Risa menggeleng.
"Gue musuh Alga, yang artinya rival dari sekolah lo,"
"Ya kan lo ada masalahnya sama Alga bukan sama gue, gue percaya lo orang baik,"
Vano melirik Risa, "Kenapa lo percaya gue orang baik?"
"Kalau lo orang jahat lo nggak bakal nolongin gue 'kan?"
Vano mengangguk, ia juga heran bisa-bisanya ia malah menolong gadis yang menggunakan seragam sekolah rivalnya. Tiba-tiba saja netranya menangkap gadis yang berada di halte dengan tubuh gemetar, ia tau gadis itu takut melihat adegan tawuran yang digagasi oleh dirinya yang memang berniat menyerang anak-anak SMA Garuda.
"Ayo aku antar pulang," seru Vano.
"Haa?" Bukannya tadi ia berniat untuk mengumpankan Risa katanya.
Vano menatap Risa yang masih duduk, "Mau pulang nggak?"
Risa mengangguk mantap, "Mau-mau."
"Buruan, sebelum gue berubah pikiran,"
Risa mengikuti langkah Vano, yang membawa ke area tawuran tadi. Terlihat keadaan yang masih mencekam, membuat bulu kudu Risa merinding. Entah apa jadinya bila Vano tidak menyelamatkannya tadi, mungkin ia sudah pingsan dan tak tau bagaimana nasibnya.
"Lo tunggu di sini, gue ambil motor dulu,"
Ia mengangguk, benar-benar kuasanya di bawah tangan Vano. Hanya dia yang baru kenal dengan Risa dengan gampangnya membuat Risa menurut.
Tak lama Vano datang dengan mengendarai motor gedenya, entah Risa tidak tau motor jenis apa. Pastinya ia yakin bahwa motor itu yang menemani Vano balap liar di jalanan.
"Nih," ia memberikan Risa jaket berlogo geng Vano di bagian belakangnya, 'AEROX'. Risa heran dengan manusia-manusia seperti Vano dan juga Alga yang mendirikan geng-geng aneh seperti itu.
Risa bergidik ngeri saat membaca tulisan 'pantang puas sebelum tewas' di bawah logo AEROX slogan tergila yang pernah Risa baca dsn langsung membuat bulu kudunya merinding.
"Nggak usah deh," tolaknya. Ia terlalu ngeri jika ada orang lain yang membaca tulisan tersebut.
"Lo tau dingin kan?"
Jujur Vano laki-laki teraneh yang ia temui, padahal ia baru saja kenal tapi seperti sudah mengenal lama.
"Iya," pasrahnya kemudian menggunakan jaket milik Vano.
"Helmnya pasang juga,"
"Iya-iya sebentar,"
Sore ini perdana ada laki-laki yang mengantarkannya pulang, semoga saja sang ayah tidak melihatnya. Bisa-bisa ia harus mengikuti wawancara sehari semalam.
***
Wajah Alga mengeras, padahal masih pagi tapi rupanya laki-laki itu sudah dibuat emosi oleh seseorang. Ia berjalan dengan langkah tegas ke arah koridor yang menghubungkan ke daerah kelas Ips. Tidak biasanya ini terjadi, dan yang paling membuat teman-temannya heran Alga masuk ke dalam kelas gadis yang mengejar-ngejarnya selama ini, gadis yang selalu mendapat perlakuan buruk dari Alga. Semuanya bertanya-tanya, ada apa?
Mata Risa berbinar kala menangkap Alga dan bersama teman-temannya masuk ke dalam kelasnya. Aneh, sangat aneh, biasanya Risa yang menghampiri Alga tetapi kali ini Alga yang menghampirinya, apa ini pertanda baik? Apa Alga mulai menyukainya? Atau apa Alga sudah mulai menganggapnya ada.
Harapannya yang baru saja Risa susun dengan rapi, hancur seketika sangat ia menangkap guratan merah di wajah Alga, "Jadi ini yang lo buat hah!" teriakan Alga membuat Risa kaget.
Ia tak tau apa yang dimaksud Alga, "Apa hubungan lo sama anak Aerox s****n!" Alga melempar selembar fotonya bersama Vano saat ia diantar pulang kemarin sore.
Vano?
Yang Alga maksud Vano?
"Siapa? Maksud kamu Vano?"
Alga tersenyum sinis, "Jadi bener? Lo dibayar berapa sama dia hah!"
"Apa sih Al, maksud kamu apa? Aku aja baru kenal sama Vano kemarin saat dia ban-"
"Halah lo jujur sekarang!" bentak Alga menatap tajam gadis yang ada di hadapannya.
"Enggak Alga. Aku nggak ada apa-apa, beneran," Ia mencoba menyakinkan Alga bahwa dia memang tidak ada apa-apa dengan Vano.
"Dasar murahan!" desisnya setelah itu keluar dari kelas Risa.
