“Ayana diamlah, ini aku!” Ayana membuka mata. “Bapak!” Ia memeluk Bas saking takut sekaligus leganya. Ulu hati Bas dapat merasakan jantung Ayana yang bedetak sangat cepat. “Ayana, lepaskan aku. Orang-orang bisa berpikir kita sedang berbuat m***m jika berpelukan seperti ini!” Ayana sadar dan segera melepaskan pelukannya. “Sudah kubilang, kan, tunggu aku. Mengapa kau pergi duluan, hah?” Bas mengguncang pelan kedua pundak Ayana. “Bapak lama!” “Aku harus menelepon istriku memastikan ia baik-baik saja.” “Tapi saya juga istri Bapak, kan?” Sebuah motor besar dengan suara knalpot yang berisik melintas, membuat suara Ayana hanya samar terdengar. “Apaa?” tanya Bas, ia ingin Ayana mengulang perkataannya tadi. “Nggak! Lupain aja.” Ayana mendengkus, ia menghentakkan kakinya lalu berjalan cep

