Jujur

1068 Words
Freya yang kini baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di kantin, kini terkekeh geli menanggapi kalimat terakhir dari pria dengan wajah penuh keseriusan di hadapannya. "Lihatlah wajahmu itu, Keenan. Sangat lucu, apalagi saat kamu bilang ingin melakukan pengakuan dosa. Memangnya aku Tuhan, hingga kamu ingin mengatakan semua dosamu padaku. Cepat dimakan makanannya karena sebentar lagi jam istirahat akan selesai. Jadi, manfaatkan waktu sebaik mungkin." Sementara itu, Keenan yang refleks langsung menggelengkan kepala, tanda tidak menyetujui perkataan dari sosok wanita yang kini mulai mengambil satu sendok makanan dan menyuapkan ke dalam mulut, lalu mengunyahnya, mulai menjelaskan semua yang disembunyikan. "Tidak, aku tetap harus menjelaskan semuanya karena ini sangat mengganjal di pikiranku. Kamu tetap nikmati saja makanannya dan dengarkan aku." Dengan posisi tangan yang masih sibuk mengambil makanan dan menikmati makanannya, kini Freya hanya menganggukkan kepala, menyatakan bahwa ia setuju dan akan menuruti perkataan dari pria yang baru dikenalnya tersebut. Namun, sebelum itu ia menoleh ke kiri dan ke kanan saat merasa ada banyak mata yang menatapnya dan membuatnya geleng-geleng kepala. 'Sepertinya semua orang sedang membicarakan kami. Cuekin aja, daripada pusing memikirkan omongan orang,' gumam Freya yang kini bisa mendengar suara bariton Keenan. Masih dengan iris tajam yang mengunci tatapan sosok wanita yang duduk di hadapannya, kini Keenan mulai mengungkapkan kebohongannya. "Freya, kenapa aku tadi tidak memberikan nomor teleponku padamu karena kamu sudah memilikinya. Selama ini, kamu bukan mengirim pesan pada Rudi, tetapi padaku. Maafkan aku jika menipumu. Kamu mau memaafkan aku, kan?" Tentu saja Freya yang sama sekali tidak pernah menyangka jika yang selama ini dihubunginya adalah Keenan, merasa sangat kesal karena telah dibohongi. Namun, belum sempat ia membuka mulut untuk berkomentar, ada beberapa wanita yang menghampiri mejanya dengan menyilangkan kedua tangan dan membuat pandangannya beralih. "Freya, jadi ini pacarmu? Astaga, kamu tidak salah memilih kekasih seorang cleaning service? Pegawai rendahan yang hanya akan membuat hidupmu sengsara. Ganteng sih ganteng, tapi kalau cuma bikin hidup tambah sengsara, aku mah ogah!" seru wanita dengan nama Ani tersebut. Perkataan Ani dibenarkan oleh beberapa wanita yang berdiri di sebelahnya. Bahkan mereka pun tertawa terbahak-bahak menanggapinya. "Awas Freya, nanti kamu semakin miskin jika bergaul dengan pegawai rendahan sepertinya. Seharusnya kamu mencari gebetan salah satu staf di perusahaan ini, tapi nggak juga cleaning service, kali!" Sebenarnya, selama ini Freya mengetahui bahwa beberapa wanita yang ada di hadapannya tersebut sangat tidak menyukainya. Meskipun ia merasa sangat heran kenapa mereka seolah sangat membencinya dan merasa apapun yang dilakukan selalu salah. Namun, dari dulu ia sama sekali tidak pernah mau mengambil pusing akan hal itu karena hanya ingin fokus bekerja tanpa melihat kanan kiri, yaitu beberapa orang yang tidak menyukainya tersebut. Refleks ia bangkit dari kursi dan mengibaskan tangan ke arah beberapa wanita yang baru saja datang tersebut. "Lebih baik kalian semua segera memesan makanan sebelum jam istirahat habis. Untuk masalah aku mau berteman atau memiliki kekasih seperti apa, itu bukan urusan urusan kalian. Cepat sana pergi! Aku sedang berbicara penting dengan kekasihku!" Mengibaskan tangannya pada para wanita yang dianggapnya terlalu banyak mencampuri urusan pribadinya. "Memang sangat cocok pasangan yang sama-sama miskin ini. Ayo, kita pergi, kawan-kawan. Niat baik kita malah dianggap sampah. Lebih baik kita tinggalkan pasangan serasi ini," sarkas Ani yang merasa sangat dongkol saat melihat wajah sinis Freya. Ia memang dari dulu tidak menyukai wanita yang telah merebut posisinya. Dahulu, ia berpikir akan naik jabatan dan mengincar bagian administrasi perusahaan. Namun, tiba-tiba Freya datang dan langsung ditempatkan di bagian yang diincarnya, sedangkan ia masih menjadi staf pemasaran yang dianggapnya sangat membosankan. Semenjak saat itu, ia sangat membenci wanita yang diketahuinya hanyalah orang miskin dan berasal dari kampung tersebut. Di sisi lain, Keenan yang dari tadi hanya diam mengamati interaksi dari para wanita yang dianggapnya sangat memuakkan, kecuali Freya, semakin bertambah besar keyakinannya untuk memperistrinya. Apalagi saat mendengar Freya yang tadi menyebutnya kekasih. 'Freya tadi menyebutku kekasih. Sepertinya dia benar-benar ada rasa padaku. Aku yakin kalau dia tidak mempunyai kekasih dan aku akan dengan mudah mendapatkannya. Setelah satu bulan proses penjajakan untuk mengenalnya, akan langsung melamarnya dan mengatakan bahwa sebenarnya aku adalah pewaris utama keluarga Nelson yang merupakan salah satu konglomerat di Jakarta.' Lamunan Keenan buyar seketika saat mendengar suara Freya yang mulai berkomentar mengenai pengakuan dosa yang dikatakan beberapa saat lalu. "Lain kali jangan membohongiku lagi, Keenan karena aku sama sekali tidak menyukainya. Di Dunia ini, ada dua hal yang paling aku benci. Satu, orang yang suka berbohong dan kedua adalah orang yang suka merendahkan orang lain, seperti mereka!" ucap Freya yang kini menunjuk ke arah beberapa wanita dengan kalimat pedas beberapa saat lalu. Tidak hanya itu saja, ia mengambil uang dari saku roknya dan langsung menyerahkan pada Keenan. "Ini untuk pegangan kamu dan Rudi. Memang tidak banyak, tetapi cukup-lah untuk kebutuhan kalian berdua selama satu bulan. Kamu dan Rudi harus irit, agar tidak kebingungan di akhir bulan." Di sepanjang hidupnya yang tidak pernah merasa kekurangan uang, Keenan kini tidak berkedip melihat lembaran uang yang ada di telapak tangannya. Nominal uang yang sama dengan sekali jajan saat berada di luar negeri dan harus menggunakannya selama satu bulan untuk kebutuhan sehari-hari, membuatnya merasa tidak yakin bisa. Namun, ia kini sudah berakting dengan sangat baik di hadapan sosok wanita yang sudah kembali melanjutkan ritual makan siangnya. "Terima kasih, Freya. Tentu saja aku akan menghematnya sampai mendapatkan gaji pertama di sini. Oh ya, ngomongin masalah yang tadi, kamu benar-benar sudah memaafkanku, kan?" "Iya ... iya, aku maafkan. Asalkan kamu tidak membohongiku lagi, ingat itu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika berbohong di belakangku lagi. Jadi, lebih baik kamu katakan semua kebohonganmu sekarang daripada aku tidak akan pernah mau berteman denganmu lagi." Freya yang tadinya menunduk menatap makanannya, kini beralih menatap ke arah wajah dengan rahang tegas yang diakuinya memiliki wajah tampan seperti perkataan para wanita yang tadi mengejeknya. "Tidak ada lagi kebohongan yang kamu lakukan, bukan?" Beberapa saat yang lalu, perasaan Keenan sangat lega mendengar jawaban dari wanita di hadapannya. Namun, baru saja ia menghela napas lega, kalimat terakhir yang seolah seperti sebuah tamparan keras untuknya, benar-benar membuat tidak berdaya dan juga kebingungan. 'Apakah aku harus sekalian jujur padanya saja? Bahwa aku sebenarnya menyamar untuk mencari seorang wanita sebaik dia? Daripada nanti dia membenci dan tidak mau memaafkan aku, lebih baik aku mengatakan semuanya hari ini padanya dan langsung melamar wanita sebaik bidadari ini,' gumam Keenan yang kini berdehem sejenak untuk menormalkan perasaannya. Setelah berdehem beberapa saat, kini Keenan mulai menatap intens wajah cantik Freya dan mengeluarkan suara. "Freya, sebenarnya aku ...." To be continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD