Pagi pukul 06.00 WIB aku sudah selesai mandi, lalu bergegas kekamar Memakai baju kerja. Tak sengaja terpintas wajah gadis tadi malam waktu Dirumah Sudi. "Aahh.. sudahlah" imbuhku sambil mengayunkan tangan ke atas kepala, seolah-olah membuyarkan bayangan yang terfikir didalam kepala.
Tak lama jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. "Mama.. Papa.. Sudi berangkat kerja dulu yaa.." sambil menyalami tangan mereka. "Eh Sudi, kamu koq ga sarapan dulu??" ucap ibuku. "Jangan di biasakan lah pagi pagi perut itu kosong, tar kena asam lambung baru tau rasa.." ucap ibuku.
"Iya mama, Rudi nanti sarapan di kantor aja."ucapku. "iyalah kalo gitu, hati hati dijalan ya Rud." Ucap ibuku.
"Oo iya Mama.. Papa.. Rudi lupa ngasih tau, kemarin bos promosiin posisi Rudi ke Bagian Counter di Toko." ceritaku. "Alhamdulillah.. kamu kerja yang semangat ya Rud, smoga kerjanya nyaman dan Rezki nya ngalir terus. ucap ibu. "Aamiin.." ucapku.
Kemudian tak beberapa lama aku menyalakan motorku, kemudian berangkat menuju kantor.
Sesampainya di Kantor, "Wuidiihh.. Selamat ya Rud, kamu dipromosiin di bagian Counter Toko, ditungguin yaa.. traktirannya.. ucap Romi. "Tenang.."ujarku. "ngomong ngomong mana Cecep, Yanto, sama mas Ridwan?" ucapku.
"Hmm.. iya ya? ga tau juga kemana mereka" ujar Romi.
"Tumben koq belum muncul?" ucapku.
"entahlah.. tumben tumbenya mereka lambat.." imbuh Romi.
"Wooiii .." ucap Cecep, Yanto dan mas Ridwan berbarengan. "Aasseemmlaahhh..!! bikin orang kaget aja, untung kami bukan kakek kakek, klo ga dah jompo duluan" ucapku kesal. Lalu mereka tertawa ngakak.
"Eh ngomong-ngomong kita sarapan dulu yuk disebelah,kita kan udah absen nih, baru aja pukul 07.45 WIB, masih ada waktu setengah jam lagi. Lagian bos belum datang juga" ucapku.
"Ciiieeehhh.. ada yg traktir nih.. Rudi kan baru dipromosiin.."ujar Romi.
"Wiisss.. mantepp niiyy.." ucap mas Ridwan.
Ketika lagi asyik sarapan, muncul si Bos tiba-tiba. Dengan kaget kami segera bergegas sarapannya.
"Hei.. Heii.. Kalian ini pada kenapa?" ucapnya. "Bo' ya makan itu pelan pelan kenapa? yang ada pada tersedak kalian masing-masing, jangan grasa grusu begitu.." Imbuhnya lagi.
"I.. iiya pak, kami ada yang mau dikerjakan" ucap mas Ridwan.
"loh.. lohh.. temani saya dulu kenapa? saya kesini bukan sidak, saya kesini mau sarapan.. kan masih ada waktu 15 menit lagi" ucapnya.
"Eehh.. baik pak.. baik pak" Ujarku.
Dan tak berapa lama si Bos memanggil ibu kantin, dan memesan sesuai menu makanan yang ada di kantin. Lalu tak lama berselang, muncul ibu kantin membawa makanan sesuai yang dipesan.
Setelah kami menikmati sarapan dan saling tukar cerita, lalu si bos berkata "Berhubung jam kerja mulai masuk, ayo segera kita menuju kantor" ucap si Bos.
"ayo kita keruang meeting, ada yang mau saya bahas" ujarnya.
dan tak lama kami masuk keruangan meeting.
Kantor kami ini bergerak dibidang penjualan. Dan perusahaan tempat kami bekerja adalah distributor tunggal merk lampu dan alat elektrik ternama di Provinsi tempat tinggal kami. Setiap Pagi Bos selalu mengajak kami meeting untuk membahas target penjualan.
Disela-sela Kami meeting, kembali baku teringat dengan gadis manis dan mungil tadi malam.
"E-L-I-S-A" begitu kusebut nama panjangnya, anaknya begitu ramah, murah senyum dan ga galak seperti gadis-gadis yang kutemui.
"Duhh.. koq malah mikirin dia ya? Tapi tunggu dulu.. tunggu dulu.." Ucapku dalam hati. "Senyumnya itu.. senyumnya yang khas itu.. itu yang membuat ku terus terbayang, apakah aku mulai ada rasa??" ujarku dalam hati. "Aahh.. entahlah.." ujarku lagi.
Dan kembali aku konsentrasi dengan presentasi si Bos mengenai Penjualan kemarin, dan mengenai target penjualan yang akan datang.
Di Counter Toko aku sebagai penerima telfon masuk dari outlet dan grosir langganan. Mencatat apa yang dipesan outlet/distributor, lalu merekap semua pesanan dan memberinya ke bagian Purchasing dan terakhir Melayani pembeli yang datang langsung ke Toko. Aku ditemani satu orang kasir bernama Cici dan dua orang teman Counter Sales, yaitu Angga dan mbak Reni, mereka menuntunku bagaimana cara melayani konsumen.
Tak lama, "Akhirnya waktu sudah tiba.. saatnya pulang.." ujarku dengan semangat
"Rud.. jangan lupa beresin barang barang yang ada di meja pajangan ya, trus buku-buku pesanan jangan lupa disimpan didalam laci meja" ujar Angga.
"Ookkee siap.." ujarku.
"Rudi, kakak pulang duluan yaa.., suami kakak udah nunggu didepan" ucap kak Reni.
"Oke siap kakak.. " Sambil acungi jempol pertanda oke.
Setelah berkemas kemas, ku ambil Handphone dari dalam kantong celana. Tak lama ku tekan nomor tujuan yang ditelpon.
"Halo sore Sudi.. Tar malem kamu Dirumah? ucapku ke nomor yang ku tuju.
"Sore juga Rud.. iya, aku tar malem ga kemana mana, kenapa? kamu mau kesini?." ucap sumber suara di Handphone yang tak lain adalah Sudi.
"Iya Sud, aku mau kerumahmu tar malem, dan ada yang mau ditanya kan ke Imah" ujarku.
"Tuh, benerkan tebakan kami kemarin setelah kamu pulang" ujarnya.
"Yeee.. macam betul aja" ujarku.
"pokoknya tar aku kerumah" ucapku
"Iya.. iya.. " ujar Sudi.
Sesampainya aku Dirumah, seperti biasa selalu melihat ada gadis centil duduk diteras rumah, siapa lagi kalo bukan adikku.
"Wuiddiiihh.. nungguin Abang yaa.." ledekku.
"Huuu.. siapa lagi yang mo nungguin si tu.. orang aku emang lagi mau duduk disini.. weekk.." ujarnya sambil mencibir.
"Nihh.. ada martabak, jangan lupa kasih ke mama dan papa ya.." ujarku berlalu masuk kedalam rumah dan mengucapkan salam.
"Wahh so sweet.. ada martabak manis.." ujarnya senang. "Mama.. Papa.. ini ada martabak dibeliin bang Rudi.
"Udah pulang Pa? biasanya agak malem pulangnya" tanyaku. "Iya Rud, badan Papa lagi ga enak banget, makanya papa pulang cepat" ujarnya.
"kalo ga salah Rudi, di Kotak P3K ada obat obatan, tapi kalau tak ada nanti biar Rudi beliin." ucapku.
"gak usah lah Rud, ini mungkin karena kecapean, toh nanti kan bakal pulih sendiri." ujarnya.
"Jangan begitu pa, penyakit ga boleh diremehkan." Saranku.
"Iya.. iya.." ujar papa.
"Kalo begitu, Rudi masuk kamar dulu ya pa.." ujarku.
"Iya.. mandi sana gih.." ucapnya.
Kemudian aku masuk kekamar mau cari tempat rebahan.
Tanpa sengaja, kembali aku terbayang wajah gadis tadi malam. Memandangnya, senyumannya.. "hmm.." sambil menghela nafas.
Lalu merebahkan badan keatas tempat tidur.
"Ooiii.. dah jam berapa ini.. Astaga.." sambil melirik jam dinding kamar.
waktu menunjukkan pukul 19.15 WIB, kemudian bergegas kekamar mandi.
Tak lama kemudian aku keluar dari kamar mandi menuju kamar tidur.
"Papa.. Mama.. Rudi pergi dulu kerumah Sudi temanku." pamitku kepada mereka.
"Iya, jangan kemaleman pulangnya" teriak bapakku.
Kemudian aku berlalu melewati indahnya malam.
Sesampainya Dirumah Sudi, Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. "Sudi.." panggilku.
"Iya sebentar" ujarnya
"wuiiss.. Tumben cepat sampe nya.." celetuknya .
"hehee.." Ketawaku cekikikan.
"Btw, mau masuk atau diluar aja?" tawar Sudi.
"Diteras ajalah Sud, sambil menikmati angin malam yang sepoi-sepoi." ucapku.
"Yo wiss, tak tinggal sebentar ya.." ujar Sudi.
Setelah Sudi masuk, aku konsentrasi menatap jalan masuk di depan. Sambil berharap sosok gadis imut yang mungil itu muncul.
Setiap Motor yang masuk jalan masuk didepan, aku berharap dia yang datang. Namun tetapa aja bukan ia yang datang.
"Plakkk.." Suara tepukan Budi di punggungku dengan pelan. Saat itu Sudi keluar dari dalam rumah.
"hayoo.. liatin siapa disana.." celetuk Sudi sambil tersenyum.
"Enggaaakkk.. ga ada liat siapa-siapa disana" ucapku dengan kaget. "Bikin orang kaget aja" ujarku mengalihkan pembicaraan.
Tak lama Imah keluar membawa nampan yang diatasnya ada Kopi dan teh.
"Hayoo.. bang Rudi menunggu yang kemaren ya.. Ciiee.. ciee.. ada hatinya yang berbunga-bunga" ejek Imah.
"Ini lagi.. ga ada apa apa kok" ujarku.
"Udaahhh.. ga usah bohong.. bilang aja iya.." Ejeknya lagi.
"Hehehehe..." ujarku cengengesan sambil garukin yang ga gatal.
"Yo wiss.. minumlah dulu Rud, sekalian tuh ada ubi goreng yang anget." Tawar Sudi.
kemudian aku mengambil sebuah gelas yang berisikan Teh Panas, lalu mnyeruputnya.
"Wwuiss mantep lah.. pas banget" ujarku setelah menyeruput teh panas.
"bagaimana Kerjaanmu Rud? Aman?" Tanya Sudi.
"Alhamdulillah aman Sud, malah aku dipindahkan dari bagian Gudang ke bagian Counter Sales." ceritaku
"Wahh.. selamat ya Rud" Ucap Sudi.
"To the point aja Sud, Imah.." ucapku dengan serius.
"Elisa itu beneran Jomblo?? jujur.. dari Pagi tadi hingga sore pulang kerja terbayang dengan wajahnya. Padahal aku sama sekali ga ada mikirin dia nya." ceritaku dengan sangat serius.
"Namun, Senyuman manisnya yang khas itu yang memaksaku untuk membayangkannya" sambung ku lagi.
"Waahh.. itulah yang dinamakan cinta pertama bang" ucap Imah.
"Btw Imah, Elisa tinggal dimana? bolehkah Abang meminta no Handphonenya?" ujarku.
"Hmm.. sabar dulu ya bang, soalnya dia masih belum Move on dengan sosok lelaki yang dikaguminya." ujar Imah
"hhhmmm.. butuh perjuangan juga untuk meyakini hatinya, tapi aku akan segera memulai menabuh genderang berjuang" ucapku dengan semangat.
"Jangan katakan Rudi, kalo selagi masih mau berjuang untuk mendapatkan hati seseorang" ucapku lagi.
"yang sabar ya bang, nanti pasti dia akan luluh juga" ucap Imah.
"iya Imah, Abang akan terus mencoba berjuang nanti nya" ucapku semangat.
Tak lama kami bercerita panjang lebar, dan kemudian Imah masuk. "Imah masuk dulu ya bang.." ucap Imah.
"owh iya, Imah.. Makasih teh dan cemilannya.." ujarku.
"Iya, sama sama bang.." ucap Imah.
Kemudian kami berdua menyambung cerita kembali. Cerita waktu disekolah dulu.
"Sud, berhubung hari mulai larut malam, aku pamit dulu yah.. udah pukul 22.00 WIB, tar ga enak sama tetangga." ujarku.
"ga nginep dulu..??" celetuknya sambil senyum-senyum.
"ga lah, aku pulang aja" ujarku.
"Owh iyalah kalo begitu.."
"Btw mana Imah? aku mau pamit" potongku.
"Udah ga apa apa, mungkin dia lagi mau tidur." ujar Budi.
"Sud, maaf ya udah gangguin kebersamaan kalian." ucapku merasa bersalah.
"Aahh.. ga apa apa Rud, kan kamu jarang jarang main kemari" ujar Sudi.
"Okelah kalo begitu, aku pulang dulu ya Sud, btw makasih ya jamuannya." ucapku sambil tersenyum, dan menyalakan motorku.
"Iya.. sama sama, hati hati dijalan" ucapnya.
"Ok Sud.." sambil kunyalakanbklakson dengan pelan.
Tak lama aku menikmati indahnya malam yang begitu cerah, udaranya masih terasa bersih alami, karena daerah rumah Sudi masih banyak pepohona yang rindang. dan hamparan kebun kebun sayuran, meskipun di perkotaan.