Karyawan rendahan

2016 Words
Keenan yang masih tidak berkedip menatap wajah sosok wanita yang berjalan semakin mendekat ke arahnya, bisa mengerti kekesalan Freya yang jelas-jelas menampilkan wajah masam begitu melihatnya. Apalagi suara Freya yang baru saja berbicara dengan sinis, hanya bisa membuatnya menahan marah. "Aku tadi sudah mengirimkan pesan pada Rudi. Di mana dia? Apa dia tadi tidak mengatakan semuanya padamu, kalau sebenarnya aku ...." Freya tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh laki-laki yang membuatnya malas berinteraksi. Tanpa membuang waktu, Keenan langsung menjelaskan tentang rencananya untuk membuat Freya tidak menyuruhnya mencari pekerjaan sendiri. Lagipula ia merasa malas untuk mencari pekerjaan sendiri di tempat yang sama sekali tidak ada satu pun orang dikenalnya, sehingga memilih untuk menyuruh Rudi yang mencari kerja sendiri. "Sepupuku tadi sudah menceritakan semuanya padaku, Freya. Kalau kamu tidak ingin aku bekerja di perusahaan tempatmu bekerja, bukan. Rudi tadinya sudah bersiap berangkat, tetapi dia tiba-tiba diare dan memilih untuk diam di kosan. Jadi, dia menyuruhku berangkat dan mengambil pekerjaan ini. Katanya dia bisa cari pekerjaan lain nanti setelah sembuh." Tidak ingin hubungannya selalu memanas dan sering diiringi pertengkaran, kini Keenan memilih untuk menuruti perkataan dari Rudi yang beberapa saat lalu mengatakan harus menyingkirkan sikap arogan dan sesuka hati. Pada akhirnya, ia memilih untuk mengalah karena ingin memanfaatkan wanita yang berdiri di hadapannya dengan wajah penuh kekecewaan. "Freya, maafkan aku. Aku dari sono memang begini. Jadi, saat kau merasa tersinggung atau kesal pada perkataanku, aku benar-benar minta maaf. Lagipula, aku orangnya lebih cinta damai. Maafkan aku, ya?" Masih menunggu jawaban dari permohonan maafnya dengan posisi tangan menggantung di udara. 'Semoga wanita cerewet ini seperti yang dibilang oleh Rudi, bahwa dia akan bersikap baik padaku. Sama halnya bersikap baik pada Rudi. Jika tidak, aku mungkin sudah tidak bisa lagi bersabar menghadapinya,' gumam Keenan di dalam hati dengan perasaan cemas saat menunggu tanggapan dari sosok wanita yang tengah menunduk menatap ke arah tangannya. Awalnya, Freya yang baru saja keluar dari kamar kos dan langsung melihat wajah sosok pria yang selalu menyulut api amarahnya, ingin kembali marah jika sampai Keenan mengeluarkan kalimat pedasnya lagi. Namun, ia yang sama sekali tidak pernah menyangka jika pria dengan sikap sangat arogan dan berlagak itu tiba-tiba berubah menjadi lebih baik. 'Dia tidak salah makan, kan? Bagaimana bisa dia tiba-tiba berubah menjadi baik dalam beberapa menit?' gumam Freya yang akhirnya memilih untuk mengakhiri permusuhannya dengan Keenan. Dengan menyambut uluran tangan Keenan, ia yang memang tidak pernah mempunyai musuh, akhirnya memilih untuk berdamai. "Baiklah, aku maafkan. Aku pun juga minta maaf jika ada salah berucap dan membuatmu kesal. Lagipula aku selama ini tidak pernah mempunyai musuh dan cinta damai seperti yang kamu bilang tadi." Sudut bibir Keenan kini melengkung ke atas saat melihat respon sangat baik dari wanita yang sudah tidak seketus tadi. Sikap melembut dan wajah yang bersahaja seolah bersahabat, membuatnya kini seolah merasa senang. "Terima kasih, aku sudah memaafkanmu. Memang semua ini adalah kesalahan yang sama-sama tidak disengaja. Semoga hubungan kita ke depannya semakin lebih baik. Sekarang kita teman, kan?" Tanpa pikir panjang, Freya langsung menganggukkan kepala. "Iya, kita teman. Lebih baik kita berangkat sekarang dari pada terlambat." Berjalan meninggalkan area kos menuju ke arah jalan besar. Sementara itu, Keenan kini berjalan mengekor langkah kaki jenjang Freya dan kembali mengungkapkan pertanyaan. "Kau tidak ingin melihat keadaan Rudi? Aku pikir kamu akan melihat keadaannya karena lebih dekat dengan Rudi." Freya yang masih tidak menghentikan langkah kakinya, menoleh sekilas pada sosok pria yang jauh lebih tinggi darinya. "Lebih dekat bagaimana? Bahkan aku baru kenal kalian berdua. Mana mungkin lebih dekat. Lagipula, tidak boleh wanita datang ke tempat kos laki-laki. Bahaya, nanti menimbulkan fitnah dan nama baik jadi tercemar." "Oh ya, sepertinya nanti aku harus merayu pihak yang menerima Rudi, agar mau menukarnya denganmu yang tidak memiliki kartu tanda pengenal. Semoga masalah ini tidak dipermasalahkan dan kamu bisa bekerja." Refleks Keenan menggelengkan kepala, tanda tidak menyetujui perkataan wanita yang sedikit mempercepat langkah kakinya setelah melirik ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri. "Kamu tenang saja, Freya. Kemarin aku lupa mengatakan padamu, kalau KTP milikku tidak hilang karena kutaruh di dalam tas. Jadi, tidak hilang." "Benarkah?" tanya Freya yang ikut merasa lega dan senang. "Syukurlah kalau begitu. Jadi, kau tidak perlu repot-repot untuk mengurus surat kehilangan di kantor polisi. Itu pun sangat ribet nanti. Anggap ini sebagai pelajaran untukmu, agar lebih berhati-hati menaruh dompet dan menyimpan uang." Baru saja Freya menutup mulut, ia melihat bus dari arah belakang dan refleks langsung melepas sepatu hak tinggi yang dipakainya. "Cepat lari menuju halte depan, Keenan!" Keenan yang tadinya ingin menjawab perkataan dari Freya, memicingkan mata saat melihat perbuatan melepaskan sepatu. Belum sempat ia menjawab, bus sudah berhenti di halte dan ia berlari mengikuti Freya yang berlari sambil menenteng sepatu. "Astaga, lucu sekali tingkah wanita itu. Berlari dengan kakinya yang telanjang tanpa memikirkan tatapan orang-orang yang mungkin akan menertawakan tingkahnya." Kini, Keenan tengah mengantri untuk menunggu orang-orang masuk ke dalam bus. Sementara ia berdiri di sebelah Freya yang sedang memakai kembali sepatunya. "Kenapa tidak menghentikan busnya tadi di sana saja? Memangnya tidak sakit saat berlari terkena kerikil-kerikil yang mungkin melukai kakimu?" "Sama sekali tidak sakit. Biar bus tidak membuat macet dan lebih disiplin," jawab Freya yang kini melangkah masuk ke dalam bus. Ia pun harus rela berdiri karena kursi penumpang sudah penuh. Sementara itu, Keenan yang juga sudah mengikuti Freya, berdiri dan berpegangan agar kejadian kemarin tidak terulang lagi. "Semoga supirnya tidak kebut-kebutan seperti kemarin dan tiba-tiba menginjak rem. Aku tidak ingin kamu salah paham seperti kejadian kemarin." Merasa tersindir dengan kalimat Keenan, kini Freya hanya terkekeh geli. "Bukannya kita sudah saling memaafkan? Jadi, jangan membahas masalah yang sudah-sudah dari pada nanti kita bertengkar lagi. Lagipula yang namanya naik bus memang seperti ini dan kita yang harus berpegangan kuat agar tidak sampai terjatuh. Kemarin kamu sok-sokan nggak mau pegangan, kan?" "Bukannya nggak mau, tapi kemarin aku belum sempat pegangan dan supir sudah melajukan bus, lalu tiba-tiba mengerem. Sekarang aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama. Kamu tenang saja," ucap Keenan yang merasa sangat percaya diri. Sementara itu, Freya kini mengangkat ibu jarinya dan tersenyum tipis. Saat ia ingin menanggapi, suara dari dering ponselnya berbunyi dan refleks membuatnya mengambil dari dalam tas. Merasa kesusahan membuka tas dengan tangan satu, ia melepaskan pegangan dan berniat untuk mengambil ponsel. Namun, ia kehilangan keseimbangan saat bus tiba-tiba berhenti dan membuatnya terhuyung ke arah kanan. Sementara itu, Keenan yang dari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari Freya, langsung sigap untuk menjadi penopang tubuh ramping yang terhuyung ke arahnya tersebut. "Hati-hati, Freya. Sebaiknya tidak perlu mempedulikan telepon saat sedang berdiri di dalam bus. Kalau posisi duduk tidak masalah, sedangkan posisi seperti ini akan membahayakan jika jatuh di dalam bus." Tangan kiri Keenan yang masih berada di lengan Freya, dan posisi yang sangat dekat itu, membuatnya mendekatkan wajahnya untuk berbisik di telinga wanita itu. "Di dalam bus tidak ada pria yang suka mengambil kesempatan dari seorang wanita, kan?" Keenan sengaja berbisik lirih agar para pria yang ada di dalam bus tidak mendengar suaranya saat melemparkan sebuah tuduhan. Ia sadar bisa menjadi sasaran kemarahan para pria yang ada di dalam bus. Freya yang tadinya merinding saat bisikan dari pria yang menopang beban tubuhnya itu menerpa kulitnya. Refleks ia buru-buru menggeser tubuhnya untuk kembali pada posisinya semula. Ia langsung menggelengkan kepala, seolah tidak membenarkan perkataan dari Keenan. "Jika sampai itu terjadi, mungkin akan dihabisi langsung di dalam bus. Jadi, selama ini belum pernah terjadi dan semoga tidak akan terjadi. Lain kali jangan berbicara seperti itu lagi, apalagi sampai berbisik-bisik segala." Untuk mengungkapkan perasaan menyesal, kini Keenan mengangkat sebelah tangan kirinya ke atas. "Baiklah, aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Maaf." Tanpa berniat untuk menjawab, Freya kini tengah sibuk dengan pikirannya sendiri saat menebak-nebak siapa yang menghubungi. 'Apakah Harry yang tadi menghubungi? Semoga dia tidak marah padaku karena tidak mengangkat teleponnya. Sudah satu minggu lebih dia tidak menghubungiku karena ada perjalanan bisnis ke luar negeri. Semoga tidak terjadi masalah karena aku sangat khawatir saat ia tidak menghubungiku sama sekali.' Keenan yang dari tadi mengamati jalanan ibu kota dengan pertama kali naik bus dan berdesakan tanpa mendapatkan tempat duduk, melihat perusahaan keluarganya yang kokoh menjulang karena bangunannya lumayan tinggi. 'Jika para pegawai perusahaan keluargaku ada yang naik bus ini dan melihat wajahku, mereka pasti akan memberikan tempat duduk untukku.' Puas beragumen sendiri di dalam hati, Keenan beralih melihat tatapan kosong dari sosok wanita yang ada di sebelahnya. Merasa khawatir nanti akan melewatkan perusahaan karena melamun, ia mengeluarkan suara baritonnya. "Apakah masih jauh perusahaannya, Freya?" Lamunan Freya seketika buyar seketika begitu mendengar suara bariton dari pria yang tengah menatapnya. Refleks ia merutuki kebodohannya sendiri saat sempat mengkhawatirkan keadaan sosok pria yang sudah beberapa bulan ini menjadi kekasihnya. Dengan memperhatikan jalanan sekitar yang dilalui bus, ia kini bernapas lega karena memang belum tiba di perusahaan. "Sebentar lagi. Mungkin sepuluh menit lagi. Nanti juga bus akan berhenti karena ada beberapa staf perusahaan yang ada di sini, tetapi beda divisi dan aku tidak mengenal mereka. Hanya sebatas tahu kalau mereka adalah pegawai perusahaan tempatku bekerja juga." "Oh ... syukurlah kalau begitu. Aku tadi melihatmu melamun, makanya menyadarkanmu. Takut nanti kelewatan. Memangnya kamu melamunkan apa?" tanya Keenan yang kini merasa sangat penasaran dengan isi kepala sosok wanita yang ada di dekatnya tersebut. Namun, ia hanya bisa menelan pil pahit kekecewaan saat melihat respon dari gelengan kepala Freya. Tidak ingin mengungkapkan hal yang mengganggu di pikirannya pada Keenan, Freya hanya berbohong agar pria itu tidak bertanya lebih jauh. "Aku tidak apa-apa, hanya merindukan orang tuaku." "Pasti kau sangat menyayangi mereka, hingga merindukan orang tuamu. Aku juga, baru sehari meninggalkan orang tuaku, sudah sangat merindukan mereka," sahut Keenan yang saat ini tengah mengungkapkan sebuah kebohongan. 'Gara-gara patah hati, aku rela meninggalkan orang tuaku dan sekarang hanya karena aku tidak ingin dijodohkan, membuatku kembali meninggalkan mereka. Berbeda denganmu yang terpaksa meninggalkan orang tuamu demi membalas budi. Aku jadi penasaran, sebenarnya berapa utang-utang keluarganya hingga ia merantau dari kampung halamannya ke Jakarta.' Saat bus berhenti, Freya langsung mengajak Keenan agar segera turun. Begitu ia melangkah turun, langsung membuka tas miliknya dan memeriksa siapa yang tadi menghubunginya. Seperti yang beberapa saat lalu dipikirkannya, tebakannya benar dan ia mengetik pesan agar sang kekasih tidak merasa kecewa karena tidak diangkat teleponnya. Sayang, aku tadi ada di dalam bus dan berdiri. Jadi, tidak bisa menerima telponmu. Begitu menekan tombol kirim, beberapa saat kemudian suara dering ponselnya berbunyi dan saat ingin mengangkatnya, suara bariton Keenan membuatnya menoleh. Keenan yang baru saja turun dari bus, mengamati bangunan perusahaan di depannya. "Jadi, ini perusahaan tempatmu bekerja, Freya?" Freya yang tidak ingin membuang waktu untuk mengangkat telepon, kini menganggukkan kepala. "Iya, ini tempatku bekerja dan akan menjadi tempatmu mengais rezeki selama di Jakarta. Kamu pergilah dulu dan tanya pada resepsionis di lobi. Nanti akan ditunjukkan, kamu harus ke mana. Aku ada telepon penting soalnya. Pergilah dulu, dan jangan sampai terlambat karena ini hari pertamamu bekerja." Keenan yang merasa sangat kecewa karena tidak bisa berjalan masuk bersama, terpaksa menuruti perintah dari wanita yang mulai mengangkat telepon. Samar-samar ia mendengar suara Freya yang terdengar sangat bahagia saat berbicara di telepon. 'Memangnya Freya sedang berbicara dengan siapa? Apakah orang tuanya yang menelpon? Bahkan tadi dia bilang baik-baik saja dan jangan mengkhawatirkan keadaannya. Kenapa aku sekarang berubah jadi pria yang kepo urusan orang lain,' lirih Keenan yang menepuk jidatnya berkali-kali. Kini, kaki panjangnya yang dari tadi terus melangkah, sudah tiba di lobi perusahaan dan seperti yang dikatakan oleh Freya, ia bertanya pada resepsionis di depan. Bahkan ia bisa melihat tatapan dari para kaum hawa yang memakai seragam kantor rapi tengah memperhatikannya dan juga saling berbisik serta tersenyum, seolah ingin mencari perhatiannya. 'Apa tanggapan mereka akan sama setelah tahu bahwa aku hanyalah seorang cleaning service di perusahaan ini?' gumam Keenan yang tiba-tiba mendapatkan sebuah ide di kepalanya, refleks ia langsung mengeluarkan suara bariton saat bertanya. "Nona, saya adalah orang yang akan melamar menjadi cleaning service di perusahaan ini. Tadi kata nona Freya, saya disuruh bertanya ke bagian resepsionis. Kira-kira, saya harus menemui siapa dan pergi ke mana?" Tentu saja suara cukup keras dari Keenan berhasil didengar oleh para staf wanita yang ada di lobi dan seolah menyesal telah memandang pria yang ternyata pegawai baru yang bekerja sebagai cleaning service. To be continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD