Bas terdiam cukup lama di depan kamarnya dan Ayana yang sudah disiapkan Amanda untuk malam pertama. Perasaan canggung, kuatir, ragu, kesal, berkecamuk di hatinya.
“Bismillah ...” Ia bergumam pelan lalu membuka pintu kamar.
“Aaak ....” Ayana spontan menjerit, terkejut dengan kedatangan Bas yang tiba-tiba.
Cepat-cepat Bas menutup pintu lalu membekap mulut Ayana. “Ayana, diam! Mengapa kau berteriak, orang akan berpikir yang tidak-tidak, jika mendengar!” bentaknya. Beberapa detik kemudian ia baru sadar, posisinya saat ini begitu dekat dengan Ayana, bahkan seperti memeluknya. Satu tangannya melingkar di bahu sementara satu tangannya lagi menutup mulut Ayana.
"Ehem, ma-maaf." Bas bergeser menjauh. Tapi ujian keimanannya tak hanya sampai di situ. Ia menelan ludah ketika baru menyadari busana yang dikenakan Ayana saat ini.
“Ya Tuhaan Ayana, kau pakai baju apaaa?” Bas menutup wajah, tak ingin lebih lama melihat Ayana yang berpakaian sangat minim.
Spontan gadis itu menyilangkan tangannya di depan d**a. Pertama ia merasa malu berpakaian seperti itu di depan Bas, lelaki yang bisa dibilang baru dikenalnya. Keedua respon Pak Bas seperti tak suka. Apa bentuk tubuhku seburuk itu di matanya? Ia membatin.
“Ma-maaf, Pak, hanya ini yang ada di lemari Pak, ibu yang suruh pakai.”
Seketika Bas membuka lemari. Ia tak percaya, masa sih tak ada baju lain yang lebih sopan?
Bas menarik satu pakaian yang terlipat rapi.
"Arrrgh!" erangnya begitu melihat baju di tangannya yang justru lebih parah dari baju yang dikenakan Ayana. Ada bolong di beberapa bagiannya. Ada ada saja baju tidur jaman sekarang.
Lalu baju lainnya ditarik Bas lagi. Astaga kenapa lainnya tipis dan transparan. Apa nggak masuk angin orang yang memakainya?
Lalu baju lainnya lagi, warnanya merah menyala abangku. Melihatnya membuat Bas berpikiran yang... ah sudahlah.
Bas lantas melepaskan kemeja yang dikenakannya.
"Ba-bapak mau apa?" Ayana jadi merinding, sejujurnya ia belum siap juga untuk...
"Kau pikir aku mau apa? Aku bukan lelaki yang mudah tergoda. Pakai lah cepat!" Dengan memalingkan wajah, ia memberikan kemeja yang sudah dilepasnya pada Ayana.
"Apakah tidak apa-apa, Pak?" Ayana ragu-ragu menerimanya. "Nanti Bapak masuk angin gimana?" Ia menatap Bas yang kini memunggunginya dan hanya mengenakan kaus singlet berwarna putih.
"Aku lebih takut kemasukan setan daripada kemasukan angin, Ayana."
Meski sudah menjadi suami istri secara sah, entah mengapa lelaki itu merasa berdosa jika sampai menyentuh Ayana. Antara tak tega mengkhianati istri pertamanya, juga tak tega melihat Ayana yang masih nampak lugu dan polos.
Akhirnya, Ayana menerima kemeja Bas lantas cepat-cepat memakainya.
Beberapa saat kemudian, Bas kembali menoleh pada Ayana dan berbicara pada gadis itu.
“Ayana kau istriku sekarang. Aku akan tidur di sini malam ini. Tapi… kau tahu kan, tanpa cinta aku tidak bisa melakukannya?”
“Me-melakukan a..pa Pak?” tanya Ayana sedikit terbata, ia masih canggung dengan status barunya saat ini sebagai istri Bas.
Beberapa detik Bas terdiam menatap Ayana. Betul kan, gadis ini masih terlalu muda dan polos. Bahkan ia tak mengerti dengan apa yang kuucapkan, Bas membatin.
“Sudahlah, mungkin kau belum cukup usia memahaminya. Sekarang tidur, aku tidak akan mengganggumu,” ucapnya.
