31

1391 Words

"Kalau kata Mama gue, manusia itu pelupa. Waktu putus asa, dia ngerasa gak punya siapa-siapa, dia lupa dengan orang sekitar, dia bahkan kadang lupa kalau ada Tuhan, karena fokus sama kegagalan dan rasa sedihnya. Tapi bukan berarti gak bisa diingetinkan?" tutur Jino. Ana menatap mata Jino yang sembab, ia kemudian menganggukan kepalanya, dengan kedua tangan menangkup wajah Jino. "Iya, udah jangan nangis lagi." Kata Ana. "Ya tapi lo jangan ngeselin dong! Emang gak sedih apa denger lo ngomong kayak tadi?!" seru Jino, yang membuat Ana terkekeh. "Iya, maaf, gak akan gitu lagi deh gue." "Beneran?"                                                                                 "Iyaaa..." Jino memeluk Ana, sembari meletakan dagunya di bahu Ana, begitu pun sebaliknya. Ana menepuk-nepuk kepal

Great novels start here

Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD