Posisi yang sangat intim dari Keenan yang saat ini tengah melingkarkan tangannya di pinggang ramping Freya, dan wajah yang berdekatan, tetapi tidak sampai membuat bibirnya menyentuh bibir sensual wanita yang terlihat sangat terkejut dengan ulahnya, membuat desiran halus dari darahnya.
Sebenarnya, tidak hanya dirinya saja yang terhuyung ke depan, tetapi ada banyak penumpang lain yang berdiri dan hampir terjerembab saat bus tiba-tiba berhenti.
'Sialan, supir itu. Apa dia tidak bisa menyetir? Hampir saja wajahku mencium lantai kasar bus ini. Untung saja ada sebuah tameng, sehingga aku tidak jadi terjatuh ke depan,' umpat Keenan yang merasa sangat kesal pada sang supir yang tiba-tiba menginjak rem, padahal ia belum sempat berpegangan tadi.
Belum sempat Keenan melepaskan tangannya dari pinggang ramping Freya, tubuhnya seketika terhuyung ke belakang saat wanita yang terlihat marah padanya tersebut mendorong d**a bidangnya agar menjauh. Tidak hanya itu, suara Freya yang kesal padanya dengan wajah memerah terlihat sangat jelas di matanya.
"Menyingkirlah dariku! Kau pasti sedang mencari-cari kesempatan, kan!" Freya yang saat ini menatap wajah pria yang hampir saja menciumnya, mengarahkan tatapan tajam menyelidik. Ia bahkan berniat untuk mundur, agar posisinya tidak terlalu berdekatan dengan sosok pria yang dianggapnya mencuri-curi kesempatan darinya.
Namun, ia tidak bisa melakukannya karena di belakangnya juga ada seorang pria berbadan gempal dan berkumis tebal yang membuatnya bergidik ngeri saat menolehkan kepalanya.
'Astaga, wajah pria ini ngeri sekali. Seperti tokoh pak Raden di film si unyil. Garang dan berkumis tebal,' gumam Freya yang mengurungkan niatnya untuk menggeser tubuhnya. Pada akhirnya, ia tetap berada di sebelah pria yang hampir saja menciumnya.
Keenan yang tadinya refleks langsung melepaskan tangannya dari pinggang ramping Freya, kini memilih untuk berpegangan di atas, agar tidak terjadi hal serupa untuk kedua kalinya dan dituduh macam-macam oleh wanita dengan tatapan menusuk tersebut.
"Lebih baik kau menyalahkan supir yang tiba-tiba mengerem mendadak karena aku hampir terjungkal ke bawah tadi gara-gara perbuatannya yang mengemudi dengan ugal-ugalan dan mungkin bisa membahayakan keselamatan penumpang lainnya. Lagipula, bukankah tadi aku sudah bilang, kita naik bus yang berikutnya saja."
"Jadi begini, kan akhirnya. Aku hampir terjungkal dan kau menuduhku mencuri kesempatan. Padahal tadi aku refleks berpegangan tanpa berpikir. Jika tidak, mungkin wajahku yang tampan ini akan tergores dan terluka."
Awalnya, Freya berpikir akan mendapatkan permohonan maaf dari sosok pria yang sudah beberapa kali membuatnya merasa kesal. Namun, bukan itu yang terjadi, saat ia malah disalahkan, membuatnya merasa sangat kesal dan tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Refleks ia langsung menginjak kaki pria di hadapannya untuk melampiaskan amarahnya dan berpura-pura tidak sengaja.
"Aaah ... maaf ... maaf, aku tidak sengaja. Dasar pria yang tidak tahu berterima kasih. Aku sudah menolongmu, tetapi kau malah berbuat sesuka hati padahal ibarat kata, nyawamu ada di tanganku. Kau ini seperti orang-orang yang memiliki utang, tapi saat ditagih malah ngegas dan berteriak. Tipe-tipe orang yang nyolot padahal jelas-jelas salah."
Awalnya, sudut bibir Keenan melengkung ke atas saat merasa nyeri ketika kakinya diinjak dan mengetahui bahwa itu ada unsur kesengajaan bukan tanpa sengaja seperti yang dikatakan oleh Freya. Bahkan omelan wanita yang telah berani menghinanya habis-habisan, membuat Keenan merasa malas untuk mendengarkan suara yang menurutnya sangat mengganggu indra pendengarannya.
Ia hanya mengalihkan perhatian dan menatap ke arah penumpang lain yang juga tengah berdiri sepertinya. 'Wanita ini cerewet sekali. Rasanya aku ingin membungkam bibirnya dengan sapu tangan yang ada di dalam kantong celanaku. Apa dia bilang tadi? Aku adalah tipe peminjam yang yang tidak mau bayar utang dan nyolot?'
'Sialan! Awas saja kau nanti, Freya. Bahkan wajahmu sekarang bisa kubeli saat ini juga. Lihat saja nanti saat kau mengetahui siapa sebenarnya aku. Aku ingin melihat bagaimana sikapmu nanti padaku saat mengetahui bahwa aku adalah seorang konglomerat yang akan memimpin perusahaan.'
Lamunan panjang Keenan seketika buyar saat kembali mendengar suara Freya yang lagi-lagi membuatnya merasa kesal.
Freya mengibaskan tangannya, seolah ingin memberikan sebuah kode pada Keenan agar menjauh darinya. "Lebih baik kau pindah posisi karena aku ingin berbicara dengan sepupumu, Rudi." Melambaikan tangannya pada sosok pria yang berdiri di belakang Keenan. "Kemarilah, Rud! Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Merasa akan jadi sasaran kemurkaan majikannya nanti jika menuruti perintah dari wanita itu, Rudi refleks menggelengkan kepala. "Nanti saja saat turun, Freya. Aku di sini saja, daripada nanti tiba-tiba bus berhenti seperti tadi. Lagipula aku sangat senang di sini karena bisa berpegangan dengan leluasa."
Keenan hanya terkekeh geli menanggapi ekspresi wajah Freya yang terlihat seperti seseorang yang kecewa karena keinginannya tidak tercapai. "Kasihan sekali kau ditolak sepupuku. Sepertinya kau menyukai sepupuku karena sikapmu padanya dari tadi sangatlah manis, berbeda dengan sikapmu padaku yang sangat sinis."
Sementara itu, Freya yang merasa tersindir dengan kalimat ejekan dari pria yang menatapnya dengan tatapan menyeringai, hanya membuatnya memalingkan wajah dan tidak berniat untuk berdebat karena menurutnya percuma saja berbicara dengan pria yang menurutnya sangat berlagak tersebut.
'Pria ini benar-benar sangat menyebalkan. Bahkan sikapnya seperti orang yang berkuasa saja, padahal saat ini sama sekali tidak punya apa-apa dan bergantung padaku. Kalau bukan karena rasa bersalah, mana mungkin aku mau menolong pria berlagak sepertinya. Bahkan berbicara saja aku sangat malas,' umpat Freya yang saat ini tengah sibuk melampiaskan kekesalannya.
Sementara itu, Keenan hanya diam mengamati ekspresi wajah wanita yang terlihat sedang menahan amarah tersebut. Ia yang merasa di atas angin karena berhasil mengejek Freya dan tidak bisa berkomentar lagi, hanya tersenyum smirk untuk mengungkapkan perasaan senangnya.
'Sepertinya wanita cerewet ini sudah mulai sadar diri dan malu, sehingga tidak lagi cerewet seperti tadi.'
Baru saja Keenan selesai bergumam sendiri di dalam hati, suara dering ponsel miliknya yang cukup nyaring berbunyi menghiasi ruangan di dalam kendaraan panjang tersebut. Bahkan membuat para penumpang yang ada di dalam bus menoleh untuk mencari sumber suara ponsel berasal. Hingga suara dari Freya membuatnya merasa kebingungan.
Freya yang mengerti arah sumber suara memekakkan telinga tersebut, memicingkan mata saat melihat Keenan sama sekali tidak berniat untuk mengangkat telponnya. Refleks ia mengarahkan sebuah tepukan pada pundak kokoh pria yang berdiri di sebelahnya.
"Cepat angkat telponnya! Jangan membuat suasana berisik di dalam bus ini dan mengganggu kenyamanan para penumpang. Apa perlu aku membantumu untuk mengangkatnya?" Mengulurkan tangannya ke arah sosok pria yang terlihat sama sekali tidak berniat untuk mengangkat telepon.
Refleks Keenan langsung menggelengkan kepala dan terbahak menanggapi perkataan konyol dari Freya yang masih mengulurkan tangan tanda meminta ponselnya.
"Ini pasti hanya telepon tidak penting dari para wanita yang selalu mengejar-ngejarku. Jadi, aku sama sekali tidak tertarik untuk mengangkatnya karena hanya membuang-buang waktuku yang sangat berharga."
'Aku tidak mungkin mengangkat telepon di depannya karena ponselku adalah keluaran terbaru dan bisa saja dia mengetahui harganya. Jika Freya benar-benar tahu bahwa ponselku ini harganya selangit, bisa-bisa dia mencurigaiku,' gumam Keenan di dalam hati.
Tidak ingin makin menimbulkan kecurigaan dari Freya, Keenan kini memasukkan tangannya pada saku celananya. Niatnya adalah ingin mematikan ponsel dengan menonaktifkannya. Namun, ia membulatkan kedua mata saat mendengar suara dari Freya dengan tangan masih mengarah kepadanya.
Freya yang ingin membantu sosok pria baru dikenalnya tersebut keluar dari masalah, kini memiliki sebuah ide di kepalanya. "Berikan ponselmu! Biar aku yang berbicara pada wanita-wanita pengganggumu. Saat mendengar suaraku, pasti mereka tidak akan lagi berani menghubungimu karena berpikir kau sudah memiliki seorang kekasih."
Kini, Keenan hanya bisa menelan kasar salivanya dan masih tidak berniat untuk menuruti permintaan dari Freya karena takut penyamarannya akan terbongkar. Apalagi ia membeli ponselnya baru satu bulan yang lalu.
'Tidak boleh, meskipun dia orang miskin, pasti tahu kalau ponselku harganya tidaklah murah. Bahkan aku membelinya di luar negeri dengan kisaran rupiah 35 juta dan hanya orang dengan penghasilan tinggi saja yang mempunyai ponsel ini. Apa yang harus kulakukan? Berpikir Keenan, cari ide agar Freya tidak melihat ponselku,' gumam Keenan yang saat ini tengah memutar otak untuk mencari sebuah ide.
To be continued...