“Saya tidur di lantai saja Pak. Bapak di atas,” ujar Ayana. Satu kamar dengan Bas saja sudah menimbulkan rasa segan dan aneh di hatinya, apalagi jika harus tidur satu ranjang.
“Jangan! Kau bisa masuk angin nanti.”
Jantung Ayana berdegup kencang mendengar jawaban Bas. “Ternyata Pak Bagas bisa perhatian juga padaku,” gumamnya dalam hati.
“Kalau kau sakit siapa yang merawat Amanda nanti,” sambung Bas.
Sampai di sini, Ayana menghembuskan napas pelan. Kesal, karena ternyata ia hanya kege-eran. Pak Bas bukan mengkhawatirkannya, tapi mengkhawatirkan istri pertamanya yang begitu ia cinta, pfiuuh.
“Baik Pak, saya mau sholat Isya dulu.”
“Oh, aku juga belum sholat, mari kita sholat berjamaah Ayana.”
“Ba ... baik Pak!”
.
.
Usai shalat, Ayana terduduk lama di atas sajadahnya. Ia bingung harus melakukan apa.
“Ayana, tidurlah!” ujar Bas yang telah berbaring di atas ranjang mereka.
“Aku tidak mau kau terlambat bangun. Besok kau harus kembali merawat Amanda seperti biasa. Apalagi Mbok Nem juga tidak akan datang dalam tiga hari ini.”
“Baik Pak,” jawab Ayana getir. Ternyata setelah sah pun, statusku tak berubah di matanya, hanya merupakan perawat istrinya yang sedang sakit.
Ia melepaskan mukena, melipat dengan rapi lalu naik ke atas ranjang. Ditariknya selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Bas melirik ke arahnya. “Jangan tidur seperti itu nanti kau tidak bisa bernapas.” Ia lalu menarik selimut yang menutupi wajah Ayana.
“Tidurlah seperti biasa. Jangan kuatir, aku akan menghadap tembok sehingga tidak melihatmu,” ujar Bas lalu memiringkan tubuhnya.
Ayana menghembuskan napas perlahan, entah harus lega atau kecewa. Hmm, begini ternyata malam pertama yang digadang-gadang orang sebagai malam yang romantis tak terlupakan. Nyatanya, ia dan suaminya tidur saling menjauh dan saling memunggungi. Diam-diam Ayana mendekap tubuhnya sendiri dengan lebih erat, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Bas yang tertinggal pada kemeja yang dikenakannya.
**************
Bas masih berusaha terlelap namun sulit. Tiba-tiba sebuah beban berat menimpa tubuhnya. Ia kaget dan menoleh.
“Astaga!” ujarnya. “Kau ini kecil-kecil, berat juga ya. Baru kaki!” gerutunya lantas perlahan menyingkirkan kaki Ayana dari atas tubuhnya.
“Ck..ck..ck..” Bas berdecak melihat selimut yang tadinya menutupi tubuh Ayana sudah tersingkap berantakan.
Baru saja Bas hendak menutupi tubuh Ayana dengan selimut, tubuh gadis itu kembali berguling. Begitu memang kebiasaan tidur Ayana yang tidak disadarinya. Saat memulai tidur berada di sisi kiri, bangun-bangun bisa saja dia berada di ujung paling kanan, bahkan pernah ia terbangun di atas lantai lalu bingung sendiri, mengapa ia ada di situ.
Tangan Ayana tiba-tiba menarik tubuh Bas hingga Bas tersungkur hanya beberapa inchi di depan wajahnya.
Bas terkejut, jantungnya terasa memompa lebih cepat, baru sekarang ia memandang Ayana sedekat ini. "Manis juga," gumamnya tanpa sadar.
"Astaghfirullah... Kenapa aku ini." Bas segera menarik tubuhnya demi menjaga jarak aman. Ia menghela napas sambil menata degup jantung agar berdetak normal kembali.
“Ayana, kau pura-pura tidur atau bagaimana, hah?” bentaknya dengan suara pelan. Tak ada jawaban. Hanya dengkuran halus yang ia dengar.
Bas bangkit dari tempat tidurnya, tubuhnya mulai berkeringat padahal pendingin ruangan menyala dengan suhu cukup rendah.
Bergegas keluar, ia memilih tidur di atas sofa depan TV.
“Bas kenapa kau di sini?” tanya Amanda ketika ia keluar kamar hendak mengambil minum.
“Di dalam hot, eh, panas!”