Keenan kini menatap ke arah ponsel yang berada dalam genggaman tangan dengan jemari lentik Freya. Entah mengapa di samping Freya, ia merasa menjadi sosok pria yang berubah seperti wanita karena baru kali ini menjadi kepo urusan orang. Padahal jauh sebelumnya, ia adalah sosok pria yang datar dan dingin karena tidak pernah mempedulikan perkataan orang lain.
Sementara itu, Freya yang langsung menanggapi perkataan dari Keenan, berniat untuk menunjukkan ponselnya. "Aku baru saja di follow oleh mantan pacar aku saat SMA dulu. Sepertinya dia belum move on dari aku, hingga bisa menemukan sosial mediaku. Padahal aku pakai nama belakang, bukan nama panggilan. Aneh saja rasanya."
Keenan yang merasa sangat tidak suka begitu menangkap ada udang dibalik batu dari mantan pacar Freya, semakin dibuat penasaran seperti apa sosok pria yang pernah disukai oleh wanita itu. Tentu saja ia ingin membandingkan dirinya dengan mantan wanita itu.
'Kira-kira keren aku atau mantan pacar Freya itu? Mantan hanyalah sampah yang harus dibuang pada tempatnya. Sementara orang yang mau kembali pada mantannya adalah pemulung,' umpat Keenan yang tiba-tiba merasa kesal saat mengingat enam huruf yang sangat melukainya, yaitu 'mantan'.
Jika ada orang yang mengatakan mantan terindah, baginya itu hanyalah bulshit karena jika itu indah, tidak akan mungkin jadi mantan. Menurutnya, mantan tetaplah mantan dan harus dibuang pada tempatnya. Seperti ia benar-benar membuang mantan kekasih yang telah mengkhianati cinta tulusnya dan menutup semua komunikasi karena tidak ingin berhubungan dengan wanita yang dianggapnya hanyalah seonggok sampah.
Freya berniat untuk membuka ponselnya dan menunjukkan pada Keenan, tetapi tidak jadi melakukannya karena namanya baru saja dipanggil dan seketika membuatnya mencari ke arah sumber suara. Begitu melihat sosok wanita yang berjalan ke arahnya, ia buru-buru mengangguk perlahan dan tersenyum tipis.
Lani yang beberapa saat lalu hanya menatap siluet sosok pria incarannya, tak lain adalah Keenan, tentu saja melihat interaksi dari dua orang yang ada di depan loby dan terlihat sangat dekat. Ia yang saat ini mengepalkan kedua tangannya, seolah mengungkapkan bahwa saat ini benar-benar merasa kesal dan tidak rela melihat pria dengan wajah tampan dan tubuh tinggi tegap proporsional itu dekat dengan wanita lain.
Buru-buru ia berjalan mendekat setelah mendapatkan ide di kepalanya. "Freya, kebetulan sekali hari ini aku ada urusan di sekitar tempat kosmu. Jadi, sekalian saja pulang bersama. Ayo, pulang bersamaku."
Refleks Freya yang merasa sangat tidak enak pada Keenan dan tidak tega untuk meninggalkan pria itu pulang naik bus sendiri, menggelengkan kepala. "Maaf, Bu Lani. Bukannya saya menolak, tetapi sudah janji akan pulang bersama Keenan. Takutnya dia nanti kesasar."
Tadinya, Keenan berpikir akan bisa melihat foto dari mantan kekasih Freya. Namun, melihat sosok wanita yang diketahuinya hanya modus mendekati Freya untuk mencari perhatiannya, ingin sekali mengeluarkan umpatan. Namun, dengan sekuat tenaga menahan kendali dirinya karena tidak ingin Freya kena getahnya.
'Sialan, mak Erot! Mengganggu saja. Kali ini dia mau apa lagi? Aku benar-benar jijik dengan wanita yang mungkin sudah banyak dimasuki sosis mentah. Perutku langsung mual saat membayangkannya. Bisa saja dia mengidap virus HIV dan AIDS. Seandainya bisa mengatakannya pada Freya, aku akan menyuruhnya agar tidak dekat-dekat dengan mak Erot,' gumam Keenan yang kini terjebak dalam pertanyaan dari wanita yang tiba-tiba melempar kunci padanya.
Lani yang kini melirik ke arah sosok pria incarannya, menyunggingkan seulas senyuman. "Tidak masalah, Freya. Biar Keenan yang menyetir!" Menggandeng tangan Freya dan berjalan ke arah parkiran setelah melemparkan kunci mobil dan langsung ditangkap oleh Keenan.
