Aqnes berjalan menuju ruangan Adrian, kedua sahabatnya itu terlebih dahulu sudah berada di sana, kepalanya benar-benar berat dan pipinya pun masih berdenyut nyeri. Sialan si Echa, tamparan rubah betina itu keras juga, wajah sebelah kanannya memerah begitu jelas. Ia tidak akan memaafkan cewek itu, lihat saja nanti cewek itu akan membayarnya lebih dari apa yang Echa lakukan kepadanya. Dengan pelan Aqnes mendorong pintu ruangan Adrian, ia berdecak melihat pemandangan yang berada di depan matanya. Andara sibuk mengeluh dengan manja di hadapan Adrian yang sedang mengolesi obat merah pada keningnya. Benar-benar menggelikan dengan posisi tubuh temannya itu yang berada di pangkuan Adrian. Dasar si Andara, walaupun ia tidak menyukai hubungan sahabatnya itu dengan Adrian, tetap saja ia tidak bisa me

