Berhati malaikat

1604 Words
Senyuman mengembang terukir di bibir Freya saat melihat panggilan telepon dari sang ayah. Ia pun langsung menggeser tombol hijau ke atas dan belum sempat mengeluarkan suara untuk menyapa, suara di balik telepon sudah menghiasi indra pendengarannya. "Alhamdulillah, Putriku. Ada orang baik hati yang tiba-tiba melunasi utang-utang ayah. Ayah tidak tahu siapa orangnya, tetapi yang jelas bandot tua itu sudah tidak akan mengincarmu lagi, Nak. Kamu tidak perlu kirim uang lagi ke kampung karena untuk sekedar makan, ayah masih bisa cari sendiri. Sekarang kamu pikirkan masa depan dengan menyimpan uangmu." Freya yang saat ini benar-benar sangat shock dan refleks langsung berteriak sangat kencang karena benar-benar tidak percaya bagaimana itu bisa terjadi secara tiba-tiba dan membuat ia kebingungan. Baru saja menutup mulut, tubuhnya hampir terjungkal ke depan saat mobil tiba-tiba berhenti karena pria yang mengemudikan mobil mengerem mendadak dan menoleh ke belakang, serta telah membuat ponsel di tangannya terjatuh. Tentu saja merasa sangat terkejut begitu mendengar teriakan Freya, tanpa pikir panjang, Keenan yang langsung menepikan mobil, sama sekali tidak mempedulikan sosok wanita yang ada di sebelah kirinya sampai terhuyung ke depan. "Keenan, hati-hati! Astaga! Kamu bisa menyebabkan kecelakaan dan membahayakan nyawa orang lain jika berhenti secara tiba-tiba seperti ini!" rengut Lani yang merasa semakin kesal karena pria yang baru saja dimarahinya tidak mempedulikannya karena sudah sibuk menatap ke belakang dan terlihat sangat berlebihan dalam menyikapi tingkah Freya. "Freya, ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat terkejut? Apakah ada hal yang terjadi?" Melepaskan sabuk pengaman untuk memudahkannya menghadap sosok wanita yang terlihat mengambil ponsel yang terjatuh. "Maaf, Freya. Aku tadi benar-benar sangat mengkhawatirkanmu." Refleks Freya mengarahkan tangan ke arah bibirnya, seolah memberikan kode agar Keenan diam karena tidak ingin membuat sang ayah berpikiran macam-macam padanya. Bahkan ia menatap tajam sosok pria yang kini terlihat menuruti perintah darinya. Meskipun sebenarnya, ia sangat ingin memarahi Keenan yang hampir membuat kepalanya terbentur jok mobil bagian depan. Ia yang sudah mengambil ponsel miliknya, bisa mendengar suara dari sang ayah di balik telepon. "Freya ... Freya. Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Memangnya kamu sedang di mana? Apakah pria itu kekasihmu?" Apa yang ditakutkan olehnya benar terjadi dan membuat Freya merasa sangat kebingungan karena ia memang belum berniat untuk mengatakan hubungannya dengan Harry Wyman. Ia masih ingin mengenal lebih jauh pria yang beberapa bulan ini menjadi kekasihnya. Apalagi ia belum berencana untuk menikah muda karena ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. "Bukan, Ayah. Aku sedang bersama beberapa rekan kerja, ini sedang dalam perjalanan pulang. Nanti aku hubungi setelah tiba di tempat kos." "Baiklah, hati-hati di jalan. Ayah tutup telponnya." Begitu sambungan telepon mati, Freya buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas dan melihat ke arah dua orang yang menatapnya dengan tatapan sangat berbeda. Di satu sisi, ia bisa melihat tatapan tajam dari sosok wanita yang seperti hendak memangsanya hidup-hidup. Di sisi lain, tatapan sosok pria yang saat ini seperti terlihat sangat mengkhawatirkannya, membuat ia merutuki kebodohannya yang tadi berteriak untuk mengungkapkan rasa terkejut. "Maaf, Bu Lani karena saya telah menjadi penyebab dari kekacauan ini. Oh ya, bukankah tadi Anda mengatakan ingin membicarakan sesuatu. Mungkin bisa mengatakannya sekarang dan saya akan mendengarkan." Beralih menatap ke arah pria di balik kemudi. "Lebih baik kamu kembali mengemudikan mobilnya karena pasti Bu Lani terburu-buru karena ada keperluan." Jika beberapa saat yang lalu ada beragam pertanyaan yang menari-nari di otak Keenan mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Freya. Namun, begitu mendengar Freya memangggil ayah di telepon, kini membuatnya bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi. Saat melihat Freya mengibaskan tangan ke arahnya, akhirnya ia menurutinya dan kembali menyalakan mesin dan mengemudikan mobil meninggalkan area itu. Sementara Lani yang merasa sangat dongkol karena kalah saing dengan Freya untuk mencari perhatian dari Keenan, dengan terpaksa menanggapi pertanyaan yang dianggapnya sangat tidak penting. "Sebenarnya, aku ingin menanyakan sesuatu mengenai tempat kos. Ada teman yang sedang cari tempat kos laki-laki untuk sementara karena akan bekerja selama dua minggu di Jakarta. Dia bilang ada kerjaan di sekitar area tempat kosmu dan aku kepikiran padamu. Jadi, ingin membantunya untuk mencari tempat tinggal sementara. Sebenarnya, kalau dia wanita, sudah aku suruh tinggal di apartemenku. Namun, dia laki-laki, jadi aku tidak mungkin mengajaknya tinggal bersamaku." Puas mengungkapkan sebuah kebohongan, Lani melirik sekilas ke arah wajah pria tampan yang dari tadi fokus mengemudi. "Oh ya, Keenan, bukankah kamu tinggal di tempat kos? Siapa tahu temenku merasa cocok tinggal di sana." Tanpa berpikir dan membuang waktu atau menoleh sekilas pada wanita yang dianggapnya hanya membuat sebuah kebohongan, tidak ingin buang-buang energi untuk panjang lebar menanggapi. "Cari tempat lain saja karena tempat kosku sudah penuh. Bukankah begitu, Freya?" 'Mak Erot ini suka sekali modus dan berbicara omong kosong. Rasanya aura negatif darinya mengotori udara di dalam mobil dan membuatku tidak bisa bernapas.' Kalimat pendek dan terdengar sangat tidak sopan dari Keenan, bisa dirasakan oleh Freya bahwa ia mencium aura ketidaksukaan dari pria yang selalu bersikap ketus pada seniornya tersebut. Sikap yang sama persis ditunjukkan Keenan padanya saat pertama kali bertemu dan membuatnya merasa sangat kesal. 'Dasar Keenan, bahkan sama bu Lani pun dia tidak bisa hormat. Sepertinya sifat arogan dan kasar sudah mendarah daging dalam jiwanya, sehingga tidak bisa bersikap lebih sopan pada orang lain. Sepertinya aku harus memberinya penjelasan mengenai cara menghormati orang dan menjelaskan padanya siapa bu Lani sebenarnya. Mungkin dia tidak akan berani untuk tidak bersikap hormat lagi.' Tidak ingin membuat suasana penuh kekakuan semakin berlarut-larut, ia kini memberikan sebuah jalan keluar saat menemukan ide. "Apa yang dikatakan oleh Keenan memang benar, Bu Lani. Namun, nanti saya akan bertanya pada orang-orang di sana, apakah ada tempat kos lain yang kosong. Begitu mendapatkannya, saya akan langsung menghubungi Anda nanti." Saat Freya baru saja menutup mulut, ia yang kini melihat ke sekeliling, merasa aneh saat jalanan yang semakin jauh dari tempat kosnya. "Keenan, kamu mau ke mana? Kenapa bisa terlewat dari tempat kos kita? Astaga, putar balik! Ya ampun, aku lupa kalau kamu tidak tahu area jalanan sekitar sini. Maaf ... maaf. Ah ... lebih baik kita turun di sini saja. Nanti bu Lani bisa terlambat." Sebenarnya, Keenan sangat hafal dengan tempat kos karena ingatannya sangat baik. Namun, ia sengaja melakukannya karena ingin berjalan kaki bersama dengan Freya untuk menghabiskan waktu. Ia tahu bahwa setelah masuk ke dalam kamar kos, tidak akan bisa menemui Freya lagi, sehingga ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menikmati kebersamaan. Tentu saja ia sangat menyetujui perintah dari Freya dan tanpa membuang waktu, kini sudah menepikan mobil. "Aku tadi lupa gang masuk tempat kos. Jadi kebablasan. Saat naik bus tadi, aku sambil menghafal jalan pulang, Freya. Aku tidak bego-bego amat." Mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengaman. Ingin segera keluar dari mobil yang menyesakkan pernapasannya, kini Keenan mulai menganggukkan kepala pada wanita yang dari tadi tidak berhenti menatapnya. "Terima kasih atas tumpangannya, Bu Lani. Semoga selamat di tempat tujuan Anda." Tidak ingin menunggu respon dari Lani, kini terlihat Keenan sudah membuka pintu mobil dan diikuti oleh Freya. "Sebenarnya kalian berdua bisa aku antarkan sampai ke tempat kos. Kenapa malah turun di pinggir jalan begini?" seru Lani yang merasa sangat dongkol atas ide konyol Freya. Namun, ia tidak mungkin marah pada wanita yang dianggapnya sangat lugu karena telah ditipu mentah-mentah oleh Keenan. 'Sebenarnya aku ingin membuat Freya mengetahui bahwa dia telah ditipu oleh Keenan. Namun, jika ia tahu bahwa Keenan bukan orang biasa, mungkin akan merayu dan menjeratnya. Jadi, lebih baik aku biarkan saja kebodohannya itu berlanjut,' gumam Lani yang kini ikut keluar dari mobil. "Tidak apa-apa, Bu Lani. Saya sudah terbiasa jalan kaki dari jalan besar ke tempat kos. Sekali lagi terima kasih atas tumpangannya. Besok saya akan mengabarkan mengenai tempat kos yang kosong di area sekitar daerah sini." Freya membungkukkan badan sebagai bentuk ucapan terima kasihnya dan menginjak kaki Keenan agar melakukan hal yang sama dengan mengarahkan tatapan tajam menusuk. Keenan hanya menuruti perintah dari Freya dan melakukan hal sama. Namun, ia sama sekali tidak mengeluarkan suara karena memilih untuk menganggukkan kepala saja. 'Malas sekali aku harus bersikap baik seolah tidak terjadi apa-apa di antara kami. Lagipula, kenapa sikap para staf perusahaan seolah sangat berlebihan sekali. Bahkan dia pun juga bukan pemilik perusahaan. Kenapa harus hormat berlebihan seperti itu. Konyol sekali!' Lani yang dari tadi tidak berkedip menatap wajah tampan Keenan, bisa melihat sikap datarnya dan jelas-jelas menampakkan ketidaksukaan. "Baiklah, kalian pergi saja karena aku ingin menghubungi temanku sebentar." "Baik, Bu Lani. Kalau begitu, kami permisi dulu. Semoga perjalanan Anda menyenangkan." Freya yang baru saja mengulas senyuman, kini berbalik badan dan mengajak Keenan pergi. Embusan napas lega yang terdengar, mengungkapkan bahwa saat ini Keenan benar-benar merasa sangat senang saat menghirup udara sepuasnya karena menurutnya, berada dalam satu mobil dengan w*************a, seolah membuatnya hanya menghirup racun. Bahkan ia terlihat merentangkan kedua tangannya dan mendongak ke atas. "Lega rasanya bisa kembali menghirup udara segar setelah beberapa menit menghirup racun. Oh ya, tadi di dalam mobil, kenapa kamu seperti orang yang sangat shock. Memangnya ada apa?" Awalnya, Freya menoleh ke arah Keenan dan geleng-geleng kepala melihat ekspresi wajah pria di sebelahnya menunjukkan seperti terbebas dari sebuah belenggu yang menyiksa. Namun, ia kembali mengingat perkataan sang ayah setelah Keenan bertanya. Entah mengapa, ia merasa sangat nyaman berbicara apapun pada pria yang baru dikenalnya tersebut. Seperti ia sudah menganggap Keenan teman baiknya. "Itu, bukankah aku pernah bilang padamu bahwa utang-utang keluargaku sangat banyak? Hari ini, ayahku mengatakan ada orang tak dikenal yang sudah melunasi utang-utang keluarga kami. Bahkan mereka diam-diam melunasinya. Aku jadi bingung sekaligus penasaran pada orang yang berhati malaikat itu." 'Akulah malaikat itu, Freya,' gumam Keenan yang kini hanya tersenyum simpul begitu mengetahui semuanya. Saat Keenan berniat untuk membuka mulut, lagi-lagi didengarnya suara sosok wanita yang kini tengah Mengarahkan tatapan menusuk. "Kamu harus bersikap sopan dan hormat pada bu Lani karena sebenarnya dia adalah ...." To be continued....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD