Part 04

1350 Words
"Alga," "Apa yang lo lakuin b*****t!" Murka Alga saat melihat Kara menangis dengan wajah ketakutan. Alga tebak pasti Risa membully Kara lagi, "A-aku cuma ngasih dia pelajaran aja Alga." "s****n!" Ia mencengkeram rahang Risa kuat-kuat sampai Risa merintih kesakitan, "Berapa kali gue bilang. Jangan sentuh Kara!" teriaknya di depan wajah Risa. Risa terkesiap, ini pertama kalinya ia melihat Alga semarah itu kepadanya. Bahkan Risa bisa melihat gigi Alga yang bergelatukan tanda memang ia murka sekali kepada Risa. "Jauhin gue atau kalau enggak lo akan menyesal!" ancamnya lalu membopong Kara pergi. Menyisakkan Risa yang masih menatap nanar wajahnya di cermin kamar mandi, ia tertawa miris, "Kasian banget sih lo Ris!" Risa melihat dirinya yang lemah, bukan lagi Risa dengan diri garang yang ditakuti Kara. Air matanya merembes, meski begitu ia harus tersenyum. Tidak boleh, Risa tidak boleh bersedih orang lain tidak boleh melihatnya seperti ini, bisa-bisa mereka mensyukuri hal itu. Benar Risa hanya sedang memakai topeng menutupi kesedihannya. Dunia sangat kejam kepadanya, kalau ia tak berlaku sama. "Ris lo nggak papa?" Itu Weni, hanya Weni yang tau bagaimana rapuhnya Risa. Gadis itu menghambur kepelukan sahabatnya dengan tangis deras. Semua orang tidak boleh melihatnya menangis, kecuali Weni sekalipun dengan ayahnya. Ia akan berubah menjadi gadis periang di depan sang ayah, Risa menutupi semuanya dari ayahnya. Weni tau alasan Risa mengejar-ngejar Alga, ia juga sendiri kaget mengapa Risa sebegitunya memperjuangkan Alga setelah mendengar alasan Risa. Sebegitu yakinnya dia bawah Alga adalah laki-laki yang bisa menjaganya. Tak butuh waktu lama untuknya menumpahkan segala tangisnya, buru-buru ia membasuh wajahnya agar tidak boleh satu orang pun yang tau kalau dirinya telah menangis. Risa kembali memasang wajah biasanya dengan senyum simpul yang menjadi andalannya. "Waktunya memakai topeng Wen," ujarnya. Weni mengangguk lalu menepuk bahu Risa, menyemangatinya. "Lain kali lo harus bisa kontrol diri lo sendiri," Masih tidak jerah, dan Alga sampai kehabisan kata-kata untuk melawan gadis itu. Setelah tadi ia menemuinya yang tengah melakukan aksi bullynya terhadap Kara. Beruntungnya Alga datang tepat waktu, kalau tidak ia akan sangat amat bersalah kepada Kara. "Tenanglah lo aman sama gue," ujarnya memeluk Kara yang kini tengah menangis sesenggukan. Lihat saja ia akan membalas perbuatan gadis itu. Tidak boleh ada yang menyakiti Kara-nya, kalau tidak ia akan berurusan dengan Alga. "Minum dulu," Ia menyodorkan air mineral kepada Kara. Terlihat gadis itu sangat ketakutan. Sampai Kara menjauh gara-gara Risa, ia tidak akan mengampuni gadis itu. s**l! Kenapa ada modelan gadis seperti dia di dunia ini? "Gue antar ke kelas ya," tawar Alga. Di lorong kelas yang menghubungkan kelas Kara ia berpapasan dengab Risa. Tapi itu tak di idahkan Alga, ia malah meranhkul Kara agar lebih berjarak dengannya. Tanpa peduli tatapan Risa yang menghunus tajam, ia kembali melanjutkan jalannya. Risa tersenyum, ia akui Risa cemburu. Cemburu kepada orang yang tidak menginginkannya