Kuli bangunan

1369 Words
Tidak ingin membuat sosok wanita yang ada dibalik telepon salah paham, Keenan refleks langsung mengarahkan ibu jarinya ke bibir dengan menatap sosok pelayan yang ada di depannya. Memberikan kode bahwa pelayannya yang sedang asyik makan itu tidak menimbulkan suara apapun. "Aah ... ternyata ini kau, Freya. Kau pasti sedang mencari Rudi, kan? Dia sedang ada di kamar mandi. Katakan saja padaku, bukankah sama saja." Rudi yang tadinya sudah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, refleks langsung menutup mulut dan mengunyahnya perlahan-lahan, agar tidak menimbulkan suara, seperti yang diperintahkan oleh majikannya saat memberi kode ke arahnya. 'Wah ... sepertinya nona Freya ingin ngobrol denganku. Sayang sekali direbut oleh tuan muda,' gumam Rudi yang kali ini memasang telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan pembicaraan antara majikannya yang sedang melakukan sabotase. "Aku tadi hanya ingin miscall saja untuk memberitahu bahwa ini nomorku. Jika ada apa-apa yang tidak Rudi ketahui, bilang padanya untuk menghubungiku. Cuma itu saja. Baiklah, hanya itu saja yang ingin kusampaikan." Merasa sangat tidak puas dengan perkataan dari wanita yang diketahuinya akan menutup sambungan telepon, kini Keenan buru-buru mengeluarkan suara. "Tunggu ... tunggu! Jangan dimatikan dulu karena ada yang ingin kutanyakan padamu. Kenapa kau hanya bilang Rudi saja? Apakah aku tidak boleh bertanya padamu?" "Bukankah tuan muda Keenan sudah sangat pintar dan mengerti semua hal? Buat apa bertanya padaku? Bukankah itu hanya akan merendahkan harga dirimu?" Keenan hanya bisa menelan kasar salivanya saat mendapatkan sebuah kalimat menohok yang bagaikan sebuah tamparan keras untuknya. Jika orang lain yang menyebutnya tuan muda, ia tidak mempermasalahkannya. Namun, panggilan tuan muda dari Freya seolah sebuah ejekan semata yang sekaligus merupakan sebuah penghinaan untuknya karena ia tahu bahwa wanita itu selalu meremehkannya. 'Sial! Wanita ini benar-benar sangat pandai mengeluarkan sindiran dari perkataannya. Aku benar-benar seperti seorang pria yang tidak tahu malu dan juga tidak punya harga diri saja di depannya. Mana aku tidak bisa membantah semuanya, lagi. Seumur hidup, baru kali ini aku tidak bisa membantah tuduhan yang ditujukan padaku karena semua itu adalah kenyataannya. Perkataannya itu bagaikan sebuah pujian sekaligus ejekan untuk mempermalukanku," umpat Keenan yang kini kembali mengeluarkan suara. "Kenapa sikapmu sangat ketus padaku dan sangat manis pada Rudi? Aku tahu kalau perkataanmu tadi hanya sebuah ejekan semata, bukanlah pujian karena kau sepertinya sedang menertawakan aku, bukan?" "Aku sedang ada urusan, jadi tidak bisa melayani pertanyaan yang hanya kau sendiri tahu jawabannya." Belum sempat Keenan membuka mulut untuk menanggapi kalimat pedas itu, sambungan telepon pun sudah terputus sepihak dan membuatnya kini menatap ponsel miliknya. "Sialan! Dia benar-benar tidak ingin berbicara padaku. Awas saja kau, Freya. Jika suatu saat nanti kau tahu siapa aku, jangankan untuk membuka suara, menatapku saja mungkin kau tidak berani." Kini, Keenan yang masih dikuasai oleh rasa kesal, beralih menatap ke arah sosok pelayannya yang kembali melanjutkan ritual makan. "Bukankah wanita itu benar-benar sangat menyebalkan? Sikapnya selalu pedas padaku. Ada dendam apa dia sebenarnya padaku? Apa karena aku telah menuduhnya bekerjasama dengan pencopet itu? Jadi, dia tidak mau memaafkan aku." Dengan mulut penuh makanan, Rudi masih sibuk mengunyah sebelum menanggapi kekesalan bosnya tersebut. Begitu sudah menelan, ia tidak membuang waktu dan langsung berkomentar. Kalau menurut saya, nona Freya bukan dendam pada Tuan muda. Hanya saja, dia sepertinya kesal pada sikap Tuan muda. Maafkan saya yang sangat lancang karena mengatakan ini. Namun, saya harus mengatakannya untuk mengurai kesalahpahaman yang terjadi. Kalau yang saya lihat, sepertinya tuan muda belum bisa berakting totalitas untuk menjadi orang biasa karena semuanya memang butuh waktu." "Tidak mungkin anak sultan langsung bisa berubah menjadi anak petani, ibaratnya seperti itu. Memang dibutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru yang benar-benar asing." "Menurut saya, mungkin nona Freya akan bersikap jauh lebih baik saat melihat Anda menampilkan wajah memelas. Seperti ini," ucap Rudi yang saat ini mengarahkan jari telunjuk ke wajah sendiri. Tadinya, Keenan merasa sangat kesal pada perkataan pelayannya, tetapi saat ia ingin meluapkan amarahnya, melihat ekspresi wajah Rudi yang menurutnya sangat lucu, refleks membuatnya tertawa terbahak-bahak. "Maksudmu, wajahmu yang kampungan dan memelas? Jadi, aku harus berakting dengan menampilkan wajah bodoh sepertimu? Kalau dasarnya sudah tampan, mau diapa-apain pun juga tetap menawan dan mempesona. Mana mungkin aku menyia-nyiakan anugerah dari Tuhan ini dengan menutupinya. Konyol sekali." Keenan kini mengusap perutnya yang keroncongan, seolah cacing-cacing di perutnya sudah berteriak meminta jatah masing-masing. "Aku lapar sekali. Gara-gara Freya, aku jadi telat makan." Menghubungi seseorang untuk mengantarkan makanan setelah mengirimkan alamat yang diketahui dari google map. Sementara itu, Rudi hanya diam tanpa berkomentar lagi karena merasa percuma saat berbicara dengan majikannya yang sangat arogan dan maunya menang sendiri tersebut. Ia kini hanya mendengarkan suara bariton dari tuan mudanya yang sedang memesan banyak makanan. 'Jika sampai nona Freya tahu bahwa tuan muda memesan banyak makanan, rencana penyamarannya pasti ketahuan. Namanya juga anak sultan, mana mungkin bisa berubah menjadi anak pembantu sepertiku.' Setelah selesai berbicara dengan orang suruhannya, kini Keenan mengingat sesuatu yang sangat penting dan beralih menatap ke arah Rudi. "Bukankah KTP dan semua yang kupunya sudah dirampok tadi. Jadi, bagaimana soal CV untuk surat lamaran besok? Aku tadi tidak memberitahukan pada orang kepercayaan papa untuk membuatkan KTP palsu. Kalau besok aku bawa KTP palsu, pasti Freya akan curiga, bagaimana bisa masih ada KTP." Dengan meneguk air mineral yang ada dihadapannya, kini Rudi yang mengerti arah pembicaraan dari majikannya, mulai menganggukkan kepala. "Anda benar, Tuan muda. Lalu bagaimana? Apa aku tanyakan saja pada nona Freya dulu. Apakah tuan muda bisa lewat jalur khusus." Membenarkan perkataan tersebut, kini Keenan refleks langsung menyerahkan ponselnya. "Nih, cepat tanya dia. Siapa tahu dia mau berbicara yang baik denganmu dan mau mengatur segalanya. Kalau aku yang bicara, sudah bisa dipastikan dia pasti akan marah-marah. Sana ngomong! Ini kan nomormu." Memencet tombol panggil pada nomor Freya dan memberikan pada pelayannya. Kini, Rudi yang sudah menerima ponsel milik majikannya tersebut bisa mendengar suara merdu sosok wanita yang ada di balik telepon. "Iya, Rudi. Ada apa?" "Freya, maaf jika aku mengganggu waktu istirahatmu. Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu." Keenan kini masih menatap intens wajah pelayannya yang terlihat sangat serius saat berbicara. Bahkan ia menyadari bahwa pelayannya tersebut jauh melebihinya dalam hal urusan berakting penuh totalitas. Berbeda dengan dirinya yang tadi masih terus berbuat sesuka hati meskipun harus berpura-pura menjadi orang miskin. "Ini, Freya. Tadi kan sepupuku kehilangan semua identitas diri. Jadi, sepertinya besok ke kantor tidak memiliki kartu tanda pengenal. Bagaimana jika sepupuku tidak diterima bekerja di perusahaan sebagai cleaning service?" tanya Rudi yang kini tengah menatap ke arah majikannya. "Oh ... iya, aku sampai lupa tadi. Kalau itu, mungkin dia nggak bisa bekerja. Bisa saja cuma kamu yang diterima nanti. Namun, kamu jangan khawatir. Nanti sepupumu bisa kerja di tempat lain." Rudi yang dari tadi memang me-loudspeaker ponsel milik majikannya agar bisa mendengar suara dari Freya, hanya mengendikkan bahu tanda tak mengerti saat mendapatkan pertanyaan dari kode mata sang tuan muda. Refleks Keenan langsung meninju lengan Rudi karena merasa sangat kesal. Ia pun mendekati pelayannya dan berbisik di telinganya. "Cepat tanyakan, kali ini menawarkan pekerjaan apa? Siapa tahu lebih baik dari pada cleaning service." Mengerti dengan penjelasan dari majikannya, kini Rudi menganggukkan kepala dan mengangkat ibu jarinya sambil menganggukkan kepala. "Terima kasih, Freya. Kamu adalah wanita yang benar-benar baik. Oh ya, memangnya pekerjaan apa yang akan kamu tawarkan pada sepupuku?" "Di sekitar lokasi kantor, ada proyek besar. Aku kenal sama mandornya. Nanti aku akan menanyakan apakah bisa Keenan bekerja di sana. Jadi kuli bangunan kan lumayan gajinya. Apalagi kadang lembur hingga tengah malam dan gaji jadi dua kali lipat." Refleks Keenan dan Rudi kali ini sama-sama membeliakkan kedua mata begitu mendengar perkataan dari sosok wanita di balik telepon. Tidak bisa menahan diri saat terkejut, refleks Keenan langsung merebut ponsel miliknya dan mematikan sambungan telepon karena sangat kesal. "Astaga, wanita ini benar-benar sangat gila. Kemarin cleaning service, sekarang kuli bangunan. Astaga, apa tidak ada lagi yang lebih buruk dari ini? Apakah sekarang aku harus memilih antara cleaning service atau kuli bangunan?" Sementara itu di sisi lain, Rudi yang sebenarnya saat ini ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat raut wajah lucu dari tuan mudanya, hanya bisa menahan diri dengan sekuat tenaga. 'Astaga, aku tidak bisa membayangkan saat tuan muda bekerja sebagai kuli bangunan dan membawa batu bata ataupun menyapu dan membersihkan toilet. Mungkin aku akan mengabadikan momen itu untuk menjadi kenang-kenangan saat tuan muda menikah nanti,' gumam Rudi di dalam hati. To be continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD