13

2158 Words
Jino terbangun dari tidurnya, karena merasakan cahaya jingga yang menerpa wajahnya. Alisnya bertaut, dengan mata yang perlahan terbuka. Sesaat setelah matanya terbuka dan bisa melihat dengan jelas, Jino terdiam, menatap Ana yang rupanya tidur di sebelahnya, dengan posisi menyamping ke arahnya. Ana belum membersihkan makeupnya, sepertinya mereka sama-sama ketiduran. Awalnya Jino hanya diam menatap Ana, tapi lama-lama tangannya jail. Ia menekan-nekan pipi Ana dengan jari telunjuk, mencubitinya pelan, plus di naik-turunin. Yah, pipi Ana memang cukup lebar meskipun tidak terlalu chubby. Ana lama-lama terganggu, ia berusaha menyingkirkan tangan Jino dari wajahnya, dengan masih memejamkan mata. Jino tertawa melihat reaksi Ana, dan malah semakin gencar mengerjai pipi Ana. Ana mengerang kesal, ia meraih pergelangan tangan Jino yang sedari tadi mengganggunya, kemudian ia tarik, hingga badan Jino jadi mepet dengan badannya. Dan seolah-olah Jino jadi seperti berbaring di atasnya. Ana kemudian membuka matanya, sambil menatap tajam Jino. Sementara Jino terpaku, dengan mata melebar. "Bisa gak sih? Gak ganggu gue?" tanya Ana dingin. "Y-ya emang kenapa?" balas Jino gugup. "Nanya lagi lo. Emang lo gak kesel lagi tidur digangguin hah?!" kata Ana sembari mencubit kedua pipi Jino dengan keras, membuat Jino mengaduh. "Aaaa... Ana sakit! Jangan terlalu keras dong!" "Ya, kalau gak keras gak jera dong lo!" Jino akhirnya hendak mencubit pipi Ana, tapi Ana langsung menghindar, sembari membuka mulutnya hendak menggigit tangan Jino. "Kalian udah bangun?" Jino dan Ana tersentak, karena tiba-tiba mendengar suara dari arah pintu. Mereka langsung menoleh, dan menemukan adik perempuan Ana tengah berdiri di ambang pintu. "Makan malemnya udah siap, cepet turun gih." Katanya, sebelum akhirnya pergi begitu saja. "Adek lo, lebih dingin dari lo ya?" komentar Jino. "Enggak, dia aslinya ceria kok." Balas Ana. "Terus?" Ana menghela napasnya. "Gak tau, dia sendiri gak mau terbuka. Yahhh... mungkin emang lagi masa-masanya mood swing juga, diakan masih 17. Soalnya gue juga dulu gitu." "Dulu gitu, berarti sekarang emang udah enggak?" "Enggak. Cuman... yaaa... gak tau juga sih. Tapi gue lebih bisa ngontrol diri dari pada dulu." Jino menopang bagian samping kepalanya, sambil menatap Ana yang posisinya masih tiduran di karpet. "Lo harus jagain dia. Bukan karena emang masih labil aja, pengaruh internetkan juga besar. Dia itu ibarat... apa ya? Pokoknya yang gampang banget kecorak lah. Siapa tau dia ngeliat hal-hal yang kurang baik, dan akhirnya mempengaruhi mentalnya. Jangan kan buat anak umur segitu, buat seumur kita, bisa kena dampak juga." Tutur Jino. "Dia itu keras kepala, susah buat disuruh terbuka. Gue sih paling bisanya cuman nyingkirin temen-temennya yang toxid aja." Kata Ana. "Yah, udah lumayan tuh. Dia punya pacar gak?" Ana menggelengkan kepalanya. "Duh, padahal manis gitu." Ana menampar pelan pipi Jino. "Awas aja lo deketin adek gue." "Ih, cemburu aja lo. Enggak kok, aku tuh setia sama kamuuu..." kata Jino sambil memajukan bibirnya, membuat Ana langsung mencubit bibirnya. "Geli tau, udah yuk keluar." Kata Ana sembari beranjak duduk. Tapi ia tidak langsung berdiri, Ana baru menyadari kalau posisinya dengan Jino tadi terlalu intim. "Heh, lain kali jangan ada kejadian kayak gini lagi." Kata Ana. "Kejadian apa?" tanya Jino sambil mengernyitkan kening, pura-pura tidak mengerti. ••• "Mama kamu