Keenan tidak bisa melanjutkan perkataannya saat mendengar suara bariton dari seorang pria yang berjalan mendekat dengan memanggil nama Freya dan tentu membuat ia merasa sangat kesal karena menggagalkan rencananya untuk mengakui semuanya.
Bahwa ia adalah seorang pewaris tahta dari keluarga Nelson yang menjadi salah satu konglomerat di Jakarta karena memiliki aset kekayaan yang sangat fantastis.
"Freya, dipanggil bu Lani sekarang. Cepat pergi sana! Sebelum mak lampir mengeluarkan racun berbisa dari perkataannya," ucap Ari Sanusi yang tadi mendapatkan sebuah ultimatum agar segera memanggil Freya ke ruangan.
Dengan buru-buru bangkit berdiri dari kursi, Freya yang tidak ingin membuat wanita dengan julukan mak lampir karena sangat cerewet itu, refleks menoleh ke arah Keenan. "Aku pergi dulu. Kamu habiskan makanannya karena sudah kubayar tadi."
Tanpa menunggu jawaban dari Keenan, Freya sudah menganggukkan kepala pada pria yang memanggilnya. "Terima kasih. Kira-kira ada apa bu Lani memanggilku, ya?"
Pria yang tidak lain adalah Ari Sanusi, tadinya berjalan bersebelahan dengan Freya. Niatnya adalah balik lagi ke lantai tiga untuk melanjutkan makan yang merupakan bekal makan siang buatan sang istri. Namun, tiba-tiba bahunya ditepuk dari belakang dan seketika membuatnya menoleh.
"Keenan? Ada apa?"
Freya pun ikut menoleh ke belakang dan mengerutkan kening saat melihat Keenan sudah ada di sana. "Keenan? Kenapa? Apa ada hal yang ingin kamu bicarakan dengan Ari?"
Sebenarnya, begitu mendengar nama wanita yang dianggapnya sangat menjijikkan itu dari Ari, tentu saja membuat Keenan langsung memikirkan keadaan Freya. Ia berpikir bisa saja Freya terkena imbas dari perbuatannya, hingga saat ini langsung muncul ide di kepalanya.
"Iya, Freya. Kamu pergi saja temui wanita itu. Aku ada perlu dengan Ari sebentar." Menunggu jawaban dari wanita yang ada di hadapannya, berharap tidak ada kecurigaan dari Freya.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu." Freya melambaikan tangannya saat berjalan keluar dari kantin karena tidak ingin berlama-lama di sana hingga membuat wanita yang memanggilnya menunggu. Meskipun sebenarnya di pikirannya kini terlintas banyak pertanyaan yang menari-nari di otaknya.
Hal yang sama kini tampak jelas dari wajah Ari saat bertanya-tanya kenapa Keenan mengehentikan langkahnya. "Cepat katakan! Aku mau melanjutkan makanku karena tadi asyik-asyik makan bekal sambil telepon istriku, malah disuruh mak lampir."
Keenan yang memang tidak ingin berlama-lama karena juga belum sempat makan tadi, tanpa membuang waktu, terlihat mengambil ponsel miliknya. "Cepat katakan nomor ponsel wanita itu! Aku pun juga belum makan, jadi katakan sekarang."
Saat tidak memahami perkataan bernada ambigu Keenan, kini Ari hanya memicingkan mata. "Maksudmu nomor siapa? Freya?"
Sebuah gelengan kepala menjadi jawaban yang menegaskan bahwa tebakan Ari salah. "Buat apa aku meminta nomor wanita yang sudah ada di sini. Bu Lani ... maksudku mak Erot itu."
Tentu saja kalimat terakhir dari Keenan berhasil membuat Ari tertawa terbahak-bahak hingga memegangi perutnya. "Astaga, apa kamu bilang? Kamu memanggil bu Lani dengan sebutan mak Erot? Jika sampai dia mendengarnya, hari ini kamu benar-benar akan dipecat di hari pertamamu bekerja."
"Itu tidak akan pernah terjadi. Astaga, cepat berikan nomornya. Ada hal sangat penting yang harus kusampaikan padanya." Baru saja Keenan menutup mulutnya, tiba-tiba ponselnya direbut oleh Ari dan terlihat pria itu sedang mengamati benda pipih itu, seolah ingin memastikan keasliannya.
Tidak ingin membuat pria itu merasa curiga padanya, refleks ia langsung mengeluarkan suara baritonnya. "Tidak perlu diamati dengan saksama karena itu palsu!"
Seolah merasa ragu, Ari kini berniat untuk semakin memperhatikan i-phone yang diketahuinya sangat mahal dan tidak mungkin bisa dibeli oleh seorang pegawai cleaning service. "Sepertinya ini barang KW karena aku saja tidak mampu membelinya meskipun sudah bekerja di sini bertahun-tahun. Apalagi anak baru sepertimu yang bekerja sebagai cleaning service dengan gaji separo dariku."
Terlihat Keenan langsung mengarahkan dua jempolnya dan tersenyum simpul untuk menyembunyikan hal yang sebenarnya. "Kau memang benar. Tidak mungkin aku bisa membelinya. Cepat berikan nomornya!"
Ari yang bisa melihat tatapan beberapa wanita tengah menatap interaksinya dengan Keenan, langsung menyunggingkan senyumnya sambil melambaikan tangan. Bahkan perbuatannya persis seperti seorang artis papan atas yang tengah memberikan salam pada para fansnya.
"Sepertinya mereka sangat mengagumi ketampananku." Meraih ponsel miliknya dan membuka benda android di tangannya untuk mencari nomor wanita yang terkenal sangat cerewet tersebut. Kemudian langsung menyebutkan nomornya satu persatu.
Begitu mengetik nomor itu pada ponselnya, Keenan langsung menekan tombol panggil dan menepuk bahu kokoh Ari. "Terima kasih. Besok aku traktir di kantin."
Berjalan kembali ke kursi sambil mendengar suara wanita yang sebenarnya membuatnya malas untuk berinteraksi. Namun, ia terpaksa melakukannya demi menyelamatkan Freya, agar tidak menjadi sasaran kemurkaan dari wanita bernama Lani tersebut. Begitu mendengar suara dari seberang, Keenan langsung menyahut.
"Hey, Mak Erot! Jika kau sampai berani macam-macam pada Freya, hari ini tamat riwayatmu! Aku tidak pernah main-main dengan apa yang kukatakan!" Memutuskan sambungan telepon tanpa berniat untuk mendengar suara wanita yang dianggapnya sebagai ratu kelamin tersebut.
"Awas saja jika sampai dia memarahi ataupun mempersulit Freya. Aku benar-benar akan menghabisinya dengan cara menelanjanginya di depan para awak media bahwa dia adalah seorang w************n yang mengincar kepuasan seks."
Berbagai macam jenis pertanyaan kini memenuhi otaknya mengenai wanita itu. Namun, ia tidak mempedulikannya karena saat ini perutnya sudah keroncongan dan cacing-cacing di dalam sudah memanggil.
"Sial! Makananku sudah dingin."
Meskipun sebenarnya ia tidak berselera, tetapi tetap menikmatinya karena sadar jika tidak makan, mungkin hari ini akan pingsan dan berakhir di rumah sakit karena kelaparan. Apalagi harus kembali bekerja karena tidak ada Rudi yang menggantikan pekerjaannya.
Keenan sudah menikmati makanannya dan mengunyahnya perlahan. Tentu saja meskipun ia sedang kelaparan, cara makannya sangat berbeda dengan para staf laki-laki yang lain. Terbiasa makan dengan cara yang elegan, tentu saja tidak bisa menyembunyikan aura luar biasa dari pesonanya. Ia makan sambil memeriksa pesan yang masuk pada i-phone miliknya.
Tanpa Keenan sadari, ada banyak pasang mata yang mengawasinya. Khususnya mata para wanita yang terlihat mengerjapkan mata karena seolah tidak percaya dengan hal sepele, tetapi membuat mereka kagum. Namun, hanya diam tanpa mengungkapkan kekaguman pada pesona seorang cleaning service karena gengsi yang terlalu tinggi.
Merasa tenaganya telah kembali setelah menghabiskan satu piring nasi yang tadi diambilkan oleh Freya, Keenan bangkit berdiri dari kursi dan berniat untuk kembali ke ruangan yang merupakan tempat istirahat untuk para cleaning service. Di saat bersamaan, suara dering ponselnya berbunyi dan tanpa membuang waktu langsung mengangkatnya.
"Iya, Om."
"Tuan muda, saya sudah mengetahui latar belakang keluarga nona Freya Zhafira yang lahir dari pasangan suami istri bernama Beni Setiawan dan Rini Sukmawati di daerah Jawa Timur tepatnya kota Kediri yang terkenal dengan makanan khas Tahu kuning dan getuk pisang."
Mendengar cerita konyol pada kalimat terakhir dari orang kepercayaan papanya, refleks membuatnya terkekeh. "Astaga, Om. Kenapa malah membahas makanan, sih! Apa itu penting? Bagaimana soal utang-utang keluarga Freya?"
"Saya menyebut makanan itu karena jadi ingat dulu pernah dibawakan oleh papa Anda saat kembali dari sana. Dulu saat Anda masih kecil, papa Anda pernah di sana selama beberapa bulan untuk membuka anak cabang perusahaan. Namun, ada masalah yang saya tidak tahu penyebabnya, membuat perusahaan anak cabang ditutup. Tadi, saya langsung melunasi semua utang-utang mereka sebesar seratus juta. Bahkan saya telah menyuruh orang untuk mengancam pria tua yang mengincar nona Freya untuk dijadikan istri muda dan tidak mungkin berani macam-macam lagi."
Keenan kini terdiam beberapa saat ketika mendengar cerita dari orang kepercayaan papanya. Samar-samar ia mengingat masa kecilnya yang dulu sering ditinggal oleh papanya yang bekerja di luar kota dan pulang sebulan sekali.
"Sekarang aku ingat, Om. Papa memang pernah bekerja di luar kota saat aku masih kecil dan samar-samar aku masih mengingatnya. Oh ya, Om ingat kan kata-kataku? Rahasiakan semua ini dari papa karena ini adalah sebuah kejutan. Rasanya aku ingin menghajar pria tua itu untuk memberikan sebuah pelajaran. Lihat saja nanti saat aku pergi ke kampung halaman Freya, akan kuberikan pelajaran pada bandot tua itu."
Keenan yang sudah berada di ruangan istirahat, kini duduk di kursi sambil mengepalkan kedua tangannya karena merasa sangat marah saat membayangkan Freya hampir saja menikah dengan bandot tua yang hobi kawin.
"Baik, Tuan muda. Tentu saja saya masih mengingatnya. Anda bisa menghajarnya nanti saat pergi ke Kediri. Apa ada lagi yang harus saya lakukan, Tuan muda?"
Refleks Keenan langsung menggelengkan kepala dan menepuk jidatnya karena menyadari bahwa pria paruh baya di balik telepon itu tidak akan melihatnya. "Tidak ada, Om. Untuk sementara cukup. Terima kasih dan jika nanti ada hal yang ingin aku tanyakan lagi, tinggal menghubungi, Om. Kalau begitu aku tutup teleponnya."
Begitu mematikan sambungan telepon, kini Keenan terdiam dan memikirkan sebuah kebetulan yang terjadi bahwa saat ia masih kecil, ternyata sang ayah pernah hidup di kota asal kelahiran Freya.
"Kebetulan sekali. Apakah aku dan Freya berjodoh karena papa pernah tinggal di kampung halaman wanita yang ingin kunikahi."
Baru saja Keenan menutup mulut, indra pendengarannya menangkap suara dari seorang wanita yang sangat dihafalnya dan begitu ia menoleh, dilihatnya Freya tengah berdiri di depan pintu dengan menatapnya sangat tajam.
"Freya?"
"Keenan! Sebenarnya apa yang kamu lakukan pada bu Lani?" tanya Freya yang kini tengah berkacak pinggang dan mengarahkan tatapan tajam penuh selidik pada pria yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sementara itu, Keenan yang kini tengah menelan kasar salivanya, berdegup kencang jantungnya saat memikirkan kemungkinan buruk yang dilakukan oleh wanita yang dipanggilnya mak Erot.
'Sialan! Apa Mak Erot tadi menceritakan ancamanku padanya. Tunggu pembalasanku, mak Erot!' umpat Keenan yang kini terlihat mengepalkan kedua tangannya saat dikuasai oleh amarah.
To be continued...