8. Sebelum Pernikahanmu

1130 Words
Minggu pagi menjelang siang, Ayana datang ke sebuah café. Ia sudah janjian dengan Yudis di Cafe ini. “Cafénya bagus sekali, pasti harga makanannya mahal.” Ayana membatin, tampak ragu melangkahkan kaki masuk. Ia mengingat-ingat ada berapa uang di dompetnya, lalu memilih mengirim pesan pada Yudis dan menunggunya di dekat pintu masuk. “Ayana, sudah lama?” Tak lama Yudis muncul. “Hmmm 5 menit mungkin.” “Kenapa tidak langsung masuk? Ayo!” Ayana megikuti langkah Yudis masuk ke dalam Café. “Pesanlah!” Yudis menyodorkan buku menu. Ayana meihat-lihat dan nampak kaget dengan harga makanan yang tertera. “Kenapa kita janjian di sini, sih?” Gadis itu berbisik pada Yudis. “Ya, masa aku ajak calon istri bos ke warteg!” canda Yudis. Ayana mengibaskan tangan kirinya. “Hus!” “Aku nggak bawa banyak uang!” bisiknya lagi. “Tenang aja Ay, hari ini aku yang traktir.” “Wah gaji kamu banyak, ya?” “Haha ya nggak juga.” “Hah jadi Pak Bagas menggaji kamu sedikit?” Yudis tertawa mendengar kesimpulan Ayana, “Nanti setelah jadi istrinya, kau naikkan gajiku, ya!” candanya. “Sialan!” rutuk Ayana lalu mengalihkan pandangan pada buku menu. “Aku pesan ini saja!” Ia menunjuk lemon tea squash. “Pesanlah yang banyak Ayana,” kata Yudis. “Mungkin saja ini yang pertama dan terakhir kita bisa jalan berdua.” Ayana menatap Yudis lekat, ”Kenapa begitu? Kau mau berhenti kerja? Udah kaya?” Lagi-lagi Yudis dibuat tertawa dengan celetukan Ayana, “Tidak, aku akan tetap bekerja pada Pak Bagas. Tapi mana mungkin supir dan istri bos bisa pergi berduaan?” Yudis lalu memanggil waiter dengan gerakan tangannya dan meyebutkan pesanan. Sementara itu, Ayana menghempaskan pungungnya ke kursi café sesaat setelah waiter berlalu. “Apa aku harus menerimanya?” tanyanya sambil membuang napas. Yudis hanya diam, tak tahu harus menjawab apa. Ia lalu meneguk kopinya. Menegakkan punggungnya kembali, kedua tangan Ayana disandarkan pada meja, kepalanya sedikit ia condongkan ke arah lelaki di hadapannya. “Dis, berapa lama kau bekerja pada Pak Bagas?” “Hm…” Yudis berhitung dalam hati, “Sekitar… tiga tahun, tapi aku sudah mengenal Pak Bagas lebih dari itu. Semenjak Ayahku bekerja dengannya.” “Apakah Pak Bagas orang yang baik?” “Kalau tidak baik, aku pasti sudah resign Ay. Pak Bagas bahkan mengijinkan dan membiayai sekolahku.” Ada kegetiran dalam kalimat pujian yang ia lontarkan. Dari awal perkenalannya dengan Ayana, terlintas sedikit harap ia bisa berjodoh dengan gadis itu. Harapan itu ia kubur saat tahu Amanda meminta Ayana menjadi istri kedua Bas. Bukan semata-mata karena ia masih mebutuhkan pekerjaan dari bosnya, tapi hubungan baik yang sudah terjalin lama ini terlalu berharga baginya. Pada akhirnya ia pasrah, jodoh di tangan Tuhan, batinnya. Dan Amanda pasti punya alasan tersendiri mengapa memilih Ayana. “Tapi menurutku dia orang yang tak ramah. ” Ayana melipat kedua tangannya di d**a. Terlintas lagi dalam ingatannya bagimana Bas selalu memarahinya, ntah karena datang sedikit terlambat, atau ketahuan ngobrol lama dengan Yudis. Bahkan seingatnya tak pernah sekalipun Bas bicara ramah sambari tersenyum padanya. Dingin sekali bosnya itu. Yudis tersenyum sekilas. “Dia begitu pada semua perempuan Ay, kecuali pada Bu Amanda.” “Hah?” Ayana melongo ia semakin tertarik untuk mengenal pria yang mungkin sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. “Kenapa begitu Dis?” “Mungkin untuk menjaga kesetiaannya pada Bu Amanda,” jawab Yudis sambil mengedikkan bahunya. Sesungguhnya ia tidak tahu pasti mengapa, hanya menerka saja. “Banyak wanita yang menggilainya Ay, bahkan rela menjadi istri kedua. Tapi Pak Bagas tetap setia pada Bu Amanda. Dan kesetiaan itu juga yang membawanya melamarmu.” “Bukan Pak Bagas yang melamarku, Dis,” ralat Ayana. “Tapi Bu Amanda. Pak Bagas sama sekali tidak menginginkanku.” Ayana menghembuskan napas kesal. Sesaat kemudian waiter datang mengantarkan pesanan mereka. “Apakah rasanya enak?” tanya Yudis setelah Ayana menyeruput lemon squashnya dengan sedotan stainless steel. “Enak sekali, segar, setidaknya bisalah sesaat menyejukkan kepalaku yang berasap.” “Hahaha..” Yudis tertawa kecil, “Kau sering nongkrong di café seperti ini Ay?” tanyanya. “Kamu meledekku ya?” Ayana melirik pada Yudis. “Bisa nongkrong di warteg atau warung burjo saja kejadian yang langka bagiku. Lebih baik uangnya kutabung untuk biaya kuliahku nanti.” Yudis tertawa. “Setelah menjadi nyonya Bagas, kau bisa ke sini setiap hari. Bahkan ke tempat yang lebih bagus dan mahal dari ini.” “Ah.. Percuma kalau perginya tidak bersamamu,” jawab Ayana asal.. dan gombal. Dia tak tahu ada hati yang berdebar saat ia mengatakan ini. Seketika rasa takut kehilangan melintas dalam batin Yudis. Lalu tiba-tiba ia terpikir ide. “Hari ini kau lowong kan?” “Ya.. lowong, ada apa?” tanya Ayana sambil mengaduk-aduk lemon squashnya. “Habiskan minummu, ayo kita bersenang-senang hari ini.” Setelah menghabiskan pesanan, mereka meninggalkan café. Tanpa bertanya lagi, Ayana ikut kemana Yudis membawanya pergi dengan menggunakan motor. “Kita mau masuk sini?” tanya Ayana ketika motor Yudis sudah terparkir di sebuah taman bermain dan hiburan terbesar di kota ini. Yudis mengangguk. Ayana tersenyum girang, “Ayo!” katanya antusias, dengan cepat ia sudah mengantri di loket pembelian tiket. Saat masuk, Ayana terpukau dengan kemegahan tempat itu. Wahana permainannya semakin banyak, jauh berbeda saat pertama kali ia datang sepuluh tahun lalu. Saat itu pamannya yang cukup berada datang mengunjunginya dan mengajaknya ke sini beserta para sepupu. “Kita naik itu Dis, Ayana menunjuk sebuah bianglala besar” “Oke,” sahut Yudis. Setelah itu satu persatu wahana lainnya mereka coba, mulai dari komedi putar, halilintar, sampai roller coaster. “Kau senang Ayana?” tanya Yudis sesaat setelah mereka turun dari roller coaster. “Senang sekali, akhirnya kesampean juga aku kembali ke tempat ini." Suara Ayana sedikit serak. Ia terlalu banyak berteriak tadi. Yudis tersenyum, bahagia melihat Ayana bahagia. “Syukurlah.. sayangnya aku tak bisa memberi kebahagiaan lebih dari ini,” katanya lirih. Saking lirihnya, Ayana tidak terlalu mendengar apa yang Yudis katakan. “Apa tadi kau bilang, Dis?” tanyanya setengah berteriak. “Ah tidak apa-apa. Ayo kita masuk ke sana!” Cepat-cepat Yudis mengalihkan perhatian Ayana, ia mengajak Ayana masuk ke rumah hantu. Kegiatan bersenang-senang mereka berakhir di pukul 5 sore karena wahana bermain akan segera tutup. Lagipula, Ayana tidak mau pulang kemalaman, bisa kena omel ibunya nanti dia. Yudis mengantarkan Ayana sampai ke depan pagar rumah. Berat hati Yudis, ketika Ayana turun dari motor. “Selamat tinggal Ayana,” katanya dalam hati. Ia dan Ayana memang tetap akan selalu berjumpa tapi pasti rasanya beda. “Jadi Dis, bagaimana menurutmu? Apakah aku harus menikah dengan Pak Bagas?” tanyanya sambil menyerahan helm. Yudis menatap Ayana dalam-dalam, tersenyum meski getir. “Ayana.. Pak Bagas orang baik, meski ia tidak mencintaimu, ia pasti tak akan menyakitimu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD