Chandra memutar tubuhnya, matanya mendelik tajam seperti elang yang mengincar mangsa. "Kita berdua tahu siapa yang biasa memutarbalikkan fakta dengan segala cara," ujarnya dengan suara rendah namun setiap katanya terasa seperti pecutan. "Aku bukan Chandra yang dulu, yang semudah itu kamu tipu daya. Kali ini tidak akan ada ruang untuk permainan kotormu, Vina." Davina mendongak wajah. Dilipatnya kedua tangan di d**a, tatapannya membara penuh tantangan pada pria di depannya. "Dan, lupakan niatmu untuk menyuap dr. Arif," sambung Chandra dengan gelengan kepala yang pelan namun penuh keyakinan. "Sudah kuperingatkan beliau, seandainya hasil tes ini dimanipulasi, karirnya sebagai dokter akan berakhir di ujung tanduk. Izin praktiknya akan kucabut personal." Rahang Davina mengeras. Gigi-giginya b