Risa berlari mengejar Alga, "Alga dengerin dulu. Kamu salah paham tau nggak."
Tapi tak diidahkan oleh Alga, ia menghempas tangan Risa yang berhasil meraih lengannya. Cukup kasar sampai membuat Risa hampir terjungkal, mungkin jika tidak ada Orion di belakangnya ia sudah tersungkur.
"Lo tau Aerox musuh kita," ujar Darren dingin. Risa bisa menyimpulkan kasta terdingin dari inti Zerros, yang pertama adalah Alga tentunya, yang kedua Darren, dan yang ketiga Randi. Menurutnya Randi masih ada senyum-senyumnya sedikit, apalagi saat mendengar celetukan-celetukan Orion, hanya Randi yang tertawa. Kalau dua balok es kutub utara itu tidak pernah sekalipun Risa menjumpai Alga dan Darren tertawa, menyunggingkan bibirnya pun tidak pernah.
"Tapi gue emang nggak ada apa-apa-"
Sama seperti Alga, Darren meninggalkan Risa tanpa mau mendengar perkataan gadis itu hingga selesai. Membuat Risa mendengus kesal, hanya ada Orion yang menatapnya iba. Randi pun ikut berlalu bersama dua balok es itu.
"Gue baru kenal Vano kemarin kok," adunya kepada Orion.
Orion percaya itu, tidak mungkin seorang Risa kenal dengan berandalan-berandalan di luar sekolahnya, "Gue percaya lo kok Ris. Udah lo tenang aja, nanti gue marahin mereka. Semangat belajarnya." kata Orion mengacak rambut Risa pelan. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke telinga Risa, "Dan gue dukung lo buat dapetin Alga." bisiknya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Risa langsung tersenyum senang, ia mengangkat jempolnya ke arah Orion yang berjalan di depannya, "Jangan lupa katakan ke Alga, suruh dia segera buka hatinya buat gue ya!" serunya.
"Siap Ris!" balas Orion.
Orion ini adalah tipe kakak laki-laki ideal, menurut Risa. Andai ia memiliki kakak seperti Orion, Risa tidak akan kesepian seperti sekarang.
***
Risa sedang berjalan santai dengan senyum yang terpatri di wajahnya. Menenteng coklat dan s**u kotak untuk siapa lagi kalau bukan untuk Alga, seolah ia sudah melupakan hal yang tadi pagi menimpanya.
Senyum di wajahnya luntur seketika saat melihat Alga dan juga ketiga teman-temannya duduk di meja kantin kebanggaannya, dengan Kara. Mata Risa dan mata Kara bertabrakan sontak adik tingkatnya menunduk takut-takut. Risa sudah menunjukkan wajah tak sukanya, meski begitu ia tetap berjalan ke arah Alga.
"Alga ini," ujarnya menyodorkan coklat dan s**u coklat.
Alga menatapnya tak suka, gadis ini tak punya malu atau bagaimana? Ia tak habis pikir dengan pola pikirnya yang sudah berkali-kali ia tolak, seakan penolakan-penolakan Alga selama ini tak ada apa-apanya, "Berapa kali gue bilang, jangan ngejar gue!" Tatapan kebencian Alga isyaratkan kepada Risa.
Tatapan Alga tak gentar membuat Risa takut, gadis itu malah melebarkan senyumnya, "Kemarin aku bawakan nasi goreng kamu tolak kan, sekarang aku bawakan ini." ujarnya bersemangat sambil menujukkan coklat dan satu kotak s**u coklat. "Ini enak manis, aku yakin kamu suka."
"Nggak!"
"Oh ayolah Alga, cobain deh," Ia membuka bungkus coklat tersebut dan masih berusaha agar Alga memakannya.
"Lo b***k?" hardiknya.
Risa menarik tangan Alga dan meletakkan coklat dan s**u tersebut ke tangannya, "Aku minta maaf ya soal Vano. Aku benaran baru kenal kemarin sama dia."
"Jangan marah-marah lagi ya Alga," Risa memasang senyumnya, ia mengedarkan pandangan kepada Kara yang masih menunduk di sampingnya.
Alga melempar coklat dan s**u kotak pemberian Risa. Gadis itu yang awalnya menatap Kara sontak mengalihkan pandangannya ke bawah dan begitu kecewanya saat ia melihat s**u kotak dan juga coklatnya sudah berada di tanah, bahkan s**u kotaknya tumpah akibat bantingan keras Alga, "Alga!" pekiknya menatap nanar nasib coklat dan s**u kotak yang sengaja ia bawakan untuk Alga.
"Kalau lo masih ngeyel, lo tau akibatnya!" Dinginnya dengan rahang yang mengeras. "Pergi!"
"Ga!" peringat Orion, menurutnya Alga sudah kelewatan.
"Lo mau bela cewek yang gak punya harga diri ini?" sindirnya. Mungkin inilah kalimat terpanjang Alga meski isinya menyakitkan Risa.
"b***h!" Umpat Alga lalu menggandeng Kara untuk pergi dari sana.
Seluruh kantin sudah biasa melihat ending dari Risa yang akhirnya dicaci maki oleh Alga. Dan anehnya Risa masih terus berjuang untuk laki-laki yang memang menolaknya. Risa yang terlalu keras kepala, padahal ia tau bahwa ini menyakitkan tetapi tetap saja ia lakukan.
Weni datang dengan nafas yang tersenggal-senggal saat tadi Fira teman sekelasnya mengatakan Risa di kantin dalam bahaya. Weni sudah mengira pasti ada aja kelakuan Risa yang membuat Weni ketar-ketir sendiri.
Risa menatap kepergian Alga yang menggandeng Kara, mungkin jika itu dirinya Risa akan bahagia. Ia iri kepada Kara, gadis tersebut bisa mendapatkan Alga dengan begitu mudah, sedangkan dia meski tertatih-tatih mengejar Alga, tetap tidak dilihat.
Weni menarik Risa agar pergi dari sana, jujur menjadi teman Risa apalagi sahabat dari gadis itu tidaklah mudah, sangat tidak mudah. Seringkali Weni makan hati saat Risa tak pernah mendengarkan nasehatnya yang menyuruh Risa untuk belajar melupakan Alga. Bukan apa-apa, Alga tidak menyukai Risa. Tujuan Alga bukan Risa, melainkan Kara. Mau sampai kapan Risa seperti ini?
Beberapa kalimat tamparan yang Weni lontarakan tidak cepat membuat Risa sadar. Weni lelah, dengan cara apa lagi membuat Risa tersadar. Apa perlu ia bawa Risa ke tempat ruqyah? Tolong Weni sudah kehabisan akal dan kata-kata menangani Risa.
"Lihat aja gue bakal labrak Kara!" sengitnya.
Weni memutar malas bola matanya, "Udah deh Ris jangan aneh-aneh lagi, lo mau sampai kapan kayak gini terus?"
"Sampai Alga jadi milik gue lah!"
Oh tidak ia ingin mengajak Risa pergi ke mars saja, "Masalahnya Alga gak suka ke lo Risa!" ucapnya ngegas.
Risa tertawa, inilah hiburan Risa membuat Weni sebal setengah mati.
"Iya gue tau dia nggak suka ke gue, tapi kan ini proses. Lo tau proses kan? Udah tenang aja nanti Alga jadi milik gue, pegang deh ucapan gue barusan," Risa tersenyum sambil membayangkan betapa bahagianya jika ia bisa menjadi pacar Alga.
"Gila sempurna banget hidup gue kalau sama dia!" halunya.
Weni sudah tidak kuat, ini Risa akan benar-benar gila sebentar lagi. Oh tuhan ia hanya ingin sahabatnya waras.
***
Senyum Risa menyeringai saat dirinya melihat Kara masuk ke dalam kamar mandi, ini waktunya. Akhirnya semesta memberinya kesempatan untuk melabrak gadis yang sebenarnya tak memiliki kesalahan apapun.
"Lo!" Risa menyenggol tubuh Kara sampai tubuh gadis itu terbentur dinding kamar mandi.
"Ash!" rintihnya. Itu cukup membuatnya meringis karena memang dorongan Risa kuat. "Kak Risa." cicitnya. Kara tau rumor tentang Risa yang tak akan segan-segan membully siapa saja yang berani mendekati Alga.
"Berani-beraninya lo deketin Alga hah! Berapa kali gue bilang jangan deketin Alga, tapi rupanya lo nggak denger perintah gue!"
Pasalnya bukan Kara yang mendekati Alga, melainkan laki-laki itu yang mendekatinya. Seharusnya Risa menanyakan hal tersebut kepada Alga bukan Kara.
"Sok cantik banget sih lo deketin Alga!" Risa melirik penampilan Kara dari atas sampai bawah, ia tak habis pikir bagaimana Alga bisa menyukai gadis udik ini. Beda sekali dengan penampilan Risa.
"Lo jangan keganjengan jadi cewek, dasar kampung! Awas gue lihat lo deketin Alga lagi, habis lo sama gue!"
Kara hanya mampu menangis, ia benar-benar takut dengan Risa. Kara si gadis baik, mungkin banyak orang seperti dia. Ia memiliki wajah kalem, adem untuk dipandang. Kara juga terkenal karena kepandaiannya. Pantas saja Alga suka dengan Kara. Kalau ditanya soal insecure tidak Risa dengan Kara, Risa akan menjawab iya. Tapi apapun yang terjadi ia harus percaya diri, percaya bahwa suatu saat nanti Alga akan menyukainya balik.
"Maaf Kak," ujar Kara sesenggukan.
"Maaf lo nggak ada gunanya kalau lo masih ngedeketin Alga, denger!"
"Risa!" Suara bariton dingin membuat Risa menoleh dan terkejut.