jadinya belum pulang Jin?" tanya Ibu Ana. "Malah mau nginep katanya, soalnya besok mau ke pantai." Balas Jino sambil mengantongi ponselnya kembali. "Nginep di hotel?" tanya Ibu. "Iya... acara reuninya juga di hotel." Balas Jino. "Tante suka ikut reunian juga?" "Enggak, males. Apa lagi Tante banyak anak kecil. Meskipun mereka suka asrama, nih, dua Putri ini kan juga perlu dijagain." "Eee... Ana manja ternyata..." ledek Jino. "Heh, enggak! Enak aja." Sahut Ana. "Tapi Jino berani di rumah sendiri?" tanya Ibu. Jino terdiam. Oh iya, dia baru ingat. Di rumahnya kan, katanya ada kuntilanak. "Hiyaaa... takut lu ya?" ledek Ana. "Eng-enggak!" balas Jino dengan suara lantang. "Kalau emang takut, ya gak papa nginep di sini dulu." Kata Ibu. "Gak usah Tante, ngerepotin." Kata Jino. "Ngerepotin apa? Ngerepotin tuh kalau kamu masih kayak bayi, yang harus diurus keperluan kecilnya." Kata Ibu. "Udahlah, terima aja tawaran Mama gue. Lo takutkan?" "Yee enggak, tapi kalau lo emang gak mau pisah sama gue, oke, gue bakal nginep di sini." "Hilih, pakai alesan gue segala lu." Cibir Ana. "Udah ah, jangan berantem terus kalian. Mending sekarang kita mulai makan." ••• "Na, temenin gue ambil baju sama komik yuk," kata Jino, seusai makan malam selesai. "Lo jadi mau nginep di sini?" tanya Ana, yang dibalas anggukan oleh Jino. "Ya udah sana temenin Na, tapi jangan lama-lama. Nanti Mama siapin kamar." Kata Ibu. "Gak usah disiapin kamar Tan, aku bisa tidur di sofa." Kata Jino sambil nyengir. "Ehh jangan dong. Tamu kok tidurnya di sofa?" "Iih, aku bukan tamu lah Tante, cuman orang numpang." Ana memasang ekspresi malas. "Kalau sama Mama aja lo manis-manis ya?" "Apa sih? Sama Mama sendiri aja cemburu lo." Kata Jino. "Ya udah yuk ke rumah gue sekarang." "Aduh malesss..." "Ayolah Naaa..." "Hahh, iya, iya. Ma, aku sama Jino pergi dulu." "Iya, jangan lama-lama ya." Pesan Ibu. Adik Ana yang sedang minum, memperhatikan Ana dan Jino yang sudah melangkah pergi, hingga akhirnya keduanya menghilang. "Lama-lama Kak Ana baper gak tuh sama Kak Jino?" celetuk adik Ana. "Emang kenapa?" tanya Ibu. "Kak Jino itu tukang berantem." ••• "Hah, mana mungkin? Orang Jino anaknya manis gitu." "Ya, sekarang mungkin udah berubah. Cuman dulu emang gitu kenyataannya Ma. Sekitar dua tahunan lalu, pas aku lagi jalan sama temen-temen, aku ngeliat Kak Jino lagi berantem sama temen-temennya, di pinggir jalan yang ramai lagi, masih pakai seragam sekolah. Cuman temen-temennya itu beda sama yang dibawa ke rumah kemaren. Brutal banget, aku ngeri kalau inget. Gak nyangka dia jadi tetangga kita." "Ya ampun... itu karena emang ada masalah kali sama yang dia pukulin." "Yaa... mungkin. Cuman aku jadi takut aja, kalau Kak Jino itu sekalinya marah emang bisa sekasar itu. Aku mah khawatir aja sama Kak Ana. Aku mikirnya gimana kalau Kak Ana suatu saat bikin Kak Jino bener-bener marah, dan akhirnya kelepasan?" "Tapi masak Jino bakal main tangan juga ke cewek?" "Yah mudah-mudahan enggak. Aku cuman khawatir aja. Soalnya aku sendiri masih ngeri kalau ngeliat Kak Jino." 