9. Akad Nikah

1178 Words
“Ayana, kamu cantik sekali,” puji Amanda saat melihat Ayana selesai dirias oleh MUA pilihannya. “Terimakasih, Bu.” Ayana tersenyum canggung. Tak butuh waktu lama setelah ia menyetujui lamaran Bas, seminggu kemudian akad nikah diselenggarakan. “Hal yang baik harus disegerakan,” kata Amanda. “Acara kecil-kecilan saja di rumah. Cukup panggil penghulu, keluarga dekat, beberapa teman kantor Bas, dan perwakilan warga. Yang penting sah. Kau tidak keberatan kan, Ayana?” tanya Amanda saat itu. “Tidak apa-apa Bu,” jawab Ayana. Ia bahkan berharap lebih baik tidak usah ada yang tahu pernikahan ini. Tapi Amanda menolak. “Pernikahan itu harus disiarkan, kalau tidak, akan menimbulkan fitnah.” Ayana menurut. “Oya, mas kawin apa yang kau minta?” tanya Amanda kemudian. “Saya tidak mau apa-apa, Bu, kalau boleh meminta sesuatu, saya hanya ingin… kuliah,” jawab Ayana ragu, apakah bosnya akan memenuhinya? “Tidak bisa!” Bas menjawab cepat. “Mas kawin itu berupa benda Ayana, mana ada mas kawin berupa kuliah?!” kata Bas sedikit membentak. “Maksud Ayana, ia minta diijinkan dan dibiayai kuliah Bas.” Amanda berkata lembut pada suaminya. “Itu juga tidak bisa!” sahut Bas tegas. “Meski kita sudah menikah nanti, tugas utamamu tetap menjaga Amanda saat aku tidak di rumah. Jadi aku tak akan mengijinkan.” “Bas..” Amanda mengusap pundak suaminya. “Setelah akad nanti, statusnya adalah istrimu, bukan hanya sekedar perawatku.” Amanda mengingatkan. “Setelah akad, aku adalah suaminya, dan istri harus menurut pada suaminya, bukan begitu?” “Benar Bas, tapi kewajibanmu sebagai suami membahagiakan istrimu. Salah satu kebahagiaan Ayana, mewujudkan impiannya sejak dulu, kuliah. Atau sebenarnya kau takut? Kau cemburu kalau Ayana punya teman lelaki di tempat kuliahnya nanti?” Pertanyaan itu yang membuat Bas akhirnya memberikan ijin kuliah pada Ayana. Ia tidak mau istrinya menganggap ia posesif terhadap Ayana. “Baiklah karena istriku sudah mengijinkan, kau boleh kuliah. Tapi ingat, aku tidak mengijinkanmu berlama-lama di luar rumah. Selesai kuliah kau harus pulang, menemani Amanda di rumah.” Deal semua setuju dengan keputusan Bas. ********** Selepas menengok Ayana, Amanda menuju kamar Bas. Bas sudah mengenakan setelan jas rapi ketika Amanda masuk. “Kau tampan sekali.” Amanda mengusap kerah jas Bas lalu memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Perfect, tidak ada yang kurang dari penampilan Bas hari ini. Amanda tiba-tiba memeluk Bas sambil terisak. “Sayang, kita masih bisa membatalkan pernikahan ini, jika kau mau,” ujar Bas membalas pelukan istrinya. “Tidak Bas, aku bukan menangis sedih. Aku bahagia, sungguh bahagia dengan pernikahan ini.” Amanda melonggarkan pelukannya. “Ah aku membasahi jasmu,” katanya. “Benarkah Amanda? Jangan berbohong padaku. Wanita mana yang rela lelakinya membagi cinta?” Bas memandang istrinya penuh kasih. “Tapi kau tenang saja, cintaku tak akan terbagi, apapun yang terjadi aku hanya akan mencintaimu. Hanya kamu!” tegas Bas. Ia lalu mengambil tisu di meja dan mengusap air mata Amanda. “Jangan bicara begitu Bas, kau harus mencintai kedua istrimu, kau harus adil,” tegur Amanda. “Kau boleh memaksaku untuk menikahinya tapi jangan paksa aku juga untuk mencintainya, Manda.” "Sayang..." Baru Amanda hendak mendebatnya lagi, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dari luar, lalu terdengar suara wanita paruh baya dari balik pintu. “Bas, kau sudah siap?” Ratih ibunda Bas membuka pintu kamar. “Semua tamu undangan sudah datang, pak penghulu juga sudah siap,” ujar Ratih. Subuh tadi ibunda Bas beserta ayahnya tiba dari kota sebelah, menyusul kedua kakak perempuannya yang datang bersama keluarga masing-masing. Sementara keluarga dari pihak Amanda hanya dihadiri oleh Paklik dan Buliknya saja. Kedua orang tua Amanda sudah tiada. Ibunya meninggal karena kanker saat ia masih remaja, sementara ayahnya baru saja berpulang setahun yang lalu. “Iya, Bu, Bas akan keluar,” jawab Bas saat melihat ibunya muncul di ujung pintu. Ratih lantas mendekati Amanda memeluknya erat. “Kau juga sudah siap kan Amanda?” “Siap Bu,” kata Amanda sambil mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya. Ratih beralih pada Bas, sedikit memberi wejangan pernikahan seperti yang pernah ia lakukan saat Bas menikah dengan Amanda tujuh tahun silam. “Bas ingat, setelah ini istrimu dua orang. Cintai keduanya. Perlakukan mereka dengan adil.” Bas hanya mengangguk meski dalam hatinya berkata, “Mungkin aku bisa adil dalam hal materi, tapi soal hati, apakah itu mungkin. Aku terlalu mencintai Amanda sehingga tak ada ruang lagi untuk wanita lain di hati ini.” Ayana duduk dengan kepala tertunduk di samping ibunya ketika Bas keluar kamar dan menuju ruang tempat berlangsungnya akad. Sementara Paman Ayana yang akan menikahkannya sudah mengambil tempat di samping Pak Penghulu. “Kita mulai,” bisik Bas pada Yudis yang ia tunjuk sebagai pembawa acara akad nikah. Yudis pun mulai membuka acara. Usai pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan mendengarkan khutbah nikah, prosesi ijab kabul dilaksanakan. Paman Ayana menjabat erat tangan Bas. “Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Bagaskara bin Surya Atmadja dengan Ayana Maulida binti Heryawan dengan mas kawin cincin emas 5 gram dibayar tunai.” “Saya terima nikahnya dan kawinnya Ayana Maulida binti Heryawan dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.” “Sah?” tanya penghulu pada para hadirin. “Sah.. sah.. sah..” jawab hadirin bersahut-sahutan. “Alhamdulillah.” Pak Penghulu pun lantas melafalkan doa untuk kedua mempelai. Setelahnya Bas dan Ayana menandatangani buku nikah. Cincin yang menjadi mahar untuk Ayana, diserahkan Amanda pada suaminya. “Pakaikan Bas,” bisiknya pada Bas. Bas sesaat menatap Amanda yang mengangguk lalu tersenyum padanya. Dengan hati bergetar Bas meraih tangan kanan Ayana, disematkan cincin ke jari manisnya. “Cium tangan suamimu Ayana,” bisik Amanda. Ayana menelan ludah. Teringat kembali bagaimana marahnya Bas dulu saat Ayana tanpa sadar mencium tangan Bas. Tapi kali ini Bas pasrah, membiarkan Ayana mencium punggung tangannya. Bahkan saat fotografer memintanya bertahan lebih lama dengan posisi seperti itu, iapun menurut. “Sekarang, Pak Bagas silakan cium kening Ibu Ayana,” kata fotografer mengarahkan. “Haruskah kulakukan itu, Sayang?” Bas bertanya dengan suara pelan pada Amanda. “Tentu saja, Sayang. Kau lupa bagaimana prosesi nikah kita dulu, kau bahkan menggendongku ke tempat tidur setelah acara selesai. Lalu...” “Astaga… jangan kau minta aku melakukan hal itu lagi sekarang,” bisiknya kesal pada Amanda. Amanda tersenyum. “Cepatlah Bas, cium kening Ayana, semua menunggumu melakukan itu!” Akhirnya Bas menurut, ia mencium kening Ayana. Hanya sedetik, lalu cepat-cepat ia lepaskan. “Pak Bagas, maaf, lebih lama Pak,” kata fotografer yang gagal mendapatkan momen penting dalam sebuah dokumentasi pernikahan. Bas melirik kesal, ia lalu menoleh pada Amanda seolah minta persetuiuannya. Amanda mengangguk lagi, tanda setuju, membuat Bas mau tak mau harus mengecup kening Ayana kembali. “Yak bagus, tahan Pak, satu dua… “ jepret. Baru saja Bas mau melepaskan ciumannya sang fotografer kembali memberi aba-aba. “Sekali lagi kita ambil dari angle yang beda ya Pak, satu dua…” jepret. “Sebentar, tahan, tahan… tadi ibu Ayana bergerak, fotonya jadi agak ngeblur ulang sekali lagi ya.. ayo Pak peluk Ibu Ayana lebih mesra lagi ya, satu, dua ...” "Nah, sekarang pose lain..." "Grrrh, kapan selesainya ini, siiih?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD