Beberapa saat yang lalu, Freya berjalan keluar dari kantin dengan beragam pertanyaan yang menari-nari di otaknya. Lima menit kemudian, kini ia sudah berada di ruangan sosok wanita dengan pandangan fokus ke laptop dan mulai menanyakan hal yang ada di kepalanya.
"Iya, Bu Lani. Anda memanggil saya?" Freya menatap intens sosok wanita dewasa yang diketahui lebih tua darinya tersebut dan sangat ia hormati.
Tanpa mengalihkan pandangannya, kini wanita yang masih duduk di kursi kerjanya, mengarahkan tangan ke depan. "Duduklah. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Tanpa membuang waktu, kini Freya mendaratkan tubuhnya di atas kursi yang berada di hadapan wanita dengan paras sangat cantik tersebut. Tentu saja ia merasa deg-degan karena takut jika Keenan yang dianggapnya selalu berbuat seenaknya itu menyulut api amarah dari wanita yang seolah enggan menatapnya.
'Sebenarnya apa yang diperbuat Keenan hari ini? Aku benar-benar akan menjitak kepalanya jika sampai dia berbuat macam-macam,' umpat Freya yang kini menunggu dengan harap-harap cemas.
Lani yang baru saja ingin membuka mulut, kini mengerutkan kening saat mendengar ponselnya berbunyi dan begitu melihat nomor asing yang menghubungi, ia semakin dibuat penasaran. Tanpa membuang waktu, langsung menggeser tombol hijau ke atas dan bisa didengarnya suara bariton penuh kemurkaan dari seberang.
Suara sosok pria yang tentu saja masih sangat dihafal dan membuatnya semakin merasa penasaran, kembali mengancamnya dan tidak memberi kesempatan untuk membuka mulut karena sambungan telepon sudah terputus.
'Pria ini sangat berani dan membuatku semakin penasaran saja,' lirih Lani yang kini mengalihkan perhatiannya pada sosok wanita yang ada di hadapannya.
Alasan ia memanggil Freya datang ke ruangannya adalah untuk mengorek informasi mengenai sosok pria yang berani mengancam dan menolaknya.
Sebenarnya, ia tadi merasa sangat terpesona pada wajah tampan pria yang membuatnya langsung jatuh cinta dan refleks tanpa pikir panjang, memberikan sebuah tawaran. Ia berpikir ingin memiliki seorang kekasih tampan dan body proporsional seperti pria yang hanya bekerja sebagai cleaning service tersebut.
Tentu saja ia tidak ingin malu dan ingin membuat pria itu seperti simpanannya. Seperti yang dilakukan beberapa teman-teman sosialitanya, yaitu memiliki simpanan seorang berondong nan tampan.
Niatnya adalah ingin memamerkan pada teman-temannya yang selalu berselingkuh dari sang suami karena kebanyakan ditinggal dinas ke luar kota. Sementara ia sendiri belum menikah karena tidak ingin terikat hanya dengan satu pria karena merasa belum menemukan pria yang cocok dan pas di hati.
Lani kembali menaruh ponselnya di atas meja dan beralih menatap ke arah Freya. "Aku ingin bertanya padamu mengenai Keenan Wijaya yang kamu rekomendasikan sebagai cleaning service."
Merasa pertanyaan dari sosok wanita di hadapannya sangat aneh, kini Freya mulai menganggukkan kepala karena sudah tidak sabar untuk mengetahui maksud kalimat ambigu tersebut.
"Iya, Bu Lani. Memangnya Anda ingin bertanya tentang apa? Apakah hari ini Keenan telah melakukan kesalahan dalam bekerja?"
Kini, Lani refleks menggelengkan kepala untuk berakting sangat meyakinkan. "Sama sekali tidak. Dia tidak melakukan kesalahan. Aku hanya merasa penasaran padanya. Keenan bukan kekasihmu, kan? Memangnya kamu bertemu dia di mana? Apakah kamu sudah lama mengenalnya?"
Ada sedikit kelegaan dari embusan napas Freya begitu mendengar penjelasan dari wanita yang ada di hadapannya tersebut. Tanpa membuang waktu, ia mulai menjelaskan tentang pertemuan tidak sengajanya dengan Keenan tanpa ada yang ditutupi.
"Jadi, seperti itu, Bu Lani. Kasihan, mereka berdua sedang mengalami musibah," ujar Freya yang berharap wanita di hadapannya berbelas kasih.
Mengerti dengan penjelasan dari Freya, kini Lani mengibaskan tangannya. Ia bisa mencium ada sesuatu yang disembunyikan oleh pria dengan paras rupawan yang membuatnya merasa sangat penasaran ingin mengetahui rahasia besar yang mungkin tersembunyi.
"Baiklah, terima kasih. Sekarang kamu boleh pergi. Aku hanya ingin memastikan bahwa semua pegawai di sini adalah orang yang baik dan bukan penjahat. Itu saja."
Refleks Freya menganggukkan kepala dan beranjak dari tempatnya sambil berpamitan sebelum keluar dari ruangan tersebut. Kaki jenjangnya kini melangkah keluar melewati pintu. Tentu saja ia bukanlah orang bodoh yang bisa ditipu seperti anak kecil dengan alasan tidak masuk akal dari wanita bernama Lani tersebut.
Hal yang terpikirkan olehnya saat ini adalah ingin menanyakan langsung pada Keenan. Ia yakin bahwa pria itu pasti membuat kesalahan, hingga Lani sampai bertanya padanya. Kakinya melangkah masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai dua, yaitu ruangan para cleaning service beristirahat dan menyimpan barang-barang. Tentu saja ia langsung berteriak menyerukan nama pria yang terlihat sedang duduk di kursi.
Beberapa saat yang lalu, Keenan yang baru saja selesai mengumpat wanita yang dipanggilnya mak Erot di dalam hati, kini berjalan mendekati sosok wanita yang masih menatapnya sangat tajam, seolah ingin memangsanya hidup-hidup.
Tentu saja berbagai macam pertanyaan kini menari-nari di otaknya saat ini. Bukan karena ia takut pada wanita yang disebutnya mak Erot, tetapi karena khawatir Freya akan membencinya saat mengetahui bahwa tadi mengeluarkan ancaman.
Dengan berpura-pura bersikap seperti orang yang bodoh, kini Keenan menatap intens netra kecoklatan di hadapannya. "Ada apa, Freya? Bukankah sebentar lagi jam istirahat selesai? Kenapa ke sini? Memangnya apa yang dikatakan oleh bu Lani tadi saat memanggilmu?"
Sekilas, Freya melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Ia memastikan tidak akan terlambat saat kembali ke ruangannya. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan tadi saat berada di ruangan bu Lani? Apa kamu menggodanya karena dia sangat cantik? Kenapa dia menanyakan semua hal tentangmu padaku? Bukankah ini sangat aneh?"
Kekhawatiran yang tadi sempat membuncah di benak Keenan seketika menghilang. Bahkan embusan napas lega kini seolah mewakili perasaannya.
'Sepertinya mak Erot benar-benar takut padaku dan tidak jadi mempersulit Freya. Syukurlah. Dia memilih mencari aman tanpa mengusik ketenanganku,' lirih Keenan yang kini berakting tertawa terbahak-bahak dalam menanggapi perkataan Freya.
"Astaga, Freya ... Freya! Apa kamu pikir aku adalah seorang pria murahan yang menggoda para wanita? Meskipun miskin, aku masih punya harga diri. Asal kamu tahu saja, selama ini, aku tidak pernah mengejar para wanita. Tanpa kukejar saja, mereka sudah mengekorku seperti bebek dan membuat aku risi. Mungkin bu Lani menjadi salah satu bebek itu saat terpesona dengan wajah tampanku ini."
Keenan kini mengulas senyuman dengan posisi jari membentuk huruf V yang berada di bawah dagu sambil mengerlingkan mata. "Bukankah aku sudah terlihat seperti seorang aktor film?"
Melihat sikap lebay Keenan, refleks membuat Freya gantian terbahak sambil mengarahkan pukulan pada lengan kekar di balik kemeja berwarna biru tersebut. Mendengar perkataan dan melihat tingkah lebay Keenan, tentu saja berhasil mengocok perutnya. Puas tertawa dengan memegangi perutnya yang datar, ia kini mulai menanggapi.
"Astaga, Keenan. Kamu menyebut para wanita bebek. Kalau para wanita yang mengejarmu bebek, lalu kau apa? Itik? Wajah jelek begini dibilang tampan. Tampan dari Hongkong? Sudahlah, berbicara denganmu hanya membuatku tambah sakit perut. Aku pergi!"
Keenan yang dari tadi merasa terpesona pada wajah Freya yang tertawa lepas, masih tidak berkedip menatapnya. Kini, ia bisa melihat saat wanita itu berbalik badan dan berjalan menjauh sambil melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.
Lama-kelamaan, siluet sosok wanita yang berhasil membuat hatinya bergetar saat ini mulai menghilang di balik dinding. Wanita yang berhasil membuat sudut bibirnya melengkung ke atas dan seolah memusnahkan sikap dinginnya pada para wanita. Semenjak kejadian beberapa tahun silam, ia bahkan belum pernah sekalipun bisa tertawa lepas seperti hari ini.
"Senyuman Freya seperti berhasil membuatku mengobati luka ini." Mengarahkan tangannya pada dadanya. "Sepertinya, perbuatan Freya berhasil menembus tepat di jantungku. Wanita sederhana yang sangat baik hati itu memang sangat pantas menjadi calon istri Keenan Ivander Nelson."
Keenan yang merasa sangat yakin dengan pilihannya, kini membulatkan tekad kuat untuk mencuri hati wanita yang tidak mengutamakan harta seperti para wanita yang sering ditemuinya selama ini. Merasa sangat yakin bahwa hidupnya akan berbahagia jika mempunyai seorang istri seperti Freya.
Sementara itu, di ruangan kerja wanita yang tak lain adalah Lani, kini masih sibuk mengamati CV sosok pria yang membuatnya sangat terobsesi. Terlihat ia sedang memegang pulpen di tangan kanan dan mengetuk-ngetuknya ke arah meja.
"Pasti dia bukanlah pria sembarangan. Bahkan sekali melihatnya saja, membuatku merasa tertarik hingga langsung memberikannya sebuah tawaran. Siapa sebenarnya sosok Keenan Wijaya. Aku yakin ini bukan nama aslinya."
Lani kini memeriksa ponselnya dan melihat daftar panggilan, ia baru menyadari begitu mengamati nomor berbeda tersebut. Refleks ia mencari tahu melalui mesin pencarian dan seketika membekap mulutnya begitu mengetahui sesuatu.
"Ini adalah nomor luar negeri dan tepatnya London. Bahkan dia tidak mengganti nomornya dulu saat bekerja menjadi cleaning service. Wah ... aku yakin dia lama tinggal di sana karena logatnya saat berbicara tadi sedikit aneh. Mungkin Freya yang bodoh itu tidak menyadarinya dan berpikir itu adalah logat daerah, tetapi aku langsung menyadarinya saat melihat wajahnya yang sedikit blesteran."
Tidak ingin diliputi berbagai macam pertanyaan dan sibuk menduga-duga sendiri, Lani kini menghubungi seseorang. Ia memiliki seorang teman yang bekerja sebagai detektif swasta. Tanpa basa-basi, ia langsung berbicara begitu panggilannya diangkat.
"Halo, Jack. Aku butuh bantuanmu dan akan membayar mahal untuk pekerjaan ini. Selidiki orang yang aku kirimkan fotonya sebentar lagi. Aku yakin dia memakai nama palsu. Tugasmu adalah menyelidiki jati diri pria ini dan langsung laporkan padaku begitu mengetahui hasilnya."
"Lani ... Lani, bukannya salam atau basa-basi dulu untuk sekedar menanyakan kabarku karena kita sudah lama tidak bertemu. Namun, ini kau langsung memberikan perintah, seolah-olah, aku hanya memikirkan uang dan tidak menganggapmu teman saja. Sepertinya hobimu yang berpetualang, masih belum berhenti. Sebenarnya, apa yang kau cari? Ingat umur! Nanti sudah nenek-nenek, kau belum laku. Awas lho, pilih-pilih, ending dapat yang setengah busuk nanti."
Lani yang merasa sangat kesal pada perkataan pria di balik telepon, refleks mengeluarkan lengkingan omelannya. "Sialan, kau Jack! Awas saja saat bertemu istrimu nanti, aku akan memberitahunya kalau kau pernah merayuku untuk tidur denganmu!"
Setelah mengeluarkan ancamannya, tanpa menunggu tanggapan dari seberang, Lani menutup telpon dan langsung mengirimkan foto yang diambilnya dari CV tersebut pada kawan lamanya.
"Entah foto ini diambil kapan, tetapi yang jelas, bukan foto terbaru karena lebih imut wajahnya dan sekarang pria itu lebih terlihat sangat dewasa dan matang. Sudah pas untuk menikah dan saat melihatnya, membuatku ingin memilikinya."
Tiba-tiba, Lani mengingat sesuatu dan ia menyunggingkan senyumnya begitu mendapatkan sebuah pencerahan. "Lebih baik besok aku mendekati pria yang tadi dikatakan oleh Keenan. Aku sangat yakin pria itu mengetahui rahasia tersembunyi mengenai Keenan Wijaya. Sebentar lagi, aku pasti akan mengetahui nama aslinya. Apapun yang terjadi, aku harus mendapatkanmu, berondong tampanku."
To be continued...