"Lo bunuh orang?" tanya Ana yang sukses membuat Jino gelagapan.
"Kalau lo emang bunuh orang, kenapa lo gak dipenjara sekarang? Lo nyogok hakim, Polisi, atau keluarga korban?" tutur Ana santai.
"Kok lo bisa se-selow ini sih?" tanya Jino.
"Ya gue harus gimana?"
Jino terdiam, ia tiba-tiba meraih salah satu tangan Ana, dan menggenggamnya, membuat Ana menatapnya heran. Ditambah Jino memasang ekspresi ketakutan.
"Kenapa?" tanya Ana. "Jadi bener lo ngebunuh?"
Jino menggelengkan kepalanya. "Waktu itu, temen gue yang namanya Randy, dibully di media sosial, gak cuman itu, dia juga dilecehin. Randy gak pernah bilang, gue tau sendiri karena emang cari tau. Soalnya waktu itu Randy murung terus, dan gue pernah ngeliat dia nangis sampe nyakitin dirinya sendiri."
"Akhirnya gue cari tau siapa yang udah ngelakuin itu ke Randy. Setelah ketemu gue langsung mukulin orang itu tanpa ampun, sampe akhirnya dia dirawat di rumah sakit sekitar semingguan, sebelum dinyatain meninggal."
Ana tiba-tiba menarik tangannya dari genggaman tangan Jino, dan tidak memberi respon apapun.
•••
From: Han
Ya siapa yang gak shock denger cerita lo Bambang? Ana udah pasti shock lah, makanya gak respon apapun.
Lagian lo ngapain ceritain hal itu ke Ana? Lo sendiri yang bilang, cukup kita aja yang tau. Dan lo juga bilang pengen ngubur kenangan itu, gak mau dibahas lagi.
Tapi kenapa malah lo cerita ke cewek yang baru lo kenal?
Randy juga gak akan suka tau lo ngungkit masalah itu lagi sama orang asing.
To: Han
Ana bukan orang asing.
From: Han
Iya, pacar lo. Pacar settingan.
To: Han
Gue cuman mau tau reaksi Ana.
From: Han
Buat apa?
Jino terdiam. Dia sendiri bingung kenapa dia melakukan itu. Padahal saat Ana melihat foto-foto masa SMAnya, Ana tidak bertanya yang aneh-aneh. Atau ingin tahu detail pertengkaran seperti apa saja yang pernah Jino hadapi dan alami.
Semuanya seperti Jino lakukan di bawah alam sadar.
Ting! Satu pesan baru masuk lagi dari Han.
From: Han
Jadi ini alesan lo jomblo selama ini ya? Lo pengen cewek yang lo suka tau dan terima masa lalu lo?
To: Han
Gue gak suka sama Ana.
From: Han
Tinggal beberapa bulan lagi lo masuk 21 tahun. Masak masih gak ngerti yang kayak gitu? Gak mungkin kan, setelah putus sama mantan lo yang terakhir, lo jadi lupa gimana rasanya perasaan 'suka'?
Baca baik-baik. Gak semua hal buruk tentang lo harus diungkapin, karena lo pengen jujur ke pasangan atau calon. Ada hal-hal yang malah nanti bikin rusak hubungan, bukannya jadi baik karena lo jujur tentang semua hal.
Jino membaringkan tubuhnya di kasur, sekarang ia merasa menyesal sudah memberitahu hal itu. Rasanya ingin waktu diputar ke belakang, tapi itu kan mustahil.
From: Han
Kalau Ana ternyata permasalahin masa lalu lo itu, lo bilang aja, sebenernya 'dia', bukan meninggal karena lo. Karena kenyataannya emang iyakan? Dia sendiri yang bunuh diri.
To: Han
Tapi itu kan belum pasti dia meninggal emang karena bunuh diri, kita cuman denger-denger.
From: Han
Terus kenapa keluarganya gak nuntut lo? Padahal mereka tau lo yang udah mukulin 'dia'.
To: Han
Karena gue udah minta maaf dan kasih uang ganti rugi mungkin?
From: Han
Ya gak akan segampang itulah b**o. Coba orang yang lo sayang dibunuh, emang lo bakal maafin pembunuh itu dengan gampangnya, cuman karena si pembunuh minta maaf dan kasih uang?
To: Han
Ya enggak. Tapi bisa ajakan keluarganya emang mata duitan?
From: Han
-_- coba lo kurangin nonton drama sama sinetron.
To: Han
Tapi gue tetep ngerasa itu salah gue.
From: Han
Waktu lo liat jasadnya, lo bisa ngeliat sendirikan ada luka di pergelangan tangannya, pas di nadi.
To: Han
Tapi gimana kalau dia bunuh diri tuh, karena takut sama gue.
From: Han
Aduh, udahlah, gak usah mikirin dia yang udah gak ada. Randy juga hampir bunuh diri gara-gara dia.
•••
Jino melirik Ana yang sedang makan roti sambil memainkam ponselnya. Dengan cuek dia mengangkat salah satu kakinya ke kursi. Ekspresinya saat mereka bertatap muka waktu pertama kali bertemu pagi ini, biasa saja.
Seperti Ana pada biasanya, alias datar. Tidak menunjukan ia takut, atau bagaimana pada Jino.
Ana itu tidak ekspresif, jadi bingung kalau mau memprediksi perasaannya.
Adik Ana tak lama muncul di dapur, penampilannya sudah rapih. Setahu Jino, hari ini dia memang akan menghadiri sebuah pelatihan gambar.
Kalau adik Ana, Jino sudah tahu sejak pertama kali bertemu. Dia takut padanya. Adik Ana yang satu ini, tidak pernah mau menatap matanya saat mereka bicara.
Tapi masak iya adik Ana itu tahu perihal masalah itu? Bertemu sebelumnya saja tidak pernah, dia juga jelas tidak pernah menceritakannya.
"Kak, gak sopan banget sih kakinya, udah tau ada tamu."
"Cuman Jino ini," kata Ana.
"Ya tetep aja lah Kak. Ck, kurangin kek cueknya itu."
Ana tidak merespon, ia melirik Jino yang dari tadi hanya menikmati air mineral.
Ana mengambil dua lembar roti, dan mengoleskannya dengan selai, sebelum menyodorkannya pada Jino.
"Nih, sarapan. Mama gue gak biasa bikin sarapan, kecuali ada adek-adek gue yang kecil." Kata Ana.
"Eung... ga-gak usah." Balas Jino.
"Kenapa gak mau? Udah gue bikinin loh." Kata Ana. "Apa? Mau ditaruh dipiring dulu kayak Papa gue?"
"Enggak, enggak. Ya udah makasih." Kata Jino sembari menerima roti tersebut, dan langsung memakannya.
"Aku mau pergi sekarang ya?" ujar adik Ana.
"Gak sarapan dulu?" tanya Ana.
"Enggak lah, mau sarapan dulu di luar aja, nanti telat."
"Ya udah hati-hati."
"Aku pergi dulu Kak Ana, Kak Jino."
Ana dan Jino hanya menganggukan kepalanya sebagai respon.
Setelah adik Ana pergi, Ana tiba-tiba menatap Jino, yang membuat Jino terkejut.
"Gue sebenernya gak gitu peduli sama masa lalu lo itu, gue cuman emang sempet shock aja semalem. Jadi lo tenang aja." Tutur Ana. "Meskipun... sebenernya gue penasaran sih, kenapa lo ceritain itu semua ke gue?"
•••
"Gue kan selalu denger cerita lo, masak lo gak mau dengerin cerita gue?" jawab Jino, yang membuat Ana terdiam. "Gak gue sangka lo bisa kasih respon yang baik dan tenang."
Ana hanya tersenyum tipis sebagai respon, sembari mengunyah rotinya.
Jino tiba-tiba gugup sendiri, tangannya yang ia letakan di atas lutut, tiba-tiba gemetaran. Jino ngerasa... omongannya bertolak belakang dengan 'sesuatu', yang berusaha Jino sangkal.
"B-btw, selain sama Tora, lo sebelumnya pernah deket sama cowok lain gak? Atau bahkan pacaran?" tanya Jino.
"Gue gak pernah pacaran," balas Ana.
"Kenapa?"
"Gue belum pernah ketemu cowok yang bener-bener tulus ke gue. Mereka cuman liat fisik gue, habis tau sifat asli gue, habis tau gue cuman homeschooling dan gak terlalu pinter, mereka langsung jauhin gue."
Jino berdecih. "Emang lo secantik apa sih? Perasaan biasa aja."
"Gue cantik tau, huh." Kata Ana sambil mengibaskan rambutnya.
Jino tanpa sadar tersenyum, membuat Ana yang melihatnya mengernyitkan kening.
"Kalau gak buang muka, lo senyum-senyum sendiri ya? Hih, bikin merinding aja." Kata Ana.
"Suka-suka gue lah!" balas Jino.
"Iya deh, suka-suka eluuu..."
"Dari dulu lo emang udah kayak gini ya?"
"Apanya?"
"Fisiknya..."
"Enggak, dulu gue gendut, jadi matanya keliatan kecil, terus hidung gue tuh gede, jadi pas gendut keliatan bulet banget sama pesek. Kalau inget dulu, kesel."
Jino tergelak. "Ya wajarlah, masih kecil kayak gitu. Jadi penasaran pas lo kecil gimana. Pasti luc- jelek banget, hahaha."
Ana memicingkan matanya sinis pada Jino. "Lo sendiri pasti jelek juga."
"Enggaklah! Enak aja. Dari kecil gue udah ganteng, badannya gue udah oke banget bentuknya, cuman emang agak b***k. Yaaa... wajarlah, namanya cowok, suka main panas-panasan. Gue mulai pakai perawatan tuh pas SMA, soalnya gue denger kalau gak pakai tabir surya bisa kanker kulit, sama biar bekas-bekas luka di wajah gue cepet hilang. Selama ini Mama gak tau gue suka berantem, jadi... gue selama SMA gue sering nginep di rumah temen kalau habis berantem, kalau lukanya udah mendingan, minimal udah gak bengkak, gue tutupin makeup baru pulang."
Ana menyipitkan matanya, sambil menopang dagu.
"Lo nakal banget," komentar Ana.
"Iya, gue akuin." Balas Jino.
"Tapi pas kecil gue juga nakal. Gue meskipun cewek juga b***k karena suka panas-panasan. Gue suka banget manjat pohon, sampe pernah jatuh dan bikin jalan gue pincang, hahaha. Yang paling bikin gak enak rantingnya nyelip di garis p****t, hahaha! Terus gue dulu suka juga nyari belalang, gue goreng diem-diem sama adek gue yang cewek, wahhh... itu rasanya enak banget. Lo harus coba!"
Jino menatap datar Ana. "Lo beneran gak malu ya cerita kayak gituan di depan cogan?"
Ana berhenti tertawa. "Kenapa gue harus malu? Malu itu, masa kecil cuman dihabisin buat main smartphone."
"Aduh, ranting nyelip ke p****t kan aib, b**o. Gue aja malu dengernya. Lo ternyata seblak-blakan itu ya?"
"Habis itu berkesan..."
"Anjir, kayak gitu lo bilang berkesan."
"Tapi emang lucukan? Biasanya lo receh, kenapa sekarang lo gak ketawa? Malah kayak gugup gitu." Kata Ana sambil menatap intens Jino, dan menyeringai.
Jino langsung buang muka, dan tidak menjawab.
"Tapi... lo pasti punya pengalaman yang lebih memalukan dari gue."
"Enggak!"
"Bohonggg... cowok itu biasanya lebih banyak aibnya."
"Gue mah suci dari aib, gak kayak lo."
"Anjir, mana ada yang kayak gitu!"
"Gue bakal tanya temen-temen lo ah..."
"Akhhh... Jangan macem-macem dong Na!"
"Emang kenapa sih kalau gue tau aib lo? Kan lo juga udah tau aib gue."
Kresek, kresek. Ana dan Jino mendadak diam saat tiba-tiba mendengar suara-suara dari arah samping wastafel, yang sedikit berantakan karena banyak tumpukan keresek bekas sayur.
"Huwaaaa!!!" teriak Jino tiba-tiba sembari menaikan kedua kakinya ke kursi, saat satu ekor kecoa tiba-tiba muncul. "Ke-kecoa! Kecoa!" seru Jino.
"Ya elah, satu biji doang, lagian jauh. Selama belum terbang, santai aja." Balas Ana.
"Aduh Naaa... dia bakal terbang kapan aja, disemprot pembasmi serangga atau apa gitu..." kata Jino.
"Gak ada gituan," kata Ana yang membuat Jino melotot.
"Serius gak ada? Itu kan buat keadaan genting!"
"Ck, genting apaan? Cuman kecoa."
Ana bangkit berdiri mendekati cucian piring, kemudian mengambil salah satu tumpukan keresek yang ada. Ana membalut tangannya dengan keresek tersebut, dan mengambil kecoa itu begitu saja menggunakan tangan, membuat Jino mematung.
"Tinggal diginiin, gak perlu semprotan serangga segala." Kata Ana. "Mau liat gak? Dia masih gerak-gerak loh."
"Eng-enggak, makasih. Gak penasaran." Balas Jino.
Ana diam, ia membungkus kecoa tersebut tanpa membunuhnya. Hingga kecoa itu hanya terperangkap di dalam keresek. Kebetulan keresek yang Ana gunakan bening, jadi kecoanya dapat terlihat.
Senyum jahat terukir di wajah Ana, Ana tiba-tiba berbalik sambil menodongkan keresek berisi kecoa tersebut pada Jino, yang membuat Jino sontak berteriak.
"Uuwaaaaaa!!!" teriak Jino hingga jatuh dari kursi karena mau kabur.
"Ana! Ana! Jangan Anaaa!!!" Jino bangkit berdiri dari lantai, kemudian kabur lewat pintu belakang yang ada di dapur. Ana tentu tidak tinggal diam, dia langsung mengejarnya.
"Jino! Kecoanya mau kenalan sama elu tau!"
"Gue gak mau kenalan sama dia!" sahut Jino.
"Jangan dong, kasian."
"Gila lo Na!"
"Nangis nih kecoanya!"
"Bodo amat!"
•••
Ana mengejar Jino sampai ke taman di depan komplek. Yah, g**g tempat tinggal Ana dan Jino, memang agak di depan. Jadi tidak terlalu jauh dari taman.
Wajah Jino pucat karena ketakutan dan lelah berlari.
Dengan masih ada sisa kekehan, Ana membuang kecoa tersebut, kemudian pergi ke warung terdekat untuk beli minum. Sementara Jino tiduran di kursi taman.
Sekarang taman sepi karena masih pagi, dan kebanyakan pergi sekolah atau kerja. Jino sendiri, hari ini kuliahnya jam dua siang.
Jino menutup matanya dengan satu lengan, untuk meminimalisir sengatan matahari ke wajahnya.
Tanpa sadar Jino tersenyum, ia tidak menyangka masih bisa seperti biasanya dengan Ana. Padahal semalaman ia sudah pusing dan kalut hari ini hubungannya dengan Ana akan bagaimana.
Sepertinya Ana bukan tipe orang yang terlalu memusingkan sesuatu dari orang lain, kecuali tentang dirinya sendiri.
"Heh, bangun, nih gue bawain minum." Jino seketika membuka matanya, kemudian beranjak duduk.
Ana duduk di sebelahnya, sembari menyodorkan minuman yang ia beli pada Jino.
"Gue gak tau lo suka apaan, jadi gue beli yang sama aja kayak gue." Tutur Ana.
"Gue suka kok kopi dingin." Kata Jino sambil membuka tutup kaleng kopi pemberian Ana itu.
"Itu utang loh gue belinya, soalnya gue gak bawa dompet." Kata Ana.
"Bisa gitu utang? Gue gak pernah boleh."
"Bisalah. Selama yang jaga toko cowok."
"Anjir! Maksud lo gimana?!"
"Apa sih? Kenapa tiba-tiba teriak? Keuntungan dari orang cuman liat tampang tuh kayak gini, apa lagi cowok tuh gampang diperdaya kalau udah liat yang cantik."
Jino memasang ekspresi datar. "Dia buta apa minusnya gede? Cewek gak punya alis kayak lo kok kemauannya diturutin?"
Ana memukul kepala Jino. "Yang sopan sama Kakak."
"Apa sih?! Beda berapa menit doang juga!" protes Jino.
"Sebenernya bukan karena gue cantik, dia emang genit aja." Kata Ana. "Mahasiswi yang nge kost bahkan terang-terangan dia godain, gue benci banget cowok kayak gitu. Nilai plusnya sih jadi bisa dimanfaatin, padahal kalau udah sadar dia cuman dimanfaatin, bakal ngomel-ngomel, bilangnya cewek tuh matre lah, apalah. Padahal salah sendiri mata keranjang dan gampangan."
"Kayaknya lo berpengalaman banget ya?" tanya Jino.
"Ya, sering." Balas Ana, yang membuat Jino melotot.
"Jadi lo emang sering digituin sama cowok ya?"
"Untungnya gue gak b**o. Kalau dia udah mulai pengen lebih akrab ke gue, gue bakal jauhin. Yang penting gue sempet manfaatin dia."
"Ih jahat."
"Emang,"
Jino mendengus. "Udah jangan gitu lagi. Sekarang ada gue kalau lo emang pengen minta bantuan sesuatu. Kesannya kan lo jadi gimana gitu."
"Apa sih? Perhatian banget lo sama gue. Gue lebih sering manfaatin pedagang, biar dapet barang dan harga yang bagus. Kalau di luar pedagang, jarang. Tapi yaa... gak sekali dua kali."
"Ya sama aja itu sering lah. Lo ternyata bisa tuh gaul sama cowok, kenapa gak coba gaul sama cewek?"
"Gaul sama cewek itu susah. Dibanding temanan, cewek lebih suka ngejatuhin sesama cewek. Sementara cowok, malah bisa dimanfaatin. Dan karena gue punya pemikiran kayak gitu, akhirnya gue gak temenan sama dua-duanya."
"Gue gimana? Gue cowok. Jadi gue cuman dimanfaatin doang selama ini?"
"Iya, gue tau lo cowok. Tapi gak ada yang bisa dimanfaatin dari lo."
"Tapi lo masih mau aja temenan sama gue."
"Emang kita temenan? Bukannya selama ini kita musuhan?"
"Heh, dasar." Dengus Jino. "Tapi sifat lo jelek banget, gak ada niat berubah?"
Ana hanya diam tidak merespon, membuat Jino mengernyitkan kening.
"Jawab dong." Kata Jino.
"Udahlah, gak usah bahas masalah gituan lagi." Sahut Ana.
"Gue mau hidup sendirian aja sampe mati, makanya gue gak ada niat berubah dan cari temen baru. Cukup lo aja temen baru gue satu-satunya. Temen-temen lo itu, meskipun gue kenal mereka dan sebaliknya, gue gak mau jalin pertemanan sama mereka."[]