melihat keberadaan lelaki itu.
“Duduk sini Ras! Ayah mau ngomong!”
Aku menurut. Setelah meletakkan kantong-kantong itu di dapur, aku kembali ke ruang tamu sambil membawa dua stoples kue titipan bundaku yang sedang sibuk menyeduh teh. Aku duduk di samping ayah dan memerhatikan dua lelaki yang tampak sudah akrab itu. Tumben sekali ayahku bisa segampang ini menyukai orang.
“Kamu tau Ras? Nak Varo ini bosnya ayah!” ujar ayahku sumringah.
Ya, eksistensi pria ini kembali membuatku ternganga. Ayahku adalah seorang dosen. Beliau dinas di perguruan tinggi negeri dan juga menyambi menjadi dosen tidak tetap di suatu perguruan tinggi swasta. Dan Alvaro Nugroho ini adalah pemilik perguruan tinggi swasta itu! Pantas saja ayahku begitu ramah kepadanya.
“Ayah sudah dengar ceritanya dari nak Varo. Dan ayah setuju-setuju saja kalian menikah.” Ucap ayah yang sukses membuat mataku melotot.
“T-tapi yah—“ aku berusaha protes tapi tidak tahu harus bilang apa. Rahangku mengeras saat melihat pria itu menyunggingkan senyuman smirk.
“Pantas saja kamu tidak mau ayah comblangkan dengan para dosen muda itu, ternyata gebetanmu bos-nya Ras!”
Ya ampun! Rasanya mukaku sudah memerah seperti kepiting rebus. Bundaaa! Mana lakban? Ingin rasanya ku lakban saja mulut ayahku yang hari ini begitu banyak bicara itu. Alvaro si gelo itu tertawa mendengar gurauan ayahku. Ia melirikku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
“Ayah rasa kalian sangat cocok! Lihatlah, bahkan Farrel dan Laras kecil tampak seperti saudara kembar.”
“Cukup yah!” aku mulai frustasi dengan celotehan bapak satu ini.
***
Hari –hari berikutnya Laras kecil cukup sering main ke rumahku. Entah itu di temani Alvaro, dan kadang Edgar yang menemani dirinya. Aku tidak masalah, karena gadis kecil tidak pernah mengganggu diriku. Ia sibuk bermain dengan Farrel dan bundaku. Hanya saja aku sedikit kurang nyaman dengan panggilan ‘mami’ darinya itu.
“Ed, aku boleh tanya gak?” ujarku pada Edgar yang hari itu dapat jatah menemani Laras.
“Tanya aja mbak!” jawab Edgar.
Kami berdua terdiam sejenak sambil mengamati dua bocah yang sedang main lego di teras samping.
“Mbak? Katanya mau nanya..”
Aku tersentak dan menoleh kepada Edgar yang sedang menatapku kepo. Aku cengiran kepadanya.
“Ah, maminya Laras kemana Ed? Apa sudah.. meninggal?” tanyaku hati-hati.
“Bang Varo emang gak cerita apa-apa ke mbak?” dia balik bertanya.
Aku menggeleng cepat. Boro-boro mau cerita seperti aku dan Edgar sekarang ini, pria gelo itu hanya bisa membuatku kesal. Bisa-bisanya saudara kandung punya sifat yang sangat berbeda. Yang satunya sombong dan menyebalkan, satunya lagi hangat dan humoris. Kesamaannya mereka hanyalah sama-sama punya tampang yang good looking. Tentu saja kesuksesan Edgar menjadi direktur sebuah perusahaan konstruksi di usia 26 tahun bisa disamakan dengan kesuksesan kakaknya. Sepertinya gen keluarga mereka benar-benar unggul!
“Bang Varo itu cerai hidup mbak! Mantan istrinya selingkuh dengan sahabatnya sendiri saat Laras masih bayi. Sejak saat itu bang Varo cenderung membenci perempuan.”
Aku mengangguk-angguk paham mendengar penjelasan Edgar.
“Mbak Laras seriusan mau jadi istrinya bang Varo?”
“Aku? Enggak! Abangmu yang gelo itu main buat keputusan sendiri tanpa menanyakan pendapatku!”
“Terus? Emang mbak gak tertarik sedikitpun sama dia gitu? Bang Varo kan cakep mbak, tajir lagi..”
“Enggak! Sifatnya benar-benar buruk! Aku bisa mati muda kalau jadi istri dia!” cepat-cepat ku sanggah omongan Edgar yang sedang mempromosikan kakaknya itu.
Edgar tertawa, “Kalau gitu, gimana kalau mbak jadi istriku aja? Aku rasa Laras cukup puas kalau mbak jadi tantenya.”
Mataku membulat. Satu lagi kesamaan mereka, sama-sama gilaa!
***
Faizan Armani Hanif adalah kakak kandung dari Fadly Alhadi Hanif. Yang artinya, Faizan adalah mantan kakak iparku. Dia kujuluki manusia es karena sifatnya yang sangat dingin. Dia adalah orang yang irit bicara dan suka mengintimidasi orang lain dengan tatapan tajamnya. Badannya yang tinggi dan kekar membuat orang lain semakin menciut jika berhadapan face to face dengan dirinya. Keluarga suamiku berdarah Timur Tengah, jadi tidak heran jika mereka mempunyai perawakan yang menarik dan berbadan jangkung.
Harusnya pria ini berada di Kanada mengurus bisnisnya yang beberapa tahun lalu baru saja melebarkan sayap di Amerika bagian Utara. Tapi hari ini dia duduk di hadapanku karena aduan seorang bocah kecil yang sedang duduk tak jauh dari kami. Bocah itu, Farrel, sedang sibuk memainkan robot yang bisa berubah jadi truk, Optimus Prime, oleh-oleh dari Faizan.
Faizan sangat menyayangi Farrel. Semenjak mas Fadly meninggal, Faizanlah yang mengambil tanggung jawab keuangan atas diri Farrel. Tak kurang dari 50 juta dia mentransfer setiap bulan ke rekeningku untuk biaya bulanan Farrel. Faizan bilang, 30 juta untuk Farrel, sisanya untukku. Karena itulah dia melarangku untuk bekerja agar aku bisa fokus merawat Farrel. Dan aku menyetujuinya. Tapi tak sedikitpun aku sentuh jatah bulananku dari Faizan itu. Aku bisa mencukupi kebutuhan pribadiku dari honor menulis.
“Farrel bilang dia akan punya papa baru!” itu kalimat pertama yang dia lontarkan kepadaku setelah hampir setengah jam ia berada di rumah ini.
Aku meneguk ludah. Kulirik sebal anakku yang pengadu itu. Awas saja, nanti akan ku jitak kepala kecil itu.
“Siapa dia?” tanyanya.
“Dia bukan siapa-siapa. Mas Faiz, maksudku.. aku belum memutuskan untuk mau menikah dengannya..” aku dibuat gelagapan oleh tatapan itu. Kenapa rasanya aku seperti tertangkap basah berselingkuh?
“Kenapa Laras?”
“Kenapa apa mas?”
“Apa kamu begitu ingin punya pendamping hidup?”
“Enggak mas! Aku—“
“Saya sudah memintamu untuk menunggu tiga tahun saja kan? Tidak bisakah kamu bersabar sebentar lagi?”
“Eh—?“
“Tiga bulan, saya akan melamarmu tiga bulan lagi!”