Sebuah ancaman

2129 Words
Begitu Keenan menarik pergelangan tangan wanita yang terhuyung ke belakang dan hampir saja tergelincir pada anak tangga, ia berhasil menyelamatkan Freya dan mengorbankan tubuhnya jatuh terhempas ke lantai di sebelah pintu darurat lantai tiga. Terlihat saat ini dengan posisi tubuh seksi wanita itu berada di atas tubuhnya. Bahkan posisi yang sangat intim kini dialaminya saat bibir Freya kini menempel di bibirnya. Ia yang saat ini mengerjapkan kedua mata atas kejadian cepat itu, kini hanya bisa terdiam dan tidak bergerak karena takut jika Freya salah paham lagi padanya dan dituduh mencari kesempatan dalam kesempitan seperti yang sudah-sudah. 'Bukankah dia saat ini sedang menciumku? Jangan sampai dia menuduhku menciumnya dan mengambil kesempatan. Dia adalah seorang wanita yang sangat ceroboh. Jangan sampai dia murka dan memutarbalikkan fakta dengan menyebutku pria berengsek!' gumam Keenan yang masih diam pada posisinya dan melihat sosok wanita yang berada di atas tubuhnya kini buru-buru bangkit berdiri. Ia pun melakukan hal yang sama, tetapi ia kini berada pada posisi duduk. "Lain kali, kamu harus berhati-hati saat menaiki anak tangga, Freya. Hampir saja kamu tadi terjatuh dan mungkin akan berakhir luka-luka." Freya yang tadi merasa sangat berdebar-debar jantungnya karena sepatunya yang licin, masih merasa ketakutan saat membayangkan tubuhnya tergelincir ke bawah. Namun, bukan hanya itu saja yang dirasakan karena ia merasa bahwa yang terjadi adalah semakin berdebar-debar jantungnya saat tiba-tiba pertolongan Keenan yang berhasil menyelamatkannya dari kemalangan malah berakhir berada pada posisi intim. Seumur hidupnya, baru kali ini ia berada pada posisi sangat intim dengan seorang pria. Bahkan dengan Harry Wyman sang kekasih pun tidak pernah mengalami hal seperti ini karena hanya sekedar berpegangan tangan semata saat berada di dalam satu mobil. Ia bahkan merasa sangat beruntung saat memiliki seorang kekasih yang sangat menghormati prinsip hidupnya. Dari dulu, ia sama sekali tidak menyukai pria yang suka mencuri kesempatan dalam kesempitan dan menganggap sang kekasih merupakan pria yang sangat sopan. Kali ini, Freya terlihat sangat kikuk karena tidak sengaja berada pada posisi intim dengan pria yang telah menyelamatkan hidupnya. Tidak ingin berada dalam situasi yang sangat tidak nyaman, kini Freya mulai mengeluarkan suara. "Terima kasih. Lain kali, aku akan berhati-hati. Lebih baik kau segera menemui bu Lani. Bilang saja temanku, dia sudah mengerti. Itu pintunya di sana. Cepat pergi sana karena aku pun mau ke lantai atas." Tidak ingin mengalami hal yang tidak diinginkan untuk kedua kalinya, kini Freya melepaskan sepatu hak tinggi yang dipakainya dan beralih menentengnya. Sementara itu, Keenan yang tadinya duduk dengan menekuk lutut, kini beranjak berdiri dan mulai menyamakan posisinya dengan sosok wanita tengah menenteng sepatu di tangan kirinya. Bahkan ia sudah terkekeh geli melihat Freya yang terlihat selalu lucu saat menenteng sepatunya. "Astaga, Freya. Kau lucu sekali saat berjalan telanjang dengan menenteng sepatu seperti itu. Bukankah kakimu akan kotor dan juga pada sepatumu. Bagaimana kalau kuman-kuman mulai memenuhi sepatu dan menimbulkan penyakit pada kakimu? Saranku, lebih kamu pakai flat shoes dan meninggalkan sepatu hak tinggimu itu di kantor. Jadi, tinggal dipakai. Kalau begitu aku pergi dulu. Kamu hati-hati. Jangan sampai jatuh lagi karena aku sudah tidak bisa menolongmu untuk yang kedua kali." Tanpa mendengarkan jawaban dari sosok wanita yang kini hanya diam saja tanpa menjawabnya, Keenan melambaikan tangan untuk mengucapkan salam perpisahan dan berjalan ke arah pintu, lalu membukanya. Meninggalkan Freya yang diketahuinya bekerja di lantai empat. Saat ia sudah menutup kembali pintu itu, Keenan kini masih berdiri terpaku di tempatnya dan memegangi bibirnya. Sudut bibirnya kini melengkung ke atas saat mengingat momen beberapa menit yang lalu, bahwa secara tidak langsung, bibir Freya menempel di bibirnya. 'Kenapa hanya dengan sebuah hal kecil seperti ini saja membuat jantungku berdebar-debar? Bahkan ini hanya sebuah ketidaksengajaan, bukanlah sebuah ciuman yang sesungguhnya. Astaga, kenapa aku bisa jadi sebodoh ini?' gumam Keenan yang saat ini masih berada di tempatnya. Saat ia memegangi degup jantung tidak beraturan yang dirasakan, suara bariton dari staf laki-laki membuat lamunannya musnah seketika dan ia buru-buru membungkuk hormat. "Kau siapa? Kenapa ada ada di sini? Aku sama sekali tidak mengenalmu?" tanya seorang pria yang memakai kemeja putih rapi dan licin dengan sepatu pantofel hitam yang mengamati penampilan pria dengan bersandar di pintu darurat. "Maaf, Pak. Saya ingin menemui Bu Lani. Saya adalah teman dari Freya dan melamar untuk bekerja di perusahaan ini sebagai cleaning service," jawab Keenan yang masih menundukkan kepala. Sebenarnya, pantang bagi ia untuk menundukkan kepala di depan orang lain. Namun, tadi sebelum berangkat, ia mendapatkan sebuah pesan dari Rudi yang mengatakan harus menghormati semua orang di perusahaan demi membalas budi pada kebaikan Freya yang telah menolongnya untuk mencarikan pekerjaan dan tempat tinggal sementara. Tuan muda, tolong jaga nama baik nona Freya dengan Anda menghormati semua staf perusahaan. Jika nanti Anda membuat kesal orang-orang di perusahaan, yang ada nanti malah nona Freya yang kena imbasnya. Kasihan karena dia bekerja di sini untuk membayar utang-utang keluarganya. Jangan sampai nona Freya dipecat karena menolong Anda. Ia pun membenarkan semua perkataan dari pelayannya tersebut dan seperti yang saat ini dilakukannya, tengah membungkuk hormat pada staf laki-laki di hadapannya. "Oh ... jadi kau yang mau bekerja sebagai cleaning service di sini? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya pria dengan nama Ari Sanusi tersebut. Refleks Keenan kini mendongak dan menatap wajah pria yang usianya mungkin tidak jauh berbeda dengannya tengah menunjuk ke arahnya. Ia pun refleks langsung meraba wajahnya untuk mencari apakah ada kotoran di wajahnya. "Kenapa dengan wajah saya, Tuan? Apakah ada sesuatu di wajah saya ini? Sayang sekali tidak ada cermin di sini." Keenan mengerutkan kening saat pria tersebut meraih ponsel dari saku celana dan mengarahkan tepat di depan wajahnya. Seolah menyuruhnya untuk bercermin pada ponsel tersebut. "Bukankah kau terlalu tampan untuk menjadi seorang cleaning service? Memangnya kau tidak malu saat para staf wanita di perusahaan ini mengejekmu. Mas, ganteng-ganteng kok cuma karyawan rendahan sih." Ari kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan terkekeh setelah menggoda orang baru. Sementara itu, Keenan yang mulai mengerti, kini ikut terkekeh dan mengatakan jawabannya. "Barusan saya mengalaminya, Tuan. Namun, ada yang mengatakan bahwa selama kita bekerja secara halal, buat apa kita merasa malu. Yang penting tidak mencuri dan semoga uang yang saya hasilkan berkah dan barokah." Baru saja Keenan selesai berbicara dan merasa seperti orang yang baru saja salah makan karena berbicara sebijak itu, padahal ia hanya menjiplak apa yang dikatakan oleh Freya tadi. Sebuah tepukan mendarat di bahunya dan membuatnya merasa sangat senang saat perkataannya diapresiasi oleh pria tersebut. Merasa bertemu dengan seorang pria yang baik dan pekerja keras, kini Ari langsung melingkarkan tangannya pada pundak pria yang akan menjadi staf baru tersebut. "Wah ... kamu memang sangat luar biasa. Aku suka dengan perkataanmu yang sangat bijak. Oh ya, nama kamu siapa? Sekarang aku akan khusus mengantarkanmu menemui bu Lani." Keenan yang masih dirangkul oleh pria tersebut, hanya tersenyum dan mengikuti langkah kaki panjang menyusuri koridor ruangan di lantai tiga tersebut dan melewati kubikel-kubikel para pegawai lainnya yang juga tengah menatapnya. Ia sama sekali tidak mempedulikan tatapan aneh para staf wanita yang mungkin tadi sudah melihatnya di lobi. "Saya Keenan, Tuan." "Jangan panggil, Tuan. Panggil saja aku Ari karena sepertinya kita seumuran. Aku suka dengan gayamu yang sangat percaya diri, Bro. Jadi, aku berpikir telah menemukan teman yang sepemikiran denganku. Kalau ada apa-apa, kau bisa memberitahuku. Nanti aku akan membantu. Sekarang kau masuk ke dalam ruangan ini karena aku harus bekerja." "Jangan lupa ketuk pintu dulu sebelum masuk karena bu Lani agak judes orangnya." Ari kini berbicara agak lirih dan mengarahkan bibirnya ke dekat daun telinga Keenan untuk berbisik. "Sadis, jadi kau harus berhati-hati, oke!" Awalnya, Keenan berpikir akan diantarkan sampai ke dalam, tetapi begitu melihat Ari kabur meninggalkan ia sendiri, kini mulai mengerti alasannya. 'Oh ... jadi wanita bernama bu Lani adalah seorang atasan killer? Baiklah, aku akan menaklukkan pegawai killer hari ini dengan pesona ketampananku. Biasanya para wanita paruh baya suka dengan berondong ganteng. Kali aja dia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama,' lirih Keenan yang saat ini sudah mengarahkan tangannya pada pintu di depannya. "Masuk!" Tanpa membuang waktu, kini Keenan membuka knop pintu dan yang ada dalam bayangannya dari nama bu Lani adalah sosok wanita berusia 40 tahunan dan mempunyai badan gemuk dan wajahnya terlihat judes. Namun, ia sangat terkejut saat bayangannya musnah begitu melihat sosok wanita yang duduk di kursi kerjanya dan tengah menatapnya. Wanita dengan paras sangat cantik, bahkan lebih mirip seperti seorang artis karena memiliki kulit putih seolah menyilaukan matanya. Refleks ia langsung menormalkan perasaannya saat merasa salah tafsir dengan pikirannya. Refleks ia langsung membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatannya. "Selamat pagi, Bu. Saya adalah orang yang bekerja sebagai cleaning service di perusahaan ini. Kata nona Freya, saya langsung disuruh menemui, Ibu Lani." 'Sialan pria tadi, bisa-bisanya dia bilang wanita secantik ini sangat judes. Padahal wanita ini bahkan langsung tersenyum padaku dan sepertinya adalah wanita yang baik dan tidak mempedulikan kasta,' gumam Keenan yang kini menganggukkan kepala saat wanita di hadapannya memberikan kode agar segera duduk di kursi. Ia pun langsung mendararatkan tubuhnya di kursi yang berada di hadapan wanita cantik tersebut dan memberikan CV yang baru dikeluarkan dari dalam tas. Begitu menerima CV dari pria yang dianggapnya memiliki wajah tampan, wanita yang tidak lain bernama Lani tersebut langsung memeriksanya. Untuk beberapa saat, suasana hening melanda di antara dua insan di dalam ruangan tersebut. Keenan yang kini tidak berkedip menatap wajah cantik wanita dengan posisi sangat seksi tersebut, hanya bisa mengumpat di dalam hati. 'Sial, wanita ini seksi sekali.' Lamunan Keenan seketika buyar begitu mendengar suara merdu dari sosok wanita yang baru saja mengangkat pandangan dan menatapnya. Bahkan ia bisa melihat wanita itu kini tengah tersenyum padanya. "Apa kamu yakin bekerja di sini sebagai cleaning service? Pekerjaan sebagai cleaning service itu berat, lho!" Bangkit dari posisinya yang dari tadi duduk di kursi kebesarannya dan berjalan mendekati sosok pria yang dianggapnya memiliki paras rupawan dan tubuh proporsional tersebut. Bahkan kini ia sudah duduk di atas meja yang berada di hadapan pria tampan itu. "Lebih baik kau bekerja untukku saja dan aku akan membayarmu dengan gaji lebih besar dari cleaning service di sini." Keenan kini menelan salivanya saat tangan dengan jemari lentik itu mendarat di d**a bidangnya. "Maksud, Ibu Lani apa? Saya sama sekali tidak paham." "Aku sedang mencari teman," jawab Lani dengan mengarahkan bibirnya untuk semakin mendekati daun telinga pria yang dianggapnya memiliki wajah sangat tampan tersebut. "Teman tidur, maksudnya." Refleks Keenan kini buru-buru bangkit dari posisinya dan agak menjauh dari wanita yang dianggapnya sangat menjijikkan tersebut. Awalnya, ia berpikir wanita itu tersenyum padanya karena sangat sopan dan baik hati seperti Freya yang tidak mempedulikan kasta. Namun, begitu mendengar perkataan bernada vulgar yang membuatnya merasa ingin muntah, seketika membuatnya ingin menjauh karena takut terkena penyakit menular. 'Gila! Mimpi apa aku semalam, hingga bisa bertemu dengan wanita yang mengerikan seperti ini. Astaga, bisa-bisanya dia mengatakan hal ini pada pria yang baru ditemuinya. Pasti dia sudah sering melakukannya pada para pria yang diincarnya. Bahkan dia rela untuk membayarku? Gila ... gila! Biasanya wanita dapat duit dengan menjual diri. Nah ini wanita rela mengeluarkan duit untuk membayarku jadi budaknya di atas ranjang.' Puas mengumpat di dalam hati, Keenan yang tidak ingin membuang waktu, mengungkapkan jawabannya tanpa berniat untuk menyingung wanita itu. "Maaf, Nona. Saya datang ke Jakarta karena ingin bekerja yang halal dan tidak masalah menjadi cleaning service di sini. Jadi, tolong Anda mengerti." Merasa sangat kesal karena ditolak oleh karyawan rendahan, Lani kini meluapkan amarahnya. "Wah ... kau yang hanya merupakan karyawan rendahan, belum tentu bisa diterima bekerja di sini, berani menolakku? Jangan pernah berharap bisa bekerja di sini karena aku tidak akan pernah mengizinkannya. Sekarang keluar dari ruangan ini!" Melihat kemurkaan wanita yang baru saja ditolaknya dan membuatnya merasa jijik, membuat Keenan kini tertawa terbahak-bahak. Mengalami situasi paling konyol yang membuat ia biasanya selalu merasa muak pada para wanita yang mengincar hartanya, kini merasa lengkap sudah saat ada yang mengincar kekuatannya tanpa mempedulikan statusnya. "Seumur hidup, aku baru kali ini bertemu wanita luar biasa sepertimu. Jika kau menghalangiku bekerja di sini, aku akan membuatmu malu dan menyebarkan berita bahwa kau adalah wanita liar yang sedang mencari mangsa di perusahaan ini. Jika kau tidak percaya, aku akan melakukan sekarang!" Tanpa membuang waktu, Keenan kini mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, yaitu orang kepercayaan sang papa. Namun, sebelum itu, ia bahkan mengambil foto wanita yang masih terlihat memerah wajahnya karena marah padanya. "Halo, Om. Tolong hubungi media karena aku memiliki berita terpanas hari ini." Wanita yang saat ini terlihat sangat terkejut dengan ulah pria yang dianggapnya hanya pria lugu, mengarahkan tatapan tajam. "Siapa kau sebenarnya? Kau hanya mengancamku, kan? Tidak mungkin kau bisa menghubungi media dan menyebarkan berita palsu yang tidak ada buktinya." Kini, Keenan langsung tertawa terbahak-bahak menanggapi perkataan dari wanita yang terlihat penuh ketakutan tersebut. "Kau tidak perlu tahu siapa aku sebenarnya karena tugasmu hari ini adalah jangan mempersulit aku saat ingin bekerja di sini. Jika sampai kau melakukannya, aku akan membuatmu tidak mempunyai muka di hadapan semua orang!" sarkas Keenan yang mengeluarkan sebuah ancaman. To be continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD