Sudah 3 hari ini Sandra tinggal sendiri tanpa Gilang di rumah sang mertua. Sandra disibukkan dengan mama dan nenek yang sangat menyanyanginya, mereka melakukan hal - hal yang sangat menyenangkan bagi Sandra seperti berkebun, olahraga, memasak dan diajak nenek swrta mama menuju Mall Grand Indonesia. Di Mall tersebut mereka bertiga berbelanja, sebelumnya Sandra sudah diberi kartu atm oleh Gilang yang isinya fantastis dan kemarin sang mertua dan nenek juga memberikan ia atm yang jumlahnya juga fantastis, tentu saja Sandra menolak dan memberi alasan bahwa ia telah diberi kartu atm oleh Gilang tapi ketiganya memaksa Samdra menerima, mereka juga mengancam kalau Sandra tidak menerimanya mereka akan marah, mau tak mau Sandra menerima walaupun ia bingung mau dipakai untuk apa.
Ketiganya berkeliling dan masuk ke beberapa gerai brand terkenal seperti He**s, Pr**a, D**r dan lainnya. Sang nenek dan mama memilihkan baju, sepatu, heels, tas serta make up. Keduanya berpesan agar sekarang Sandra membiasakan memakai brand - brand ini karena Sandra akan menjadi pendamping Gilang saat menghadiri acara. Galang yang tadi menyusul ketiganya kini merasa menyesal, karena sedari tadi Galang mengikuti ketiganya dan membawakan belanjaan mereka. Galang juga dilarang protes oleh sang nenek.
Setelah merasa cukup berbelanja keempatnya menuju restoran favorite mereka yang berada di dalam Mall.
"Alhamdulillah akhirnya selesai juga." Ucap Galang saat sudah duduk.
"Aduh anak mama capek ya, nanti makan yang banyak ya." Ucap sang mama mengusap wajah Galang dengan hati - hati.
"Nenek sudah belikan beberapa barang tadi upah sebagai pembawa barang." Ucap nenek, Galang yang mendengar itu berbinar.
"Makasih nek, ma." Ucap Galang
"Kamu mau hadiah apa dari kakak Gal?" Kini Sandra bertanya kepada Galang.
Galang yang mendengar pertanyaan Sandra tentu langsung tersenyum, ini dia yang ditunggu Galang, "Hehe akhirnya kakak tanya juga, kalau kakak sih cukup jadi mak comblang nanti aku siap membantu kakak apapun." Ucap Galang dengan senyum terbaiknya.
"Dasar kamu, ok." Sandra menyetujui permintaan Galang.
Sandra merasa Galang orang yang humoris dan pengertian serta sayang keluarga. Hal tersebut mampu membuat Sandra menyetujui Galang mendekati sahabatnya Nana.
****
Pov Selvi dan Gilang.
Hari ini hari weekend Selvi dan Gilang sedang bersiap - siap untuk pergi ke acara keluarga Selvi tetapi sebelum itu mereka akan menjemput Sandra. Gilang tadi menghubungi Sandra bahwa mereka akan menjemput sehabis ashar, kini Gilang melakukan panggilan ke Sandra disaat Selvi sedang berada di dapur.
"Assalamualaikum, halo mas?"
"Wa'alaikumussalam salam yang, masih di mall?"
"Iya mas masih ini kita sudah selsai makan kok mas, apa sudah mau berangkat?"
"Belum yang aku baru selesai ganti baju nanti aku kesitu ya sama Selvi."
"Baik mas, kamu mau dibelikan sesuatu mas?"
"Ah engga usah deh nanti aja sama kamu."
"Baik mas."
"Yang kamu jangan lupa loh pakai kartu atm yang aku kasih."
"Iya mas tadi aku udah pakai untuk mentraktir semuanya mas."
"Kok cuma dipakai buat makan sih yang."
"Mas tadi aku dibeliin baju, tas, sepatu sama mama dan nenek mereka melarang aku untuk membayar."
"Dasar duo bucinnya kamu itu yang. Yaudah aku mau rapi - rapi terus cek mobil yang. Kamu hati - hati ya love you."
"Iya mas nanti kamu juga hati - hati ya ke rumahnya, jangan lupa baca doa."
"Iya bawel, kok engga dijawab si love you ku."
"Malu mas ada mama, nenek sama Galang."
"Jawab dong sayang."
"Love you to mas."
"Okk byee."
Sedari tadi Selvi mendengar pembicaraan kedua sejoli itu secara tidak sengaja. Disaat Selvi ingin memanggil Gilang untuk menyicipi kue ternyata Gilang sedang bertukar kabar dengan Sandra via telepon.
Setelah menetralkan rasa kesalnya Selvi mencoba masuk ke kamar dengan wajah yang dibuat tersenyum dan ceria.
"Yuk hon ke bawah cobain kue yang aku buat tadi." Ajak Selvi.
"Okk bentar aku ambil tas."
****
"Mah ini kayanya terlalu mewah dan berlebihan deh aku merasa engga nyaman." Ucap Sandra kepada mama Jessica.
"Kamu cantik banget sih sayang, benarkan Gal kakak iparmu cantik." Ucap mama Jess kepada Sandra dan meminta pendapat Galang.
"Cnatik mah kalau bukan nikah sama kakak, aku pepet juga ma ya tapi dia klepek - klepeknya sama kakak ma." Ucap Galang.
"Dasar kamu ini, kalau kakakmu dengar habis kamu karena godain istrinya." Ucap mama mengingatkan Galang.
"Enggalah ma aku kan sukanya sama temannya kakak ipar ya kak." Ucap Galang.
Sandra kini memakai dress dari brand Pra** berwarna putih dengan bahu tertutup dan panjang sampai di atas lutut, dipadukan dengan heels dari d**r yang berwarna hitam putih serta tas He**s yang diberikan Gilang saat pernikahan mereka.
"Waaw cantik banget anak papa ini, kamu cocok sayang pakai seperti ini, iyakan ma? ." Ucap papa Putera ketika melihat menantunya itu dan disetujui sang nenek.
"Makasih oma, pa." Ucap Sandra.
Gilang bersama Selvi turun dari mobil menuju ruang tengah. Gilang yang melihat penampilan Sandra rasanya ingin memeluknya dan mengurungnya dalam kamar saja karena Sandra kini terlihat sangat cantik sekali.
"Kedip kak." Galang mengingatkan Gilang.
"Kalian sudah mau berangkat?" Tanya papa.
"Iya pa takutnya ditungguin mama dan keluarga." Selvi menjawab ucapan papa mertuanya.
"Selvi mama titip Sandra ya, dia baru pertama kali ikut ke acara keluarga kamu." Mama Jessica meminta bantuan Selvi.
****
Ketiganya kini berada di dalam mobil Selvi dan Gilang berada di depan dan Gadis berada di belakang. Selvi terus berbicara kepada GIlang dan Sandra, tetapi Sandra hanya menjawab apabila ditanya. Sandra tentu saja kinj gugup karena harus bertemu dengan keluarga Selvi, Sandra tidak tahu apakah keluarganya akan menerima kehadiran Sandra.
Setelah 20 menit menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Selvi. Sandra melihat rumah Selvi berada di komplek perumahan yang mahal, rumah orang tua Selvi tidak terlalu besar maupun tidak terlalu kecil.
"Yuk turun San." Ajak Selvi.
"Baik kak." Ucap Sandra.
Sandra kemudian ikut turun dan merapikan bajunya serta menyiapkan buah - buahan yang ia tadi beli. Setelah itu Sandra berada di belakang Selvi dan Gilang, Gilang yang mengetahui itu langsung memegang tangan Sandra dan menarik Sandra untuk berada di sampingnya.
"Jangan jauh - jauh dari aku yang." Bisik Gilang.
"Assalamu'alaikum ma." Ucap mereka bertiga.
"Wa'alaikumussalam sayang, masuk - masuk." Ucap mama Selvi yang kemudian mencium Selvi dan Gilang saja.
"Haiii Sel, Lang siapa nih?" Sapa sepupu Selvi yang bernama Beta.
"Hai Bet kenalin ini Sandra istri gue." Ucap Gilang membalas pertanyaan Beta sebelum Selvi membalas.
"Perkenalkan nama saya Sandra." Sandra langsung memperkenalkan diri.
"Oh ini istri kedua Gilang, cantik sih tapi kok mau ya jadi kedua." Ucap tante Selvi yang bernama Muri.
"Ma ini ada buah tangan dari Sandra dan Selvi." Ucap Gilang menengahi.
"Yaudah yuk kita makan saja kan kalian sudah datang." Ucap papa Selvi mengajak mereka semua.
"Sandra ini kerjanya apa?" Tanya Suri.
"Saya bekerja di kantor mas Gilang tante saya sebagai sekretaris keduanya." Ucap Sandra diakhiri senyuman.
"Ohhhh kamu cantik Sandra." Ucap Suri kemudian. Memang hanya Suri yang menerima kehadiran Sandra.
"Terima kasih tante."
Setelah makan mereka lanjut mengobrol di ruang tengah keluarga tersebut. Gilang duduk di antara Selvi dan Sandra. Sedari tadi Gilang mengkhawatirkan Sandra ia takut Sandra tidak nyaman.
Kaum wanita tentu menjauh dari kaum pria karena kaum pria pasti membahas pekerjaan dan itu membosankan. Kini kaun wanita berada di teras belakang dekat kolam.
"Bulan lalu kamu kumpul hanya dengan Gilang sekarang kamu bawa madumu Sel." Ucap tante Muri.
"Iya tante kan Sandra keluarga kita juga." Ucap Selvi membalas tante Muri."
"Gimana San rasanya jadi orang ketiga?" Tanya Muri menyindir Sandra.
"Maaf tante." Ucap Sandra karena terlalu terkejut dengan pertanyaan Muri.
"Rasanya ya senang kan Sandra, dan menurutku Sandra bukan orang ketiga yang ingin masuk sendiri. Selvi yang menarik Sandra untuk menjadi bagian dari rumah tangganya." Ucap Suri yang membela Sandra.
"Ck kaya kamu ngerasain aja, eh lupa kamu kan juga." Sindir Muri ke Suri.
Walaupun nama mereka mirip tetapi mereka bukan kakak beradik.
"San aku lihat baju yang kamu pakai susah didapat di Indo loh, hanya ada beberapa di Indo." Beta kemudian membahas tentang baju Sandra.
"Ah maaf kak saya tidak tahu karena ini nenek yang membelikan." Ucap Sandra dnegan sopan.
"Wawwww sekarang kamu merebut perhatian nenek juga ya San." Ucap tante Muri.
"Tante Muri." Selvi coba memperingatkan tantenya, ia takut tantenya kelewatan dalam berkata.
"Iya kan Sel, coba deh lihat baju nya itu brand kesukaan kakak, terus lihat tasnya waw itu mahal banget tahu Sel. Hmmmm kakak curiga dia hanya mau harta suami kamu aja Sel." Kini Beta benar - benar merendahkan Sandra.
"Maaf kak saya tidak seperti yang kakak katakan. Ini baju dari nenek dan tas dari mas Gilang kak." Ucap Sandra yang kini sudah menitikan air mata.
"Ck engga usah nangis deh, kami tahu kok kamu mau karena kamu tahu Gilang kaya atau kamu goda dia ya di kantor." Tante Muri mengejek Sandra.
"Muri jaga ucapan kamu, aku rasa Sandra bukan seperti itu. Sandra kamu jangan dengerin kata Muri dan Beta." Ucap Suri menenangkan Sandra.
Selvi yang mengetahui tantenya merendahkan Sandra rasanya ia ingin marah, tapi hal tersebut percuma karena tantenya dan Beta pasti akan terus mencecar Sandra sedangkan mama Selvi hanya melihat karena ia memang tidak suka dengan Sandra.
"Kamu harus tahu ya Sandra kenapa Selvi meminta kamu untuk menjadi madunya, agar kamu punya anak lalu Gilang akan membuang kamu jadi kamu engga usah kegatelan merebut perhatian Gilang dan keluarganya dasar perebut, perusak kamu San." Hardik Beta kepada Sandra.
Sandra yang mendengar itu merasa sakit hati, Selvi tidak membelanya lagi hanya Suri yang mencoba membelanya. Sandra merasa tidak tahan dengan cemoohan dan tuduhan tante Selvi dan Beta.
"Maaf tante kalau saya salah, tetapi tante tidak pantas mengatai saya seperti itu, bukankah kak Selvi yang menyeret saya dalam masalah ini. Kalau tante ingin saya tidak merebut perhatian keluarga dan mas Gilang suruh kak Selvi hamil." Ucap Sandra.
Mama Selvi yang mendengar itu geram, kemudian berdiri dan menampar Sandra. Semua yang melihat tamparan itu tentu terkejut termasuk Gilang yang ingin mengajak mereka untuk pulang, sebelumnya Gilang mendengar mereka menyerang Sandra tetapi Gilang membiarkannya karena ada tante Suri yang membelanya.
