Chandra keluar lebih dulu dari ruang dokter Arif setelah mengucapkan terima kasih. Tangannya yang dingin memasukkan amplop cokelat itu ke dalam saku jasnya. Langkahnya berderap cepat di lantai marmer yang mengkilat, seolah ingin menghancurkan ubin di setiap injakan kakinya. "Chandra!" Suara panggilan itu sama sekali tidak menghentikan langkah kakinya, malah dia semakin mempercepat untuk segera meninggalkan rumah sakit. Suara ketukan hak sepatu terdengar nyaring di belakangnya, bersamaan dengan sebuah tangan yang menarik lengannya kasar. "Kita harus bicara!" teriak Davina dengan napas memburu. "Ya, kita memang harus bicara," ujar Chandra datar. Jari telunjuknya menunjuk ke arah Davina. "Kita akan membicarakan tentang perceraian dan lupakan perjanjian pra-nikah sialan itu, karena kamu