Keenan kini menundukkan kepala untuk melihat kunci mobil yang baru saja ditangkapnya dan beralih menatap ke arah dua wanita yang saat ini berjalan semakin menjauh darinya.
"Sialan, mak Erot! Bukannya bertanya dulu apakah aku bisa menyetir atau tidak, malah main lempar kuncinya. Lebih baik aku katakan saja, tidak bisa mengemudi mobil. Bisa-bisa nanti Freya curiga padaku." Berjalan dengan langkah kaki panjangnya untuk segera mengejar dua wanita yang memiliki wajah sama-sama cantik dan body aduhai tersebut.
Namun, ada satu perbedaan yang sangat kentara dari dua wanita yang bisa dilihat siluetnya tersebut, yaitu wajah Freya lebih terlihat anggun, sedangkan Lani lebih jelas terlihat seperti seorang penggoda dan pelakor.
Begitu berada di dekat mobil Honda jazz terbaru berwarna merah, Keenan menatap sinis pada wanita yang berbalik badan menunggunya. "Kenapa Anda menyuruhku membawa mobil, sedangkan saya tidak bisa menyetir mobil. Ini kuncinya!"
Freya yang kini merasa ada suatu keanehan antara Keenan dan wanita yang masih belum melepaskan pergelangan tangannya, hanya diam saja karena takut salah berbicara. Ia hanya melihat interaksi dari dua orang yang seperti memiliki pikiran berlawanan tersebut.
'Sebenarnya apa yang terjadi dengan Keenan dan bu Lani tadi. Rasanya ini sangat aneh,' lirih Freya yang kembali dibuat bingung dengan jawaban dari wanita di sebelah kirinya.
Lani kini menatap wajah dengan rahang tegas yang menurutnya sangat seksi tersebut. Tentu saja ia masih tidak ingin menyerah untuk menjerat pria yang telah mencuri hatinya dalam pusaran cinta dan membuatnya tergila-gila.
Tanpa berniat untuk menerima kunci yang diarahkan padanya, kini ia berpura-pura terkejut. "Tidak bisa mengemudi bagaimana? Bukannya tadi saat aku bertanya di ruangan, kamu bilang bisa menyetir? Lagipula tadi aku bilang akan menyuruhmu membeli beberapa alat yang dibutuhkan perusahaan saat tiba-tiba ada barang yang habis dan kamu menjawab bisa. Aku menerimamu tadi karena alasan itu, Keenan. Apa kamu lupa?"
'b******k! Dia menjebakku di depan Freya dan aku benar-benar tidak bisa berkutik atau pun menolaknya.' Puas mengumpat, Keenan yang kini menggaruk tengkuknya bisa melihat tatapan menyelidik dari sosok wanita yang tak lain adalah Freya.
Seolah sedang meminta sebuah penjelasan atas perkataan wanita dengan senyuman menyeringai padanya. Mendadak ia mendapat ide untuk beralasan. "Oh ... kalau soal yang tadi kan saya bilang bisa mengemudi mobil jenis pick up, bukan mobil mewah seperti ini, Bu Lani. Daripada mobil mewah ini nanti kenapa-kenapa, saya tidak bisa bertanggungjawab karena tidak punya uang."
Dengan mengarahkan tatapan penuh kelembutan dan tangannya mendarat di pundak kokoh pria tampan di hadapannya, Lani menganggukkan kepala. "Tenang saja. Aku tidak akan meminta ganti rugi pada orang miskin sepertimu. Lagipula, kalau sudah bisa mengemudi, kamu pasti bisa karena mobil ini malah lebih gampang. Tenang saja, jika tidak mengerti, aku akan memberitahumu nanti."
Untuk membuat pria incarannya mengiyakan perkataannya, Lani beralih menoleh ke arah Freya. "Kamu tidak apa-apa, kan duduk di belakang? Aku akan mengawasi Keenan mengemudi dan setelah dia terbiasa, akan mengatakan hal yang tadi ingin aku bahas denganmu."
Tidak ingin membuat suasana semakin kaku, buru-buru Freya menganggukkan kepala dan tersenyum tipis. "Tentu saja sama sekali tidak masalah, Bu Lani." Beralih menatap ke arah sosok pria yang terlihat jelas seperti menahan amarah karena wajah yang memerah dan mengarahkan dagunya ke kiri untuk memberikan sebuah kode.
Awalnya, Keenan sama sekali tidak menyangka jika wanita yang dipanggilnya mak Erot itu akan berani menyentuhnya dan sialnya ia tidak bisa menghindar dan menolaknya. Padahal sebenarnya, ingin sekali ia menyingkirkan tangan wanita yang dianggapnya akan menularkan virus HIV dan AIDS padanya.
Ia semakin dibuat frustasi saat melihat respon Freya yang menyuruhnya untuk menuruti kemauan sang mak Erot. 'Kalau bukan karena Freya, aku tidak sudi duduk di mobilnya. Apalagi di sebelah w*************a ini.'
Puas beragumen sendiri di dalam hati, Keenan yang tidak punya pilihan lain, kini terpaksa untuk membuka mobil dan duduk di balik kemudi. Ia benar-benar tidak mood untuk mengeluarkan sepatah kata pun karena merasa sangat muak untuk menanggapi wanita liar yang sudah duduk di sebelahnya.
'Sialan, mimpi apa aku semalam hingga bisa duduk di sebelah mak Erot dan menyetir mobilnya,' lirih Keenan yang kini mulai menyalakan mesin begitu melihat Freya dari spion sudah masuk ke dalam dan duduk di kursi belakang.
Lani yang kini bersorak kegirangan karena merasa di atas angin karena keinginannya untuk bisa melihat lebih lama wajah rupawan pria yang benar-benar membuatnya sangat terobsesi tersebut.
'Sepertinya aku bisa terus memanfaatkan Freya untuk membuat Keenan tidak berkutik. Sekarang aku mengetahui kelemahanmu, berondong tampanku. Kamu sepertinya sangat takut jika wanita bodoh yang telah berhasil kau tipu ini mengetahui jati dirimu sebenarnya. Freya memang gadis kampung bodoh yang selalu berpikir positif dan tidak pernah menganggap orang jahat. Dia adalah wanita yang lemah dan mudah diombang-ambingkan.'
Lani kini tersenyum puas saat melihat Keenan sudah mulai mengemudikan mobilnya meninggalkan perusahaan. "Nah, itu bisa. Aku sudah bilang, kan kalau mobil ini lebih mudah daripada pick up yang sering kamu kemudikan."
Hanya anggukan kepala penuh keterpaksaan yang saat ini dilakukan oleh Keenan tanpa menoleh ke arah sosok wanita yang bisa dirasakannya dari tadi menatapnya. Seperti tatapan para wanita yang membuatnya merasa jijik dan mual. Menurutnya, satu-satunya wanita yang menatapnya biasa hanyalah Freya dan hal itu membuatnya merasa sangat penasaran.
Penasaran bagaimana sosok pria idaman wanita yang sama sekali tidak terpesona padanya dan saat ia melirik ke arah spion, dilihatnya Freya tengah fokus pada ponsel.
'Freya pasti sedang melihat akun sosial media milik mantannya yang merupakan sampah itu. Aku tidak akan membiarkanmu kembali pada mantanmu itu, Freya karena kamu harus menjadi milikku.'
Saat Keenan selesai bergumam sendiri di dalam hati dengan pandangan fokus ke depan, suara dering ponsel terdengar memecah keheningan di dalam mobil dan membuatnya merasa semakin kesal karena berpikir bahwa yang menghubungi Freya adalah mantan pacar yang tadi dibicarakan beberapa saat lalu dan ikut terkejut saat mendengar suara wanita yang terlihat sedikit berteriak begitu mengangkat telepon.
Freya yang tadinya mencari informasi mengenai perbedaan waktu antara Jakarta dan New York, yang baru diketahuinya selisih 12 jam, kini memilih untuk mengirimkan pesan karena ia menganggap bahwa sang kekasih mungkin sudah bangun dari tidurnya.
Namun, belum selesai ia mengetik pesan, ada yang menghubungi dan membuatnya membulatkan kedua mata.
"Apa? Tidak mungkin! Bagaimana mungkin?"
'Siapa? Memangnya siapa yang menghubungi Freya? Ada apa sebenarnya? Kenapa dia bisa sampai terkejut begitu?' lirih Keenan yang semakin dibuat penasaran pada seseorang yang sedang menghubungi Freya hingga bisa berekspresi sangat terkejut.
Ada berbagai macam pertanyaan yang kini menari-nari di pikirannya dan membuat ia ingin menanyakan langsung pada sosok wanita yang terlihat membulatkan mata dan terlihat sangat jelas dari spion mobil.
To be continued...