Alga memejamkan matanya barang sebentar, "Mimpi!" hardiknya kemudian hendak berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu Alga," ujar Risa sambil memegang sebelah tangan kanannya. "Hanya satu bulan, bagaimana?"
"Nggak!" tolak keras Alga. Pacaran dengan Risa? Itu tidak akan terjadi baginya.
"Ayolah Alga, tanggal 23 bulan depan nanti itu hari ulang tahunku jadi tolong lah Alga itung-itung itu kado dari kamu," mohonnya, ia masih berusaha untuk membujuk Alga.
"Gue bilang nggak ya nggak!"
"Hanya satu bulan Alga, daripada video ini tersebar kan?" ancamnya lagi membuat Alga menutup matanya, meredam emosi.
Alga cukup memikirkan tawaran Risa, ini pilihan yang sangat berat menurutnya. Tidak ada pilihan yang menguntungkan dirinya, "Oke!" tegasnya.
Mata Risa seketika berbinar, "Benarkah?"
"Lo b***k?" sengitnya.
"Terima kasih Alga!" Risa bersorak senang. Akhirnya setelah satu tahun ia bisa menyandang status pacar Alga. Laki-laki sangar yang ditakuti satu sekolah. Risa baru menyadari ia sudah lama tidak merasakan bahagia sedalam ini, meski hubungannya dengan Alga hanya karena ancaman.
Dan Risa berjanji, satu bulan ini ia akan berusaha membuat Alga mencintainya. Ia berjanji ini usaha terakhirnya, kalau memang Alga tidak mencintainya maka saat itu juga Risa akan melepaskannya.
Berbeda dengan Alga, ia menahan diri untuk tidak kelepasan menghantam kepala Risa. Ia mencoba untuk menenangkan hatinya, "Tenang Al, hanya satu bulan." batinnya sambil mengepalkan tangan, Alga sudah tidak tahan mencari samsak untuk meluangkan emosinya.
"Jadi nanti kamu anterin aku kan pulangnya?" Risa sangat bersemangat, satu bulan ini harus ia gunakan dengan sangat baik.
"Nggak!"
"Kenapa? Kan aku ini pacar kamu Alga,"
"Pacar ancaman!"
"Ya pura-pura aja ini beneran. Toh hanya satu bulan setelah itu aku janji kalau kamu masih nggak cinta sama aku, aku nggak bakal gangguin kamu lagi," ucap Risa.
Alga menghembuskan nafasnya kasar, "Terserah lo!"
"Tapi gue ingetin satu hal, jangan harap gue bakal suka sama lo!" tambah Alga.
"Aku jamin, kamu pasti suka sama aku,"
"Najis!"
"Jadi gimana? Nanti kamu anterin kan?"
"Nggak, gue sama Kara,"
"Alga aku kan pacar kamu mulai sekarang, jadi aku ngelarang kamu buat sama cewek lain,"
Alga menatap tajam Risa, "Gue nggak suka diatur!" bentaknya lalu pergi meninggalkan Risa yang masih berada di warung Bi Popon.
Kaki Risa semakin membengkak karena tadi pagi ia harus berlari bersama Alga, mungkin Alga lupa bahwa kaki Risa masih bengkak alhasil sekarang bengkak itu semakin membesar. Ia kembali tertatih-tatih karena harus berjalan menuju halte depan sekolahnya. Risa memutuskan untuk tidak kembali ke kelas dan memilih untuk pulang, ia menitipkan tasnya yang masih berada di dalam kelas kepada Weni.
Risa kesakitan terlihat jelas di mimik mukanya yang tampak menahan sakit di kakinya.
"Ash!" ringisnya. Ia celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, berharap sebuah angkutan segera datang agar ia bisa untuk segera pulang dan merebahkan tubuhnya, rasanya punggung Risa terasa remuk sudah tidak tahan lagi untuk rebahan.
Tiba-tiba motor yang sangat ia kenali berhenti tepat di hadapannya.
"Alga," Gumam Risa sambil mengulum senyum.
"Bodoh! Lo ngapain disini!"
"Nunggu angkutan sayang, kenapa?" ujarnya sambil senyam-senyum.
"Jijik!" bentak Alga. "Lo g****k atau apa sih? Nanti kalau ada guru yang lihat gimana hah!"
Oh iya Risa lupa, bahkan tidak ada dipikirannya sama sekali. Ya masalahnya halte terdekat hanya ini, di depan sekolahnya. Lagian ini juga bukan salah Risa, salah Alga juga kenapa tidak memilih untuk mengantarkan Risa saja.
"Ya aku harus gimana dong Alga. Ini halte paling deket di daerah sini, mau jalan jauh juga susah kaki aku makin membengkak,"
Alga melirik kaki Risa yang memang lebih membengkak dari sebelumnya.
"Cih ngerepotin!"
"Ngerepotin ke pacar sendiri nggak papa kan?"
"Buruan lo naik!"
Risa mengerjapkan matanya, serius? Sepertinya hari ini ia mendapat bertubi-tubi kejutan tak terduga. Apa mungkin ini hadiah dari Tuhan karena kesabarannya satu tahun belakang?
Tentunya Risa sangat senang! Bahkan ia masih tidak percaya Alga mengajaknya pulang, tanpa menunggu lama Risa menaiki motor Alga karena kakinya masih sakit jadi ia memilih untuk duduk menyamping.
"Ck!" decak Alga. Ia melepas jaketnya lalu menyampirkan di paha Risa.
"Eh,"
"Lo mau orang-orang liatin paha lo!" sinisnya.
Risa menggeleng lalu tersenyum, hatinya benar-benar berbunga-bunga sekarang. Ternyata Alga bisa semanis ini, mungkin ini adalah tanda Alga mulai menerima kehadirannya sekarang.
Sedangkan Alga ia melakukan itu semua kepada Risa memang dalam keadaan sadar, tetapi bukan seperti apa yang Risa pikirkan jika ia mulai menerima kehadiran Risa. Bukan, maksud Alga melakukan ini agar ia tidak ketauan Bu Melly gara-gara Risa menunggu angkutan di depan sekolahnya. Pasalnya tadi guru bk tersebut memergoki dirinya dan juga Risa membolos.
***
Tak henti-hentinya Risa tersenyum, bahkan ia tidak menyadari bahwa dirinya sudah berada di daerah perumahannya.
"Rumah lo belok mana?"
"Lurus aja, nanti belok ke kanan," jelasnya. "Al makasih ya, udah nganterin aku."
Namun Alga tak menjawabnya, sejujurnya kalau bisa ia memilih Alga enggan mengantarkan gadis itu.
"Ingat Al, sekarang kamu udah jadi pacar aku. Sebagai pacar yang baik, bisa nggak kamu antar jemput aku gini."
"Gak!" kata Alga. "Lo pikir gue ojek pribadi lo!"
Risa mencebikkan bibirnya, "Ya masa kamu nggak mau kayak orang-orang pacarannya. Yang setiap hari antar jemput ceweknya sih."
"Mau tapi nggak sama lo!"
"Kamu maunya sama Kara ya?" pancing Risa.
"Jelas!"
Risa tersenyum miris, dia sebenarnya sudah mengetahui jawaban Alga tapi masih saja ditanyakan. Memang gadis itu suka sekali mencari penyakit. Tidak usah dijelaskan dan digambarkan bagaimana rasanya, mengetahui dia yang kita suka ternyata mengharapkan wanita lain.
"Kamu suka ke Kara karena apa sih Al?"
"Yang jelas dia beda, dia wanita berkelas nggak kayak lo!"
Seketika Risa tertampar dengan jawaban Alga. Hati Risa sedikit sesak mendengarnya. Di mata Alga, ia tidak lebih dari seorang gadis murahan. Apa iya Risa tidak layak untuk Alga miliki?
"Al," panggilnya.
"Apa!"
"Kalau aku minta kamu buat buka hati kamu satu bulan ini, apa kamu mau?"
"Nggak!" tolaknya tegas. "Jangan mudah terbawa perasaan hanya karena gue nganterin lo sekarang atau lo ngira gue udah nerima kehadiran lo karena gue nerima tawaran lo buat kita pacaran!"
"Itu semua gue lakuin karena terpaksa!" jelasnnya menusuk.
Lagi-lagi Risa harus menerima kenyataan, "Yaudah kalau gitu ijinin aku buat perjuangin kamu ya?" kata Risa setengah hati, ia masih menahan nyeri di dadanya akibat perkataan Alga yang cukup melukainya.
"Tapi kalau kamu nggak ngijinin aku masih tetap masuk sih," Lanjutnya diselingi kekehan kecil untuk menutupi hatinya.
Alga berdecak, ia menyemangati dirinya sendiri untuk lebih sabar menghadapi gadis yang berada di belakangnya ini. Ia yakin setelah satu bulan semua drama yang dibuat gadis itu akan segera berakhir.
"Alga itu di depan nanti berhenti," seru Risa.
Risa menatap punggung Alga dari belakang, punggung tegak itu sulit Risa raih padahal jelas-jelas ada di depannya. Bisa tidak nanti dirinya masuk ke dalam kehidupan Alga? Rasanya mustahil tapi Risa percaya ia bisa. Teramat sulit memang meluluhkan seseorang yang sudah menolaknya sejak awal, membuat apapun pergerakan yang Risa lakukan akan selalu salah di matanya.
"Sini?"
"Benar Al," sahut Risa, ia segera turun dari motor Alga. "Mau mampir dulu nggak?"
"Nggak!" Alga sudah siap untuk menancapkan gas namun Risa cegah.
"Apalagi!" sewotnya.
"Hati-hati ya, dan terima kasih udah nganterin aku pulang,"
"Ya!" jawab Alga malas. Ia ingin segera pulang karena nanti saat jam sekolahnya berakhir Alga harus kembali ke sekolah guna menjemput Kara.
"Jangan ngebut-ngebut ya Sayang," bisiknya.
Karena tidak ingin berlama-lama dengan Risa ia buru-buru untuk segera pergi dari sana. Risa melihat wajah tidak suka Alga, namun ia tidak peduli. Risa malah melambaikan tangannya ke Alga sambil berteriak, "Hati-hati Alga, sampai rumah kabarin aku yah!" yah meski Risa tau Alga tidak akan mengabarinya nanti.
***
Hari ini satu sekolah digemparkan dengan berita tentang Risa yang akhirnya menjadi kekasih Alga, laki-laki yang dikejarnya selama satu tahun terakhir. Jelas Risa lah yang mengatakan kepada semua orang, ia mengumumkan bahwa dirinya dan Alga telah berpacaran.
Anak-anak Zerros yang mendengar kabar tersebut tentunya terkejut, pasalnya mereka tau bagaimana Alga yang sangat amat menolak Risa dan mereka juga tau bahwa gadis yang Alga suka juga bukan Risa. Keterkejutannya semakin valid ketika Alga sendiri yang mengakui hal tersebut tetapi ia tidak mengatakan alasannya menjadikan Risa sebagai pacarnya apa.
"Lo bisa nggak lepasin tangan lo itu!" sentak Alga risih karena sejak tadi Risa memeluk lengannya di tengah-tengah ramainya kantin.
Bukan apa-apa Risa terus memeluk lengannya karena dirinya pergi ke kantin bersama Kara, bahkan ia membawa Kara di tengah-tengahnya sekarang. Jelas Risa merajuk, apa Alga lupa bahwa sekarang dirinya adalah pacar Risa bukan Kara.
"Kenapa sih Sayang? Emang salah ya aku gini ke pacar sendiri?"
"Gue risih b*****t!" amuk Alga sambil menarik paksa lengannya.