Pagi-pagi sekali, Keenan sudah terbangun dari alam bawah sadarnya dengan badan pegal-pegal. Ia benar-benar merasa sangat tidak nyaman tidur di atas kasur lantai yang jauh dari kata empuk tersebut. Tentu saja jauh berbeda dari ranjang king size yang selalu menemaninya setiap hari.
Semalaman ia memikirkan perkataan Freya yang mengatakan akan memberikan pekerjaan sebagai kuli bangunan. Setelah memikirkan masak-masak, ia lebih memilih untuk bekerja sebagai cleaning service, sehingga menghubungi orang kepercayaan papanya untuk mengurus semuanya. Termasuk memalsukan semua dokumen tentang data dirinya. Dimulai dari KTP, Ijazah dan SIM.
Dengan beralasan bahwa semua barang-barang itu tidak berada di dompet dan ditaruh di dalam amplop coklat yang berisi berkas-berkas miliknya sebagai syarat untuk melamar pekerjaan. Meskipun ia sebenarnya mengumpat bahwa untuk melamar pekerjaan cleaning service saja harus seribet itu.
Pada akhirnya, hampir tengah malam, orang kepercayaan dari papanya menyuruh orang untuk mengantarkan semua data diri palsu tersebut.
Kini, wajah kusut bangun tidur jelas terlihat dari wajah Keenan setelah ia tadi memijat punggungnya yang terasa pegal-pegal. Dengan gerakan malas, ia berjalan menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Beberapa menit kemudian, ia yang saat ini tengah bertelanjang d**a terlihat berjalan keluar dari kamar mandi.
Dilihatnya sosok pria yang tak lain adalah pelayannya sudah bangun dan duduk bersila di atas kasur dan beberapa kali menguap.
"Anda sudah bangun, Tuan muda. Bahkan ini masih terlalu pagi untuk beraktivitas," ucap Rudi yang terlihat melemaskan otot-ototnya yang kaku karena semalaman tidur di bagian tepi tembok.
Ia yang merasa takut akan menyenggol dan mengganggu tidur majikannya, memilih untuk menepi di dekat dinding. Sebenarnya, ia ingin tidur di lantai, tetapi kebaikan hati tuan mudanya yang menyuruhnya untuk tidur di ranjang bersama, tidak jadi membuatnya masuk angin karena tidur di lantai.
Bahkan ia sama sekali tidak pernah menyangka jika sang tuan muda mau berbagi ranjang bersamanya dan hal itu membuatnya merasa sangat bersyukur.
Keenan mengambil atasan berbahan dasar kaos tanpa lengan dan celana pendek. Kemudian memakainya di hadapan pelayan yang seperti masih enggan beranjak dari tempatnya. "Aku mau lari-lari pagi di daerah sekitar sini untuk melemaskan otot-ototku yang kaku setelah tidur di atas kasur tipis yang sama sekali tidak nyaman itu. Apakah kau mau ikut? Atau melanjutkan tidurmu?"
Pilihan pertanyaan dari majikannya tersebut tentu saja seperti ia mendapatkan sebuah angin segar karena itu bukanlah sebuah perintah. "Apakah saya boleh tidak ikut, Tuan muda?"
Kini, Keenan hanya geleng-geleng kepala melihat respon dari sosok pria yang usianya jauh lebih muda darinya tersebut. "Dasar pemalas! Kau pasti mau tidur lagi, kan? Seharusnya kau berolahraga untuk menjaga kesehatan. Jangan menunggu sakit baru kau sadar pentingnya menjaga kesehatan. Ya sudah sana, tidur lagi saja! Aku akan lari pagi sendiri."
Tanpa membuang waktu dan tidak menunggu jawaban dari Rudi, Keenan sudah berjalan keluar dari kamar kos. Begitu berada di luar gerbang, ia menoleh ke kanan dan kiri untuk memutuskan mau lari ke arah mana.
"Barat atau timur?" Mengarahkan tangannya ke sebelah kanan dan kiri saat melihat suasana di luar masih cukup gelap karena tahu jam menunjukkan pukul setengah lima kurang.
Bahkan keadaan jalanan yang padat penduduk tersebut masih sepi, meskipun hanya ada segelintir orang yang berjalan-jalan di sekitar area rumah untuk sekedar olahraga ringan.
"Lebih baik aku ke sana saja," lirih Keenan yang kini mulai berjalan ke arah sebelah kanan dan mempercepat langkah kakinya.
Biasanya, setiap pagi ia selalu berolahraga di ruangan gym pribadinya sebelum memulai aktivitas. Tentu saja untuk melatih otot-ototnya agar semakin sixpack dan membuat bentuk tubuhnya ideal.
Dengan berlari mengelilingi area sekitar dan mengikuti jalanan. Entah sudah beberapa menit berlalu ia berlari, deru napas memburu mengungkapkan bahwa ia saat ini benar-benar telah memforsir tenaganya. Merasa cukup lelah, ia beralih berjalan dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Suasana padat penduduk yang orang-orangnya mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing, kini bisa dilihatnya. Suara beberapa ibu-ibu yang juga mengeluarkan jurus ampuh saat menyuruh anak-anaknya segera bersiap-siap, juga bisa didengarnya.
Suasana pagi dengan sinar mentari pagi yang mulai menampakkan senyuman, menemani rutinitas Keenan saat berolahraga. Bahkan ia merasa sudah cukup jauh berlari dan berjalan. Merasa sangat haus pada tenggorokannya, Keenan memilih untuk berbalik arah.
Niatnya adalah kembali ke tempat kos segera karena merasa sangat haus. "Harusnya aku tadi membawa air minum. Dasar bodoh kamu, Keenan. Sebaiknya besok aku bawa air putih." Menghentikan langkahnya saat melihat ada persimpangan. "Aku tadi dari arah mana, ya? Kenapa aku lupa? Sial! Karena tadi lari tanpa memperhatikan, membuatku bingung."
Seolah sedang memikirkan langkah yang harus ia pilih, Keenan berpikir keras dan mulai berjalan ke arah sebelah kanan, berharap tidak salah. "Jika salah, nanti aku tinggal balik saja ke tempat tadi." Melangkahkan kakinya sambil mengamati suasana rumah padat penduduk yang mulai menampakkan kesibukan para warga sekitar.
Ia pun bisa melihat bahwa orang-orang banyak yang memperhatikannya saat berjalan. 'Seperti orang yang tidak pernah melihat pria tampan saja,' gumam Keenan yang merasa sangat risi melihat kaum ibu-ibu berdaster yang memandanginya tanpa berkedip dan berbisik.
Ingin lebih cepat sampai di tempat kos, Keenan mempercepat langkah kakinya. Selama ini, ia merasa sangat risi dengan para wanita yang selalu mendekatinya karena melihat kekayaannya. Namun, kali ini ia jauh merasa risi saat merasa menjadi santapan mata para emak-emak berdaster yang pagi-pagi sudah sibuk ngerumpi di depan rumah.
"Keenan!" teriak Freya yang baru saja keluar dari toko kelontong untuk membeli sabun mandi.
Refleks Keenan mencari sumber suara dan melihat sosok wanita dengan memakai piyama dan membuatnya geleng-geleng kepala. 'Astaga, dia keluar masih memakai piyama. Apa dia tidak merasa malu?' gumam Keenan yang memperhatikan sosok wanita yang berjalan ke arahnya.
Freya yang tadinya mendengar obrolan para ibu-ibu di sekitar, sama sekali tidak pernah menyangka jika berondong ganteng yang dimaksud adalah Keenan. Begitu melihat penampilan sosok pria dengan tangan kekar dan proporsional tersebut, refleks membuatnya mengerti kenapa pagi ini ada kehebohan di kampung padat penduduk tempat tinggalnya.
"Apa kau sengaja tebar pesona pagi-pagi sama emak-emak berdaster di sini?" Mengarahkan tatapan tajam saat memperhatikan penampilan pria di depannya mulai dari ujung kaki hingga kepala.
Merasa tidak mengerti dengan apa maksud dari sosok wanita yang seolah ingin menelanjanginya, Keenan hanya menanggapi dengan memicingkan mata. "Sebenarnya apa maksudmu? Tebar pesona pada kaum emak-emak berdaster? Apakah ini seperti yang sering aku lihat dari hal-hal viral itu? Yang selalu menyebutkan 'The power Of emak-emak'."
Refleks Freya kini tertawa terbahak-bahak begitu mendengar perkataan dari pria yang mengetahui julukan para wanita yang tidak pernah salah itu.
"Ternyata kau juga tahu julukan para makhluk maha benar rupanya. Penampilanmu yang berolahraga dengan memakai kaos tanpa lengan itu, membuat heboh ibu-ibu di sini. Kalau kau tidak mau menjadi bulan-bulanan para bapak-bapak di sini, mending pakai baju yang bener besok."
Merasa perkataan Freya konyol, kini Keenan tidak ingin kalah saing menyindir. "Tunggu ... tunggu, sebelum berbicara untuk menasihatiku, lebih baik kau bercermin dulu. Bukankah penampilanmu juga membuat para kaum bapak-bapak membicarakanmu? Bagaimana jika nanti kau sendiri yang jadi bulan-bulananan para kaum ibu-ibu yang merasa cemburu saat suaminya melirik pada wanita cantik sepertimu?"
Awalnya, Freya hanya ingin menasihati Keenan, tetapi bertambah kesal saat pria yang baru disadarinya memiliki tubuh sixpack itu, membuatnya merasa ingin mengumpat.
"Tunggu, apa maksudmu penampilanku membuat bapak-bapak membicarakanku? Bahkan aku hanya memakai piyama panjang yang menutupi tubuhku. Memangnya ada yang salah? Jika aku memakai lingerie seksi, tidak masalah kau menghujat penampilanku. Sepertinya kau memang tidak pernah mau menerima saran dari orang lain, ya! Baiklah, aku tidak akan berbicara denganmu lagi. Terserah apa yang akan kau lakukan, aku tidak perduli!"
Dengan perasaan dongkol, Freya buru-buru berjalan meninggalkan sosok pria yang selalu menguji kesabarannya tersebut menuju ke tempat kos yang berjarak tiga rumah dari tempat ia berdiri.
Sementara itu, Keenan yang kini melihat siluet sosok wanita yang mulai berjalan meninggalkannya tanpa menoleh lagi ke arah belakang, hanya membuatnya geleng-geleng kepala.
"Marah lagi ... marah lagi. Sepertinya wanita itu sedang PMS, hingga setiap saat selalu marah dan kesal padaku. Memang dia tidak memakai lingerie seksi, tetapi bukankah seorang wanita tidak pantas berkeliaran keluar rumah saat memakai pakaian tidur?"
"Bahkan jelas-jelas yang dipakainya adalah baju tidur. Bukankah itu digunakan saat tidur? Bukan untuk bersantai dan berjalan kemana pun sesukanya. Sepertinya dia masuk dalam kategori makhluk maha benar seperti katanya tadi."
Keenan berbicara sambil melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah tempat kos dan bisa melihat Rudi yang membawa kantong plastik dan bisa ditebaknya itu apa.
"Tuan muda, kebetulan sekali Anda sudah kembali. Sebaiknya Anda segera mandi dan bersiap karena tadi Freya mengirimkan pesan, kita berangkat jam 7 tepat, tidak kurang tidak lebih. Oh ya, ini saya sudah membelikan makanan untuk Anda dan semuanya dipisah seperti yang Anda perintahkan." Rudi mengangkat kantong plastik di tangan kanannya ke atas.
Melihat hanya satu saja yang ada di dalam kantong plastik, Keenan kini mengerutkan kening. "Itu satu saja? Tidak salah?"
Rudi yang mengerti arti tatapan dari bosnya, buru-buru menjelaskan. "Aah ... soal hanya ada satu karena saya bisa sarapan sisa makanan semalam, Tuan muda. Sayang sekali pizza dan fried chicken yang tersisa jika tidak dimakan. Bahkan nanti saya akan jauh lebih kenyang."
Terlihat Keenan yang menepuk jidatnya saat mendengar perkataan dari pelayannya. "Astaga, itu kan sudah makanan semalam. Jika nanti kau sakit perut, aku tidak akan bertanggungjawab padamu!" Melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah kamar dan melihat ada beberapa pria yang tinggal di sebelah kamarnya tengah tersenyum untuk menyapanya dan ia pun balas menganggukkan kepala.
Hal pertama yang ia lakukan adalah menghilangkan dahaga yang dari tadi dirasakan. "Gara-gara Freya, aku semakin haus karena selalu membuang-buang energiku saat bertengkar dengannya."
Setelah meneguk air mineral hingga tersisa separuh, Keenan memeriksa ponselnya dan melihat ada beberapa pesan yang masuk. Namun, entah mengapa ia hanya tertarik pada pesan yang dikirimkan oleh nomor dengan daftar kontak Freya.
'Pesan apa lagi yang dikirimkan oleh Freya pada Rudi. Apa dia mau menggoda Rudi?' batin Keenan yang kini mulai membuka pesan tersebut.
Begitu membaca pesan tersebut, ia mengepalkan tangan kanannya dan di saat bersamaan, melihat sosok pelayannya berjalan masuk ke dalam kamar. Ia kini mengarahkan ponselnya ke arah Rudi, agar pelayannya itu membacanya dan didengarnya suara bariton yang sedang membaca pesan.
Rudi, nanti kau bilang pada Keenan kalau lowongan untuk cleaning service hanya ada satu orang. Aku sudah bilang pada pihak HRD bahwa kamu yang akan bekerja di perusahaan. Biar dia usaha sendiri untuk mencari pekerjaan di Jakarta. Tuan mudamu yang songong itu pun tidak membutuhkan bantuan atau pun nasihat dari orang lain. Aku pun sangat malas berada dalam satu kantor dengannya. Bilang ini padanya!
Rudi kini menelan kasar salivanya dan mengerjapkan mata saat merasa suaranya tercekat di tenggorokan. Apalagi ia mengetahui bahwa majikannya kini sedang menatapnya sangat tajam, seperti binatang buas yang kelaparan dan akan memangsanya.
'Mati aku sekarang. Tuan muda benar-benar sangat marah padaku. Pasti saat ini ia merasa terluka harga dirinya saat kalah bersaing denganku. Bisa-bisa, aku tidak digaji bulan ini. Apes ... apes,' gumam Rudi yang kini berjenggit kaget saat mendengar suara bariton kemurkaan dari majikannya yang sudah bangkit berdiri menjulang di hadapannya.
"Kau di sini saja dan berakting sakit perut atau sakit apalah terserah! Semakin dia menghindar dan bilang tidak ingin bertemu denganku, aku malah akan setiap hari mengganggunya. Sepertinya bermain-main dengan wanita itu sangat menyenangkan. Lebih baik aku mandi dan bersiap. Kau berakting sakit nanti jika Freya tidak percaya pada perkataanku."
Dengan mengangguk patuh tanpa berniat melawan karena sadar diri tidak akan pernah bisa menang melawan majikannya, kini Rudi memilih untuk menikmati pizza dan Kentucky sisa semalam.
"Lebih baik aku segera menghabiskan semuanya ini dan membuang bungkusnya ke tempat sampah. Siapa tahu nanti nona Freya ingin menjenguk aku yang sedang sakit. Mungkin, di dunia ini baru aku saja yang berhasil mengalahkan majikannya sendiri." Mengunyah makanannya yang menurutnya masih layak dimakan, berbeda dengan para orang kaya yang menganggap makanan yang tidak baru sama sekali tidak layak untuk dimakan.
Setengah jam kemudian, Keenan terlihat sudah sangat rapi memakai kemeja berwarna putih yang dibayar oleh Freya. Meskipun sebenarnya ia merasa sangat tidak nyaman karena pakaian itu belum sempat dicuci dan tidak licin karena tidak disetrika. Namun, ia berusaha tidak mempedulikan semuanya karena yang saat ini dipikirkan hanyalah bekerja di perusahaan yang sama dengan Freya.
Ia sudah menunggu Freya di depan pintu gerbang dan beberapa saat kemudian, melihat sosok wanita yang ditunggunya tersebut berjalan ke arahnya dengan wajah tidak bersahabat.
'Lihatlah wajah wanita itu yang terlihat sangat masam. Bahkan bibirnya yang mengerucut bisa aku ikat dengan karet pembungkus nasi tadi,' umpat Keenan di dalam hati.
To be continued...