Sejak malam nahas itu, bayangan kegelapan tak pernah meninggalkan Chandra. Setiap kali mengingat Davina, dadanya sesak oleh amarah dan rasa jijik yang dalam. Keyakinannya tidak goyah, dia telah menjadi korban permainan kotor wanita itu. Bukan dia tidak mau bertanggung jawab jika memang bayi itu benar anaknya, tapi hati dan pikirannya memberontak, karena di sudut hatinya yang paling dalam, telah ada wanita lain yang dicintainya. "Chandra." Suara itu memutus rantai pikirannya yang kelam. Kepala Chandra terangkat, matanya menyapu ruang tamu megah di rumah orangtuanya yang dipenuhi wajah-wajah serius. Keluarga Haris duduk berhadapan dengannya bagai hakim yang sedang mengadili. "Pernikahan harus segera dilangsungkan," ujar Haris, suaranya berat penuh ancaman terselubung. "Kami tidak akan mem

