Tiga tahun lalu, sebulan setelah mas Fadly meninggal, Faizan mengajakku bicara serius empat mata. Hari itu juga hari terakhir dia berada di Indonesia, karena besoknya dia harus terbang ke Kanada mengurus perluasan bisnisnya di negeri yang berdekatan dengan kutub utara itu.
Malam itu kami duduk berdua saja di teras samping, sementara Farrel sudah tertidur dan kedua orangtuaku seolah mengerti kalau kami butuh ruang pribadi sehingga mereka melipir ke kamar hingga Faizan pulang.
“Laras, jangan buru-buru menikah dulu!”
Aku ternganga, dalam rangka apa Faizan si manusia frozen itu berkata begitu?
“K-kenapa mas Faiz ngomong begitu?” aku tergagap dibuatnya.
“Kamu masih muda dan.. cantik!”
Seorang Faizan memujiku? Aku langsung tersipu. Lalu memangnya kenapa kalau aku cantik?
“... pasti banyak yang akan mengincarmu..”
Sekarang aku mulai paham kemana arah pembicaraannya.
“Maksud mas Faiz bisa saja dalam waktu dekat aku akan segera mencari pengganti papanya Farrel?” tanyaku meyakinkan, pria itu mengangguk.
“Mas Faiz tenang aja! Aku rasa gak segampang itu aku akan membuka hati untuk orang lain. Dan mungkin aja mas Fadly akan menjadi satu-satunya pendamping hidupku!”
Aku begitu percaya diri bahwa tidak ada satu orangpun yang akan bisa menggantikan posisi mas Fadly! Aku wanita yang setia!
“Baguslah!” wajah Faizan tampak puas.
“Tapi jika nanti kamu berubah pikiran, lakukanlah dengan saya!”
Mataku membulat. Tunggu, apa maksudnya dengan ‘lakukanlah dengan saya’ itu? Aku tidak bertanya, aku hanya menatapnya bingung.
“Saya yang akan menjadi ayah sambung Farrel! Tunggulah tiga tahun lagi, sampai perusahaan yang di Kanada bisa saya percayakan kepada orang lain!”
APAAA?!
Seenaknya dia memutuskan akan menjadi suamiku kelak. Ingin rasanya aku protes saat itu juga. Tapi manik tajam yang tengah menatap dingin itu membuatku seolah membeku. Dan malam itu pembicaraan itu berakhir begitu saja.
***
Hubunganku dengan Faizan bukan hubungan yang hangat. Kami bukanlah ipar yang akrab. Selama aku menjadi istri mas Fadly, kami hanya bertemu beberapa kali saja. Itu pun hanya mengobrol seperlunya mengingat sifat Faizan yang sangat cool, tidak cocok dengan diriku yang pecicilan. Tapi demi Farrel, hari ini aku mengikhlaskan waktuku untuk bersama dengannya. Dan ini kali pertama kami menghabiskan waktu bersama.
Pantai adalah pilihan Farrel untuk bermain. Anak itu memang sangat suka bermain pasir. Bahkan sisa pasir bekas ayah merenovasi teras di pojokan halaman seringkali dijadikan media bermain oleh Farrel. Entah itu untuk membuat istana pasir yang selalu roboh, ataupun untuk membuat kue-kuean ala anak perempuan. Tak jarang bocah itu menemukan harta karun punya si empus. Dan ia akan menjerit histeris bila tak sengaja memegang benda menjijikan yang mirip kue kering itu. Kalau sudah begitu biasanya bundaku yang akan heboh dan buru-buru mencuci tangan anak itu.
“Andai kamu bisa seramah itu mas, mungkin kita bisa jadi besti..” gumamku saat melihat Faizan yang tertawa begitu lepas.
Ia dan Farrel sedang bermain pasir. Dan saat ini mereka sedang membangun istana. Farrel sedang misuh-misuh karena tembok kastilnya disapu ombak dan itu yang sedang ditertawakan Faizan.
“Mamaaa...! uncle Faiz jahat! Huweee...” Farrel berlari ke arahku dengan air mata yang mengalir.
“Farrel.. Uncle minta maaf oke? Hahaa..” Faizan menyusul di belakangnya dengan tawa yang masih tersisa.
“Marahi uncle ma!” hasut anak itu.
Aku gelagapan, bagaimana caraku memarahi manusia es itu? Bisa-bisa dia mengutukku menjadi olaf!
“Marahi ma..”
“U-uncle.. k-kenapa nakal pada Farrel?” marahku tergagap-gagap.
“Uncle akan buatkan istana baru yang lebih bagus oke? Farrel bisa maafin uncle? Kalau Farrel masih nangis, bisa-bisa mama beneran marah dan mengutuk uncle jadi batu..” dia berlutut membujuk anakku seraya melirik diriku dengan senyum manis yang menggoda.
Farrel menatap diriku meminta persetujuan, dan aku menggangguk. Segera ia bangkit dan mengekori Faizan. Dasar bocah! Secepat apa ngambeknya, secepat itu juga baikannya.
“Kita buat di sini oke? Kalau terlalu dekat laut bisa tersapu ombak lagi..”
Faizan dan Farrel mengambil tempat yang tidak begitu jauh dari tikar tempat ku duduk. Sehingga aku bisa menyaksikan setiap seluk beluk tindakan mereka. Bahkan wajah full ekspresi Faiz yang sangat jarang terekspos itu bisa ku nikmati dengan puas.
“Kamu ganteng banget kalau murah senyum gini loh mas..” lagi-lagi menggumam sendiri, “Astaga! Apa yang ku pikirkan..”
Aku langsung tersadar dengan pikiran liar itu. Bisa-bisanya aku mengagumi kakak ipar sendiri! Mas Fadly, maafin aku!
Setengah jam kemudian, istana pasir buatan Faizan sudah siap. Tentu saja jauh lebih bagus dari istana yang tersapu ombak tadi. Farrel memekik kegirangan dengan istana barunya. Anak itu langsung mengumpulkan batu-batu kecil yang rencananya akan ia jadikan prajurit.
Faizan tersenyum puas. Ia senang melihat keponakannya bahagia. Setelah membersihkan sisa-sisa pasir yang menempel di tangan dan celana pendeknya, ia memilih duduk di sampingku. Seketika aku langsung merasa suasana membeku. Aku gugup, salah tingkah, bahkan sekedar menoleh saja rasanya tidak bisa!
“Kamu tidak lapar?” senyum manis yang tadi menghiasi wajah tampan ala Timur Tengah itu kini menguap entah kemana, aku ditatapnya dengan wajah super serius nan dingin.
Bahkan jika aku benar-benar lapar sekalipun, aku tidak akan sanggup mengatakan ‘iya’. Jadi yang bisa ku katakan hanya, “Masih belum mas..”
“Saya lapar!”
Terus aku harus mendatangkan chef Gordon Ramsay gitu? Aku juga lapar maas! Ini sudah lewat jam makan siang, dan kalian berdua terlalu asik bermain pasir!
“Ini mas, makanlah..”
Aku menyerahkan kotak ransum milik Farrel yang separuh isinya sudah berpindah ke dalam perutku. Faizan meliriknya tanpa minat kemudian menggeleng. Aku sedikit tersinggung, apa makanan buatan ku tidak sebegitu menariknya?
“Itu tidak mengenyangkan, kita makan siang begitu Farrel siap menghias istananya.”
Aku mencebik dan mengambil kembali kotak itu. Ya sudah kalau tidak mau!
‘Kamu akan menyesal karena sudah menolaknya mas! Kamu gak tau aja kalau Farrel sudah bermain pasir bisa berjam-jam!’
Setelah cukup lama saling berdiam diri sambil memperhatikan Farrel bermain dengan istananya, Faizan menanyakan suatu pertanyaan yang membuatku sedikit blank, “Seperti apa lelaki itu?”
Aku menatap Faizan setengah tak percaya, dia bicara padaku? Atau aku sedang halu?
“Seperti apa lelaki itu?” dia balas menatapku.
“Le-lelaki? Lelaki siapa mas?” aku langsung merasa menjadi orang blo*n.
“Calon papa baru Farrel!”
“Oo..” aku langsung mengangguk paham, “Eh—“
“M-maksudku.. lelaki itu gak ada mas! Aku.. aku belum punya rencana untuk itu—“ gagapku, kenapa aku jadi panik begini?
“Benarkah?”
“B-benar!” kali ini rasanya seperti diinterogasi. Aku kan bukan penjahat!
“Lalu kenapa Farrel bilang ada seorang om-om yang mengaku akan menjadi papanya?”
