Satu jam kemudian, terlihat wajah sayu penuh kelelahan dari sosok pria yang baru saja keluar dari toilet pria. Sosok pria yang tidak lain adalah Keenan, merupakan sang tuan muda keluarga Nelson baru saja menyelesaikan membersihkan lima toilet laki-laki dan membuat tubuhnya serasa remuk redam.
Kini, Keenan memegangi pinggangnya yang serasa mau patah dengan berjalan membungkuk seperti kakek-kakek. "Astaga, pinggangku. Jika setiap hari seperti ini, aku benar-benar bisa mati muda. Aku menyerah."
Keenan duduk di lantai dengan meluruskan kakinya, tanpa mempedulikan ada debu di lantai dan membuat celananya kotor. Ingin sekali ia meluruskan pinggangnya di atas ranjang empuk miliknya di Mansion. Pinggangnya serasa mau patah karena tadi asyik membungkuk saat membersihkan toilet dan lantainya.
"Sialan, Adi! Dia tadi malah sibuk mondar-mandir sendiri seperti seorang bos yang mengecek pekerjaan anak buahnya. Padahal dia sama sepertiku, juga seorang cleaning service." Menatap tajam sosok pria yang baru saja diumpatnya. "Apa lagi?"
Adi yang tadi mengancam Keenan agar berhemat dan tidak menghabiskan sabun dan pewangi karena jika sampai pekerjaan pegawai cleaning service yang baru tidak becus, ia tidak akan mendapatkan pesangon. Jadi, ia benar-benar menggembleng pegawai baru yang dianggapnya pemalas itu dengan tegas.
Ia yang baru saja selesai mengecek pekerjaan Keenan di toilet, mengarahkan tangannya untuk memberikan sebuah kode agar pria itu segera bangkit berdiri. "Ayo, jangan pemalas karena masih banyak pekerjaan yang menantimu, Keenan. Menyapu dan mengepel lantai agar perusahaan ini terlihat mengkilat. Cepat bangun!"
Keenan yang masih ingin beristirahat sebentar untuk menghilangkan rasa penat dan bulir peluh yang membanjiri tubuhnya, sama sekali tidak mempedulikan perintah dari pria dengan posisi berdiri menjulang di hadapannya.
"Kau seperti orang Jepang pada zaman penjajahan yang menyuruh orang bekerja rodi. Apakah seorang cleaning service tidak berhak untuk beristirahat? Aku akan menuntutmu jika sampai membuatku tidak bisa berjalan tegak karena pinggangku bengkok setelah kerja rodi. Bukankah seharusnya kau membantuku? Bukan malah berlagak seperti bos yang kerjaannya mengecek pekerjaan anak buahnya!"
Keenan masih meringis menahan rasa pegal pada bagian pinggang dan bahu, hingga ia kini mengarahkan tangannya untuk memijatnya naik turun, berharap bisa mengurangi rasa pegal yang dirasakannya.
"Lebih baik pulang nanti aku menyuruh Rudi untuk memijatku. Seumur hidup, baru kali ini aku mengunakan ototku untuk hal konyol. Biasanya hanya melatih otot di tempat gym."
Baru saja, Keenan selesai mengeluh, ia bisa melihat tatapan beberapa staf perusahaan yang seolah menertawakan keadaannya. Bahkan ada beberapa staf wanita yang juga menatapnya dengan respon seperti sangat jijik.
Ia memang sadar bahwa penampilannya saat ini terlihat sangat berantakan. Rambut basah dengan peluh dan terlihat acak-acakan, semakin melengkapi penampilannya yang sangat kacau sebagai seorang cleaning service.
Adi yang kini terlihat berkacak pinggang, buru-buru membungkuk untuk membantu pria dengan bersandar di dinding tersebut agar segera bangkit berdiri. "Ada jadwal kerja dan istirahat, Keenan. Saat bekerja ya bekerja, saat istirahat ya istirahat. Jangan sampai membuat mata para staf perusahaan di sini semakin kesal pada cleaning service karena tidak becus dalam bekerja. Ayo, cepat jalan!"
Dengan perasaan sangat dongkol karena dipaksa saat benar-benar sangat lelah, Keenan kini kembali mencoba untuk merayu sosok pria yang ingin disuapnya khusus hari ini tersebut. "Tunggu dulu! Aku ingin berbicara denganmu sebentar."
"Keenan!"
Baru saja ia menutup mulut, indra pendengarannya kini menangkap suara sosok wanita yang sangat dihafalnya dan membuatnya menoleh ke belakang. Dilihatnya seorang wanita yang tak lain adalah Freya tengah berjalan ke arahnya dengan melambaikan tangan padanya.
Pemandangan indah itu laksana setetes embun yang menyejukkan hatinya. Seolah rasa lelah yang dirasakan hari ini hilang seketika saat melihat senyuman manis Freya. Wanita yang diyakininya adalah wanita paling tepat untuknya mengarungi bahtera rumah tangga penuh kebahagiaan.
Freya yang tadinya pergi ke toilet, sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Keenan. Ia yang memang ingin mengatakan sesuatu, langsung berjalan mendekati sosok pria yang ingin diketahui nomor teleponnya.
"Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Oh ya, apa Rudi sudah memberitahumu tadi?"
Keenan yang mengerti ke mana arah pembicaraan dari Freya, kini langsung mengangguk perlahan. "Iya, Rudi bilang kalau jam makan siang, kamu menungguku di kantin."
Freya yang merasa tidak puas dengan jawaban dari Keenan, kini melanjutkan pertanyaannya. "Cuma itu?"
Merasa sangat bodoh karena melupakan poin penting, Keenan berniat untuk meluruskan kesalahpahaman. Bahwa ia ingin bilang bahwa nomor itu adalah miliknya, bukan milik Rudi. Hal itulah yang menjadikan ia tadi tidak membalas pesan dari Freya karena berencana ingin menjelaskannya sendiri di kantin.
"Freya, aku ingin membuat sebuah pengakuan dosa." Baru saja Keenan menutup mulut, bahunya ditepuk dari belakang oleh Adi dan membuatnya menoleh. Ingin sekali ia mengarahkan pukulan ke wajah pria itu, tetapi suara Adi, membuatnya tidak berkutik.
"Maaf, Nona. Keenan harus kembali bekerja karena dari tadi pekerjaannya tak juga selesai. Nanti dia malah bisa dipecat di hari pertama karena tidak becus bekerja. Jadi, ngobrolnya nanti saja saat jam istirahat." Adi membungkuk hormat seolah ingin mengungkapkan permohonan maafnya, agar perkataannya tidak menyinggung perasaan wanita cantik di hadapannya tersebut.
Bahkan ia merasa sangat iri pada pegawai baru yang langsung mendapatkan wanita cantik di hari pertama bekerja. Ingin sekali ia bertanya bagaimana bisa Keenan mengenal wanita yang terkenal paling manis dan baik hati tersebut.
Namun, rasa gengsinya terlalu tinggi pada pria yang dianggapnya seorang penipu tersebut. Sempat terlintas di pikirannya untuk menasihati wanita itu agar lebih berhati-hati pada Keenan, tetapi ia merasa terlalu mencampuri urusan orang lain, sementara hari ini adalah hari terakhirnya bekerja.
Freya yang menyadari kebodohannya, kini hanya bisa menyunggingkan senyumnya. "Aah ... kamu memang benar. Maaf mengganggu pekerjaan kalian." Beralih menatap ke arah sosok pria yang ada di hadapannya. "Kita lanjutkan saja nanti di kantin. Kamu yang semangat, ya."
Dengan memberikan sebuah semangat, yaitu mengangkat tangannya ke atas, Freya tersenyum simpul dan beralih mengarahkan tangannya ke arah rambut Keenan untuk merapikan penampilan acak-acakan yang membuatnya sakit mata.
"Rambutmu sangat berantakan, Keenan. Seperti ini baru lebih rapi dan terlihat ganteng." Menyunggingkan senyumnya setelah merapikan rambut Keenan. Kemudian beralih melangkahkan kakinya meninggalkan dua pria berseragam biru tersebut untuk kembali ke ruangan kerjanya.
Sementara itu, Keenan yang masih berdiri mematung sambil memegangi rambutnya yang baru saja dirapikan oleh Freya, tidak berhenti mengukir senyuman karena saat ini hatinya sedang berbunga-bunga.
Entah mengapa hanya mendapatkan perlakuan sepele dari Freya, membuatnya merasa sangat senang. Bahkan ia merasakan seperti kembali pada masa remaja yang sangat menyukai hal-hal kecil.
'Freya baru saja mengusap rambutku? Apa dia mempunyai perasaan padaku? Sepertinya dia memang tertarik padaku. Ya iyalah, wajahku yang sangat tampan ini pasti membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama seperti para wanita yang selama ini mengincar hartaku. Jadi, aku akan dengan mudah mendapatkannya setelah menyatakan perasaanku.'
Baru saja Keenan selesai bergumam sendiri di dalam hati, tepukan cukup kuat kembali mendarat di bahunya.
Dari tadi Adi hanya geleng-geleng kepala melihat sosok pria yang dianggapnya hanya suka berkhayal, tetapi malas bekerja tersebut. Kali ini ia tidak ingin membuang waktu karena masih ada banyak hal yang harus disampaikan pada pegawai baru tersebut.
"Malah melamun gara-gara disentuh sedikit sama wanita cantik. Ayo, cepat kerja dan jangan banyak berhalusinasi bisa mendapatkan wanita cantik di perusahaan ini kalau bekerja saja tidak becus. Jika kamu tidak becus bekerja, mana mungkin akan mendapatkan gaji. Kalau tidak digaji, mana punya uang untuk menyenangkan hati wanita cantik. Ingat, cantik itu butuh modal, jadi kerja yang rajin. Baru bermimpi punya cewek cantik dan seksi."
Puas mengejek, Adi kini langsung memberikan troli kebersihan tersebut. "Ayo, kita lanjutkan pekerjaan hari ini!"
Sebenarnya, ingin sekali Keenan menendang troli berisi semua alat kebersihan itu ke arah pria yang sudah berjalan menjauh tersebut. Namun, ia tidak ingin membuat Freya terkena masalah hanya gara-gara ulahnya. Pada akhirnya, ia memilih untuk berjalan mengekor pria yang baru saja mengejeknya habis-habisan.
Dengan sangat malas, ia mendorong troli kebersihan tersebut sambil mengumpat di dalam hati. 'Setelah aku berhasil mendapatkan Freya, aku akan keluar dari perusahaan ini. Tentu saja nanti aku akan mengangkat Freya sebagai sekretaris pribadiku saat memimpin perusahaan papa. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan saat bekerja dengan kekasih sendiri. Aku sudah tidak sabar untuk menjalani hari-hari penuh dengan sejuta kebahagiaan bersama Freya.'
Suasana hati yang sangat baik, membuat Keenan seolah melupakan semua hal yang membuatnya merasa sangat kesal karena kelelahan membersihkan toilet. Sudut bibirnya melengkung ke atas, memperlihatkan seulas senyuman yang selalu terukir di bibirnya hari ini.
Bahkan ia merasa seperti mendapatkan mood booster setelah bertemu dengan Freya secara tidak sengaja di toilet. Satu-satunya wanita yang dianggapnya sebaik bidadari tersebut selalu memperlakukan dirinya sangat istimewa meskipun mengetahui hanya seorang pegawai rendahan.
Setelah mendapatkan semangat dari Freya, kini Keenan terlihat sangat bersemangat saat melakukan pekerjaan untuk menyapu dan mengepel. Tanpa mengeluh seperti beberapa saat lalu.
Tidak terasa, jam istirahat telah tiba. Tentu saja waktu yang paling dinantikan para pegawai adalah saat jam makan siang dan waktu pulang kantor. Begitu pun dengan yang dirasakan oleh Keenan saat ini, ia yang memang sudah sangat lapar, terlihat tengah memegangi perutnya saat keroncongan.
"Baru kali ini aku seperti orang yang tidak makan seharian, sangat kelaparan. Mungkin karena aku baru saja memforsir tenagaku cukup keras hari ini. Hanya hari ini karena besok, Rudi yang mengambil alih semuanya." Melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku dengan melakukan gerakan seperti pemanasan sebelum berolahraga dengan menekuk leher dan kepalanya, serta meluruskan tangannya.
"Satu jam lagi, kau kembali ke sini untuk melanjutkan pekerjaanmu. Selamat makan," ucap Adi yang kini berjalan meninggalkan Keenan karena ia hari ini sudah dibawakan bekal oleh sang kekasih yang sama-sama bekerja sebagai cleaning service.
"Kamu tidak pergi ke kantin?" teriak Keenan yang tadinya ingin pergi ke sana bersama dengan Adi karena ia tidak tahu di mana letak kantin. Sebenarnya, ia bisa saja bertanya pada pegawai lainnya, tetapi menatap orang-orang yang seperti menghindarinya, seolah ia adalah kuman dan membuat jijik, membuatnya merasa sangat malas.
"Lebih baik aku menghubungi Freya saja untuk bertanya." Mengeluarkan ponsel miliknya dan tanpa pikir panjang, langsung menghubungi satu-satunya wanita yang baik padanya dan menganggapnya manusia.
Begitu sambungan telepon tersambung, ia bisa mendengar suara merdu Freya yang memanggil namanya dan seketika membuatnya menepuk jidat.
"Iya, Rudi. Ada apa?"
Refleks ia langsung mematikan sambungan telepon karena tidak ingin membuat Freya marah karena menipunya. "Lebih baik aku berbicara sendiri di kantin untuk membuat sebuah pengakuan dosa karena telah menipunya."
Ia berniat untuk mengetik pesan, tetapi melihat beberapa staf perusahaan yang berjalan menuju ke arah lift dan membuatnya berpikir bahwa orang-orang pasti sedang menuju ke kantin untuk makan siang, sehingga kini mulai berjalan mengikuti orang-orang tersebut.
Tentu saja saat ia masuk ke dalam lift, bisa melihat tatapan para staf perusahaan yang seperti biasanya. Tanpa mempedulikan hal itu, ia berdiri di barisan paling depan dan melihat salah satu staf perusahaan memencet tombol dua dan membuatnya menebak bahwa kantin ada di sana.
Tidak perlu menunggu waktu lama, bunyi denting lift berbunyi dan ia langsung keluar dari pintu besi tersebut dan diikuti oleh beberapa orang di belakangnya. Ia berpura-pura untuk berjalan lambat, padahal ingin mengikuti para staf perusahaan dan usahanya berhasil.
Kini, Kenan sudah sampai di kantin dan bisa melihat sosok wanita yang berdiri di depan dan langsung melambaikan tangan padanya. Bahkan memanggil namanya, seolah tidak merasa malu sama sekali berteman dengan pegawai rendahan sepertinya.
"Ke sini, Keenan." Freya dari tadi memang sengaja tidak masuk ke kantin lebih dulu karena khawatir pria yang baru dikenalnya itu akan kesusahan mencarinya di antara banyak staf lainnya. Apalagi ia tahu bahwa Keenan belum mempunyai teman di perusahaan, sehingga membuatnya merasa kasihan dan tidak tega.
Senyuman mengembang terukir di bibir Keenan saat sedikit berlari kecil untuk segera menghampiri Freya. "Terima kasih karena sudah menungguku, Freya. Aku benar-benar sangat lapar setelah bekerja keras hari ini." Mengusap perut di balik seragam cleaning service.
"Aku tahu pasti kamu sangat lapar. Kamu bisa makan sepuasnya hari ini, aku yang traktir deh. Anggap saja ini penyambutan untukmu sebagai orang baru di perusahaan ini. Ayo, kita masuk."
Freya mengarahkan dagunya ke arah kantin dan berjalan sambil mencari bangku kosong sebagai tempatnya menikmati makanannya. Ia pun menunjuk ke arah kursi di sudut ruangan yang kosong. "Lebih baik kau duduk di sana, nanti keburu ada yang nempatin. Biar aku yang mengambil makanan. Oh ya, kamu mau makan apa?"
"Sama persis denganmu saja," jawab Keenan tanpa pikir panjang dan langsung berjalan cepat ke arah kursi yang ditunjuk oleh Freya. Ia pun langsung mendaratkan tubuhnya di kursi kayu sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin.
Tentu saja ia bisa melihat ritual makan siang para staf perusahaan yang pertama kali dilihatnya karena biasanya tidak pernah satu kali pun menginjakkan kaki di kantin, apalagi makan siang berbaur dengan para staf perusahaan.
"Bersiaplah, Keenan. Kamu harus jujur pada Freya bahwa nomor itu bukan nomor Rudi." Dengan perasaan yang berdebar-debar karena takut Freya akan marah padanya, Keenan menata hati, agar tidak terlihat gugup. Begitu melihat Freya kembali dengan membawa nampan berisi makan siang, ia menelan kasar salivanya.
Freya kini menaruh piring berisi makanan ke hadapan Keenan. "Semoga kamu suka dengan menu yang aku ambilkan. Selamat makan." Mendaratkan tubuhnya di hadapan pria yang terlihat sedang menatapnya intens dan membuatnya mengerutkan kening. "Kenapa kamu memandangku seperti itu?"
"Freya, aku ingin membuat sebuah pengakuan dosa."
To be continued...