Setelah mengancam wanita yang dianggapnya sangat menjijikkan, kini Keenan sudah berada di ruangan ganti. Ia yang tadi sudah mendapatkan seragam cleaning service, langsung mengganti pakaiannya. Ia bahkan tadi juga mengancam wanita bernama Lani agar besok menerima Rudi untuk bekerja dengannya.
Tentu saja ia ingin menyerahkan pekerjaan berat pada Rudi, agar tidak benar-benar bekerja keras sebagai cleaning service. Membayangkan tangannya mungkin akan kasar jika melakukan semua pekerjaan yang sebenarnya sangat jijik untuk dilakukan.
"Hanya hari ini aku bekerja keras, besok Rudi akan membantu meringankan pekerjaanku." Keenan menunduk menatap ke arah telapak tangannya. "Rasanya membayangkan saat membersihkan meubellair dimulai dari meja, kursi, lemari, membuang sampah, membersihkan lantai termasuk menyapu, mengepel atau vacum karpet lantai, membersihkan kaca-kaca pada pintu, jendela dan juga membersihkan toilet saja sudah hampir membuatku pingsan. Bagaimana harus melakukannya?"
Keenan mengetahui hal-hal yang harus dikerjakannya hari ini karena baru saja dikatakan oleh seorang pekerja yang digantikannya. Seorang pria berusia 30 tahunan yang mengundurkan diri dan harus mengajarinya terlebih dahulu sebelum benar-benar keluar dari perusahaan.
Begitu selesai berpakaian dengan menggunakan seragam berwarna biru muda dan tidak menyembunyikan ketampanannya, ia mulai berjalan keluar dan sudah ditunggu oleh pria yang juga memakai seragam sama sepertinya.
"Apakah kamu sudah siap, Bro? Aku akan menunjukkan semua hal yang harus kamu kerjakan," ucap Adi yang kini masih menatap intens wajah pegawai baru yang dianggapnya sangat tidak pantas menjadi seorang cleaning service.
'Seharusnya pria ini mengikuti casting film saja, pasti akan langsung diterima. Wajahnya terlalu tampan untuk menjadi seorang staf rendahan. Apalagi harus membersihkan toilet setiap hari. Hari ini, para pegawai cleaning service wanita akan bersorak kegirangan saat melihat ada orang baru dengan wajah sangat tampan.'
Keenan refleks langsung mengangkat ibu jarinya ke atas dan menyunggingkan senyumnya. "Aku sudah siap. Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
"Ikut aku," ucap Adi yang kini berjalan keluar dari ruangan ganti menuju ke arah gudang yang merupakan alat penyimpanan semua alat kebersihan. Ia pun mengambil troli khusus alat-alat kebersihan dan memberikannya pada pegawai baru yang dianggapnya sangat tidak cocok untuk menjadi seorang cleaning service.
Keenan hanya melirik sekilas ke arah troli yang penuh dengan alat-alat kebersihan dan membuatnya ingin muntah. Namun, ia yang berusaha untuk menahannya, kini memegangi perutnya dan mengalihkan pandangannya ke belakang.
'Astaga, baru melihatnya saja sudah membuatku muntah, apalagi jika harus membersihkan semua kotoran di perusahaan yang sangat luas ini. Bisa-bisa, pinggangku akan patah dan mungkin langsung masuk rumah sakit karena pingsan.'
Lamunan Keenan buyar seketika begitu mendengar suara bariton dari pria yang ada di hadapannya dan seketika membuat bola matanya membeliak.
"Sekarang kita bersihkan toilet pria dulu. Ingat, hanya membersihkan toilet pria saja, jangan toilet wanita juga kau bersihkan!" seru Adi dengan terkekeh untuk mencairkan suasana penuh keheningan yang terjadi di antara mereka.
"Candaanmu sangat garing karena aku saat ini tidak bisa tertawa," jawab Keenan yang berjalan mengekor di sebelah Adi dengan mendorong jijik troli yang dianggap banyak kumannya tersebut.
Kini, Adi yang menoleh menatap keheranan pada tingkah Keenan, mengerutkan kening. "Lihatlah apa yang sedang kamu lakukan. Mendorong troli saja, kamu seperti tidak niat dan terpaksa. Bagaimana kamu bisa bertahan dengan kerasnya hidup sebagai pejuang kebersihan yang sering dikucilkan di tempat ini."
Begitu tiba di dalam toilet pria yang berada di sebelah kiri toilet wanita, Keenan buru-buru mengajak Adi ke dalam dan memeriksa setiap pintu untuk memastikan tidak ada orang di dalam. "Begini, sepertinya aku tidak bisa berbohong padamu. Ada hal yang harus kamu lakukan untukku "
Keenan kini mendekatkan wajahnya untuk berbisik di dekat daun telinga Adi dan mengungkapkan apa yang diinginkan. "Semua pekerjaanku hari ini, kamu saja yang mengerjakan. Nanti aku akan membayarmu empat kali lipat. Berapa gajimu sehari? Nanti langsung aku transfer uangnya. Berikan saja nomor rekeningmu, akan aku transfer uangnya sekarang."
Dengan memicingkan mata, Adi yang masih sama sekali tidak mengerti dengan apa yang saat ini dimaksud Keenan, hanya bisa menatap penuh keheranan. "Sebenarnya apa maksudmu? Bagaimana mungkin kamu membayarku empat kali lipat, sedangkan kenyataannya baru bekerja di sini hari ini. Memangnya kamu anak Sultan?"
Dengan tertawa terbahak-bahak, Keenan kini terlihat tengah memegangi perutnya. "Memangnya kamu tahu anak Sultan itu yang bagaimana? Kamu cukup kerjakan apa yang aku perintahkan, lalu mendapatkan uang. Tidak perlu bertanya aku anak Sultan atau anak pelayan karena yang penting uang masuk ke rekeningmu sekarang."
Untuk membuat Adi percaya padanya, Keenan meraih ponsel miliknya yang berada di saku celananya. "Sebutkan nomor rekeningmu sekarang!"
Sebenarnya, Adi merasa sangat tertarik dengan tawaran dari pegawai cleaning service yang baru tersebut, meskipun sebenarnya di otaknya saat ini tengah menari-nari banyak pertanyaan mengenai sosok pria di hadapannya.
Namun, ia yang merupakan orang kampung dan berencana kembali setelah resign karena sang ayah sedang sakit dan menyuruhnya untuk pulang mengurus sawah, sama sekali tidak menyimpan uangnya di Bank.
"Aku tidak punya rekening karena menyimpan uang di bawah tumpukan baju. Buat apa harus susah-susah ke Bank saat tiap hari bekerja dan memiliki libur yang sama dengan pegawai Bank. Lagipula, gaji seorang cleaning service tidaklah besar, hanya cukup untuk makan dan sisanya sedikit." Mengulurkan tangannya pada Keenan dan kembali berbicara. "Kasih saja aku uang cash."
"Astaga!" Terlihat Keenan kini memijat pelipisnya karena semakin dibuat pusing dengan jawaban dari Adi. "Dasar bodoh! Kalau aku punya uang cash, tidak mungkin akan mentransfer uang. Dompet dan ATM milikku telah dicopet kemarin. Jadi, aku tidak punya uang cash sekarang."
Kalau beberapa saat yang lalu, suara tawa Keenan yang menggema di ruangan toilet, tetapi sekarang suara dari Adi yang benar-benar tengah terbahak memenuhi area tersebut. Merasa Keenan hanyalah ingin mengerjainya dan merupakan seorang penipu seperti yang dilakukan para oknum tidak bertanggungjawab meresahkan semua orang, ia mulai menepuk bahu kokoh pria di hadapannya.
"Lebih baik cepat bersihkan sekarang karena aku tidak akan membantumu. Setelah aku tunjukkan contohnya, kamu harus membersihkan toilet ini sampai bersih dan wangi." Berjalan membawa troli kebersihan dan mulai melakukan pekerjaannya untuk membersihkan toilet sambil terus mengumpat di dalam hati.
'Dia pasti adalah salah satu anggota penipu yang sering melakukan penipuan untuk menstransfer sejumlah uang dengan modus bermacam-macam dan kali ini modusnya adalah melakukan penipuan pekerjaan agar meringankan tugasnya. Ia tidak capek dan mendapatkan gaji, sedangkan aku tambah capek dan zonk karena hanya mendapatkan janji palsu.'
Sementara itu, Keenan yang saat ini benar-benar sangat kesal karena tidak dipercayai, membuatnya meluapkan amarahnya dengan meninju udara di sekitarnya. "Sial! Sepertinya kau benar-benar menganggapku adalah pembual. Awas saja kau nanti jika kita sampai bertemu di jalan. Kau tidak akan berani menatapku saat melihatku turun dari mobil mewah."
"Apakah kau memiliki pekerjaan tambahan sebagai seorang supir pengganti?" ejek Adi dengan terkekeh geli menanggapi kalimat terakhir perkataan Keenan. "Sekarang kau sudah melihat bagaimana caranya, kan? Sekarang lakukan pekerjaanmu dan jangan banyak berhalusinasi! Aku akan kembali setengah jam lagi dan toilet ini harus bersih dan wangi, juga semua sampah juga harus diangkut."
Tanpa menunggu jawaban dari Keenan, kini Adi keluar dari toilet karena merasa sangat malas untuk berbicara dengan seorang penipu. Jika bukan karena sebuah tanggungjawab dan pesangon, tidak mungkin ia mau bersusah payah untuk mengajari pegawai baru yang ternyata hanyalah seorang penipu.
'Aku harus memberitahu semua pegawai cleaning service wanita di sini, agar tidak tertipu dengan wajahnya yang tampan itu. Biasanya para wanita gampang terperdaya dengan wajah tampan seorang pria yang ternyata hanya suka morotin.' Berjalan menuju ke arah toilet wanita dan menunggu hingga salah satu pegawai cleaning service keluar.
Sementara itu, Keenan yang merasa sangat kesal karena harus membersihkan toilet pria yang beberapa ruangan sangat bau dan membuatnya serasa mau muntah. Dengan menutup hidung, ia mulai memakai sarung tangan dan terpaksa membersihkan toilet. Bahkan ia menuangkan banyak pewangi agar bau yang membuatnya ingin muntah segera hilang. Hingga satu botol sabun dan pewangi kini hanya tersisa sedikit dan tidak dipedulikannya.
"Berengsek si Adi! Bisa-bisanya dia bilang aku sedang berhalusinasi. Seharusnya dia tahu kalau ponselku tadi harganya sangat mahal dan aku benar-benar anak Sultan seperti yang dia katakan. Mobil, apartemen, Mansion, perusahaan, rumah sakit, Mall, semuanya kumiliki. Bahkan dia pun bisa aku beli sekarang juga. Dasar pria kampungan, masa rekening saja dia tidak punya. Memangnya dia hidup di zaman purba, apa!"
Posisi sedang marah dan kesal saat membersihkan toilet, benar-benar membuat peluh membanjiri pelipis Keenan. Bahkan tubuhnya kini mengeluarkan peluh dan membuatnya merasa sangat risi. "Sial! Panas sekali!"
Baru saja Keenan menutup mulutnya, ia mendengar suara dering ponselnya berbunyi dan mulai melepaskan sarung tangan. "Siapa yang menelpon?" Meraih ponsel miliknya yang saat ini ada di saku celananya. Begitu melihat nomor pelayannya yang menghubungi, ia pun kini menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo, Tuan muda. "
"Ada apa kau menghubungiku? Aku saat ini benar-benar sangat sibuk. Cepat katakan ada apa!" rengut Keenan yang merasa sangat kesal pada pelayannya hari ini.
"Sepertinya Anda benar-benar bekerja keras di perusahaan, Tuan muda. Semangat!"
"Semangat kepalamu! Sekali lagi kau berbicara konyol, aku akan membuat kakimu pincang saat pulang nanti," geram Keenan yang kini semakin dibuat emosi oleh perkataan Rudi.
"Maaf, Tuan muda. Saya hanya ingin memastikan kabar Anda baik-baik saja karena saya sangat mengkhawatirkan keadaan Anda saat bekerja menjadi cleaning service."
"Lebih baik kau tidak banyak tanya karena aku sekarang benar-benar sedang kesal. Besok, kau bisa bekerja di sini dan mengerjakan semua pekerjaanku. Aku hari ini benar-benar sangat muak membersihkan toilet."
Tanpa menunggu tanggapan dari Rudi, Keenan kini sudah mematikan sambungan telepon sepihak. Baru saja ia berniat untuk mengembalikan ponsel ke saku celananya, terdengar suara notifikasi dan membuatnya langsung memeriksa. Begitu melihat pesan itu dari Freya, sudut bibirnya melengkung ke atas dan langsung membacanya.
Rudi, bisa memberitahuku nomor telepon Keenan? Rencananya nanti saat makan siang, akan mengajaknya makan bersama di kantin. Tidak mungkin aku mencarinya terlebih dahulu karena akan membuang banyak waktu. Atau kamu katakan saja pada Keenan nanti saat jam istirahat, aku menunggunya di kantin perusahaan. Aku pun ingin memberikannya uang karena temanku sudah memberikan pinjaman.
Begitu membaca pesan dari Freya, perasaan Keenan yang tadinya dipenuhi amarah, seperti langsung dialiri kesejukan yang memadamkan luapan emosinya. Untuk pertama kalinya ia merasa sangat terharu dengan kebaikan hati seorang wanita yang benar-benar sangat tulus padanya.
'Freya ... dia adalah seorang bidadari yang mempunyai hati emas. Meskipun ia saat ini sedang kesusahan dalam hal keuangan, tanpa pikir panjang mau menolongku dengan tulus. Wanita ini benar-benar sangat luar biasa. Dia adalah wanita yang aku cari. Aku sangat yakin bahwa dia bukanlah wanita yang matreliastis dan bisa menjadi seorang istri yang baik. Tanpa harus susah-susah menunggu dan mencari, wanita yang kucari kini sudah ada di hadapanku. Aku harus membuatnya jatuh cinta padaku dan segera melamarnya.'
Kini, Keenan mencari daftar kontak untuk menghubungi orang kepercayaan papanya, agar mencari tahu semua hal mengenai Freya.
"Halo, Om. Aku ingin Om mencari tahu tentang wanita yang bernama Freya. Dia tinggal di depan tempat kosku. Cari tahu semua hal perihal keluarganya dan juga mengenai utang-utang keluarganya. Jika sudah tahu berapa utang keluarganya, aku ingin Om melunasinya tanpa sepengetahuan Freya. Jika perlu, katakan pada orang tua Freya agar merahasiakan semuanya dari putrinya karena aku yang nanti akan mengatakan sendiri padanya."
"Sepertinya hari ini sudah menemukan apa yang Tuan muda Keenan cari. Saya sudah mendengarnya sendiri dari papa Anda tentang penyamaran menjadi orang miskin. Saya akan segera menyuruh orang untuk menyelediki semua hal mengenai orang tua wanita bernama Freya itu."
Keenan yang kini terlihat tengah tersenyum, kembali berbicara untuk mengungkapkan apa yang dipikirkannya.
"Jangan katakan ini pada papa karena aku ingin memberikan sebuah kejutan pada mereka nanti bahwa sekarang telah menemukan calon istri. Setelah aku berhasil mendapatkan hatinya, aku akan membawanya ke Mansion untuk dikenalkan pada papa dan mama. Apakah Om bisa menjaga rahasia ini?"
"Tentu saja, Tuan muda Keenan. Anda tidak perlu khawatir."
"Baiklah, Om. Kalau begitu, aku kerja dulu."
"Baik, Tuan muda. Selamat bekerja menjadi seorang cleaning service yang rajin."
Merasa tersindir dengan perkataan dari orang kepercayaan papanya, Keenan hanya menanggapinya dengan terkekeh karena sudah menganggap pria paruh baya itu seperti papanya sendiri. Berbeda jika orang lain yang mengatakan hal itu, mungkin akan langsung dihabisinya.
Sementara itu, Adi yang baru saja kembali setelah setengah jam berlalu, ingin memeriksa pekerjaan dari pria yang dianggapnya sebagai penipu tersebut. Saat ia melihat sabun dan pewangi sudah hampir habis, langsung menepuk jidatnya.
"Astaga, Keenan! Baru membersihkan toilet satu kali saja kamu sudah menghabiskan satu botol sabun dan pewangi. Apa kamu mau perusahaan ini bangkrut karena ulahmu?"
Keenan kini hanya bersikap sangat datar sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Apa maksudmu bangkrut? Jangan berkata konyol pagi-pagi begini. Aku sudah membersihkan toilet ini sampai bersih dan wangi. Seharusnya kau berterima kasih padaku!"
"Ini baru satu kali membersihkan, tapi kau sudah menghabiskan cairan pembersih. Bagaimana kamu akan membersihkan empat toilet lainnya di perusahaan ini?" ujar Adi dengan berkacak pinggang.
Sementara itu, Keenan yang lagi-lagi membulatkan matanya kini langsung berteriak. "Apa? Empat toilet lainnya? Apa kau gila?"
To be continued...