Plakkkkk
"MAMA...." Gilang berteriak melihat itu.
"MAHHH... " Selvi juga berteriak.
Gilang yang melihat itu langsung menghampiri Sandra dan memeluknya. Gilang melihat mertuanya dengan tatapan tajam. Para pria yang berada di ruang tengah ikut menuju teras belakang.
"Kamu jangan kurang ajar ya Sandra, kamu hanya dijadikan keluarga Wijaya agar memberi mereka keturunan." Ucap mama Selvi dengan amarah.
Gilang yang mendengar itu tentu saja marah, dan Sandra sudah lemas dan tentu saja menangis di pelukan Gilang.
"Mama kenapa nampar Sandra ma?" Tanya Gilang dengan marah, Selvi yang melihat itu tentu saja takut karena Gilang kalau marah bisa melakukan apa saja.
"Dia dengan tidak tahunya menyuruh Selvi hamil diakan tahu Selvi tidak bisa hamil." Ucap maam Selvi dengan marah.
"Gilang tahu apa yang kalian katakan ke Sandra, dan mama juga harusnya membela Sandra ma tetapi mama malah diam saja. Aku kecewa sama mama, dan ini pertama dan terakhir Sandra ikut acara keluarga ini.." Ucap Gilang.
"Bagus memang dia bukan keluarga kita." Ucap mama Selvi menyetujui itu.
"Dan ini terkahir kalinya Gilang ikut acara ini." Ucap Gilang kemudian pergi membawa Sandra.
Semua orang yang mendengar pernyataan Gilang tentu terkejut, ketika Gilang Putra Wijaya marah dan mereka juga todak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Selvi yang melihat Gilang membawa Selvi pergi tentu mengejarnya.
"Gilang Sandra tunggu." Teriak Selvi.
"Ada apa lagi?" Tanya Gilang, kini Gilang menyembunyikan wajah Sandra.
"San.." Ucap Selvi ketika dia akan memeluk Sandra tetapi Gilang melarang.
"Aku kecewa sama kamu Sel, harusnya kamu bela Sandra tetapi kamu hanya bisa diam dan cuma menegur tante dan sepupumu. Oh ya aku dan Sandra akan balik terlebih dahulu dan aku akan tidur di rumah mama." Ucap Gilang yang membuat Selvi kini menangis.
Di dalam mobil Gilang tetap membawa Sandra di pelukannya. Gilang masih merasakan tangisan dari Sandra, Gilang merasa lalai menjaga Sandra. Gilang menciumi kening Sandra dan menenangkannya.
Sampai di rumah mama Jess, Gilang menggendong Sandra dan keluarganya yang melihat itu tentu khawatir, karena melihat mata Sandra bengkak dan pipi kiri Sandra merah.
"Sandra kenapa ini?" Tanya mama Jess saat sudah di depan Sandra.
"Gilang taruh Sandra dulu ya ma ke kamar nanti aku jelasin." Ucap Gilang kemudian membawa Sandra ke kamar. Sampai kamar Gilang mencium kening Sandra.
"Jadi kenapa kamu hanya pulang dengan Sandra lalu Selvi?" Tanya mama Jess.
Arkan kemudian menghela nafas dan menceritakan semuanya yang ia dengar. Tentu keluarga Wijaya terkejut apalagi sang mama kini menangis dan nenek marah. Papa Putera menenangkan sang istri dan Galang mencoba menenangkan neneknya.
"Keterlaluan keluarganya Selvi bisa - bisanya mereka memperlakukan Sandra begitu." Ucap papa Putera.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan nak?" Tanya nenek kepada Gilang.
"Entahlah nek, Gilang akan menunggu waktu yang tepat untuk mebongkar semuanya." Ucap Gilang dengan kilatan amarah di matanya.
"Bongkar? Maksud kakak apa?" Kini Galang menyahuti perkataan sang kakak.
"Kalian akan tahu nanti. Mah Gilang minta tolong buatkan makanan untuk Sandra ya Gilang mau ke atas menemani Sandra." Minta Gilang ke mamanya dan diangguki sang mama.
Setelah kepergian Gilang kini ponsel Galang berdering dan menampilkan panggilan dari Nana. Galang kemudian beranjak menuju kamarnya..
"Halo Assalamuallaikum Na."