Pasangan serasi

1627 Words
Tidak ingin mengetahui siapa sebenarnya wanita menjijikkan yang membuat tubuh Keenan sampai meremang. Apalagi saat membayangkan wanita yang dipanggilnya mak Erot itu sering berganti-ganti pasangan di atas tempat tidur, Keenan mengarahkan tangannya ke hadapan Freya. "Tidak perlu menjelaskan padaku karena aku sama sekali tidak pernah tertarik untuk mengetahui siapa sebenarnya dia. Tidak penting!" Sementara Freya merasa sangat kesal karena baru membuka mulut, sudah dipotong oleh pria arogan yang selalu berbuat seenaknya sendiri tanpa mempedulikan perasaan orang lain tersebut. Merasa sangat kesal, entah sudah ke berapa kalinya ia mendararatkan pukulan ke arah lengan kekar di balik kemeja berwarna putih tersebut. "Dasar pria arogan! Dengarkan aku dulu dan jangan suka memotong pembicaraan orang lain, Tuan muda Keenan yang suka berbuat seenaknya sendiri," seru Freya yang kembali melancarkan sindiran karena ia tahu bahwa saat Keenan dipanggilnya dengan sebutan tuan muda, merasa tidak suka dan akan berubah patuh padanya. Awalnya, Keenan yang berjalan masuk ke dalam gang tempat kos sambil mengamati anak-anak yang sibuk bermain dan membuatnya mengingat masa-masa kecilnya. Namun, panggilan yang lebih mengacu pada sebuah sindiran halus dari sosok wanita dengan sorot mata tajam itu, akhirnya ia lebih memilih menyerah. Tentu saja bukan karena merasa sangat penasaran tentang siapa sebenarnya wanita bernama Lani itu. Namun, ia hanya tidak ingin Freya kesal padanya. "Baiklah ... baiklah, aku akan mendengarkannya. Jangan lagi memanggilku tuan muda karena jika sampai ada yang mendengarnya di perusahaan, para staf akan semakin mengejekku habis-habisan karena terlalu berhalusinasi ingin menjadi tuan muda tajir seperti yang selalu kamu katakan, yaitu hartanya tidak akan habis tujuh turunan. Meskipun aku tahu itu hanyalah sebuah pepatah klise." Freya yang tadinya menganggukkan kepala dan tersenyum pada beberapa ibu-ibu yang berada di depan rumah sambil melakukan ritual rutinnya, yaitu ngerumpi sore, kini beralih menatap ke arah sosok pria yang terlihat sangat lucu saat berbicara konyol. "Ternyata kau sadar diri juga. Aku mengatakan ini demi kebaikanmu bekerja di perusahaan, Keenan. Entah apa yang terjadi di antara kalian berdua, yang penting jangan sampai berpengaruh pada pekerjaanmu karena bu Lani bukan sembarang staf HRD." Kini, Keenan malah dibuat bingung karena penjelasan Freya menurutnya terlalu berbelit-belit. Ingin sekali ia bilang untuk to the point, tetapi tidak ingin membuat wanita itu kesal padanya. "Lalu, dia staf HRD luar biasa? Begitu?" Refleks Freya bertepuk tangan karena ucapan pria yang kini mulai tertarik untuk mengetahui dan menatapnya dengan penuh sorot penasaran. Ia kini tidak membuang waktu karena hampir sampai di tempat kos. "Iya, kamu benar. Kamu tahu, kan kalau secara garis besar, staff HRD itu pekerjaannya berhubungan dengan pengelolaan database serta administrasi karyawan? Kira-kira, secara detailnya mengelola pembayaran gaji dan benefit-benefit lain, kontrak kerja, hingga pengunduran diri karyawan, kan." "Namun, itu bukan pekerjaan bu Lani yang sebenarnya karena dia menyerahkan pekerjaan itu pada asistennya. Dia bisa berbuat apapun mengenai karyawan tanpa meminta izin karena merupakan adik dari pemilik perusahaan tempat kita bekerja. Bisa dibilang, dengan kata lain, mungkin sewaktu-waktu melempar ke jalanan dengan memecatmu. Jadi, kamu pikir sendiri semuanya karena kita sudah sampai." Freya melambaikan tangan saat berjalan menuju ke tempat kosnya dan tak lupa mengarahkan jari telunjuk ke pelipisnya. Sementara itu, Keenan yang saat ini tengah menatap kepergian sosok wanita dengan memberikan sebuah kode agar ia memakai otaknya saat menghadapi wanita yang dianggapnya sangat menjijikkan, hanya bersikap datar. Seolah sama sekali tidak takut pada wanita yang ternyata memiliki kekuasaan tersebut. 'Ternyata wanita itu adalah adik dari pemilik perusahaan? Dia sengaja menyusup ke perusahaan untuk mencari mangsa. Astaga, ternyata di dunia ini ada wanita yang haus belaian laki-laki,' gumam Keenan dengan melangkah masuk setelah membuka pintu gerbang. Setelah melihat Freya menghilang di balik dinding, ia langsung berteriak. "Rudi?" Begitu melangkahkan kaki panjangnya untuk masuk ke dalam kamar yang dianggapnya sama seperti kandang ayam, kini bisa melihat pelayannya sedang sibuk mengeluarkan makanan dari kotak tempat makanan tahan panas. Bahkan ia kini mengerutkan kening saat melihat ada berbagai macam makanan di atas lantai. "Selamat datang, Tuan muda. Anda sudah pulang. Pasti Anda sangat lapar. Apakah mau makan sekarang? Atau mau mandi dulu?" tanya Rudi yang baru selesai mengeluarkan beberapa makanan yang baru diantarkan oleh pelayan di Mansion. Bahkan aroma makanan yang menguar di dalam ruangan kamar, seketika membuat perutnya keroncongan karena tadi ia hanya makan pagi dan belum sempat makan lagi. Itu karena ia sama sekali tidak ditinggali uang oleh majikannya. 'Tuan muda tadi pasti lupa untuk memberikan aku uang membeli makan siang. Nasib baik tadi nyonya besar menelpon dan menanyakan semuanya. Kemudian mengirimkan makanan sebanyak ini. Bahkan nyonya besar sangat mengerti bahwa putranya tidak akan mau menceritakan yang sebenarnya. Jadi, lebih memilih untuk menginterogasiku,' lirih Rudi yang saat ini masih menatap intens sosok pria yang berdiri menjulang di hadapannya. Keenan yang langsung bisa menebak makanan di hadapannya, sama sekali tidak tertarik untuk makan karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah ingin pelayannya tersebut melemaskan otot-ototnya yang terasa kaku. "Aku mau mandi dulu. Bersiaplah karena akan memberikan tugas berat untukmu hari ini. Singkirkan makanan itu ke tepi karena aku sama sekali belum lapar!" Melangkah masuk menuju ke arah kamar mandi sambil tangannya melepaskan satu persatu kancing kemeja. Rasa lengket di tubuhnya membuat ia dari tadi merasa sangat tidak nyaman. Satu-satunya hal yang diinginkan adalah membersihkan diri dan langsung berbaring untuk mendapatkan pijatan dari pelayannya. Jika biasanya ia mandi sangat lama, tetapi berbeda hari ini karena berencana mandi kilat karena benar-benar merasa tulang-tulangnya mau patah dan otot kaku sangat menyiksa. Di lain sisi, Rudi yang tadinya berpikir bisa segera makan, kini hanya bisa menangis di dalam hati untuk melampiaskan rasa lapar yang teramat sangat dirasakan sambil memegangi perutnya. 'Sabarlah, wahai perut. Akan indah pada waktunya saat menikmati udang pedas manis, ca kangkung, ayam goreng dan capcay. Astaga, aku sangat lapar,' lirih Rudi yang hanya bisa menelan salivanya saat hanya bisa memandangi makanan yang menggugah selera tersebut karena tidak mungkin ia makan sebelum majikannya. Apalagi ia tahu bahwa makanan lezat itu dikirim khusus oleh seorang ibu untuk anak kesayangannya dan hanya membuatnya tersiksa. Baru saja ia selesai bergumam sendiri di dalam hati, refleks sangat terkejut saat melihat majikannya sudah selesai mandi dan keluar dengan handuk sebatas pinggang. "Anda sudah selesai, Tuan muda?" Mengerjapkan kedua mata karena merasa sangat aneh saat melihat seorang tuan muda mandi seperti bebek, yaitu asal basah tubuhnya. Tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan konyol dan tidak penting itu, Keenan kini sedang dah mengambil celana pendek dari dalam tasnya. Kemudian langsung memakainya setelah menurunkan handuk yang melilit pinggang. Ia membiarkan bagian atas tubuhnya telanjang karena tidak mengambil baju. Keenan kini melangkah naik ke atas kasur yang dianggapnya seperti matras tersebut dan membaringkan tubuhnya dengan posisi telentang. "Sekarang pijat aku karena pinggangku rasanya mau patah gara-gara membersihkan toilet tadi. Besok, kau yang harus menggantikan pekerjaanku di perusahaan. Apa kau mengerti?" 'Sudah jatuh tertimpa tangga,' pepatah itulah yang kini tengah dirasakan oleh Rudi saat ini. Saat merasakan kelaparan, masih harus mengeluarkan tenaga untuk memijat majikannya yang masih tidak berhenti mengeluh tersebut. "Baik, Tuan muda. Besok, Anda tidak akan mengalami hal seperti hari ini karena saya yang akan mengambil alih semuanya." Keenan yang kini sudah memejamkan mata untuk menikmati pijatan dari pelayannya, kembali mengumpat untuk meluapkan kekesalannya. "Sialan para staf perusahaan itu karena banyak yang menatapku seperti seonggok sampah. Ternyata begini rasanya jadi orang miskin. Dikucilkan, dijauhi, tidak dipercaya dan sialnya adalah ada satu wanita gila yang mau membeliku." Rudi yang tadinya memijat bahu lebar majikannya, refleks langsung berhenti dan membeliakkan kedua mata. "Apa, Tuan muda? Apa wanita itu menghina Anda dengan melemparkan uang ke wajah? Apakah tadi langsung memberikan pelajaran pada wanita yang merendahkan Anda?" Merasa semakin kesal karena pelayannya tidak melanjutkan memijat tubuhnya, kini membuat Keenan refleks langsung memukul tangan Rudi. "Cepat lanjutkan! Kenapa malah berhenti? Kalau berkomentar, tetaplah memijat!" "Maaf, Tuan muda. Saya akan melanjutkannya," ucap Rudi yang kini kembali sibuk mengarahkan tangannya pada tubuh bagian belakang majikannya dan hanya ingin mendengarkan pengalaman dari seorang pria konglomerat saat menyamar menjadi orang miskin. Sementara itu, Keenan kini kembali menceritakan semua hal yang dialaminya hari ini tanpa terkecuali. Begitu selesai menjelaskan semuanya, ia mengepalkan kedua tangan. "Rasanya aku sangat malas jika setiap hari harus bertemu w************n itu. Bisa-bisanya dia berpikir aku adalah pria miskin pemuas nafsu. Apa wajahku ada tampang pria m***m, Rudi?" Pertanyaan mengarahkan pada sebuah jebakan padanya, kali ini ditanggapi oleh Rudi dengan menggaruk tengkuk belakangnya. "Mana ada tampang pria m***m, Tuan muda. Wajah Anda sangat tampan dan merupakan tipe semua wanita. Bahkan tidak ada satu wanita pun yang akan menolak Anda nanti. Jadi, Anda tinggal pilih seperti pembeli yang menginginkan terbaik di antara terbaik." Kini, sudut bibirnya melengkung ke atas begitu mendengar kalimat yang seolah berhasil membangkitkan semangatnya hari ini. "Kau sangat pintar merubah mood yang tadinya sangat buruk seketika baik, Rudi. Sepertinya aku harus memberimu bonus. Oh ya, kamu bisa ambil uang seratus ribu dari kantong celanaku sebagai bonus. Sekarang aku sudah jauh lebih baik dan ingin tidur. Kau pergi laundry baju kotor milikku." Keenan yang tidak berniat untuk merubah posisinya, hanya mengibaskan tangan pada pelayannya tanpa membuka mata. Hanya suara dari pelayannya yang tertangkap indra pendengarannya. "Terima kasih, Tuan Keenan. Kalau begitu, saya akan pergi sekarang." Rudi melirik sekilas nasib makanan yang mungkin akan berakhir basi dan tidak terjamah itu. Bahkan ia sudah mengarahkan tangannya ke depan seperti tidak tega untuk merelakan nasib nahas makanan yang mungkin akan berakhir di tong sampah besok pagi. 'Malang nian nasibmu, wahai sepasang kekasih. Perut kelaparan dan makanan adalah pasangan yang paling serasi di dunia ini,' gumam Rudi yang kini bangkit dari posisinya dengan sangat tidak bersemangat. Saat Keenan berniat untuk tidur, refleks ia langsung membuka mata dan menepuk jidat. 'Sial! Aku lupa. Harusnya tadi kan mengetahui pria yang merupakan mantan pacar Freya saat duduk di bangku SMA agar bisa membandingkannya dengan wajahku. Sepertinya aku harus menghubungi orang kepercayaan papa agar mencari tahu siapa pria itu,' gumam Keenan yang kini bangkit dari posisinya dan meraih ponsel yang ada di sebelah tasnya. To be continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD