Davina menyambar lengan Rezka, jari-jarinya mencengkeram dengan kekuatan yang membuat kulit pria itu memutih. "Tolong ... jangan lakukan itu," desisnya dengan suara bergetar. Matanya yang biasanya penuh keyakinan kini dipenuhi bayangan ketakutan. Rezka melepaskan genggamannya perlahan, menggeleng dengan campuran iba dan frustrasi. "Semua akan baik-baik saja asal kamu menurut, Vina." "Aku tidak bisa meninggalkan Chandra," bisik Davina, suaranya hampir tak terdengar. "Kumohon mengerti posisiku." "Dia sudah tidak mencintaimu lagi! Dia—" "Dia juga tidak mencintai perempuan itu!" potong Davina tajam. "Itu hanya sandiwara untuk memancingku menggugat cerai, sehingga dia bebas tanpa harus menyerahkan perusahaannya." Rezka mengerutkan kening, tatapannya penuh pertanyaan. "Apa maksudmu? Apa hub

