Setelah menghubungi orang kepercayaan dari papanya untuk mencari tahu tentang masa lalu dari wanita incarannya, Keenan yang berencana untuk tidur, tidak jadi melakukannya. Indra penciumannya yang dari tadi menangkap aroma makanan di sudut sebelah kirinya, kini semakin membuatnya merasa lapar.
Tanpa membuang waktu, ia kini menggeser tubuhnya untuk memeriksa makanan yang diketahuinya dikirim oleh mamanya. Begitu melihat menu favoritnya, yaitu udang asam manis, ia menelan salivanya dan merasa bahwa cacing-cacing di perutnya sudah meminta untuk diberikan jatah.
Namun, ia yang tidak ingin makan sendirian, kini mengambil ponselnya untuk menghubungi pelayannya. Begitu sambungan telepon tersambung dan mendengar suara dari seberang, tanpa bertele-tele, ia langsung mengeluarkan titahnya.
"Iya, Tuan muda. Apa ada yang Anda butuhkan?"
"Setelah dari tempat laundry, cepat pulang! Sepuluh menit dari sekarang, kau harus sudah ada di sini!"
Keenan langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari pelayannya dan melemparkan benda pipih itu ke arah kasur tipis yang akan menjadi tempat istirahatnya selama satu bulan. Ia terdiam sejenak saat tiba-tiba teringat pada penjelasan Freya mengenai wanita yang mengincar tubuhnya dan seketika membuatnya bergidik ngeri.
"Hanya mengingat mak Erot saja sudah membuatku sampai merinding seperti ini." Mengusap lengannya yang telanjang dengan menyilangkan tangan.
"Jika dia adalah adik dari pemilik perusahaan, kenapa tadi takut pada ancamanku? Bukankah dia bisa saja langsung menendangku dari perusahaan. Namun, malah membiarkanku tetap berada di perusahaan saat dia mempunyai kekuasaan. Pasti mak Erot tengah merencanakan sesuatu. Ada yang tidak beres dari wanita itu dan aku harus berhati-hati."
Saat asyik menebak-nebak di pikirannya, indra pendengarannya menangkap suara ketukan pintu dan beberapa detik kemudian terbuka. Dilihatnya sosok pria dengan peluh membanjiri pelipis, melangkah masuk dan membuatnya memicingkan mata. "Kau kenapa? Kenapa tingkahmu seperti seseorang yang baru saja lari maraton?"
Sementara itu, Rudi yang masih tersengal napasnya, kini menghapus bulir peluh yang membasahi pelipisnya. Sebenarnya, beberapa saat lalu, setelah pergi ke tempat laundry, ia pergi ke warung makan karena merasa tidak bisa menahan rasa laparnya lebih lama. Dengan berbekal uang seratus ribu yang merupakan bonus dari bosnya, ia sudah duduk di kursi dan memesan makanan.
Namun, baru saja ia ingin menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, panggilan dari sang tuan muda membuatnya mengurungkan niat. Begitu mendengar titah, ia buru-buru bangkit dari kursi dan membayar makanan yang masih sangat utuh tersebut dengan hati menangis karena merasa nasibnya sangat malang.
Tidak hanya itu saja, bahkan ia langsung berlari sangat kencang karena hanya mempunyai waktu sepuluh menit. Sementara ia tadi pergi ke warung makan agak jauh dari tempat kos dan berakhir menyiksanya. Bahkan tingkahnya tadi seperti orang yang dikejar anjing saat berlari sangat kencang.
"Tuan muda, rasanya saya mau pingsan," ucap Rudi yang kini meraih botol air mineral yang tersisa separuh itu dan tanpa membuang waktu, langsung meneguknya hingga habis. "Tuan muda, rasanya saya mau pingsan hari ini."
Saat Keenan sudah membuka penutup makanan satu persatu, ia hanya geleng-geleng kepala saat bereaksi. "Jangan lebay hingga membuatmu terlihat konyol. Kau tidak akan pingsan setelah menghabiskan makanan ini. Aku tahu karena perutmu seperti tong sampah yang bisa menampung semuanya."
Awalnya, Rudi yang ingin meluruskan kakinya setelah napasnya tidak memburu seperti tadi, kini benar-benar menyunggingkan senyumnya. Apalagi hal yang ditawarkan oleh majikannya itu sudah membuatnya tidak membuang waktu dan segera duduk.
'Pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku yang rasanya seperti mau mati kelaparan, akhirnya bisa makan. Aku masih membayangkan makan dengan sayur jengkol tadi yang tidak jadi kumakan. Makanan favoritku, tetapi tidak pernah makan karena di Mansion diharamkan membawa sayur yang memiliki aroma sangat menusuk hidung tersebut.'
"Baik, Tuan muda. Saat Anda tidak habis nanti, aku yang akan menghabiskan semua makanan ini. Biar saya ambilkan, Tuan muda." Rudi buru-buru ingin melayani majikannya. Namun, tangannya mendapatkan sentilan sangat kuat dari sang majikan yang mengeluarkan suara bariton dan memekakkan telinga.
Keenan yang tidak suka dilayani seperti seorang anak kecil, refleks menatap tajam ke arah Rudi. "Singkirkan tanganmu karena aku bukan bayi yang tidak bisa mengambil makanannya sendiri! Aku memanggilmu tadi karena tidak ingin makan sendiri karena sudah sangat bosan. Sudah, makan sana!"
"Baik, Tuan muda," jawab Rudi yang sebenarnya ingin menolak ajakan makan bersama majikannya karena terbiasa makan setelah majikannya selesai. Namun, ia tidak mungkin membantah perintah bernada sangat tegas tersebut.
Selama bertahun-tahun hidup tanpa memperhatikan sekeliling dan selalu berwajah dingin pada siapapun, tentu saja menjadikan seorang penerus tahta keluarga Nelson bagaikan tidak punya hati. Namun, sejatinya ia merasa sangat kesepian, tetapi tidak pernah menunjukkannya pada siapapun.
Puas mengungkapkan apa yang diinginkannya, terlihat Keenan sudah mengambil makanannya dan tiba-tiba mengingat Freya. "Seandainya aku bisa mengajak Freya untuk menikmati makanan yang terlalu banyak ini. Namun, jika aku melakukannya, yang ada nanti dia akan mengetahui jati diriku yang sebenarnya."
Rudi yang merasa sangat gugup makan bersama majikannya seperti seorang teman, kini dengan sangat kikuk mengarahkan satu suapan ke dalam mulutnya. Jika makan sendirian, tidak ada lima menit sudah habis. Berbeda saat ini, ketika harus makan dengan penuh kesopanan di dekat majikannya.
"Anda benar, Tuan muda. Ini terlalu banyak dan tidak akan habis. Sebenarnya, nyonya besar tadi sudah saya kasih tahu membawa makanan
secukupnya. Namun, sepertinya ini adalah bentuk kasih sayang dari seorang ibu yang sangat merindukan putranya."
Keenan baru saja selesai mengunyah makanannya, kini menyadari bahwa perbuatannya sangatlah membuat wanita yang telah sangat berjasa untuknya menderita hanya gara-gara ia merasa menjadi pria lemah setelah kejadian menyakitkan di masa lalu.
'Maafkan aku, ma. Hanya beberapa minggu lagi. Setelah ini selesai, aku akan sepenuhnya berada di sampingmu,' lirih Keenan di dalam hati.
Baru saja ia tenggelam dalam rasa penyesalan, Keenan mendengar suara notifikasi dari ponsel miliknya yang ada di atas kasur tipis tersebut. "Siapakah yang mengirimkan pesan? Apakah para wanita tidak penting itu?"
Begitu tangannya membuka ponsel dan membacanya, refleks ia langsung memutar otak untuk mencari jawabannya. Ada dua nomor wanita yang mengirimkan pesan. Tentu saja ia sama sekali tidak pernah tertarik untuk membaca atau pun membalas pesan dari orang yang dianggapnya sangat tidak penting. Saat ini, yang dipedulikan hanyalah ingin membaca pesan dari Freya dan berhasil membuat detak jantungnya seketika berdebar sangat kencang.
Keenan, hari ini aku baru menyadari bahwa nomormu adalah nomor luar negeri. Saat mencari di mesin pencarian, ternyata itu adalah nomor dari London. Bagaimana mungkin kamu mempunyai nomor luar negeri?
Saat Keenan ingin langsung menelpon wanita yang mulai mencurigainya tersebut, di saat yang bersamaan, dering ponselnya berbunyi dan ia sangat hafal pada nomor wanita yang tidak disimpannya tersebut. Suara dari seberang, kini bisa ditangkap oleh indra pendengarannya.
"Hai, Keenan. Kamu masih hafal dengan suaraku, bukan? Aku adalah calon istrimu dan kamu tidak akan pernah bisa menolaknya."
To be continued...