Posisi intim

1992 Words
Keenan yang saat ini mengarahkan tatapan tajam pada pelayannya karena tidak bisa menjaga rahasia yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh orang lain. Termasuk sosok wanita yang baru diketahuinya bernama Freya dan mau menolongnya. Saat ia menatap tajam Rudi, dilihatnya Freya kini tengah mengarahkan tatapan menyelidik padanya. Terlihat sangat jelas bahwa wanita itu saat ini tengah mencurigainya. Buru-buru ia berakting dengan tertawa terbahak-bahak untuk mengalihkan perhatian dari wanita yang masih menatapnya dengan curiga. "Astaga, kau benar-benar sangat menyebalkan, Rudi. Gara-gara sering menonton sinetron di televisi yang judulnya tuan muda itu dan bilang kalau wajahku ini mirip dengan tokoh utama tuan mudanya, jadi dia selalu memanggilku seperti itu. Dia bilang wajahku setampan tuan muda di sinetron itu. Bukankah itu konyol sekali? Padahal wajahku jauh lebih tampan dari artis itu, hanya saja nasibnya lebih beruntung dariku karena bisa menjadi artis." Keenan menghentikan penjelasannya dan berjalan ke arah pria muda yang tak lain adalah pelayannya tersebut. Tanpa membuang waktu, ia mengarahkan tendangan pada kaki pelayannya, agar tidak mengulangi kesalahannya lagi. "Dasar kau! Gara-gara kau menyebutku tuan muda seperti sinetron kesukaanmu, Freya jadi mencurigaiku, kan! Cepat bicara! Jangan buat dia salah paham!" Rudi yang saat ini hanya bisa meringis menahan rasa sakit pada tulang kakinya karena tendangan cukup kuat dari majikannya, membuatnya buru-buru menganggukkan kepala. Meskipun ia masih bingung harus memanggil majikannya apa. 'Tuan muda tadi tidak bilang aku harus memanggilnya apa. Kira-kira aku harus memanggil nama atau sepupu? Kalau nama saja rasanya sangat tidak sopan. Lebih baik aku panggil saja sepupu. Semoga tuan muda tidak marah padaku,' gumam Rudi yang baru saja ingin membuka mulut, tetapi ia membulatkan kedua mata saat melihat sosok wanita yang saat ini berani bersikap kurang ajar pada majikannya hanya karena ingin membelanya. Freya yang tadinya menatap penuh kecurigaan pada sosok pria yang baru dikenalnya tersebut, merasa kasihan saat pria muda yang berdiri tak jauh dari posisinya, selalu jadi korban amarah. Refleks ia mengarahkan tangannya pada daun telinga pria yang baru saja memberikan sebuah tendangan. "Hentikan kebiasaan burukmu itu, Tuan muda Keenan!" Keenan yang tadinya berdiri memunggungi Freya, langsung meringis menahan rasa panas pada telinganya karena wanita yang baru dikenalnya tersebut telah berani menjewernya. Mengingatkan ia pada sosok wanita yang telah melahirkannya karena selalu menghukum dengan menjewer telinga saat bandel. "Astaga, Freya. Lepaskan, telingaku bisa putus nanti! Kau bahkan kini memanggilku tuan muda seperti sepupuku. Konyol sekali." Memegang tangan dengan jemari lentik yang masih berada pada daun telinganya, sehingga kulit mereka pun kini saling bersentuhan dan seolah sama-sama menimbulkan sebuah desiran halus yang menggetarkan. Refleks Freya langsung melepaskan tangannya dari telinga pria yang baru saja menyentuh tangannya tersebut. Ia pun sangat tidak menyukai sebuah penindasan dari orang yang lebih berkuasa pada bawahannya, sehingga berpikir bisa berbuat seenaknya sendiri. "Aku memanggilmu seperti itu karena tingkahmu seperti tuan muda saja, sangat sok dan berlagak! Makanya, jangan selalu berbuat seenaknya sendiri seperti itu pada orang lain. Meskipun dia adalah saudaramu, sebaiknya kau tidak bersikap seperti itu." "Apalagi dari tadi kau selalu marah padanya dengan menendang kakinya. Jika orang tuanya melihatmu berbuat begini pada putranya, bukankah kau akan dihajar oleh mereka? Bahkan baru aku jewer sedikit saja, kau sudah mengeluh telingamu akan putus. Lalu, bagaimana dengan dia? Bukankah kakinya bisa patah karena tendanganmu sebanyak dua kali tadi?" Keenan yang masih mengusap telinganya, kini masih merasa kesal pada pelayannya karena membuatnya disalahkan oleh Freya. Ia pun merasa bahwa perkataan dari wanita itu sangat konyol karena meskipun berbuat sesuka hati pada Rudi, orang tua pelayannya itu tidak akan berani padanya. 'Jangankan untuk melakukan hal yang sama, bahkan membuka mulut pun mereka tidak berani. Seandainya kau tahu bahwa keluarganya tunduk pada kekuasaanku, tidak mungkin kau berani menyentuhku. Apalagi sampai menjewer seperti ini. Pasti saat ini telingaku sudah berubah merah. Sial! Rasanya panas sekali,' umpat Keenan yang hanya bisa mengungkapkan kekesalannya di dalam hati. Puas merengut di dalam hati untuk meluapkan amarahnya, kini Keenan lebih memilih untuk menahan diri, agar wanita yang berdiri didepannya itu tidak lagi mengomel panjang lebar dan membuat telinganya panas. "Iya, kau benar juga. Baiklah, kalau begitu, aku tidak akan melakukannya lagi. Oh ya, bukankah kau juga harus memarahinya? Jangan hanya aku yang kau marahi. Bukankah dia juga harus disalahkan karena tadi sempat membuatmu mencurigaiku? Jadi, kau harus adil, agar tidak berat sebelah. Sekarang kau juga harus memarahi sepupuku yang ceroboh ini." Rudi hanya bisa menundukkan kepala saat jari telunjuk majikannya tengah mengarah padanya. Seolah ingin menunjukkan pada wanita itu, bahwa ialah tersangka utama yang harus mendapatkan sebuah hukuman. 'Nasib ... nasib, semua ini karena aku yang sangat ceroboh. Aku harus ikhlas menjalani hukuman yang akan diberikan oleh tuan muda dan juga nona cantik yang sangat baik hati ini. Nona ini sangat cantik dan sepertinya adalah pembela keadilan dan kaum yang lemah.' Puas beragumen sendiri di dalam hati, Rudi mulai mengangkat kepalanya untuk menatap ke arah dua insan di hadapannya. "Maaf atas kecerobohanku tadi, Sepupu. Maafkan juga aku, Nona karena telah membuat Anda mencurigai sepupuku." Melihat wajah memelas dari pria yang tidak diketahui namanya tersebut, Freya Mengulurkan tangannya untuk membuat pria yang menurutnya seumuran dengannya tersebut merubah panggilannya yang terdengar tidak nyaman di telinga. "Sepertinya kita seumuran, aku Freya. Jadi, jangan panggil aku Nona karena sangat tidak menyukainya. Aku bukan nona muda seperti di tokoh utama novel-novel best seller yang kini bahkan diangkat menjadi sebuah film di televisi." Rudi mengerjapkan mata saat ada seorang wanita cantik mengulurkan tangan untuknya dan tidak membuang waktu, ia langsung menyambut uluran tangan wanita cantik yang mempunyai body bak gitar spanyol tersebut. Namun, terlebih dahulu ia mengusap telapak tangan pada pakaiannya, seolah ingin membersihkannya dahulu sebelum menjabat tangan mulus tersebut. "Aku Rudi." Sementara itu, Keenan yang merasa sangat kesal karena merasa wanita di sebelahnya itu sangatlah tidak adil karena tadi tidak mau membalas uluran tangannya, tetapi malah mengulurkan tangan pada pelayannya. Ia merasa seperti seorang pria yang tidak dianggap dan dipermainkan oleh wanita itu. Merasa sangat kesal, ia langsung menghempaskan tangan Rudi agar tidak sampai bersalaman dengan Freya. 'Jika kau tidak mau berjabat tangan denganku, kau pun juga tidak boleh berjabat tangan dengan pelayanku," umpat Keenan yang berhasil membuat tangan pelayannya tidak menyentuh tangan Freya. "Kalian bukan muhrim! Jangan bersentuhan karena bisa menimbulkan hal-hal negatif yang tidak diinginkan!" Rudi yang merasa sangat kecewa karena gagal bersalaman dengan seorang wanita cantik, hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk berkomentar. Ia hanya menyayangkan sikap majikannya yang selalu berbuat seenaknya sendiri. 'Gagal deh aku bersalaman dengan seorang wanita cantik. Baru saja akan mendapatkan berkah untuk berjabat tangan dengan wanita yang mirip artis, ini malah tuan muda yang menggagalkan semuanya. Nasib ... nasib, apes banget aku.' Sementara itu, Freya yang merasa tertampar dengan perkataan dari pria yang saat ini seolah tengah menyindirnya, tidak ingin berkomentar apapun karena ia tahu bahwa sebenarnya yang dikatakan barusan memang benar adanya. Sebenarnya, ia tadi merasa sangat iba pada wajah memelas pria yang bernama Rudi tersebut, sehingga berpikir tidak ada salahnya mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri karena belum saling mengenal. Berbeda dengan sosok pria yang dianggapnya sangat berlagak dan menyebalkan, sehingga membuatnya merasa sangat ilfil. Tidak ingin membuang waktu lama, Freya kini mengungkapkan apa yang saat ini ada di pikirannya. "Sekarang kita ke halte dan naik bus ke tempat kos. Aku tahu ada tempat kos untuk laki-laki, tak jauh dari tempat kosku." Berjalan meninggalkan dua pria tersebut menuju ke arah halte bus tanpa menunggu respon dari ajakannya. Sementara itu, Keenan kini langsung menginjak kaki pelayannya dan mengeluarkan ancamannya. "Awas saja kau kalau sampai melakukan kesalahan lagi! Maka kau akan kupecat dan pasti ayahmu akan memukul kepalamu karena selalu berbuat kesalahan dan mengecewakanku." Masih dengan menahan kakinya yang terasa panas karena diinjak oleh majikannya, Rudi buru-buru menjawab. "Maaf, Tuan muda. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kali. Jangan pecat saya karena ayah benar-benar akan membawa palu nanti untuk memukul kepala." Saat Keenan ingin mengarahkan tangannya untuk menyikut perut rata pelayannya, dilihatnya Freya tengah berbalik badan dan menatap ke arahnya sambil mengerutkan kening. Refleks ia berakting tertawa dan mengarahkan tangannya pada pundak pelayannya. "Kau bisa saja, sepupu. Ayo, kita menunggu bus di sana!" Mengarahkan jari telunjuknya pada sosok wanita yang masih mengerutkan kening padanya. Seolah memastikan bahwa ia dan pelayannya hidup rukun. "Baik, Sepupu," jawab Rudi yang mengikuti akting dari tuan mudanya sambil mengekor kaki panjang itu untuk berjalan mendekati sosok wanita dengan paras cantik dan mempesona tersebut. Bahkan ia merasa telah jatuh cinta pada pandangan pertama saat menatap wajah cantik sosok wanita yang menurutnya sangat baik tersebut. Namun, ia sadar diri dan hanya bisa memendamnya di dalam hati karena tidak mungkin wanita secantik itu akan meliriknya. Freya yang dari tadi menatap interaksi dari dua pria tersebut, melambaikan tangannya karena ia melihat dari jauh ada bus yang akan dinaikinya. "Cepatlah! Busnya sudah datang!" Keenan dan Rudi kini sedikit berlari untuk mendekati wanita yang sudah menatap bus. Bahkan bus yang semakin mendekat tersebut kini telah berhenti dan membuat orang-orang yang dari tadi menunggu di halte, langsung berebut naik. Seolah ingin paling dulu bisa naik ke dalam bus. Keenan yang saat ini merasa sangat heran melihat orang-orang, sama sekali tidak tertarik