'Kalau aku ceritain gimana kondisi orang yang Kak Jino pukulin habis itu, mungkin Mama bisa bener-bener gak respek sama Kak Jino. Hah, mending gak usah bilang deh, kasian Kak Jino. Bisa aja dia emang udah bener-bener berubah.' ••• Ana sibuk mengamati foto-foto semasa SMA Jino, yang digantung di lampu-lampu yang ada di depan meja belajarnya. Lampu-lampu kecil yang Jino pasang, membuat kamar Jino jadi terkesan ada sisi feminimenya. Berbanding terbalik dengan foto-foto yang Jino pasang. Kebanyakan di foto, Jino tampak memiliki banyak bekas luka di wajah, dan seragam berantakan. Tapi kalau fotonya bersama Tora, Ardan, Randy, Bayu, Han, Jazmi, dan Felix, baru penampilan Jino rapih, meskipun dengan masih ada sisa bekas luka. "Ngapain lo?" tanya Jino, yang baru selesai dari kamar mandi. "Lo muka dua ya?" lontar Ana tiba-tiba yang membuat Jino mengernyitkan kening. "Muka dua?" "Iya. Beda geng, beda juga penampilan lo." Jino terdiam, dan memilih tidak memberi komentar. Ia mulai sibuk memilih-milih komik yang hendak dibawa ke rumah Ana. "Lo tukang tawuran? Tukang berantem? Atau emang preman dulu?" tanya Ana. "Lo suka yang sama?" Kening Ana mengernyit, mendengar Jino malah balik bertanya. "Ya gak suka semuanya lah, yang bener aja gue suka sama cowok kayak gitu. Cewek lain emang sukanya sama cowok bad boy, tapi gue lebih suka sama cowok yang bisa ngarahin gue ke arah yang lebih baik." "Cuman suka berantem doang, bukan berarti gak bisa ngarahin lo ke arah yang lebih baik kan?" Ana yang sebelumnya memunggungi Jino, akhirnya balik badan. Ia sedikit terkejut, mendapati Jino yang rupanya sudah berdiri tepat di depannya, dengan jarak yang dekat. Ana mendongak untuk menatap wajah Jino. "Jadi... lo emang doyan berantem dulu?" tanya Ana. "Kalau gue bilang iya, lo jadi gak suka sama gue?" Ana terdiam, dengan bola mata yang bergulir ke arah lain. "Emang... gue suka sama lo ya?" Jino mendengus mendengar jawaban Ana. "Bukan gitu maksudnya..." gumam Jino. "Sekarang lo udah berubahkan? Kan lo udah dewasa, gak mungkin kayak waktu pas SMA kan?" Jino terdiam, sembari menatap Ana, yang membuat Ana lama-lama jadi gugup. "Kalau... ada yang bikin gue marah banget. Gue bisa lepas kendali." Kata Jino dengan nada suara rendah. Mata Ana mengerjap. "Kalau cewek yang bikin lo marah? Apa lo bakal mukul dia juga?" Jino terdiam sejenak, kemudian hanya menggelengkan kepalanya tidak pasti. 'Gue jadi takut,' batin Ana sampai tidak sadar menelan ludahnya. "Enggak lah, gue gak akan mukul cewek." Kata Jino. "Yang bener aja," "Ekhem, ya... bagus lah." Balas Ana sambil tersenyum tipis. Ana yang sadar jaraknya semakin dekat dengan Jino, akhirnya mengangkat kedua tangannya dan meletakannya di d**a Jino, untuk mendorong tubuh Jino agar menjauh. "Ish, lo ngapain sih deket-deket? Sana, sana." Kata Ana sambil memundurkan kepalanya. "Na, gue suka deh ngeliat lo pas makeup-an tadi, lo cantik." Kata Jino sambil menyeringai kecil. "Jino! Lo kesurupan ya?! Sadar Jino! Sadar!" Ana akhirnya memilih mau kabur saja, tapi Jino malah melingkarkan kedua tangannya di badan Ana. "Mau kemana sih? Mumpung kita lagi berduaan aja, masak gak mau ngapain dulu gitu?" Bibir Ana melengkung ke bawah, dengan mata yang menatap Jino seperti puppy dan alis bertaut. Sumpah, ekspresi Jino jadi mengerikan sekali bagi Ana. Ditambah rambut hitamnya yang acak-acakan, hingga menutup sebagian mata, lengan kaos hitamnya yang digulung, jangan lupa seringai kecil yang masih terpantri di wajahnya. "Huuwaaaaa PAPAAAAAAA!!!" tangis Ana sambil meronta. Jino seketika tergelak, sembari menjauh dari Ana. "Lucu banget lo, gilaaa... Hahahaha, aduh harusnya tadi gue rekam ekspresi lo." "Akhhh!!! s****n lo Hyungjing!" seru Ana sembari melayangkan tendangan serta pukulan tanpa ampun. "Aduh, maaf, maafff... habis lo tuh mukanya jarang ada ekspresi hahaha, kan gue jadi penasaran ekspresi lo yang lain, bisa lucu juga ya lo mukanya, hahaha." Bruk! Jino jatuh ke karpet, dan Ana tanpa ragu mengangkat sebelah kakinya untuk menginjak d**a Jino. Tapi Jino sudah lebih dulu menendang kaki Ana yang lain, hingga tubuh Ana langsung jatuh ke depan, dan menimpa tubuh Jino. Ana tercenung, sementara Jino tidak menunjukan ia terkejut atau apa, karena dia sudah memperkirakan ini. Ana hendak bangkit, tapi Jino memeluk pinggangnya dengan satu tangan, sementara tangannya yang lain, memegang salah satu pipi Ana. "Lo padahal cewek kasar tuh, tapi gak suka dikasarin ya?" "Justru karena gue cewek kasar, gue maunya sama cowok yang lembut." "Berarti gue gak bisa dong, kalau mau sama lo." "Lo ngomong apa sih? Lepasin gue. Jangan ngelantur." Kata Ana, sembari mengangkat tubuhnya. Jino pun akhirnya memilih melepaskan Ana, karena sadar, semakin lama di posisi yang tidak aman, endingnya juga akan jadi tidak aman. Jino ikut duduk, kemudian menatap Ana yang raut wajahnya tampak gugup. "Heh, jangan masang muka dingin dong. Lo jadi kayak bukan Jino yang biasanya." Kata Ana. "Lagian kata Mama gue kan, jangan lama-lama di sininya, udah ayo cepetan balik." ••• Jino membaringkan tubuhnya di kasur, sembari memejamkan matanya. Sekelebat, bayangan Han, Tora dan Ardan yang masih menggunakan seragam putih abu-abu, menghampirinya dengan raut wajah panik. "Orang yang lo pukulin kemaren, meninggal Jin." Kata Han. "Heh, gak mungkin!" sangkal Jino. "Lo ke rumah sakit tempat dia dirawat sekarang. Dia udah meninggal." Tora mempertegas. "Sebenernya apa yang udah dia lakuin sih? Sampe lo ngabisin dia kayak gitu hah?" giliran Ardan yang bicara. "Gue emang mukulin dia sampe babak belur. Tapi yang bikin dia meninggal, pasti bukan karena gue!" "Jelas itu gara-gara lo. Pukulan lo itu kena bagian vital dia sampe beberapa kali." Kata Tora. "Apa yang bikin lo lakuin ini?" Jino terdiam sejenak, kemudian ia melirik Randy yang duduk di sebelahnya, dan sedari tadi hanya diam, tidak tahu apa yang terjadi. "Dia ngebully Randy di media sosial, bahkan ngelecehin dia." Ucap Jino. "Tapi... lo udah bunuh orang Jin," kata Ardan. Jino tidak bisa menjawab. "Selama keluarganya gak nuntut, kita tutup mulut aja. Jino kan lakuin ini juga buat ngelindungin Randy." Kata Han. "Habis ini lo mending berhenti berantem, dan gak usah temanan lagi sama temen-temen preman lo itu. Udah berapa kali gue bilang, mereka toxid. Lo harusnya gak main hakim sendiri, kalau lo emang tau Randy dibully sampe dilecehin, lo lapor ke pihak berwajib sambil serahin bukti." Kata Tora. "Lagian kenapa lo gak bilang ke kita sih Jun? Kalau lo diganggu?" tanya Tora pada Randy. "Udah tau Jino kalau marah kayak apa." "Gue bahkan gak tau kalau Jino tau." Balas Randy. Tora, Han dan Ardan seketika menatap tajam Jino. "Lo pasti dikomporin sama temen-temen Preman lo itukan?" tanya Ardan. "Mulai detik ini, gak usah gaul sama mereka lagi." Kata Tora tegas. "Ekkhhh... kalau Ana tau gimana?" gumam Jino sembari mengusap kasar wajahnya. Jino kemudian membuka matanya, dan kali ini malah wajah Ana yang seolah ada di depan matanya. Jino langsung menutup matanya dengan kedua tangan, kemudian beranjak duduk. 'Sadar Jino... lo deket sama dia sekarang cuman buat bantu dia keluar dari zona nyaman aja.' Batin Jino. "Gue minum dulu deh," kata Jino sembari bergegas keluar kamar. Sesampainya di dapur ia melihat Ana sedang memotong buah, di meja makan. Langkah Jino terhenti sejenak, karena terkejut Ana hanya pakai celana pendek. "Woy, lo lupa ada cowok di sini?" mendengar suara Jino, Ana jadi kaget, dan tanpa sadar pisaunya malah melukai jarinya. Ana tidak terlalu memedulikan lukanya, ia memilih langsung bersembunyi di balik meja makan untuk menyembunyikan kakinya. Sementara Jino yang sadar Ana terluka, panik dan hendak menghampiri Ana, tapi Ana menahannya. "Jangan ke sini! Udah tau gue pakai celana pendek. Gue kelupaan. Lo tolong ambilin selimut, atau kain-kain apa gitu. Pinjem dari kamar lo dulu." Kata Ana. "Tapi luka lo?" "Gak papa, orang cuman luka kecil." "Ck, ya udah gue ambilin selimut dulu." ••• "Luka kecil gimana? Darahnya aja gak berhenti ngalir gini." Kata Jino sembari menekan luka Ana dengan kapas. "Gue mah kalau luka emang gini, darahnya susah berhenti, terus nanti sembuhnya lama." Balas Ana. "Lo diabet?" Ana malah tertawa kecil mendengar pertanyaan Jino. "Iya, diabetes tipe dua." Jino melebarkan matanya. "Hah, serius? Kan lo masih muda banget." "Ada penyakit lain yang gak ketahuan sebelumnya, jadi diabetes deh." Kata Ana cuek. "Penyakit apa?" "Mau tau aja." Jino menghela napas jengkel, karena Ana tidak mau memberitahu. Setelah darahnya berhenti, Jino langsung menutup luka Ana dengan plester, sebelum darahnya keluar lagi. "Berarti lo harusnya hidup sehat dong. Bahkan gue kayaknya gak pernah liat lo olah raga." Kata Jino, tapi Ana tidak menjawab. Ia malah mengambil piring berisi berbagai buah yang tadi ia potong. Apel, pir, dan jambu klutuk. "Mau gak?" tawar Ana. Jino mengulurkan tangannya, hendak mencomot salah satu buah, tapi Ana tiba-tiba mengacungkan garpu di depan wajahnya. "Tangan lo kan kotor, jangan pakai tangan." Kata Ana. Jino akhirnya mengambil garpu yang Ana acungkan padanya. "Ck, ya tapi gak gitu dong cara kasihnya, kayak lo mau nusuk gue aja." "Hehehe, maaf." Kata Ana. "Btw kenapa lo belum tidur?" "Gak bisa aja. Lo sendiri?" "Gue laper." Jawab Ana. "Kalau laper gak bisa tidur?" "Iyalah, siapa yang bisa tidur kondisi laper. Tapi kalau udah malem, makan nasi, pas bangun tidur perut jadi panas. Makanya gue makan buah, lebih sehat juga sih." Jino tersenyum kecil sembari mengangguk-anggukan kepalanya sebagai respon. Ana yang melihatnya, mengernyitkan kening. "Kenapa senyum-senyum?" tanya Ana. "Enggak... pengen aja senyum, emang kenapa?" Ana menatap curiga. "Lo tuh jatuh cinta sama gue ya?" Mata Jino membelalak, ia tercenung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya tergelak. "Apaan tuh bahasanya? Jatuh cinta? Hahahaha." "Ya, udah. Lo suka sama gue ya?! Hayo ngaku!" "Enggak lah, ih! Yang bener aja lo?" "Ya habis... omongan lo pas tadi sore aja aneh, kan gue jadi kepikiran." "Cieeee... kepikiran gue." Ana mencubit lengan Jino. "Bukan gitu!" Jino masih ketawa sebentar, tapi tak lama tawanya menghilang, terganti dengan raut wajah serius. Ia menatap Ana yang sedang menyuap potongan apel ke dalam mulutnya. "Na, masa lalu seseorang itu penting gak sih? Maksud gue... misalnya lo suka, atau lagi mau suka sama seseorang, terus ternyata seseorang itu masa lalunya gak baik. Lo bakal tetep suka dia atau enggak?" "Kalau masa lalunya, gak mempengaruhi masa depan. Ngapain mikirin masa lalunya? Toh, kita hidupnya jalan ke depan, bukan ke belakang." Jino terdiam sejenak, dengan ludah ia telan susah payah. "Sekali pun... masa lalunya bunuh orang?"[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD