Geo menarik napas sebelum mengangkat telpon Rena. "Allo," jawabnya menggunakan bahasa Prancis.
"Bisa kau kemari?" pinta Rena to the point dari seberang sana.
Ia diam beberapa saat membaca situasi setelah pertengkaran mereka kemarin. Biasanya Geo langsung menjawab 'ya' tanpa beban atau peduli ia sedang bekerja atau sibuk sekalipun untuk memenuhi keinginan Rena. Tapi kali ini tenggorokan terasa berat mengucapkan satu kata itu.
"Aku sedang berada di vila Mama dan ada urusan yang tidak bisa aku tinggalkan sekarang," jedanya beberapa saat, lalu kembali menyambung kalimatnya sebelum Rena bicara, "aku akan ke tempatmu setelah makan siang." Walau berat, tetap saja Geo tidak bisa menolak permintaan Rena.
"Apa tidak bisa sekarang? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," tersirat nada kecewa dari suara Rena. "Kau masih bersama wanita yang tadi malam? Kau tidur dengannya di vila ibumu?" Geo mendengar Rena menekankan kata 'vila ibumu'.
Ia tahu Rena terkejut, termasuk dirinya sendiri, membawa seorang wanita ke vila Alisa. Karena ini milik Alisa, jadi ia tidak pernah membawa wanita manapun ke sini, termasuk Rena.
"Tidur dengannya atau tidak, tidak ada hubungannya dengan pembicaraan yang akan kita bahas, bukan?" Ia menghela napas sekali lagi. "Aku berjanji setelah makan siang akan menemuimu."
...
"Apa hukumanku? Aku harap itu tidak berat." Ariana mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk. Sambil berjalan menuju sofa yang ada di kamar. Ia duduk menghadap Geo yang memainkan ponselnya setengah berbaring di ranjang.
Setelah mematikan ponselnya, Geo beralih pada Ariana, "Tidak berat, kau hanya perlu bicara pada Mama tentang kerusakan mobil itu dan kau yang mengemudi selama kita kembali ke kota."
"APA?! Kau ingin aku dibunuh oleh ibumu, ya? Apa kau tidak kasihan pada kekasihmu ini?" ucap Ariana memelas. Perasaan takut menelan Ariana membayangkan nasib hidupnya nanti setelah Ibu Roussel mendengar pengakuannya.
"Kau memang kekasihku, Baby. Tapi kau harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu sendiri. Kau yang menawarkan diri untuk mengemudi tadi malam. Aku sudah menyuruhmu berhenti, tapi kau bersikeras menyuruhku untuk menunjukkan jalan."
"Baiklah, maafkan aku. Aku hanya ingin membantu walau sebenarnya malah memperburuk keadaan. Tapi kau yakin aku yang mengemudi lagi sampai ke kota? Dan bicara pada ibumu sendirian, bukannya itu keterlaluan? Kau harus menemaniku!"
"Oke, terima kasih sudah mengingatkan. Aku saja yang mengemudi, aku masih ingin menikmati hidup tanpa cedera sedikit pun. Karena aku kekasih yang baik hati, aku akan menemanimu bicara dengan Mama, Sayang. Tapi tetap saja tidak menjamin selamat," Geo menampilkan senyum lebar yang entah mengapa membuat Ariana semakin takut.
Satu jam kemudian...
Ariana menyenggol lengan Geo di sampingnya menggunakan siku. Sekarang mereka sudah duduk di sofa ruangan Alisa, di butik Ibu Geo.
Jantung Ariana berdetak cepat karena takut, "Katakan sesuatu!" bisiknya pada Geo yang sebelumnya mengatakan akan menemaninya bicara.
Tidak seperti wanita paruh baya yang biasa Ariana lihat. Alisa berjalan menuju sofa tunggal di seberang mereka dengan elegan, sambil menaikkan kacamatanya, lalu ditenggerkan ke atas kepala. Jangan lupakan fashion Alisa yang simpel, namun berkelas seolah menggambarkan dirinya seorang designer.
"Apa?" ucap Geo dengan santai mengangkat alisnya.
Rasanya Ariana ingin memberikan sebuah jambakan sekarang juga! Lihat wajahnya, menatap Ariana seolah tidak mengetahui apa-apa.
"Ada apa?" Alisa menyelidik raut wajah keduanya sebelum duduk. "Hari ini aku punya janji dan sebentar lagi tamuku akan datang untuk fitting gaun pengantin. Jika kalian ingin membicarakan sesuatu, aku harap cepat dan aku hanya punya waktu 30 menit," jelas Alisa.
"Karessa yang ingin bicara dengan Mama," tunjuk Geo menggunakan dagunya, dan Ariana semakin tegang.
Berbagai umpatan Ariana ucapkan dalam hati. Ia berdeham sebelum bicara. Bagaimanapun, semua memang salahnya dan berjanji akan bertanggung jawab. Tangan Ariana memainkan ujung dress santainta berwarna banana yang ia pilih di walk in closet vila itu.
"Be-begini, Tante... aku sudah merusa—"
"Sejak kemarin aku penasaran ingin menanyakannya," potong Alisa. "Apa kau orang Asia? Kalau benar, aku suka orang Asia, karena aku asli Korea Selatan. Poster tubuhmu sama sepertiku, mungil dan langsing." Alisa bicara sangat ramah mencoba menghilangkan kegugupan Ariana yang begitu kentara.
"I-iya, Tante. Aku dari Asia Tenggara, Indonesia."
Geo memutar matanya malas, sifat Alisa yang secara tidak langsung memuji diri sendiri itu mulai kumat. Dan Geo selalu lupa kalau sifat mereka itu tidak beda jauh.
"Indonesia? Aku pernah berlibur dengan suamiku ke Bali. Apa kau tinggal di sana?"
"Jadi Tante pernah ke Bali?" Ariana mulai antusias karena pengalihan pembicaraan oleh Alisa sendiri membuat rasa takutnya berangsur menghilang. "Aku tinggal di Jakarta, lumayan jauh dan memerlukan pesawat untuk ke Bali."
Mereka pun melanjutkan perbincangan seputar Jakarta dan Bali. Tentang makan-makanan yang wajib dicoba oleh turis atau tempat liburan yang bagus untuk dikunjungi dan banyak hal lainnya membuat keduanya seperti teman lama tidak bertemu.
Sedangkan keberadaan Geo seperti tidak dianggap oleh kedua wanita Asia di depannya ini. Ekspetasinya akan Alisa marah pada Ariana—atau paling tidak menatap tidak suka secara terang-terangan seperti Alisa bertemu dengan Rena dulu.
Namun nyatanya, benar-benar di luar dugaan.
...
"Dalam hayalanku sebelum bertemu ibumu, dia akan marah besar sampai aku diusir dan tiketku akan lenyap sebelum melunasi bayaran perbaikan lampu mobilnya. Tapi dia malah mengatakan aku tidak perlu memikirkannya setelah mengaku, karena tentang mobil itu urusan pria, sedangkan wanita hanya bisa memakainya tanpa tahu apa-apa mengenai mana yang rusak. Ya ampun, ibumu sangat baik! Aku tidak menyangka dia akan seramah itu padaku. Kenapa kau tidak seperti dirinya?"
Ya, sampai Geo sendiri bingung kenapa Alisa seramah itu dengan Ariana daripada wanita yang pernah ia kenalkan sebelumnya. "Jangan mengajakku bicara."
"Kau marah?"
"Tidak."
"Kau marah. Memangnya kenapa?"
Aku tidak suka diabaikan! "Aku tidak marah!"
"Cih, jelas-jelas kau menyangkalnya. Apa kau marah karena tidak dipedulikan atau kau berharap aku dimarahi ibumu sebagai hukuman? Kalau keduanya benar aku minta maaf. Ibumu sangat antusias tadi, aku tidak tega memotongnya."
Satu lagi yang membuat Geo heran, kata 'maaf' begitu mudah keluar dari mulut wanita itu bersamaan dengan sirat nada menyesal, permintamaafan yang tulus. Tapi ia hanya diam melanjutkan sarapannya.
Sebenarnya terlalu siang untuk disebut sarapan, tapi ini makanan pertama yang memasuki perut mereka sejak bangun tidur. Sarapan disalah satu restoran langganan Geo yang terletak di perkotaan, dengan posisi duduk menghadap jendela kaca sebesar dinding. Bangunan ini terlihat tua, namun direnovasi menjadi perpaduan klasik dan modern yang memiliki pemandangan sungai dan Louvre.
"Oh iya," Ariana menelan suapan terakhirnya sebelum mengutarakan sesuatu yang baru ia ingat, "hmm... berhubung hukumanku gagal, kau tidak ada niatan untuk membuang tiket itu, kan?" ucap Ariana dengan hati-hati sambil meraih gelas berisi air untuk diminum.
Kunyahan mulut Geo terhenti karena sebuah kejahilan menghampiri kepalanya. Ia mendongak dari piringnya menatap Ariana, "Aku tidak akan membuangnya selama kau tidak membuatku kesal."
"B-benarkah? Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan agar kau tidak kesal?"
Seolah bayangan dirinya sedang tersenyum puas di balik wajah datarnya. Ia senang memanfaatkan kenaifan Ariana, membuatnya terhibur. "Kalau begitu jangan mengacuhkanku atau menjauh dariku sampai jam-jam terakhir kita berkencan. Melanggar sedikit saja, kau akan membayarnya dengan ciuman," ucap santai Geo dengan satu alis terangkat.
"Ciuman. Hanya itu yang ada di kepalamu sejak pertama kita bertemu, dan kau bisa tinggal bilang 'aku tidak suka diacuhkan' apa susahnya---" seolah baru menyadari sesuatu, Ariana mengerjap. Ia mendengar 'jam-jam terakhir berkencan' membuatnya sadar kebersamaan mereka akan berakhir.
Entah mengapa hatinya menolak kebenaran memiliki kehidupan lain selain menjadi kekasih Roussel dan semua ini hanya akan menjadi kenangan. Ia merasa nyaman walau kadang risi dengan Geo yang m***m dan sifat menyebalkannya, namun ia tidak masalah dengan itu.
Geo memandang Ariana penasaran karena ucapannya yang terhenti tiba-tiba. Ia pun berdeham, "Kau sudah selesai? Kita harus bergegas menggunakan waktu yang tersisa sebaik mungkin."
Ariana mengangguk, "Aku sudah selesai. Memangnya kita akan berkencan di mana lagi? Bisa duduk sebentar? Aku kekenyangan," Ariana menyender pada kursi lalu mengusap perutnya yang merasa penuh. "Dagingnya lembut, rasanya juga mewah dan cukup asing di lidahku, tapi cukup enak. Apa nama makanannya tadi? Aku lupa. Aku tidak menyangka bisa menghabiskannya, mungkin karena telat sarapan."
"Itu Beef Burguignon salah satu makanan paling terkenal di sini, dan makanan wajib untuk turis sepertimu menyicipinya." Tatapan Geo beralih pada piring wanita itu lalu ia menggeleng tak percaya.
Ia pikir Ariana hanya nafsu semata mengambil porsi besar ditambah sepiring salad dan ternyata semuanya habis. Karessa benar-benar berbeda dari wanita yang pernah Geo temui. Saat makan bersama Rena, wanita itu selalu menyisakan makanan dan berujung Geo yang menghabiskan. Alasannya selalu idet untuk menjaga poster tubuh. Sedangkan wanita aneh di depannya sekarang terlihat tidak peduli dengan penampilannya.
"Jadi, di mana tempat kencan kita selanjutnya?"
Setelah menyelesaikan makannya, Geo menurunkan gelas usai minum, lalu berdiri merentangkan satu tangannya meraih tangan Ariana. Wanita itu terlihat bertanya-tanya.
"Nanti kau akan tahu, Sayang."
...
"Di mana ini?"
"Salah satu wisata terkenal di Paris?"
"Kenapa kau tidak mengajakku ke menara Eiffel?"
"Atau Istana Versailles?"
Dengan tangan bergandengan sejak turun dari mobil, Ariana tiada hentinya mengoceh menanyakan semua yang ada di kepalanya. Makan seperti mengisi semangat wanita itu, dan Geo memilih diam daripada harus menjawab semuanya.
"Apa mulutmu tidak bisa diam?" ucap Geo tidak tahan.
"Maaf, aku sudah menganggap ini liburan jadi aku harus bersemangat. Tapi bukannya kita sudah sampai? Kenapa kita terus berjalan? Kita sudah banyak melewati spot bagus untuk berfoto, Roussel!"
Menulikan telinga sepertinya cara efektif mengurangi rasa kesal Geo menghadapi cerewetnya Ariana. Mereka menaiki tangga untuk sampai ke puncak yang Geo inginkan dan Ariana tetap mengomentari sekitar yang terlihat asing untuknya.
"Bisa kita berhenti sebentar? Aku lelah—Astaga, pemandangannya sangat indah!" Ariana melepaskan tangan yang sejak tadi bergandengan. Ia berlari ke pagar pembatas yang memperlihatkan jurang rerumputan di bawahnya. "Kita bisa melihat menara Eiffel dari sini!" tunjuknya. "Ya ampun, langit Paris tanpa awan terlihat menakjubkan. Kau pernah ke bukit ini sebelumnya?"
Geo berjalan menuju kursi taman tepat di samping Ariana berdiri. "Dulu, saat umurku masih 7 tahun, bersama rombongan sekolah. Karena bosan mengikuti intruksi guru mengenai rumah kaca dari abad ke-19 yang kita lewati tadi, jadi aku berjalan sendirian tanpa arah dan aku menemukan tempat ini, tidak terlihat banyak pengunjung kemari. Setelah itu aku tidak pernah ke sini lagi. Kelihatannya sudah direnovasi jadi lebih bagus. Saat itu kursi taman ini belum ada."
"Jadi tempat ini sudah lama dibuat? Woa, aku jadi penasaran seperti apa orang-orang Eropa jaman dulu ke tempat ini untuk jalan-jalan sore atau semacamnya. Sebelum kita pulang, kau harus mengajakku ke rumah kaca itu! Aku ingin melihat semuanya, taman bunga tadi juga sangat cantik! Aku harus berfoto di sana sebelum pergi."
Setelah bersenang-senang di kencan terakhirnya dengan Roussel, Ariana harus siap menghadapi masalah pekerjaan dan tabungan yang kosong menghadangnya di tanah air. Ia menghela nafas menikmati udara sagar sambil melihat pandangan kota Paris di depannya.
Kedua tangan Ariana terentang lalu berteriak meluapkan kekesalannya mengingat kesialan selama ini yang ia alami. Entah perasaannya saja atau tidak, Tuhan seolah memberi keringanan selama ia bersama Roussel, dan kesialan tidak terlalu menganggunya selama mereka bersama. Pria itu memang marah sesekali, tapi tidak bersama tatapan merendahkan atau jijik seperti Tian lakukan padanya, dan tetap memilih tetap bersamanya tanpa terpaksa.
Sejak awal mereka bertemu, Roussel memang bukan tipenya secara sikap, tapi setelah hampir 24 jam bersama, Ariana mulai tahu kalau itu hanya tindakan impulsif dan bisa berubah pikiran.
Sepertinya Ariana benar-benar menyukai Roussel, dan ia tidak tahu harus ia apakan dengan perasaan ini.
Cekrek
Ariana refleks menoleh pada suara itu.
"Aku memotomu sebelum kau memintanya."
Senyum Ariana melebar, "Karena kau yang memotoku duluan, sekalian saja tangan kita yang difoto. Sini! Kemarikan tanganmu," tangannya merentang meraih tangan Geo beserta ponselnya.
"Kau ingin memoto gelang murahan ini lagi?"
"Tepat! Kau seperti cenayang, Tuan Roussel. Apa kau juga bisa meramal wajahku?" tanya Ariana mendongak menatap sepasang mata coklat tua milik Geo dengan kelopak mata dilebarkan.
Beberapa detik bertatapan, wajahnya memanas karena tersipu melihat wajah tampan itu dari jarak sedekat ini. Ariana mengerjap lalu mengalihkan pandangannya, tapi tangan besar meraih kedua pipinya lalu di detik berikutnya ia bisa merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya.
Geo menciumnya lagi.
Jika awalnya ia akan memberotak karena mendadak, kali ini Ariana menikmatinya dengan melingkarkan tangannya pada leher Geo. Anggap saja ini ciuman terakhir mereka sebagai sepasang kekasih. Ariana yakin akan merindukan ini seumur hidupnya, yang ditemani pemandangan kota Paris di belakangnya.
Geo mengambil nafas setelah melepas ciumannya sebelum bicara, "Ya, aku bisa meramalmu. Sebentar lagi kau akan pulang dan kita tidak akan pernah bertemu lagi."
Husshhh~
Angin berhembus cukup kencang membuat rambut panjang Ariana menutup seluruh wajahnya. "Bisa kau ulangi? Aku tidak dengar. Anginnya sangat kencang, untung aku berpegangan denganmu. Jika tidak, mungkin aku akan melayang."
Geo memutar mata jengah. Pemikiran yang berlebihan memang tidak bisa lepas dari otak wanita ini.
"Berteriaklah seperti yang aku lakukan tadi."
"Apa?"
"Berteriaklah sampai kau puas. Itu cara yang cukup efektif yang pernah ibuku katakan untuk melampiaskan kekesalan atau rasa kecewa. Menangis juga boleh, tapi hanya satu kali dan jangan diulangi. Yang pasti jangan di tempat orang banyak agar tidak dikira gila."
"Ternyata seorang Karessa bisa berkata bijak, itu sangat luar biasa untukku."
Ariana menatap Geo tajam lalu melemparkan kepalannya pada bisep pria itu pelan. "Ayo berteriak! Aku penasaran seperti apa suara beratmu berteriak."
Awalnya Geo ragu, tapi akhirnya ia menuruti kemauan Ariana untuk berteriak bersama.
Padahal keduanya menyadari kenyataan tentang perpisahan yang semakin dekat, yang sejak tadi terpikir seolah satu hari tidaklah cukup.
Bagaimanapun, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Terlebih mereka memiliki kehidupan masing-masing yang menghadang setelah ini.
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Entah itu perpisahan yang berkesan atau sebaliknya. Namun pada umumnya yang Ariana tahu, perpisahan selalu mengandung kesedihan.