untuk ikut berebut. Apalagi ia melihat bus itu sudah penuh dengan orang-orang yang tidak kebagian tempat duduk. Membayangkan harus berdiri dengan tangan bergelantungan untuk mencari pegangan, membuat Keenan tidak tertarik naik bus tersebut. Ia kini berjalan mendekati Freya dan mengungkapkan apa yang ada di otaknya. "Freya, itu busnya sudah penuh. Kita naik bus yang lain saja. Masih banyak bus yang lainnya dan lebih sepi, agar kita bisa duduk di kursi penumpang. Tidak berdiri berdempetan bersama para penumpang lain seperti itu." Kini, Freya hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi pria yang menurutnya sangat berlagak tersebut, padahal hanyalah orang yang berasal dari kampung sama sepertinya. "Jika kau menunggu bus yang sepi, nanti suruh kakekmu menciptakan sendiri dan hanya khusus kau penumpangnya. Astaga, jika kita menunggu lagi, akan banyak membuang waktu dan belum tentu busnya kosong juga. Konyol sekali kau ini. Kalau kau tetap mau di sini, tidak masalah! Aku bisa pergi sendiri." Tanpa membuang waktu untuk menanggapi perkataan konyol dari pria yang selalu menguji kesabarannya, Freya kini buru-buru naik ke dalam bus dan berbaur dengan para penumpang lain yang saat ini berdiri karena tidak kebagian kursi. Begitu juga dengan Rudi yang buru-buru naik ke dalam bus, agar tuan mudanya juga mengikutinya. Ia pun melambaikan tangan, berharap majikannya segera naik bus sebelum sang supir melajukannya. Ia beralih menatap ke arah sang supir. "Tunggu, Pak. Ada satu orang lagi." Refleks Keenan mengumpat untuk mengungkapkan rasa kesalnya. "Sial! Terpaksa aku harus berdesakan dengan orang-orang miskin itu!" Berlari ke arah pintu masuk dan langsung naik ke dalam bus. Melihat pemandangan di depannya, seolah langsung membuatnya seketika sakit mata karena para penumpang banyak yang berdiri dan berdesakan. 'Jadi, seperti ini para rakyat kelas bawah melakukan perjalanan dalam kesehariannya? Kalau begini, aku jadi merindukan mobil sport Lamborghini milikku yang sangat nyaman,' batin Keenan yang kini mulai naik ke atas dan berdiri di sebelah Freya karena Rudi menyuruhnya untuk duluan. Freya hanya terkekeh geli melihat wajah pria yang terlihat sangat kesal saat berdesakan dengan para penumpang lain. "Aku pikir kau tidak akan naik tadi. Kenapa kau berubah pikiran? Takut jadi gelandangan di Jakarta?" Mendapatkan sindiran dari sosok wanita yang berdiri di hadapannya, hanya ditanggapi oleh Keenan dengan tersenyum kecut. Ingin sekali ia membantah tuduhan dari wanita yang selalu meremehkannya tersebut, tetapi sadar, itu hanya akan membongkar rahasia yang disembunyikannya. 'Seandainya kau tahu kalau aku bisa membeli bus ini saat ini juga, mungkin wajahmu tidak akan seperti itu, Freya. Kau mungkin akan langsung mendekatiku dan memujiku setinggi langit seperti kebanyakan para wanita munafik itu.' Lamunan Keenan seketika buyar saat tubuhnya terhuyung ke depan karena sang supir tiba-tiba menginjak rem. Ia yang tadi memang tidak berpegangan, langsung terhuyung ke depan dan menimpa tubuh ramping wanita di depannya. Bahkan ia tadi refleks berpegangan pada pinggang ramping Freya karena tidak ingin terjatuh, sedangkan wajahnya sudah bersentuhan dengan wajah cantik di hadapannya dan mengikiskan jarak di antara mereka berdua. Kini, bisa didengar masing-masing suara degup jantung yang tidak beraturan akibat kejadian tiba-tiba yang membuat keduanya berada dalam posisi sangat intim. To be continued....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD