Jumat sore jadwal Alga dan timnya latihan basket. Risa sudah berada di bangku paling depan menjadi support system yang tak pernah absen mendukung Alga. Ia begitu heboh melihat Alga yang sedang bermain, padahal ini bukan pertandingan tetapi Risa paling heboh sendiri, jadi bisa dibayangkan bagaimana hebohnya gadis itu bila Alga mengikuti turnamen.
Suara teriakan Risa memekakkan telinga Alga, rasanya Alga ingin menyumpal mulut toa Risa. Rasa benci kepada Risa semakin bertambah. Muak, benar-benar muak dengan kelakuan gadis tersebut.
Risa hendak menghampiri Alga yang selesai latihan, ia ingin memberikan handuk dan juga air mineral yang dibawanya untuk Alga. Seperti jumat-jumat sebelumnya, Risa selalu menyiapkan handuk kecil beserta air mineral. Dan seperti jumat-jumat sebelumnya, air mineral dan juga handuk pemberiannya Alga kasihkan kepada Ello, teman satu tim Alga.
Tidak apa-apa, ia lebih suka Alga memberikan pemberiannya kepada orang lain daripada ia buang di depan Risa, itu jauh lebih menyakitkan. Kalau Alga memberikannya pada Ello teman satu timnya atau Orion atau siapa pun manusia beruntung yang mendapatkannya tersebut, setidaknya pemberian Risa bermanfaat meski ia berharap barang itu digunakan oleh Alga.
Tarikan dari belakang tasnya membuat Alga berhenti dan menyiratkan tatapan tajam untuk pelakunya.
"Alga hari ini mau gak anterin aku pulang?" pinta Risa meskipun sebenarnya dia tau jawaban Alga apa.
Alga tersenyum menyeringai lalu menyentak tangan Risa kasar, "Nggak!"
Risa mengerucutkan bibirnya lalu kembali mengejar Alga, "Ayolah Alga, udah sore juga mana ada angkutan yang lewat." cerocosnya masih berusaha mendekati Alga.
Karena tak ada jawaban dari Alga, lagi-lagi Risa mencoba negoisasi kepadanya, "Ya ya ya? Sekali aja deh. Besok-besok enggak."
"Gue bilang enggak ya enggak!" Intonasi Alga meninggi tanda ia muak dengan gadis itu.
Risa tak lagi mengejar Alga, ia biarkan laki-laki tersebut pergi. Mungkin Alga lelah setelah latihan basket barusan, gadis tersebut tampak masih berusaha sepositif mungkin.
Ia menghembuskan nafasnya pelan, mengeratkan tas punggungnya kemudian berjalan menuju gerbang. Hari ini Risa kembali gagal untuk bisa pulang bersama Alga, tapi tidak apa-apa, masih ada ojek online yang setia mengantarkannya.
Area sekolah sudah tampak sepi, anak-anak yang tadi berlatih basket juga sudah tidak ada disana, tinggal Risa yang masih menunggu bapak ojek di depan gerbang.
Karena lelah berdiri kurang lebih sepuluh menit, Risa memilih untuk pergi ke halte yang ada di depan sekolahnya.
Risa masih menunggu bapak ojeknya yang masih belum datang juga. Tiba-tiba segerombolan laki-laki yang masih menggunakan seragam berlarian di depan Risa, benar-benar sangat banyak. Ia tidak tau ada apa, dari sisi sebelah kanan Risa melihat gerombolan laki-laki yang menggunakan seragam sekolahnya sedangkan dari sisi sebelah kiri menggunakan seragam berbeda.
"Ini tawuran?" panik Risa. Wajah Risa pucat pasi saat menyadari bahwa itu memang aksi tawuran. Untuk berlari saja Risa tidak bisa, ia benar-benar terkepung. Risa melindungi kepalanya dengan kedua tangan ia takut kepalanya terkena lemparan batu-batu yang lumayan besar, bahkan Risa melihat ada yang membawa sajam. Risa berteriak histeris, namun tidak ada yang sadar bahwa di sana ada anak perempuan sedang terjebak di tengah-tengah kerusuhan itu.
Aksi tawuran semakin keos, Risa bisa melihat beberapa laki-laki yang tumbang dengan sayatan di lengan, wajah, dan tangannya. Risa mengingit bibirnya takut-takut, tubuhnya bergetar matanya mulai memanas. Ia takut, Risa masih ingin hidup, masih ingin memperjuangkan Alga. Tanpa Risa sadari, ia sudah menangis sesenggukan sambil menutup mata. Dan tak lama ia merasakan tubuhnya dibekap oleh seseorang, dituntun untuk pergi dari sana. Risa tidak tau siapa orang tersebut karena ia masih menutup mata. Ia hanya bisa pasrah kemana orang itu membawanya. Orang baik atau orang jahat yang membawanya, Risa benar-benar pasrah.
"Lo udah aman,"
Perlahan Risa membuka matanya, melihat sosok bertubuh tegap memeluknya. Risa tidak mengenal laki-laki itu, jika dilihat dari seragamnya laki-laki tersebut adalah musuh dari sekolahnya, "Lo siapa?"
"Gue Vano,"
Risa mencoba melepaskan pelukan laki-laki yang bernama Vano itu. Ia masih terlihat sangat takut, "Lo-"
Mendengar suara Risa yang bergetar, ia terkekeh, "Tenang lo aman sama gue. Meski lo anak dari SMA rival kita."
"Beneran aman?" ujar Anna memastikan.
Vano mengangguk. Dan Risa baru sadar bila Vano membawanya di belakang ruko-ruko yang tak jauh dari tempat tawuran tadi, mungkin maksud laki-laki tersebut mengajaknya bersembunyi.
"Lo nggak ikut tawuran?"
Pertanyaan bodoh yang tanpa Vano jawab, Risa tau jawabannya apa.
"Kalau gue ikut tawuran, gue nggak bakal di sini nolongin lo,"
"Eh iya," Ia menggaruk tengkuknya yang terasa tak gatal itu.
"Lo kok mau nolongin gue, bukannya lo rival dari sekolah gue ya?" tanya Risa takut-takut. Ia takut mendadak laki-laki di hadapannya ini berubah pikiran.
"Gue nggak bakal apa-apain lo, tapi nanti lo bakal gue jadiin umpan,"
"Umpan?"
Vano mengangguk, "Umpan buat anak-anak Zerros." Ujar Vano sambil menyunggingkan senyum smirknya membuat Risa mundur menjauhinya.
Ketua Zerros adalah Alga, jadi maksud Vano ia akan menggumpankan Risa untuk itu. Tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi Alga tidak boleh kenapa-napa.
Melihat Risa yang ketakutan Vano semakin mendekat, "Gue nggak bakal nyakitin elo Risa."
"Kok lo tau nama gue?" cicitnya.
Vano menatap ke arah name tag di d**a Risa, namun Risa salah paham, "m***m!" hardik Risa membuat Vano bingung kelabakan.
"Haa? Tuh!" Ia menunjuk name tag Risa.
"Oh eh iya," ujarnya sedikit malu. "Gue mau pulang."
"Tunggu selesai, terus gue mau ngasih tau ke Alga kalau gue berhasil nyekap salah satu anak garuda," ujar Vano sambil terkekeh.
"Jangan!" cegah Risa.
Vano menaikkan sebelah alisnya, sangat terlihat jelas dia laki-laki berkelakuan sebelas dua belas dengan Alga, "Kenapa?"
"Lo salah orang, Alga nggak bakal peduli mau lo nyekap gue atau bahkan bunuh gue sekalipun. Yang khawatir ke gue bukan Alga tapi bokap gue,"
"Lo suka Alga ya?"
Seketika ia menoleh ke arah Vano, "E-enggak."
"Gak usah bohong, gue bisa lihat dari mata lo,"
Karena kakinya pegal ia memilih untuk duduk di bawah, ia membersihkan debu-debu yang ada di trotoar lalu mendudukinya, "Ya begitulah. Gue suka Alga tapi Alga benci gue." Tiba-tiba saja ia mencurahkan hatinya ke laki-laki yang baru saja ia kenal.
Vano ikut duduk di samping Risa, ia melihat ada kesedihan dibalik wajah polos gadis yang ia tolong. Seakan kebetulan ia menolong gadis yang menggilai musuhnya.
"Entah gue yang bodoh, atau Alga yang memang tidak bisa melihat ketulusan gue," Mengingat kata-kata Alga membuat hatinya sedikit tercubit.
"Lo tau itu sakit kenapa meski lo pertahanin,"
"Ya itu gue juga nggak tau. Berarti yang Weni katakan benar, gue yang bodoh. Udah tau Alga sukanya ke Kara," Risa keceplosan mengatakan kelemahan Alga di depan musuhnya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Kara?"
"Bukan-bukan," Ia panik. "Anggap aja lo nggak denger ya Van." Sangking paniknya Risa menggosok telinga Vano. Entah apa gunanya.
Vano melihat tingkah Risa terkekeh, bahkan Risa bisa melihat deretan gigi rapi Vano dengan jarak sangat dekat, "Eh maaf-maaf Van." ujarnya malu karena tidak sopan.
"Santai aja kalau sama gue Ris,"
Vano orang baik, tapi dia musuh Alga. Tidak-tidak, Risa tidak boleh ikut memusuhi Alga. Biarlah itu urusan geng Vano dengan geng Alga. Saat keduanya sama-sama terdiam, Risa baru ingat, "Vano jam berapa sekarang?"
"Jam lima,"
"Apa?" pekiknya histeris. Ia merogoh saku seragamnya mengambil handphonenya yang ternyata mati. Matanya mulai berkaca-kaca, Vano yang melihat kepanikan Risa ikut bertanya.
"Emang kenapa?"
"Gue belum bilang ke bokap, kalau telat pulang. Pasti dia khawatir," tutur Risa, ia menyeka air mata yang turun apalagi saat melihat handphonenya yang mati ia tidak bisa menghubungi sang ayah.
"Nih pakai handphone gue,"
Risa mendongak, "Beneran?"
"Iya, udah pakai aja. Cuma ke lo gue baik gini,"
Ia mengangguk lalu mengetikkan nomor Hasyim, terdengar nada dering yang tersambung namun Hasyim belum juga mengangkatnya, "Halo Yah ini Ana."
"Halo An, kenapa belum pulang?"
"Iya tadi Ana masih lihat latihan basket dulu di sekolah, sebentar lagi Ana pulang Yah,"
Vano yang mendengar itu pun hanya menyungingkan senyum, pasti gadis yang kini berada di sebelahnya pulang telat karena menonton Alga yang sedang latihan. Karena Vano tau jadwal latihan basket anak garuda.
"Apa Ayah jemput aja sekarang?"
"Ah tidak-tidak, Ana pulang sendiri saja Yah,"
"Hati-hati Ana, jangan malam-malam,"
"Siap komandan," serunya. "Udah ya Yah, ini Ana pakai handphone teman Ana, handphone Ana mati,"
"Iya pokoknya kamu harus hati-hati,"
"Siap Yah!"
Panggilan berakhir, Risa sedikit lega bisa menghubungi sang ayah.
"Ana?" tanya Vano.
"Eh iya, gue dipanggil Ana kalau di rumah," katanya sambil menyerahkan ponsel Vano, "Terima kasih."
"Oke sama-sama,"
Mereka sama-sama diam, Risa dengan segala gundah gulananya karena tidak tau kapan Vano membolehkannya untuk pulang. Bisa saja sebenarnya untuk Risa kabur begitu saja, tapi ia memilih tidak untuk melakukan, karena menurutnya bersama Vano lebih aman dibanding nantinya ia kabur dan terjebak lagi ditawuran seperti tadi.
"Lo nggak takut sama gue?"