Orion beserta kedua temannya celingak-celinguk mencari keberadaan Risa. Tapi ia tidak menemukan batang hidung gadis tersebut.
"Tadi gue nggak sengaja nabrak dia," ujar Alga santai sambil menyalakan pematiknya. Ia butuh rokok untuk bisa menenangkannya.
"Risa nggakpapa?" Ia mengkhawatirkan Risa, apalagi mengingat bagaimana Alga membawa motornya tadi.
Alga mengedikkan bahu acuh, sambil menghisap nikotin lalu mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya.
"Gila lo, inget Al dia cewek," tegur Randi.
"Gara-gara cewek gak ada harga dirinya itu, gue kalah b*****t!" Ia melempar puntung rokonya dnegan kasar. "Gue cabut!"
***
Risa berjalan sedikit tertatih-tatih, ia bisa pastikan kakinya bengkak karena Risa sendiri bisa merasakan sakitnya luar biasa, "Ana pulang." ujarnya lalu mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu sambil melihat kakinya yang membengkak.
"Ash!" Ia menekan bengkak yang berada di lutut dan juga di daerah mata kakinya. Disana sepanjang betisnya juga ada sedikit goresan aspal yang lumayan perih.
"An kenapa?" ujar Hasyim saat melihat kaki Ana yang banyak luka.
Risa hanya meringis unjuk gigi ketika sang ayah datang dengan wajah khawatir, "Ana jatuh tadi yah."
"Astaga, kenapa bisa An?"
Tidak mungkin ia menjelaskan bahwa dirinya tertabrak Alga yang sedang balapan, bisa-bisa ayahnya akan mencari Alga dan memarahinya.
"Karena Risa nggak hati-hati pas jalan, soalnya tadi jalannya licin juga," bohongnya.
"Lain kali hati-hati dong An, jangan ceroboh," nasehat Hasyim. "Sebentar-sebentar." Hasyim mencari kotak p3knya kemudian ia mulai mengobati kaki Risa.
"Lihat memarnya bengkak serius ini An," Tidak ada yang sangat mengkhawatirkan dirinya di dunia ini selain ayahnya, dulu Farida pun begitu namun sekarang hanya tinggal Hasyim saja.
"Tidak apa-apa kok Yah," Sesekali ia menggoda sang ayah agar laki-laki itu tersenyum. "Oh iya, ini obat untuk Ayah." Ujarnya sambil menyodorkan kantung kresek kecil yang berisi beberapa obat yang memang dibutuhkan Hasyim.
Mata Hasyim berkaca-kaca, ternyata tadi anaknya izin keluar untuk membelikan obatnya. Perhatian kecil dari Risa membuat Hasyim tak bisa berkata-kata, pasalnya bukan pertama kali Risa seperti ini.
"An, Ayah bisa beli sendiri,"
Risa mencebikkan bibirnya, "Tidak apa-apa Yah."
"Tapi lihatlah kakimu An,"
"Ini tidak apa-apa, hanya luka kecil Yah," Risa menarik sudut bibirnya untuk menunjukkan kepada sang ayah bahwa ia tidak apa-apa.
"Ya sudah setelah ini kamu harus istirahat,"
Ia mengangguk lantas mengulum senyum mendengar ayahnya yang begitu posesif.
***
Pagi-pagi saat Risa terbangun ia meringis karena kakinya yang ternyata masih perih. Ia pikir bengkaknya akan sedikit membaik tapi ternyata tidak. Dengan susah payah Risa berusaha beranjak dari tidurnya untuk pergi ke kamar mandi. Ia harus tetap bersekolah, karena bukan ingin pintar tapi Risa ingin selalu bertemu dengan Alga. Ya alasan Risa selalu ingin cepat-cepat pagi adalah Alga.
Ia turun tangga dengan nafas ngos-ngosan menahan sakit dan perihnya kaki sebelah kanan yang lebih banyak menjadi korban tadi malam. Di anak tangga terakhir Risa bisa bernafas lega, ia menyeka peluh yang mulai merembes di dahinya. Belum apa-apa ia harus mandi keringat seperti ini.
"Ana," panggil Hasyim. "Jangan masuk dulu, kamu gak lihat bengkaknya itu." Ya memang sejak semalam Hasyim melarangnya untuk pergi ke sekolah, tapi Risa memang bebal.
"Tidak Yah, ini sudah sedikit membaik," bohongnya.
"Oh ayolah An, Ayah minta kamu hari ini tidak sekolah dulu ya,"
Risa menggeleng, "Ana mau sekolah Ayah."
Hasyim menghembuskan nafasnya pelan, kalau seperti ini ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti putri semata wayangnya ini, "Baiklah Ayah antar."
Sontak Risa mengangguk, "Siap Bos!" Ia menghabiskan sarapan yang dibuat oleh sang ayah dan Risa baru sadar tumben sekali ayahnya belum berangkat bekerja.
"Tumben Ayah belum berangkat?"
"Karena Ayah takut nanti kamu membutuhkan bantuan,"
Hati Risa menghangat memang hanya sang ayah yang bisa diandalkan, ia berharap kelak ia bisa mendapatkan pendamping seperti ayahnya, "Ana tidak apa-apa Aah, kalau kayak gini Ayah kerjanya gimana?" Risa tau tanggung jawab Hasyim di proyeknya kali ini sangat amat besar bahkan di kala weekend tiba biasanya Hasyim masih harus bekerja.
"Ayah udah izin tadi, bilang kalau kamu sakit,"
"Ana tidak apa-apa Ayah,"
Hasyim mengangguk, "Kamu memang anak yang kuat An."
Risa tersenyum sambil membenarnya ucapan sang ayah, "Kalau tidak kuat aku tidak akan mengejar Alga sampai sebegininya." batin Anna.
Setelah menghabiskan sarapan paginya, Hasyim mengantarkan Risa pergi ke sekolah.
Kali ini ia tidak pergi ke kelas Alga atau menyambut laki-laki itu saat sampai di gerbang sekolahnya karena kakinya yang masih terasa perih dan ngilu.
"Ayah hati-hati!" ujarnya sambil melambaikan tangannya.
"Iya, kamu juga An. Semangat sekolahnya,"
"Pasti!"
Mobil Hasyim mulai melaju menjauh dari sekolahnya, Risa beranjak pergi menuju kelas. Ia berusaha menutupi kakinya yang sedikit pincang dengan sebisa mungkin ia berjalan layaknya orang normal, itu tidak mudah Risa harus menahan sakit dan perihnya agar tidak ada orang yang curiga dengan kakinya. Risa tidak ingin orang sekitarnya mengasihani dirinya, cukup mereka mengasihani Risa perihal cintanya yang ditolak Alga. Selebihnya Risa tidak akan menunjukkan kelemahannya di depan orang.
Mata Weni memincing saat melihat jalan berjalan Risa yang sedikit aneh.
"Lo kenapa?" ujarnya mendekat ke arah Risa.
"Wen tolongin gue," rengeknya. Weni ini sahabat sekaligus ibu buat Risa. Kedewasaan Weni yang kadang membuat Risa menurut.
"Lo kenapa sih? Ada-ada aja deh!" kesal Weni, masalahnya Risa selalu membuat Weni khawatir.
Sebentar-sebentar Risa revisi, bukan hanya sang ayah yang selalu bisa Risa andalkan tetapi Weni juga. Kemungkinan hanya dua orang ini yang tau semua tentang Risa, bahkan Weni orang yang tau segalanya tentang Risa dibandingkan Hasyim sang ayah.
Risa hanya menyengir mendengar ocehan Weni yang sebentar lagi akan menebak kemungkinan apa yang terjadi.
"Jangan bilang lo seperti ini gara-gara Alga,"
Saatnya Risa menyebut Weni adalah suhu. Suhu dari segala suhu, ia memang harus menanyakan dimana Weni belajar ilmu membaca pikiran seseorang, Risa ingin juga berguru bersamanya agar ia bisa membaca pikiran Alga setiap saat. Tolong siapapun berikan penghargaan untuk Weni, atau detik ini Risa harus sungkem kepadanya.
"Kenapa lo diem aja, benar kan yang gue omongin?" tanya Weni sengit.
"Iya," cengir Risa sambil menepuk punggungnya, "Udah lo yang sabar ya!"
"Seharusnya gue yang ngomong gitu setan!"
"Lo mau bantu gue apa enggak sih Wen?"
Weni mendesah panjang, kalau saja ia dikendalikan oleg iblis paling-paling Weni memilih mendorong Risa saja. Untung saja sekarang Weni dikendalikan oleh jiwa malaikatnya, "Buruan!"
"Sabar," sahut Risa.
Weni memapah Risa menuju bangkunya. Kelasnya masih sepi, padahal udah jam setengah tujuh tapi masih kosong penghuni, ya biasalah anak kelas ips. Kalau tidak mepet bel berbunti mereka tidak datang. Mungkin hanya Risa saja yang menjadi murid teladan di kelasnya, ia selalu datang tepat setengah tujuh karena apa? Ya karena ingin segera bertemu Alga.
"Cerita ke gue kenapa lo bisa kayak gini?" Karena sangking gemasnya Weni dengan tanpa dosa memukul pelan lutut Risa.
"Awh!" jerit Risa. "Sakit b**o!"
"Kalau gini lo sakit, coba kalau ngejar-ngejar Alga!" sindirnya.
Memang Risa selalu terdzolimi, "Salah mulu gue ya?"
"Salah lo mencintai Alga," celetuk Weni.
"Iya juga sih," ujarnya membenarkan.
"Lo tau luka lo yang ada di lutut itu gak ada apa-apanya sama luka yang ada di hati lo," ujar Weni.
Benar, Risa setuju itu. Luka di lutut dan kaki kanannya bisa diobati tapi kalau luka batinnya?
"Bener sih Wen yang lo bilang. Sama Alga itu sakit, memperjuangkan Alga emang gak worth it tapi kalau gak sama dia dan gak memperjuangin dia jauh lebih sakit," jawab Risa mendramatisir.
"Alah capek deh gue!" kata Weni.
Risa tertawa ngakak, meski sebenarnya ia sadar dengan apa yang dikatakan Weni.
"Jadi gimana?" Tuntut penjelasan Weni perihal kaki Risa.
Risa menangkupkan kedua tangannya di pipi, sambil mulai bercerita.
"Anjing banget tuh orang gue lihat-lihat," Ia ikut sebal dengan Alga yang semena-mena kepada Risa. "Dia nolongin lo atau langsung pergi?"
"Langsung pergi," sahutnya santai.
"g****k!" desisnya.
"Ya karena waktu itu Alga kan lagi balap motor ya makanya ia langsung pergi gitu aja, normal gak sih?"
Dalam kasus seperti ini saja, Risa masih bisa mengelak, "Yang gak normal kan lo!"
"Kalau dia gak lagi balapan, gue yakin dia langsung nolongin sih,"
"Yakin?"