Aku mendengus kesal. Kapan si Alvaro gelo itu berbicara seperti ini kepada anakku? Kenapa aku bisa lengah begini?
“Itu.. ah! Kayanya Farrel hanya salah paham. Maksudku.. itu hanya sekedar gurauan mas! Seorang temannya di sekolah memanggilku mami, jadi.. Farrel pikir aku akan jadi mami anak itu dan ayah anak itu akan menjadi papanya.. iya.. begitu!”
Jangan ditanyakan kepiawaian mengarang alasan, aku kan seorang penulis! Sudah pasti aku sangat jago!
“Jadi dia seorang duda?”
Ah, sepertinya aku terjebak omongan sendiri. Dasar bod*h!
“M-mungkin.. aku juga tidak tau!”
“Hmm, Oke!”
Huff.. sepertinya orang ini cukup gampang ditipu.
“.. tapi jika kamu benar-benar ingin melepas masa lajang, tunggulah sebentar lagi. Posisi Fadly saya yang akan menggantikannya!” sambungnya membuatku menganga lebar.
“Saya sungguh-sungguh!”
Manik kecoklatan itu menatapku dalam. Seolah sedang mentransfer isi hatinya kepadaku. Membuatku hatiku dag dig dug tak menentu.
Satu jam berlalu. Tak ada lagi pembicaraan serius setelah itu. Farrel bolak balik menghampiri kami, dan itu cukup membantu mencairkan suasana beku di tengah sore yang cerah ini.
Sekarang istana pasir anak itu sudah seperti kastil Disney. Farrel menambahkan berbagai bunga dan dedaunan yang entah dia pungut dari mana. Dan anak itu makin larut dalam permainannya. Membuat Faizan yang beberapa saat lalu menolak tawaran ransum dariku jadi menyesalinya.
KRUUCUUKK!
Perut lelaki itu tiba-tiba berbunyi cukup keras.
“Pppff...” hampir saja aku menyemburkan tawaku andai lelaki itu tidak melirikku dengan muka memerah menahan malu. Aku takut lirikan ‘medusa’nya akan membuatku menjadi batu.
“Ehemm..” dia buru-buru bangkit dan berjalan ke arah Farrel.
Aku tahu ia sangat malu. Sungguh, aku benar-benar ingin tertawa di belakang punggungnya.
“Farrel mau makan es krim?”
Faizan tahu betul, satu-satunya yang bisa meruntuhan keteguhan hati Farrel adalah es krim. Bagi anak itu, es krim adalah cemilan terenak di dunia!
“Mau uncle! Mau!” liur bocah itu langsung menetes, dia melonjak-lonjak kesenangan.
“Kalau begitu kita makan es krim di kafe sana?”
“Tapi istanaku—“
“Nanti kalau rusak uncle buatkan lagi yang lebih besar!’
“Yeayy! Ayo uncle..” anak itu langsung berlari ke kafe tanpa aba-aba.
Faizan mengulas senyuman puas. Malu-malu dia melirikku dan mengajak lewat kode mata. Aku mengangguk dan tersenyum simpul, lalu berjalan mengikuti mereka berdua.
“Mamiiii....” sebuah jeritan khas anak-anak menyambutku begitu aku melewati pintu.
Aku tersengat kaget, sesaat otakku langsung loading. Hanya satu manusia di bumi ini yang memanggilku mami, dan aku sangat yakin panggilan itu untukku. Lalu sebelum aku bisa mencerna semuanya, sorang gadis kecil menubrukku dan memeluk pinggangku.
“Mami..” Laras kecil mendongak dan menatapku dengan mata berbinar.
Tuh kaan..
“Mbak Laras! Sini..” Edgar melambaikan tangannya dari sebuah meja di pojokan. Dia tidak sendiri, dia bersama.. Alvaro! Lelaki titisan Wiro Sableng itu menatapku dengan senyum smirk andalannya yang menyebalkan itu.
Aku membalas lambaian tangan Edgar. Nyaris aku akan bersorak membalas sapaannya, andai Faizan tidak tiba-tiba menghampiriku. Lelaki itu menggandeng Farrel dan berdiri di sampingku, melihat dua kakak beradik itu dengan tatapan tidak suka.
“Siapa mereka?” tanyanya.
Aku langsung sadar kalau tidak sedang sendiri. Ya Tuhan! Tolong buat aku menguap saja!