*New York*
Sosok pria dengan tubuh tinggi tegap yang saat ini ada di dalam ruangan sangat luas yang merupakan pabrik senjata api yang baru saja didirikannya di luar negeri dan membuatnya harus mengawasi proses awal berjalannya usaha barunya tersebut.
Pria dengan rahang tegas itu bernama Harry Wyman yang merupakan pengusaha senjata api ilegal dan memiliki sebuah perusahaan pencucian uang yang ada di Jakarta.
Dengan mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidang properti, ia melakukan bisnis pencucian uang hasil dari penjualan senjata api yang dikirimkan ke berbagai negara. Sengaja ia mendirikan pabrik di luar negeri dan memilih New York yang merupakan negara asal dari sang ayah, sedangkan sang ibu asli orang Jakarta.
Namun, kedua orang tuanya telah meninggal dunia karena kecelakaan tunggal yang terjadi satu tahun lalu akibat supir mengantuk saat perjalanan ke luar kota dalam perjalanan bisnisnya.
Harry Wyman jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan seorang wanita bernama Freya Zhafira yang hampir saja ditabraknya saat mengemudi ketika sedang mengambil ponselnya yang terjatuh. Nasib baik wanita yang hampir ditabraknya itu hanya mengalami luka lecet ringan dan ia bertanggungjawab dengan membawanya ke rumah sakit.
Bahkan ia sering datang ke tempat kos Freya sebagai bentuk pertanggungjawabannya. Hingga lama-kelamaan, ia jatuh cinta dan mengungkapkan perasaannya pada wanita yang menurutnya memiliki wajah sangat cantik dan tubuh seksi tersebut. Usahanya pun tidaklah sia-sia karena Freya menerima cintanya dan akhirnya menjalin kasih hingga beberapa bulan terakhir ini.
Namun, ia harus rela menjalani LDR saat memulai usaha baru yang memberikan banyak keuntungan untuknya. Hari ini, ia yang sangat merindukan sang kekasih, memilih menghubunginya untuk melepas rindu dan mengatakan bahwa baru bisa kembali ke Jakarta satu bulan lagi.
Saat ini, terlihat sudut bibirnya melengkung ke atas saat mendengar suara merdu dari sang kekasih yang sangat dirindukan.
"Sayang, aku sangat merindukanmu, tapi belum bisa pulang karena perusahaan cabang baru saja dibuka di sini. Jadi, aku harus turun tangan sendiri untuk memimpin perusahaan. Satu bulan lagi aku baru pulang ke Jakarta. Kamu baik-baik saja, kan?"
"Tentu saja aku baik-baik saja. Selamat ya, atas berdirinya perusahaan cabang di New York. Semoga semakin sukses. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku karena di sini baik-baik saja. Fokus saja pada pekerjaan, agar perusahaanmu semakin berkembang. Oh ya, aku harus bekerja. Jadi, tidak bisa lama-lama berbicara denganmu."
Sebenarnya, Harry masih belum puas berbicara dengan sang kekasih, tetapi ia sadar bahwa Freya pun harus bekerja. "Baiklah, Sayang. Selamat bekerja karena aku pun sedang lembur, di sini jam 8 malam. Bahkan para pekerja juga sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Kalau begitu, jaga diri baik-baik dan jangan selingkuh, oke! I love you."
"Kau seperti meragukan aku, Harry. Mana mungkin aku selingkuh saat sudah memiliki kekasih yang sangat tampan dan sangat mencintaiku. Sudah, ah ... aku kerja dulu. Aku juga sangat mencintaimu."
Begitu sambungan telepon terputus, Harry menyunggingkan senyumnya. Mendengar suara merdu dari sang kekasih yang sangat dicintainya seperti mendapatkan mood booster untuknya dan semangatnya untuk kembali bekerja mulai membara.
Ia pun keluar dari ruangan pribadinya yang dipasang alat peredam suara karena tadi tidak ingin membuat sang kekasih mendengar suara bising pabrik perakitan senjata api yang baru didirikannya dan ia beri nama mendiang nama ayah dan ibunya, yaitu Enriq Margareth.
Hal itu karena ia ingin mengenang dua orang yang sangat disayanginya tersebut. Dengan memilih mendirikan perusahaan senjata yang mendesain dan memproduksi berbagai senjata sipil dan militer, termasuk senapan serbu, senapan sniper, senapan penembak jitu, senapan mesin, senjata otomatis, senapan berburu, senapan, proyektil artileri dan berbagai macam senjata lainnya.
Ia ingin menjadikan perusahaannya menjadi produsen sekitar 95 persen dari seluruh senjata kecil di New York dan memasoknya ke lebih dari 20 negara di seluruh dunia dan juga berharap mimpinya akan tercapai, yaitu menjadi pabrik senjata api terbesar di New York.
Untuk sementara, produk yang dihasilkan pabriknya adalah seri senapan mesin ringan, senapan sniper semi-otomatis, pistol Makarov PM, senapan Saiga-12, dan senapan mesin ringan Vityaz-SN, juga PP-19 Bizon.
"Apakah Freya akan menyesal berhubungan denganku saat mengetahui pekerjaanku? Aku tidak akan pernah melepaskannya meskipun nanti ia tidak bisa menerima pekerjaanku. Apa pun yang terjadi, Freya harus menjadi milikku karena hanya aku yang boleh memilikinya. Tidak akan aku biarkan pria manapun memiliki Freya karena akulah pemiliknya. Jangankan memilikinya, menatap Freya saja tidak akan kuizinkan!"
Puas beragumen sendiri di dalam ruangan pribadinya, kini Harry berjalan keluar untuk memeriksa proses perakitan senjata yang baru beroperasi tersebut. Memang ia masih ingin mengawasi semua proses pertama sebelum dipasarkan. Hal itu karena ia ingin yang terbaik dari sesuatu yang dihasilkan agar tidak mengecewakan para konsumen yang sudah menunggu pesanannya.
********
*Jakarta*
Freya yang baru saja berjalan menuju ke arah lobi perusahaan, bisa mendengar bisik-bisik dari para staf wanita yang didengarnya sedang membicarakan pegawai baru. Ia hanya mengerutkan kening saat mengerti dengan pembicaraan mereka.
"Sayang sekali, ya. Masa, ganteng-ganteng cuma jadi cleaning service."
"Ganteng sih ganteng, tetapi hidup nggak makan gantengnya. Jadi, kita harus berpikir realistis sebelum mencari seorang suami."
"Iya bener, mending cari pria kaya, jelek nggak masalah, asal hidup kita terjamin. Seperti nasihat para orang tua ada benarnya, kalau hidup berumah tangga itu tidak makan cinta. Bahkan pasangan yang awalnya saling mencintai bisa bercerai hanya gara-gara urusan ekonomi."
Telinga Freya terasa panas saat mendengar para staf wanita yang kini membicarakan sosok pria yang diketahuinya adalah Keenan. Ia berjalan menuju ke arah lift dan melihat sosok pria yang menjadi artis hari ini sedang berdiri di bagian belakang sendiri. Bahkan tidak ada yang menyapa, tetapi semua staf khususnya wanita seperti sedang menyingkir dan tidak ingin dekat-dekat dengan Keenan.
Merasa kasihan seolah tersisihkan karena kasta, Freya dengan buru-buru berjalan menghampiri pria yang terlihat sangat mengenaskan tersebut dan menepuk bahu kokoh itu seraya menyunggingkan senyumnya.
"Aku pikir kamu tadi sudah naik ke lantai atas untuk menemui pihak HRD."
Refleks Keenan menolehkan kepala dan melihat senyuman manis sosok wanita yang terlihat sangat cantik tersebut. Bahkan kali ini ia baru menyadari bahwa Freya ternyata merupakan sosok wanita yang memiliki paras cantik dan menawan.
Setelah tadi berbicara cukup keras saat bertanya pada resepsionis bahwa ia hanyalah seorang karyawan rendahan, pandangan semua orang khususnya wanita, kebanyakan seolah menganggap ia adalah kuman yang harus dihindari. Ia bisa merasakan bahwa para wanita itu mencibirnya, tetapi ia sama sekali tidak peduli dan mengerti bahwa mimpinya untuk mencari seorang wanita yang benar-benar tulus mencintainya sangatlah tidak mudah.
Namun, ia tidak pernah menyerah dan juga yakin bahwa suatu saat akan menemukannya meskipun tahu itu satu banding seribu dan bagaikan mencari jarum di balik jerami.
Kini, ia pun tersenyum simpul dan menanggapi perkataan sosok wanita yang terlihat jauh lebih memesona saat tersenyum. "Aku hanya menunggu sampai lift sepi karena sepertinya tidak ada yang mau satu lift denganku." Mengarahkan dagunya ke arah para staf perusahaan yang terlihat sedang berbisik-bisik dan menjauhinya.
"Iish ... jangan berbicara seperti itu," seru Freya yang kali ini memegang pergelangan tangan kiri Keenan. "Ayo, ikut denganku!"
Keenan yang merasa sangat terkejut dengan perbuatan tiba-tiba dari Freya yang menggandeng tangannya menuju ke arah kiri lift dan masuk ke area tangga darurat, hanya membuatnya mengikuti pergerakan wanita yang masih tidak melepaskan kuasanya tersebut.
Bahkan kini, ia menyunggingkan senyumnya saat melihat ke arah jemari lentik Freya di pergelangan tangan kirinya.
"Bukankah kau tadi disuruh ke lantai tiga? Jadi, daripada menunggu lama lift dan antri, lebih baik naik tangga saja. Aku akan menemanimu, bukankah ini merupakan sebuah penghormatan untukmu karena senior mau menemani juniornya?" ucap Freya yang mencoba untuk bercanda dan menguraikan perasaan tidak enak Keenan.
Bahkan ia pun ikut merasa kesal saat para wanita membedakan status orang dari pekerjaannya. Seolah kasta benar-benar dianggap sebagai hal yang paling utama bagi para wanita. Sedangkan dari dulu ia tidak pernah memilih-milih teman hanya karena pekerjaan atau kekayaannya.
Keenan hanya terkekeh geli menanggapi kalimat terakhir dari Freya yang jelas sekali tengah berusaha keras untuk menghiburnya agar tidak merasa rendah diri karena perbuatan para staf wanita yang tadi menggunjingnya.
"Aku tahu kau sedang berusaha menghiburku, Freya. Kau tidak ingin aku bersedih karena sikap para staf wanita di perusahaan ini, bukan? Makanya kau mengajakku naik tangga ini." Keenan kini menatap intens wajah cantik Freya yang seolah lupa bahwa saat ini masih memegang tangannya saat berjalan menaiki anak tangga.
Ia sengaja membiarkan dan tidak protes karena tidak ingin membuat Freya kikuk saat sadar nanti. Entah mengapa ia merasa malah senang saat melihat sikap Freya yang baik padanya. Baru kali ini ia dikasihani. Alih-alih marah dan kesal, yang ada malah ia sangat senang karena Freya iba padanya dan tidak bersikap ketus seperti pagi tadi.
Saat Freya kebingungan untuk menjawab Keenan dan ingin menggaruk tengkuknya, ia yang baru menyadari tangannya masih memegang pergelangan tangan kanan Keenan, kini langsung melepaskannya.
"Astaga, maaf. Aku malah menuntunmu seperti anak kecil saja. Oh ya, masalah tanggapan para staf wanita di sini, tidak usah kamu pedulikan. Bukankah tujuanmu datang ke sini adalah bekerja? Jadi, fokus saja bekerja dan jangan sibuk mempedulikan tanggapan orang lain. Apalagi pekerjaan ini halal dan semoga uang yang dihasilkan akan berkah dan bermanfaat."
Kalimat bijak dari Freya, bagaikan siraman rohani di pagi hari untuknya sebelum memulai hari. Keenan yang kini terlihat tersenyum, langsung mengarahkan dua jempolnya pada Freya.
"Kalau begini, kamu seperti seorang peri baik hati yang selalu menolong orang membutuhkan. Semua yang kamu katakan benar, Freya dan aku akan fokus bekerja untuk mengais rezeki di sini. Tidak perlu repot-repot untuk memikirkan tanggapan orang lain karena ada masanya nanti kenyataan menampar semua orang dan membersihkan nama baik seorang cleaning service sepertiku."
"Siapa tahu suatu saat nanti, aku sukses dan mengambil alih perusahaan ini. Lalu, semua wanita yang mencibirku akan merasa malu dan tertampar dengan kenyataan. Bukankah tidak ada salahnya menghayal? Karena menghayal tidak ada yang melarang," ucap Keenan dengan terkekeh.
Tadinya, Freya merasa sangat aneh mendengar perkataan dari Keenan. Ingin sekali ia menasihati agar Keenan jangan suka bermimpi terlalu tinggi, tetapi ia tidak ingin semakin membuat down perasaan pria yang baru saja mengalami fase paling rendah di dalam hidupnya. Pada akhirnya, ia kini mengarahkan ibu jarinya ke atas dan mendukungnya.
"Aku suka dengan semangatmu, Keenan. Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin karena sekali Tuhan berkehendak, yang dipikir tidak mungkin terjadi bisa saja terjadi. Aku malah sangat senang jika kamu yang jadi pemimpin perusahaan ini."
"Jadi, nanti kamu akan menaikkan jabatanku karena menjadi orang pertama yang menolongmu, bukan?" tanya Freya yang kini menoleh ke arah sosok pria di sebelah kirinya dan menghentikan langkah kakinya sebelum menapak anak tangga terakhir karena sudah sampai di lantai tiga.
Melihat Freya berhenti dan tidak naik ke atas, posisi Keenan yang berada di atas dengan berjarak satu anak tangga, kini menoleh ke belakang dan tersenyum smirk. Niatnya adalah ingin menggoda wanita yang jelas-jelas terlihat hanya sedang menghiburnya semata karena kalau dipikir-pikir, bagi semua orang, yang dikatakannya tidak akan mungkin terjadi.
Sedangkan baginya, hal itu merupakan sebuah hal kecil. Bisa saja ia mencari tahu tentang segala hal dari perusahaan yang tidak jauh lebih besar dari perusahaan keluarganya. Setelah mendengar perkataan Freya, malah membuatnya ingin segera mengambil alih perusahaan yang menerimanya sebagai cleaning service dan mempermalukan para wanita tadi.
Selain itu, ia akan mengabulkan permohonan Freya, agar bisa naik gaji dan segera bisa melunasi utang-utang keluarga yang masih sangat diingatnya. Ia kini berakting berpikir dan tersenyum smirk pada wanita yang terlihat sangat serius menatapnya.
"Bagaimana, ya? Sepertinya aku harus memikirkannya terlebih dahulu karena tidak mungkin menaikkan jabatanmu jika belum mengetahui kemampuanmu. Mungkin nanti perusahaan bukan malah mengalami keuntungan, tetapi bangkrut."
Merasa kesal karena ejekan Keenan, refleks membuat Freya langsung buru-buru naik ke atas. Niatnya adalah ingin memukul lengan kekar pria yang berhasil membuatnya kesal, tetapi sepatu hak tinggi yang dipakainya membuat ia terpeleset dan tubuhnya seketika terhuyung ke belakang.
Sementara itu, Keenan yang dari tadi tidak mengalihkan perhatiannya dari Freya, tentu saja bisa melihat pergerakan wanita yang terhuyung ke belakang dan dengan gerakan secepat kilat, ia langsung menarik tangan kanan wanita itu dengan sekuat tenaga dan refleks membuatnya jatuh ke belakang.
Bahkan tubuh ramping Freya yang berhasil ditariknya dan tidak jadi tergelincir di anak tangga, kini jatuh menimpanya dan membuat bibir sensual itu mendarat dengan sempurna di atas bibirnya.
Degup jantung keduanya yang terdengar berdetak sangat kencang, menandakan bahwa perasaan masing-masing saat ini diiringi kekhawatiran yang teramat sangat. Bahkan meskipun keduanya sama-sama terlihat tengah memejamkan kedua matanya, indra pendengaran mereka bisa mendengarkan suara detak jantung tidak beraturan masing-masing.
To be continued...