itu menyakitkan. Rasanya tidak berhak untuk Risa mencemburuinya, mustahil rasanya. Kata siapa Risa selalu percaya diri bisa meluluhkan hati Alga? Itu tidak benar, seperti sekarang ia sedang kalah. Kalah dengan semuanya. *** "Alga! Hari ini kamu bisa anterin aku nggak?" Setiap hari akan ada drama seperti ini. Tidak peduli dengan penolakan Alga, Risa tetap keukeuh memintanya untuk mengantarkan ia pulang. "Nggak!" "Sekali aja ya ya ya?" Ia memasang puppy eyesnya berharap Alga akan luluh kepadanya. "Minggir!" Sekarang Risa malah menghalangi motor Alga. Ia menggeleng, "Enggak Alga, aku nggak bakal minggir sebelum kamu mau nganterin aku." "Apa sih mau lo!" sulutnya emosi. Kenapa Risa pintar sekali menyulutkan emosi Alga. "Pulang bareng Alga," ujar Risa santai sambil mengedipkan mata genitnya. Alga turun dari motornya lalu menarik lengan Risa, bukannya takut ia malah senang ditarik Alga seperti ini. "Lo dengerin gue baik-baik," Risa mengangguk sambil tersenyum centil berharap setelah ini Alga langsung jatuh cinta kepadanya. "Jangan deketin gue lagi b***h!" "Gak punya malu!" "Murahan!" "Lo cewek tapi nggak ada harga dirinya!" Kenapa menyakitkan seperti ini? Ini kalimat terpanjang Alga, tapi mengapa hanya ada cacian di dalamnya. Lebih baik Alga mengatakan satu kata menyakitkan seperti biasanya, daripada seperti saat ini. Cacian menyakitkan. "Jangan harap gue jatuh cinta sama lo!" Ternyata perkataan Alga cukup membuat Risa terdiam lama. Bahkan ia tak menyadari kepergian Alga. Risa masih berdiri kaku, untuk melangkah saja kakinya gemetar. "Berapa kali gue bilang, jangan jadi payung untuk orang yang gak suka hujan," Weni menarik paksa Risa agar gadis itu mengikutinya. *** Rasanya Alga ingin menerkam gadis itu hidup-hidup, setelah ia melihat gadis tersebut pulang bersama Vano, musuh sekaligus rivalnya dalam berbagai hal. Hidupnya memang diciptakan untuk bersaing dengan laki-laki bernama Vano itu. Bukan hanya itu saja yang membuat Alga semakin membenci Risa, semua yang berhubungan dengan Risa ia benci. Terlebih gadis itu sering membully Kara, untungnya ia selalu sigap menolong Kara. Rupanya Risa ingin bermain-main dengan Alga, baiklah Alga akan turuti. Alga akan membuat Risa jerah dan menganggap mencintai Alga adalah kesalahan terbesarnya. "Halo, ya kenapa?" Randi menghubunginya tiba-tiba. "Anak aerox nantangin buat balap motor Al, gimana?" "Gue ke sana sekarang," Alga menyambar jaket beserta kunci motornya setelah itu Alga segera bergegas pergi ke tempat yang sudah anak aerox tentukan. Ia tersenyum licik, malam ini bisa Alga pastikan bahwa ia akan menang lagi melawan Vano. Pantas Alga berbangga diri karena ini kedua kalinya ia menang melawannya. Terlalu jumawa memang tidak baik, tetapi untuk Vano, Alga harus jumawa. Alga mengendarai motornya seperti orang kesetanan, membelah jalan raya dengan angkuhnya. Ia tak sabar untuk mengalahkan Vano sekarang, mengingat Vano sama saja mengingkatkan ia kepada gadis murahan itu. Vano tersenyum miring saat melihat Alga datang, "Halo Bro apa kabar?" Alga berdecih, ia tidak suka melihat wajah Vano yang sok akrab dengannya. Menjijikkan! "Jangan kebanyakan bacot lo!" "Eits tenang Bro, santai aja, sebelum balapan dimulai lo rileks aja dulu," "Bacot anjing!" Terdengar helaan tawa Vano dan juga gengnya semakin membuat Alga panas. Anak-anak Zerros juga datang menemaninya, tapi kali ini Alga yang ditantang oleh Vano, "Udah Al jangan dengerin mereka." ujar Darren menenangkan. "Lo fokus aja, gue takut mereka rencanain sesuatu buat lo," tambah Randi. Alga mengangguk, ia tidak akan terkecoh dengan permainan anak-anak Aerox yang menginginkan kemenangannya. Cih menjijikkan saat ia mengingat jaket kebesaran Aerox dipakai oleh Risa tempo hari. Vano menatap Alga sengit, "Gimana udah siap Bro?" tantangnya. "Buruan anjing!" teriak Alga. Keduanya sama-sama bersiap dengan motor kebesarannya, lihat saja bagaimana akhir malam ini. Pemenangnya akan kembali ke Alga, laki-laki itu sudah tersenyum percaya diri. Seorang gadis seksi mengibarkan bendera yang dibawanya, setelah hitungan ketiga keduanya akan sama-sama melesat. Satu... Alga dan juga Vano saling beradu tatap, saling meremehkan satu sama lain. Dua... Tiga... Motor Alga melesat kencang, ia memimpin sekarang. Alga tersenyum dalam hati, tidak mudah mengalahkan Alga. Namun fokusnya melayang saat tiba-tiba ada seorang gadis dengan santainya hendak menyebrang tanpa melihat kanan dan kiri. Alga langsung menggerem motornya secara mendadak. Suara gesekan rem motor Alga membuat gadis itu tersedar bahwa ia dalam keadaan bahaya. Karena kekagetannya dan juga motor Alga yang tidak bisa berhenti mendadak. Gadis tersebut jatuh, "Awh!" pekiknya keras. Lumayan sekali hantaman badannya yang mengenai aspal. Alga membuka helmnya, hendak menolong gadis yang hampir ditabraknnya. "Alga!" Mata Alga melotot, ia tidak percaya gadis itu ada di tempat itu malam-malam. Ia tersenyum sinis, jelas saja ia ada disini paling-paling habis pergi dengan pelanggannya. "Cih!" Alga tersadar bahwa ia harus menyelesaikan balapannya bukan malah berdiri disini. Tidak guna juga, bisa-bisa dirinya kalah hanya karena gadis murahan ini. Tanpa menolong Risa yang masih tersungkur ke bawah. "Alga! Alga!" teriaknya saat Alga menancapkan gas motornya meninggalkan Risa. Nyeri di bagian kakinya membuat Risa susah berdiri, ia tertatih-tatih untuk bangun, "Ash!" rintihnya yang masih berusaha untuk berdiri. Sedangkan di tempat lain Alga membanting setirnya kesal, malam ini ia kalah dan penyebabnya adalah Risa, "Dasar gadis s****n!" Orion, Derren, dan juga Randi mendekat ke arah Alga, menanyakan bagaimana ia bisa kalah padahal tadi Alga memimpin di depan. Alga melihat ejekan Vano yang tersenyum puas, "b******k!" "Gak selamanya lo terus yang menang Bro," ujar Vano kemudian mengajak teman-temannya meninggalkan tempat. "Selamat menikmati kekalahan malam ini bro!" teriak Vano yang semakin membuat Alga panas. "b*****t! Ini semua gara-gara cewek murahan itu!" hardiknya menyalahkan Risa. Ketiga temannya saling tatap dan bertanya siapa yang dimaksud Alga, "Siapa maksud lo Al?" tanya Orion. "Risa! Gara-gara tuh cewek gue kalah, dasar pembawa s**l!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD