Part 08

1015 Words
Menjadi pacar Alga sehari saja membuat Risa kebakaran jenggot sebab Alga yang lebih memilih bersama Kara, gadis yang jelas-jelas ia suka. "Yaudah maaf deh," "Lo bisa pergi nggak?" kata Alga mengusir Risa. "Inget ya Alga aku ini pacar kamu, dan aku masih mau sama kamu sekarang," "Dia aja yang suruh pergi!" tunjuknya kepada Kara. Kara menunduk takut, ia merasa terpojokkan sekarang padahal yang tiba-tiba mengajaknya ke kantin adalah Alga. "Yang dikatakan Kak Risa benar kak, kalau begitu aku saja yang pergi," Namun saat hendak berdiri tangan Kara dicekal oleh Alga. "Lo mau Kara yang pergi kan?" Risa mengangguk sambil mengulum senyum, "Oke kalau Kara pergi, gue juga!" kata Alga membuat Risa membelalakkan matanya seketika. "Enggak, biar dia aja yang pergi kamu disini aja Alga. Dia itu cuma penganggu," Alga menatap tajam Risa, "Lo yang penganggu!" Seperti biasa Alga pasti membawa pergi Kara dan meninggalkan Risa. Semua orang yang berada di kantin berbisik-bisik ragu apakah benar Risa menjalin hubungan dengan Alga? Tetapi yang mereka lihat sekarang justru tidak seperti dua orang yang sedang kasmaran. Alga masih sama sikapnya seperti biasanya, bahkan lebih memilih Kara yang bukan kekasihnya. Untungnya mendengar gunjingan dari orang-orang sekitar sudah membuat Risa kebal, itu tak ada apa-apanya. Direndahkan di tempat umum pun tak membuat Risa berkecil hati, ia tetap saja dalam mode cuek. Seperti sekarang, Risa memilih untuk melanjutkan memakan makanannya yang baru datang dengan lahap. Ia tak peduli dengan teman-temannya yang asik mengujinginya. "Masih ada 29 hari lagi Ris, lo bisa!" gumamnya. Di jam kedua istirahatnya Risa kembali menemui Alga, baginya tiada hari tanpa perjuangan memang. Ia berjalan dengan wajah girangnya karena ingin cepat-cepat menemui sang pacar. Saat netranya menangkap Alga yang baru saja keluar dari kelasnya, buru-buru ia mempercepat langkahnya. "Hai Pacar," sapanya berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Alga. Alga melirik sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan, "Pacar mau kemana?" "Bukan urusan lo!" "Bisa tidak kalau berbicara sama pacar sendiri tuh yang manis, kalem, nggak usah bentak-bentak gitu ih," "Gak!" "Yaudah iya terserah pacar aja," Orion menggeleng-gelengkan kepalanya melihat usaha Risa menaklukan Alga yang memang keras dengan berbagai cara. Ia saja sebagai teman Alga heran kenapa Alga tidak bisa menerima Risa, Risa cantik bahkan katanya banyak laki-laki yang menyukai gadis itu namun Risa fokus ke Alga sampai-sampai tidak memberikan kesempatan untuk laki-laki lain yang coba mendekatinya. Karena Alga tidak juga memberi taunya akan pergi kemana, Risa menghadang jalan laki-laki itu membuat Alga dan rombongannya mendadak berhenti. "Pacar mau kemana sih?" tanyanya lagi sambil mengedip-ngedipkan matanya centil. "Minggir!" wajah Alga memerah, ia mendorong Risa dengan sebelah tangannya alhasil tubuh Risa hampir tersungkur ke samping. "Awh!" teriak Risa karena dorongan Alga membuat kakinya yang bengkak menumpu beban beratnya dan itu terasa sangat sakit. Alga tidak peduli, ia tetap berjalan lurus meninggalkan Risa. "Lo nggakpapa?" ujar Orion. Risa mengangguk, "Santai aja. Gue nggakpapa. Udah lo sana ikutin tuh temen lo." "Jangan maksain diri lo kalau lo udah tau itu sakit," pesan Orion lalu pergi menyusul Alga dan anak-anak Zerros lainnya. Risa tau maksud Orion, tapi bagaimana hatinya menyuruhnya untuk tidak menyerah mendekati Alga. Sedikit kesulitan saat dirinya hendak berjalan karena memang kakinya sekarang tidak bisa digerakkan, "Ish lo kenapa jadi gini sih!" keluh Risa. Ia mencoba menarik nafas panjang berharap setelah itu kakinya mudah untuk digerakkan. Namun nihil usahanya sia-sia, sekarang ia hanya bisa bersender di tembok berusaha merayap. "Eh! Eh!" kagetnya saat tiba-tiba ada seseorang yang membopongnya. "Darren!" cicit Risa. Ia terkejut melihat Darren yang menggendongnya tiba-tiba. "Ren lo mau bawa gue kemana?" Ya bukankah sudah dijelaskan bahwa Darren sebelas dua belas dengan Alga? Jadi jangan berekspetasi Darren akan menjawab Risa dengan wajah bersahabatnya. Tatapannya masih lurus ke depan, entahlah apa yang membuat laki-laki itu berat untuk menjawab pertanyaan Risa. Ternyata Darren membawanya ke uks. Risa mengulum senyum, ternyata laki-laki itu memiliki belas kasihan juga. Padahal ia dan juga Darren tidak pernah saling berbicara satu sama lain. Darren meletakkan tubuh Risa ke brangkar uks, membaringkannya disana. Masih tidak ada percakapan diantaranya, Risa juga bingung harus berkata apa lagi setelah pertanyaannya tadi tidak dijawab oleh Darren. Laki-laki itu bergegas menuju kotak obat yang berada tak jauh dari brangkar, tampak ia mencari sesuatu disana sedangkan Risa gadis itu tetap diam sembari memperhatikan gerak-gerik Darren ia takut laki-laki tersebut melakukan hal-hal yang mencurigakan. Siapa tau karena Alga sangat kesal kepadanya lalu kekasihnya itu menyuruh Darren untuk melenyapkan dirinya, pikiran Risa semakin tidak karuan saat matanya menangkap benda yang Darren bawa. "Ren lo mau ngapain gue?" pekiknya. Mereka hanya berdua diruangan ini, Risa semakin jelas melihat sebuah gunting di tangan laki-laki tersebut. "Jangan bunuh gue Ren!" Darren tidak menjawab, laki-laki itu jalan semakin mendekat. Wajah Risa sudah sangat pucat, ia tak habis pikir bila Darren benar-benar ingin membunuhnya. "Tolong jangan bunuh gue Ren, gue masih mau hidup. Gue belum kawin sama temen lo, jangan bunuh gue ya Ren!" rancaunya. Tolong siapapun yang melintas di depan uks tolong Risa sekarang juga, gadis itu sangat ketakutan. Jika terlambat menyelamatkannya, ia akan mati sekarang juga ditambah Darren berjalan makin mendekat. Jantung Risa berpacu sangat cepat, jika memang ia harus mati sekarang juga Risa benar-benar tidak ikhlas dan berjanji akan mengentayangi Darren selama hidupnya bahkan sampai anak cicitnya. Tujuh turunan Darren akan Risa hantui satu persatu. Tidak peduli ia dianggap hantu jahat nantinya. Risa memejamkan mata, pasrah jika memang ini takdirnya harus dibunuh Darren tidak apa-ala, setelah itu ia berjanji dan bersumpah akan mengentayanginya. Sang ayah pasti akan sangat sedih nanti mengetahui Risa meninggal di tusuk gunting oleh teman dari laki-laki yang Risa cintai. Ia akan berkumpul dengan sang ibu di surga, tapi jujur Risa belum siap jika harus mati sekarang. Gadis itu merapalkan doa berharap ada orang yang sadar bahwa dirinya di dalam uks sedang dalam kondisi mencekam. Ia berjanji siapapun yang menolongnya nanti jika laki-laki Risa akan jadikan ia pacar, tak apa bila dirinya harus menggadaikan perasaannya kepada Alga tidak apa-apa. Ia juga akan berjanji akan melupakan rasa cintanya kepada Alga untuk dia, laki-laki yang menolongnya. Namun jika yang menolongnya nanti adalah seorang wanita ia akan menjadikan dia saudaranya, Risa akan menuruti semua permintaan yang ia mau. Itu janji Risa. Jadi siapapun itu, tolong Risa sekarang juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD